
Tetep ya vote yang banyak supaya thor semangat💪🏻💪🏻💪🏻dan like setiap sudah bacaaa yaaa,😘
Budayakan like dan vote😘😘 yang banyak, gift juga yang banyak dong jangan pelit pelit.... Author sangat amat berterima kasih buat readers yang sudah meluangkan waktu dan upaya buat nge vote tanpa paksaan karena berarti reader menghargai author yang sudah susah payah bikin cerita ditengah kesibukan yang ada. Sekali lagi makasihh💋💋
yuk langsung aja baca.
Happy readingggg
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Apakah Yara tidak merasa kehilangan? Iya, ia sangat kehilangan. Ia depresi, ia kalut bahkan ia sampai harus menelan pil tidur agar ia menjemput kematiannya bersatu bersama suami dan anaknya. Yara bagaikan orang gila, tatapannya yang kosong, tubuhnya yang ia sengaja rusak dengan mengkonsumsi obat penenang. Sampai akhirnya pamannya membuat Yara melakukan hipnotheraphy sehingga ia sedikit melupakan kejadian yang lampau. Walau potongan potongan ingatan Yara itu seperti puzzle yang harus ia susun seperti saat ini, ketika ia berbicara dengan Rangga.
Kisah cinta Rangga kepadanya seperti kisah dari CINTA menjadi BENCI. Yara yang menjadi korban dari semuanya hanya bisa menjadi tumbal dari dendam Rangga terhadap pamannya. Begitupula sebaliknya, Yara hanya menjadi tumpuan obsesi pamannya agar Yara memiliki suami yang kaya raya walau sebenarnya paman Yara juga kaya raya. Yara dan Rangga kawin lari dan menikah siri dan bahkan karena paman Yara tidak setuju, paman tidak pernah mengakui Rangga sebagai keponakan menantu.
" Rangga Samudra, terimakasih atas cintamu dulu, terimakasih karena dulu kamu mau menikahi aku walau hanya nikah siri, aku tidak pernah menyesal kalau kamu pernah jadi bagian yang terindah dalam hidupku. Kamu juga pernah jadi ayah dari anakku. Aku ikhlas, ambil saja nyawaku biar aku bisa bersama anakku di akhirat nanti. Aku juga ikhlas, kalau kematianku akan membuat dendam yang kamu miliki akan surut. " kata Yara tenang sambil memejamkan mata, ia menantikan saat Rangga menghabisi nyawanya.
Rangga tertegun. Respon Yara sama sekali tidak ia duga. Bahkan ada bersitan rasa tak rela. Padahal ia sudah memegang ampul obat, agar Yara meningal dengan cara yang menyakitkan. Tapi ia tidak bisa, tangannya bergetar hebat saat ia hendak mengeksekusi Yara. Ia tidak menyangka bahwa cintanya kepada Ivara belum memudar, saat Ivara menyerahkan nyawanya kepada dirinya, ia malah bingung. Tidak mungkin! Ini bukan cinta! pikir Rangga dalam hati.
" Aku harus membunuhmu, harus!!" sergah Rangga dengan keras. Yara hanya diam, ia masih setia memejamkan mata, hanya air mata bahagia mengalir di pipinya yang tirus. Yara membayangkan bahwa ia akan dapat bertemu dengan kedua orang tuanya, dapat bertemu dengan anaknya, senyum tersungging ditengah air mata bahagianya, ia tampak menanti kematiannya dengan tenang. Lama Yara menanti saat saat dimana nafasnya sesak lalu meninggal tanpa perlawanan, toh anaknya sudah di alam baka, ayah dan ibunya juga, lalu apa salahnya ia turut bersama mereka?
Penantian akan kematiannya terasa begitu lama membuat Yara membuka matanya yang tadinya ia pejamkan karena ia ingin menyambut kematian tanpa dendam dengan wajah Rangga yang ia pikir akan mengambil nyawanya. Tapi ia melihat ke sekeliling ruangan itu, hanya sepi. Tak ada seorang pun yang ada disana. Yara jadi bingung, kok jadi ga ada orang. Bukannya tadi ada si Rangga yang akan membunuhnya untuk balas dendam atas apa yang dilakukan pamannya. Kenapa sekarang malah tidak ada seorangpun? Sungguh, Yara tidak pernah menyangka kalau pamannya tega melakukan itu. Apakah kebencian pamannya begitu besar sehingga ia sampai hati membunuh cucu keponakannya yang tidak berdosa?
