
Tetep ya vote yang banyak supaya thor semangat💪🏻💪🏻💪🏻dan like setiap sudah bacaaa yaaa,😘
Makanya, budayakan like dan vote😘😘 yang banyak. Author sangat amat berterima kasih buat readers yang sudah meluangkan waktu dan upaya buat nge vote tanpa paksaan karena berarti reader menghargai author yang sudah susah payah bikin cerita ditengah kesibukan yang ada. Sekali lagi makasihh💋💋
yuk langsung aja baca.
Happy readingggg
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
" Kamu tunggu disana, kami akan segera sampai, Yara. " kata Saka lagi menenangkan. Sekalipun sebenarnya suara Yara tampak tenang.
" ..."
" Baiklah, sampai jumpa.!"
Saat telepon sudah ditutup, saat itu juga Alana sudah siap berdiri di depan pintu. Ia tadi juga sempat pamit dengan baby sitternya karena ia hendak menemani Saka menjemput Yara.
" Ayo, Bby! Kita berangkat sekarang. Lio udah siap?" tanya Alana sambil mengkalungkan slingbagnya dan menaruh ponsel dan dompetnya disana. Penampilannya sederhana bak anak kuliahan, kayak bukan wanita dengan anak 2, membuat Saka sering kesal. Tapi sekarang bukan saat yang tepat untuk membahas penampilan Alana.
" Udah! Ayok!" kata Saka sambil melingkarkan tangannya di pinggang ramping Alana. Bentuk tubuh Alana sudah balik seperti semula kecuali daerah dadanya yang masih tampak berisi karena air susu Alana buat Alend itu melimpah. Jadi Saka tidak usah repot untuk mencarikan susu formula buat anaknya.
__ADS_1
Didalam mobil, mereka hanya diam.Masing masing berpikir dengan pikirannya masing masing. Keheningan di dalam mobil tiba tiba sedikit terpecah saat mereka memasuki areal parkir hotel bintang 5 milik salah satu lawan bisnis Saka, karena emang mereka berjanji untuk bertemu Yara di salah satu Penthouse hotel itu.
" Kita langsung kesana saja? Atau harus pakai strategy?" tanya Lio mulai meragu. Kayaknya kemarin kemarin susah banget mau menemukan Yara. Satu kota diobok obok tapi tidak ada seorangpun yang bisa memberi petunjuk dimana Yara. Eh sekarang malah dengan mudah mereka bisa menemukan Yara. Lio takut ini hanya sebuah jebakan betmen.
" Eh bener juga katamu, kmu bawa in back up gih! Kalau aku dan Alana harus tetap masuk. Karena ia minta aku dan Alana untuk datang. " kata Saka sambil kemudian memeluk Alana dan menggandengnya ke arah kamar yang dituju. Sedangkan Lio setelah ia mengangguk ia tidak lagi membuang waktu ia langsung menelepon anak buahnya. Dan menunggu koordinasi meteka di daerah lobby hotel.
" Pokoknya kalau ada apa apa. Kamu yang tenang ya, sayang. Kamu harus berlindung di belakangku. " kata Saka dengan nada agak sedikit cemas. Baru kali ini ia melakukan sesuatu secara impulsif, ia tidak mempertimbangkan langkah langkah keamanan, untuknya dan Alana. Padahal waktu menemui pak Burhan aja, Saka yang sudah full pengamanan saja masih bisa kecolongan dan tertembak oleh pak Burhan. Ia tidak mencemaskan dirinya. Ia mencemaskan Alana.
" Bby, kamu ga usah gugup. Aku ga akan kenapa kenapa kok. Lagian kita kan hanya menemui dan menjemput Yara." kata Alana santai. Itulah Alana. Ia tidak pernah memiliki pikiran yang buruk. Ia hanya memikirkan keselamatan orang lain, dan tidak pernah egois mikirin dirinya sendiri.
