Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Episode 37. Dari Hati Ke Hati*


__ADS_3

“Bby, jangan lupa…” kata Alana dengan mulut penuh makanan. Nasi mungkin cuman satu porsi tapi lauk yang tersedia membuat Alana benar benar gelap mata, dan menaruh banyak


lauk di dalam piringnya.


“Apalagi?Mau dibungkus?”Tanya Saka sambil menggeleng gelengkan kepalanya melihat lauk yang Alana taruh dalam piring.


“Enggha… mau ingetin … ntar aku mau ngomong ngomong pribadi sama Yara… kamu tunggu diluar duhlu.. okey?” jelas Alana dengan mulut penuh, jujur Saka takut istrinya itu tersedak, ngomong dengan mulut penuh seperti itu. Jadi Saka sudah siap dengan


air mineral di gelas, kalau kalau Alana tersedak.


“Makanlah yang bener, sayang. Jangan kayak anak kecil gitu, makan belepotan… gak ada yang bakal ambil makanan yang ada di pringmu. Pelan pelan saja makannya.” Kata Saka menasehati Alana dengan lembut, sambil menyeka bibir Alana dengan tisu.


“Bby. Kamu gak makan? Katanya kamu lapar.” Tanya Alana heran karena sedari tadi Saka hanya memegang air mineral di tangan kanannya dan tisu di tangan kirinya.


“Aku mau jagain kamu makan dulu, kamu makannya menakutkan. Aku takut kamu tersedak.” Jelas Saka.


“Ihh kok malah doain istrinya kesedak sih..”


“Engga doain sayanggggg, ini berjaga jaga saja! Dah kamu makan dulu yang kenyang. Nanti aku baru nyusul.”


“Makan barengggg..” rengek Alana manja.


“Iya iya… nih aku mulai makan juga… “


“Bby, jangan lupa..”


“Lupa apa?”


“Nanti masuknya …”


“Iyaaaa. Aku nunggu diluar kan?” potong Saka, karena Alana sudah menjelaskan ini berulang ulang, sampai Saka hafal diluar kepala.


“Hooh… cakep!  Pinter!”


“Habiskan makanmu dulu… mau dibungkus ga?”


“Aku kalau dibungkus, butuh bungkus segede apa tu?’ tanya Alana sambil mengedip ngedipkan matanya yang bulat.


“Maksudnya bungkus makanannya Alana sayang, cinta, maniskuuuuu.!”geram Saka.


“Ohh… aku gak mau makanan ini dibungkus… kayaknya kurang…”


“Astaga Alana sayangkuuuu, kamu bilang katanya kurang enak, tapi kamu makannya sudah berpiring piringgg…”


“Idih ngarang…. Makan nasinya cuman sepiring … nyobain lauknya aja yang banyak.


Lagian siapa yang bilang kurang enak?”bantah Alana.


“Tadi kan kamu bilang kurang…” potong Saka tidak mau kalah.


“Bukan nya kurang enak tapi kurang banyak porsinya. Nyari makanan yang lain yang porsinya banyak tapi murah…” Sontak jawaban Alana membuat Saka menepuk jidatnya.


“Makanya kalau istri lagi ngomong jangan main potong aja!” jata Alana menasihati,


“Iya maafff..”

__ADS_1


“Jangan main asumsi yang seenaknya…”


“Iya iya… maafff.”


“Jangan berpikir yang neg…”


“Iyaaaaaaaaa…”


“Jangan …”


“Kamu ngomong jangan sekali lagi… aku bakal cium kamu disini.” Ancam Saka sambil


mendekati tubuh Alana seakan ingin menciumnya.


“Iyaa, maaff maaff..” seru Alana cepat. Ini masih diruang public. Kadang Saka bisa lebih


nekat daripada Alana dan yang pasti lebih omesssss, lebih baik mengalah daripada dipermalukan.


“Habiskan makananmu. Kamu gak ingin membawa pulang makanan disini.?”tanya Saka lagi. Alana hanya menggeleng cepat.


“Aku sudah kenyang dan bosan, Bby! Nanti cari makanan lainnya saja.”


“Ya sudah, aku heran dengan tubuh kamu sayang, makan kamu banyak tapi perut kamu aja masih datar, bahkan pipi kamu masih tirus, bagaimana bisa? Emang kamu sembunyiin kemana  makanan yang kamu makan?”


