
" Biarlah paman jelaskan satu per satu dulu, setelah itu barulah Paman akan jawab pertanyaan kamu. Ehmm, saat Paman memisahkan Rangga dan Yara, juga ehm membuang anak Yara yang sempat dilahirkan. Yang menyebabkan kemudian Yara mengalami depresi akut. Membuat dia juga sering melkukan pencobaan bunuh diri. Dokterpun sering menyuntikan obat anti depresan dan terakhir mereka melakukan terapi hipno yang membuat dia bisa menerima kenyataan yang ada dan membuang kenangan kenangan buruk yang ada. Membuat Paman sadar, apa yang Paman lakukan itu salah, tapi sejujurnya Paman hanya ingin yang terbaik untuk Yara. Waktu itu, Rangga hanyalah seorang mahasiswa penerima beasiswa di fakultas kedokteran, sedangkan Yara sudah mapan dengan bisnis hotel bintang yang ia kelola. "
" Mau dikasih makan apa anaknya, sedangkan Rangga saja masih belum bekerja dengan benar. Sehingga Paman melakukan tindakan itu. Paman melakukan tindakan impulsif yang saat ini tidak paman sesali. Karena paman melakukannya demi masa depan Yara. Kemudian Yara bertemu dengan kamu, Ren. Lalu kamu meminangnya. Yara berubah menjadi wanita yang bahagia, yang sama seperti sebelumnya, saat dia bersama kamu. Dia mencintai kamu dan sudah melupakan Rangga dan anaknya. Apalagi kejadian itu terjadi 2 tahun sebelum dia menikah dengan kamu."
Saka tidak mengerti, kenapa Paman Yara tidak iba dan merasa sedih sama sekali, saat mengatakan ia telah memisahkan dan membuang anak yang sudah lahir dengan tanpa dosa. Sedangkan sekarang, Yara dan Saka saja kesulitan memiliki keturunan, dan mungkin banyak pasangan diluar sana yang memiliki masalah yang sama dengan dirinya. Darah Saka mendadak naik, ia merasa tidak lagi bisa menaruh hormat pada Paman Yara yang menurutnya kejam.
" Paman belum menceritakan apa yang terjadi dengan Yara, kenapa ia tampak seperti perawan saat menikah dengan aku?" desak Saka dengan nada penuh tekanan
" Yara melakukan operasi hymenoplasty, di rumah sakit, Ren. Empat puluh hari setelah ia melahirkan, dia sudah melakukan operasi itu, Ren. Aku tidak mau kesalahannya dimasa lalu membuat dia tidak dihargai oleh calon suaminya kelak." jawab Paman Yara dengan desahan diakhir suaranya. Seperti lega telah mengungkap kebohongan yang mereka tutupi bertahun tahun.
" Paman, bisakah Paman keluar sebentar? Biarlah Yara menyelesaikan persoalan Yara dengan mas Rendra sendiri. Bagian Paman yang sudah Paman ceritakan tadi. " pinta Yara dengan muka mengiba.
" Baiklah, paman akan tunggu diluar. " Paman Yara segera beranjak dari sana, meninggalkan pasangan suami istri itu sendiri.
" Apa yang kini hendak kamu jelaskan, Yar?" tanya Saka dengan nada datar.
" Maaf!" bisik Yara lirih. Ia tidak bisa menjelaskan apa apa, karena sebagian dari ingatannya pun sudah samar gara gara hypno, tapi sekelebat bayangan masa lalunya masih kadang teringat. Ia sangat tahu Saka terluka karena perlakuannya. Saka terluka karena kebohongannya.
__ADS_1
" Hanya itu? Tidak ada penjelasan lain yang ingin kamu katakan?" tanya Saka lagi, ia ingin istrinya menceritakan menurut versi istrinya.
Yara menarik nafasnya, mencoba merangkai kata kata yang tidak membuat semuanya semakin ruwet. Dan tanpa kebohongan tentunya.