" Ck sayang! Kamu jangan menganggap enteng. Karena kita ga tahu apa yang ada didepan kita. Siapa tahu Yara buat umpan saja? "
" Kamu ya? Mau godain aku? Sayang, kayaknya buka kamar disini asik kali ya? Sekali kali kita out of the box gitu. Bercinta di hotel lawan bisnis kayak ada tantangan tersendiri." kata Saka sambil mengosok gosokkan telapak tangannya tanda ia puas dengan pikiran mesumnya. Menurutnya ini adalah ide yang sangat bagus, supaya hubungan intimnya dengan Alana lebih berwarna. Sedangkan Alana hanya memutar bola matanya dengan jengah dan kesal mendapati pikiran Saka hanya tentang bagaimana menyenangkan junionya saja.
" Gak tahu! Saya kan ikan.." kata Alana dengan ketus menirukan jargon seseorang yang sangat viral di beberapa platform media sosial. Jawaban Alana membuat Saka menjadi gemas dan mencium pipi Alana sampai merah. Kayak yang biasanya ia lakukan dengan Genta kalau gemas dengan anak laki laki tertuanya itu.
" Hubby!!" kata Alana sambil memukul lengan Saka yang berotot. Saka hanya ketawa dan menarik tubuh Alana dan menciuminya lagi.
" I Love You, baby!! I really do!" kata Saka yang membuat Alana tersipu malu, Lalu Saka menarik tubuh Alana untuk berada dibelakang tubuhnya karena ia takut kalau sampai ada apa apa karena sekarang ia dan Alana sudah sampai di depan pintu yang dituju.
Gugup sudah pasti. Saka merasa kurang persiapan kali ini. Tadinya ia ga kepikiran seperti yang diomongin Lio. Dia hanya berpikir kalau ia pingin cepat bisa menemukan Yara.
__ADS_1
Saka mengetuk pintu ruangan yang dituju. Alana sudah ia taruh dibelakang. Alana sampai heran dengan kelakuan Saka. Entah karena freak out, Saka sampai berkeringat dingin.
Tiba tiba pintu terbuka, eh ya bukan tiba tiba juga, karena Saka mengetuk trus ada yang bukain. Ada seorang laki laki berkacamata dan bersikap dingin yang membuka dan mempersilahkan Saka dan Alana untuk masuk.
Ruangan penthouse itu sangat luas, ada satu kamar di dalam dan pantri di dekat ruang tamu. Diruangan tamu ada ranjang seperti ranjang rumah sakit dan disitulah Yara berbaring. Yara masih saja mengenakan selang infus dan selang oksigen. Tapi tak dipungkiri wajah Yara tampak lebih segar dan merona. Ia tidak tahu apakah ini adalah efek dirawat di klinik itu atau bukan tapi Saka merasa Yara lebih baik.
" Yara.." suara Saka sedikit tercekat, ia melihat laki laki itu mengambil posisi disamping Yara, lalu Saka mendekati Yara dari sisi sebaliknya. Sedang Alana tetap di suruh Saka untuk berada di belakangnya. Saka memandangi sekeliling tempat itu. Nampaknya sepi dan hanya mereka berempat yang ada disitu. Jadi mungkin perkiraannya salah.
" Hai mas Rendra? Maaf aku menghilang udah hampir 2 bulan ya? Gimana kabar Alendra?" tanya Yara dengan suara yng ceria walau tidak menutupi kegugupannya. Sedangkan laki laki yang ada di ruangan itu hnya diam dan membisu. Tatapannya tetap dingin dan datar.
" Alen baik." sahut Saka singkat. Ia hanya heran, rasanya Yara sepertinya agak sedikit menjaga jarak.
" Ehm hai Al... maap aku mengajak kalian bertemu baru sekarang. Gimana ya ceritanya, secara garis besar awalnya aku udah cerita dengan mas Rendra, masalah masa laluku yang kelam. Ehm, nah aku ingin menjelaskan secara terbuka kepada kalian, mas Rendra dan Alana. Agar aku bisa kembali menghadap yang kuasa tanpa ganjalan." jelas Yara terbata, dengan nada ragu dan seakan menyimpan beban yang besar.
.
.
.
TBC
__ADS_1