Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Extrapart 22.


__ADS_3

" Aduh, kamu salah sangka dek Eva. Mas ga apa kok. Biasalah anak anak. Lagian kita kan emang ada komitmen kalau akan menikah." jawab papa Adjie dengan percaya diri. Bukankah cinta harus diperjuangkan ya. Apalagi mama Lina adalah wanita pertama yang bisa membuat jantung nya berpacu liar sama seperti anak muda jaman now.


" Hah?" mama Lina hanya bisa bengong saat papa Indra bisa bisanya memanggil dirinya dengan sebutan dek Eva. Ya ampun mas Adjiee!! dedek Eva jadi malu!!


" Mungkin Saka sudah bercerita tentang keinginan Indra untuk menjodohkan saya dengan dek Eva. Saya sudah tua, jadi awalnya saya gak mau bukannya karena saya tidak menyikai dek Eva, tapi saya ragu kalau dek Eva bakalan suka sama saya. Tapi, waktu Saka bilang kalau dek Eva menyetujui, saya jadi bahagia. Walau mungkin kita bertemunya karena perjodohan anak anak, menurut saya ini takdir, untuk bertemu wanita yang baik dan cantik yang bukan hanya dipilih oleh anak saya sebagai mamanya tapi juga hati saya memilih yang sama."


" Saya..." mama Lina menjadi salah tingkah. Perpaduan malu tapi mau membuat rona di pipinya yang masih halus dan kencang terawat itu terlihat nyata.


" Dek Eva, saya bukan anak muda lagi. Jadi mungkin kita gak bisa pacaran kayak ABG. Gimana kalau kita pacarannya sesudah halal saja?" tembak papa Indra tanpa ba bi bu. Straight to the point. Membuat kaki mama Lina serasa lemas dan menjadi jeli. Mama Lina berpikir kalau semua yang saat ini ia alami adalah sebuah mimpi. Mimpi indah?


Mama Lina berusaha berpegangan pada sisi tempat tidur Indra dan bersandar disana. Mama tidak mau terjatuh untuk yang kedua kali. Dikiranya bisa modus terhadap papanya Indra dong ah.


" Saya... ehm... saya.." bingung mau jawab apa. Kalau langsung bilang ya kok kesannya gampangan banget tapi kalau bilang engga ya kayaknya mama Lina menganggap papa Indra ini orang baik dan yah.. setelah sekian lama tidak ada laki laki yang perhatian dengan dirinya, maka pada saat ada seseorang yang menaruh perhatian kepadanya jelas pasti ada sudut hati mama Lina yang gembira dan bahagia tentunya.


" Apa saya terlalu memaksa?" nada ragu terlihat di suara papa Indra yang sedikit bergetar. Masa ia ditolak? Bukankah Saka bilang mama Lina udah mau jadi istrinya. Walau awalnya ini hanya skenario tapi entah kenapa ia sekarang malah ingin membuatnya menjadi kenyataan tanpa kebohongan.


" O tidak ... tidak.. maafkan saya. Saya terlalu terkejut. Ehn soalnya saya pikir, mas Adjie main main saja..." sahut mama Lina cepat. Kaka sedikit gugup, bak anak muda jaman now yang sedang ditembak oleh pasangannya.


" Saya sudah terlalu tua untuk bercanda buat masalah begini. Tentu saja saya serius dengan keinginan saya menghalalkan dek Eva. Apakah untuk membuktikan keseriusan saya, perlu mendatangkan penghulu kesini sekarang juga. O apa mungkin kita harus segera mengurus surat surat ke KUA secepatnya? Saya akan segera menyuruh asisten dan sekretaris saya untuk mengatur semuanya secepatnya sehingga dek Eva tidak akan meragukan tindakan saya." potong papa Indra dengan serius, membuat mama Lina semakin lemas. Ya ampun!!