__ADS_1
***
Rangga lari dari ruangan Yara, di sepanjang selasar ruamh sakit menuju ruangannya ia meruntuki dirinya sendiri.
" Kenapa aku tidak bisa, kenapa aku lemah. Ivara lah yang sudah membuat anakmu mati, Ivara juga lah yang sudah membuat kamu hampir terbunuh. Keluarganya yang brengsek yang berniat membunuhmu! " seru Rangga sibuk mensugesti dirinya, ia meyakinkan dirinya kalau ia harus membunuh Yara agar dendamnya terlunaskan. Tapi tangannya masih bergetar keras, ia tidak sanggup!!! Arggghhh!!! Siallll!!!
ddrrtt drrtt
" Hallo.."
"..."
" ..."
" Sebenarnya aku tidak puas hanya membunuh Yara. Aku ingin pamannya Yara yang ingin membunuhku juga ikut merasakan apa yang pernah kurasakan. Berada di ambang kematian. Kalau suaminya, aku ga pernah punya dendam dengannya. Biarlah itu menjadi urusanmu" kata Rangga dingin sambil tertawa sumbang dengan papanya disebrang sana yang sedang menghubunginya perihal membunuh Yara.
".."
" Belum! Aku belum membunuhnya. Aku ingin sedikit mempermainkan takdirnya. Ini seperti suratan takdir kematian baginya. Biarlah ia merasakan apa yang aku rasakan. Jangan terlalu cepat mengambil nyawanya." kata Rangga sedikit berkilah padahal ia hanya tidak bisa melakukannya. Ada tangan yang tak kasat mata yang mencegahnya membunuh Yara. Ada rasa yang tertinggal saat ia ingin melakukannya. Batasan Benci dan cinta begitu tipis. Dan Rangga masih menyangkalinya.
"..."
__ADS_1
" Bagaimana caranya itu bukan urusan papa, yang penting papa tahu beres saja." kata Rangga datar sambil mengakhiri percakapannya bersama seseorang yang menghubunginya, yaitu papanya.
Pikiran Rangga kembali melayang layang. Ia keluar dari kamar tadi karena ia tidak pernah mengira reaksi Yara. Ia mengira Yara akan memohon kepadanya dan menangis memohon disayangkan nyawanya, mengingat ia terus menerus berobat tiada henti.
Rangga tidak tahu, ada satu yang membuat Yara merasa kecewa, dan menyerah pada keadaan akhirnya, yaitu keberadaan anaknya. Yara tidak menyangka kalau anaknya sudah mati ditangan pamannya. Yara pikir anaknya hanya dibuang, tapi masih hidup. Kalau masih ada kesempatan ia ingin sekali bertanya dengan pamannya.
Kesedihan Yara yang memuncak karena anaknya membuatnya pasrah kalau Rangga ingin mencabut nyawanya.
Di ruangan Yara, wanita itu masih termenung. Ia tak habis pikir dengan tindakan pamannya. Apa segitu bencinya paman dengan Rangga sehingga paman harus membunuh anak yang ia lahirkan? Memang Yara tidak memungkiri kalau ia melanggar keinginan pamannya agar ia tidak bersama dengan Rangga, bahkan sampai sekarang tidak ada pengakuan dari pamannya akan keberadaan Rangga didalam kehidupan Yara.
Yara berpikir kalau nanti Rangga datang lagi, Yara hanya memiliki satu kewajiban memohon ampun dosa pamannya pada Rangga dan anaknya. Walaupun nyawanya yang akan menjadi gantinya.
" Mas Rendra, maafkan aku! Tapi kalau ini jalan yang dipakai Allah untuk menebus semua kesalahanku aku rela. Toh dulunya aku memang memaksa Alana menikah dengan mas Rendra supaya bisa merawat mas Rendra. Dan saat ini, Alana sudah bisa memberikan keturunan dan juga kasih sayang buat mas Rendra. Jadi aku ga khawatir untuk meninggalkan mas Rendra. " gunam Yara lirih.
.
.
.
TBC
__ADS_1