" Paman tidak setuju dengan mas Rangga karena mas Rangga belum bekerja. Sedangkan hubungan kita sudah terlalu jauh. Rangga kemudian menikahi aku secara siti, karena aku juga masih terganjal ijin dari paman. Sehingga anak yang ada di dalam kandunganku bukan anak haram, dari awal aku sudah tahu kalau bakal sulit punya anak karena dokter sudah pernah mendiagnosa begitu maka aku berusaha sampai aku melahirkan anak itu. Tapi saat aku lemah ketika melahirkan anak itu, paman membawanya anak itu pergi, entah kemana akupun tidak tahu. Aku marah, aku memberontak, aku memohon supaya paman berbelas kasih agar aku tetap bisa merawat anak itu sekalipun aku berpisah dengan mas Rangga, tapi paman tidak menghiraukanku. Aku depresi mas, aku harus berjuang mati matian agar menghilangkan keinginanku untuk bunuh diri. Karena aku yakin anak aku belum mati." isak tangis Yara membuat Saka pun tidak tega. Bagaimanapun, Yara adalah istrinya yang sah, ia juga mencintai Yara, walaupun cintanya saat ini sudah terbagi, sudah tidak utuh lagi, tapi masih ada nama Yara yang mengisi separuh hatinya.
Saka pun merengkuh Yara dalam pelukannya, menaruh kepala Yara di dadanya, mengecupi kening Yara dengan penuh kasih sayang, membelai punggung Yara untuk memberi kekuatan, seolah amarah yang tadi ada karena kebohongan Paman Yara sirna, berganti rasa iba dan sayang pada Yara.
" Kamu tidak marah sama aku mas?" tanya Yara dengan wajah bersimbah air mata.
"Aku waktu itu sudahmencintai kamu mas. Aku takut kalau kamu akan kecewa dan meninggalkanku saat kamu tahu yang terjadi." bisik Yara lirih.
" Tapi kalau aku tahunya seperti ini, bukankah aku tambah kecewa?" tanya Saka lagi, ia ingin Yara tahu bahwa apa yang dilakukan oleh Yara dan pamannya itu salah.
" Apakah kamu akan menceraikan aku mas? Setelah kamu tahu kebohonganku?" tanya Yara dengan nada pasrah, ia sangat mencintai Saka, bagi Yara, Rangga mungkin sudah tidak berarti apa apa. Jujur ia tidak rela diceraikan Saka. Tapi ia tahu ini semua karena kesalahannya. Jadi apapun yang akan Saka lakukan. Ia harua terima. Ia harus rela. Ia harus mau sekalipun itu sakit.
" Apa itu yang kamu mau, Yar? " tanya Saka dengan tatapan tajam. Yara tidak.lagi sanggup menjawab, ia hanya menangis sambil menggelengkan kepalanya, ia merasa sesak didalam dadanya. Yara hanya bisa memukul dadanya untuk melegakan kesesakan di hatinya itu. Tapi tangannya segera dicekal oleh Saka, supaya tidak lagi menyakiti tubuhnya sendiri.
__ADS_1
" Aku manusia yang tidak sempurna, bahkan cintaku saja sudah tidak sempurna kepadamu, bagaimana aku bisa menuntut kesempurnaan dari kamu, Yara? Kalau kamu saja bisa ikhlas dimadu, kenapa aku tidak bisa ikhlas untuk memaafkan masa lalumu?" bisik Saka lirih ditelinga Yara, membuat tangis Yara semakin pecah, ia bersyukur kepada Allah tempat ia mengadu disetiap pagi, siang, sore, malam, bahkan subuh, karena ditengah kesakitannya, ditengah kelamnya masa lalunya, ia dicintai oleh Saka dengan cinta yang tulus, bukan cinta nafsu.
" Jangan menangis lagi, aku tidak sanggup melihat kamu menangis." ujar Saka sambil mencium pipi Yara yang basah oleh air mata.
"Maafkan aku, mas. Maafkan akuu." ujar Yara sambil masih tersedu, karena ia pikir setelah ia berterus terang, Saka akan jijik dengannya, akan menjauhinya, akan menceraikannya, tapi ia tidak menyangka, kalau Saka akan memeluknya dan mengampuninya.
" Apapun yang terjadi, karena kita ini sudah suami istri, mestinya kita harus mengatakan kenyataan yang ada sepahit apapun itu. " jelas Saka sambil duduk di samping Yara dalam posisi masih memeluknya dan membelai lembut lengan Yara.
" Kalau saja tadi kamu tidak bertengkar dengan pamanmu, pasti kamu tidak akan jujur dengan aku." lanjut Saka sambil masih melanjutkan kegusarannya.
.
.
.
TBC
__ADS_1