__ADS_1


" Saya percaya mas... saya percaya... " sahut mama Lina lagi sambil menunduk. Kayaknya mama butuh duduk deh, dan papa Indra sadar kalau wanitanya lemas seketika mendengar pengakuannya. Tapi ia merasa sudah terlaku berumur kalau melakukan cara cara seperti anak muda. Walau jujur perasaan bahagia yang tiba tiba muncul saat ia bersama mama Lina membuat pikirannya sudah tidak bisa berjalan dalam treknya dan membuat dirinya ingin bertindak hal hal yang bodoh dan impulsif untuk membuktikan perasaannya kepada mama Lina.


" Jadi saya diterima kan?" tanya papa Indra memastikan, sambil mendekat ke mama Lina yang masih bersandar di pinggir ranjang rawat inap Indra. Sambil meraih tangan mama Lina dan menariknya ke arah sofa serta mendudukkannya disana.


Mama Lina tidak langsung menjawab, ia menunduk dan kemudian mendongak, memandangi netra papa Indra. Ia hanya ingin melihat kebohongan disana. Tapi ia tidak melihat kebohongan, melainkan kesungguhan hati dan kejujuran. Membuat mama Lina hanya bisa mengangguk malu menjawab pertanyaan papa Indra.


Respon positif mama Lina, membuat hati papa Indra jadi girang. Ia ingin rasanya melompat lompat di sofa tempat ia duduk berdua dengan mama Lina, saking bahagianya. Tapi tentu itu tidak akan ia lakukan. Masa ia mau encok, ia juga ingat kalau ia ga muda lagi. Tapi bersama dedek Eva, membuat sesuatu menjadi hidup kembali, ia seperti kembali muda.


" Ngomong dong, dek.. masa diem aja?" tanya papa Adjie dengan hati yang berbunga bunga, berdaun, bertunas dan juga bertumbuh. Haiz apaaan coba lebay...😂


" Ehm, iya mas.. saya menerima." kata mama Lina sambil menunduk dan raut wajah memerah karena malu.


" Ya ampun, percaya ga kalau jantung saya jadi berdetak 100 kali lebih kencang daripada biasanya." kata papa Adjie sambil memegang dadanya yang berdetak kencang karena bahagia.


" Hush.. ya engga. Saya ga punya sakit jantung. Ini semua gara gara kamu, dek." sahut papa Adjie yang kelihatan tambah salting.


" Ih mas. Emang saya melakukan apa?" tanya mama Lina lagi dengan bingung. Perasaan ia hanya duduk diam dan tidak melakukan apa apa sama papa Adjie. Kok ia dikatakan bersalah?


" Karena berdekatan dengan kaku membuat jantungku berdebar debar kayak mau copot, dek." rayu papa Adjie dengan senyum smirk menghiasi wajah yang masih terlihat tampan walau usianya udah cukup senior, wk wk ga bilang lansia loh ya.

__ADS_1


" Ya ampun, mas. Kamu gombal deh. Inget umur!! Jangan jangan kamu suka godain cewe cewe apalgi anak cewe muda ya?" tanya mama Lina dengan pandangan menyelidik.


" Ga ada yang bisa menggetarkan mas seperti kamu, dek. " bisik lirih papa Adjie di telinga mama Lina yang membuat mama Lina tambah malu. Posisi mereka yang berdekatan membuat ada perasaan yang aneh yang menyelinap di diri mereka berdua.


Perasaan bahagia dan membuat keduanya menjadi merasa muda kembali. Wajah papa Adjie mencoba lebih berdekatan lagi dengan wajah mama Lina. Membuat nafas papa Adjie pun mama Lina rasakan. Jujur debaran jantung mama pun jadi tambah kencang. Tapi kemudian..


" Argggh.." sebuah suara yang tentu saja bukan suara papa Adjie maupun suara mama Lina.


" Indra.. kamu sudah sadar?" tanya mama Lina sambil berdiri mendekati ranjang rawat inap Indra. Mama Lina bergegas meninggalkan kebersamaannya bersama papa Adjie.


Indra tampak memegang i kepalanya, walaupun Indra masih belum membuka kelopak matanya.


Papa Adjie mendesah kesal, usahanya mengalami penundaan gara gara Indra siuman. Kenapa Indra siuman dulu sih? Mbok ya tunggu sebentar lagi. Padahal tinggal sedikit lagi, gerutu papa Adjie dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


TBC


***


__ADS_2