“Gak tau, Bby! Udah dari sananya begitu. Kamu inget pas aku hamil Genta kan? Hanya perut aku aja yang gede, kayak orang busung lapar.” Ingat Alana sambil tertawa, mengingat masa lalunya.


“Hmmh tapi aku pingin kalau kamu sedikit berisi gitu…”


“Ayooo, kita langsung ke Yara” ajak Alana mengabaikan perkataan suaminya.


“Sayang… aku masih ngomong.”


“Iya juga ya, habis kamu makannya cepet banget.” Kata Saka sambil tertawa. Mereka berdua bergandengan tangan untuk menjenguk Yara.


***


“Yaraaaa…”


“Alana? Kamu udah datang?” seru Yara dengan nada riang, seakan kejadian kemarin gak pernah ada.


“Iya, soalnya mungkin aku besok pagi bakal pulang ke Indonesia… aku sudah kangen


banget sama Genta.” Jawab Alana sambil memeluk dan mencium pipi Yara kanan dan


kiri.


“Aku juga sebenernya rindu sama Genta, tapi ya bagaimana lagi ? Lho… mas Rendra kemana?” tanya Yara lagi saat melihat Saka tidak datang bersama Alana.


“Mungkin dia lagi berkonsultasi dengan dokter, Yarr… Gimana kamu? Jadi kamu pulang ke Indonesia?” tanya Alana sambil menatap bola mata Yara yang indah.


“ Paman tidak setuju, Al. Dia ingin aku tetep mencoba. Kayaknya Paman sudah diskusi


sama mas Rendra dan ingin mencoba di Penang.”


“Lalu kenapa kamu sedih? Kan katanya kamu ingin sembuh.”

__ADS_1


“Duduklah sini, Al… Kita harus berbicara dari hati ke hati, aku mau menceritakan sebuah


rahasia yang kusimpan dengan kamu. Sebenernya aku sudah lama memendam ini.


Awalnya aku tidak ingin kamu mengasihani aku. Aku juga ingin sembuh, tapi aku


hanya mempersiapkan hatiku untuk beberapa kemungkinan yang mungkin tidak dapat


aku tolak.” Jelas Yara dengan suara lirih namun cukup dapat Alana dengar dengan


jelas.


“Maaf, suster yang biasa jagain kamu kemana, Yar?” tanya Alana kebingungan karena ia tidak melihat suster yang menjaga Yara.


“Suster itu hanya datang saat ashar sampai subuh, tapi ini dia ijin datang pas maghrib.


Lagipula paman ada kok, cuman dia sedang pergi sebentar.”


“Maaf, Yar. Kamu bisa lanjutin ceritamu lagi…”


“Gak akan ada selingan iklan lewat lagi kan?” goda Yara.


“Sudah lanjutin aja… kamu mau ngomong apa?”


“Ehm, ini tentang penyakit aku..Tentang penyakitku mungkin kamu sudah tahu tapi mungkin kamu belum tahu kalau beberapa bulan yang lalu sebelum aku memutuskan untuk memberi ijin kepada mas Rendra menikah lagi, aku melakukan operasi pengangkatan jaringan serviks dan histerektomi*)(prosedur pengangkatan rahim) untuk menghilangkan kanker di leher rahim. Walaupun sebenarnya aku juga tahu kalau


itu mungkin hanya sedikit memperlama jalan hidupku….”


“Kamu tidak bisa mendahului Allah, Yarr.” Potong Alana kesal dengan pernyataan Yara.


“Ya aku tahu, aku hanya manusia biasa yang merancangkan sesuatu tapi Allah lah yang


akan menentukan segalanya. Kamu tahu … kalau sebelumnya aku wanita yang


sempurna, setelah rahimku tidak ada, aku bukanlah menjadi wanita yang sempurna,


sehingga seingin apapun aku untuk melayani mas Rendra, aku tidak akan pernah


bisa melakukannya secara normal.” Yara tidak menangis, tidak ada isak tangis


disana, tapi raut sendu menghiasi wajahnya yang sempurna.


“Mas Rendra sangatttt baik, dia mengerti kondisiku, ia juga tidak memuaskan diri diluar. Itu yang membuat aku sakit, Al. Aku tidak bisa egois dan menuntut dia untuk


menerima aku apa adanya kalau aku saja tidak bisa memberi haknya. Aku sadar,


aku harus melakukan sesuatu, aku memilihkan dia calon istri yang bisa


menunaikan kewajibannya dan memberinya surga dunia serta keturunan dari darah


dagingnya sendiri, yaitu kamu.”


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2