Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Episode 16. Harus Berbagi*


__ADS_3

Katanya kecerdasan diatas rata rata, tapi masih kena jebakan suaminya yang jauh lebih


cerdas, batin Saka dengan senyum kemenangan yang tersungging di bibirnya.


“Bby, kamu bohongin aku…” seru Alana sedih, karena dia terjebak permainan kata kata Saka,


dan melihat tangan Saka yang trampil melepas kaitan bra yang dia pakai sehingga


benda favorit Saka sudah tak terhalang apapun, seakan menantang Saka untuk


meremas.


“Kamu yang bilang sendiri loh, Lala sayangggg, kamu bilang ‘GAK ADA  KATA INGKAR DALAM KAMUSNYA ALANA’ waktu aku bilang kamu gak boleh  ingkar loh sayang.” Kata Saka sambil meraih kesempatan untuk meremas benda favoritnya yang sudah polos, dengan penuh perasaan sampai sang pemilik mendesah sempurna,


membuat Saka semakin semangat untuk membuat Alana menjadi tanpa sehelai benang, melepas satu satunya kain yang melekat di tubuh Alana yang indah.


“Bby…. Ahhh, jangan digigit dong ahhhh.” Protes disertai desahan membuat Saka semakin semangat untuk menundukkan buruannya untuk mengerang dibawah kuasanya.


Keinginan otak Alana adalah menolak karena tubuhnya sudah lelah, tapi entah kenapa


tubuhnya jujur menginginkan dan menginginkan lagi seluruh belaian dan hentakkan pelan serta kasar penuh ritme yang tepat untuk meledakkan seorang Alana.


Desahan dan erangan, serta meneriakkan nama masing masing membuat libido terpacu, sampai meledak bersamaan. Seakan tak pernah puas, Junio berusaha menghentak sarangnya lagi, membuat Alana  meledak berkali kali didalam kepuasan bersama Saka. Begitupun dengan Saka yang merasakan sensasi liar dan yang belum pernah ia nikmati saat dia bersama Yara. Sarang Alana yang


menurutnya sangat sempit membuat Junio kecanduan. Padahal Alana melahirkan


Genta dengan cara normal. Tapi seakan Alana seperti masih gadis yang belum


pernah melahirkan, mungkin ini yang membuat Junio kecanduan. Peperangan antara Alana dan Saka baru berakhir beberapa episode kemudian, dan Alana yang


kelelahan tertidur tanpa sempat membersihkan tubuhnya. Saka hanya menyelimuti tubuh polos istrinya dan rebah disisi Alana yang sudah terbang kealam mimpi, entah apa yang ia impikan, karena di wajahnya yang lelah hanya tersungging


senyuman manis.


“Aku gak nyangka kalau secepat ini aku sudah jatuh cinta sama kamu, bahkan kalau aku


boleh jujur sensasi bersama kamu lebih membuat nyaman dan menjadi diriku


sendiri. Mungkin karena kamu sahabat masa kecilku, entahlah! “ ujar Saka lirih,


sambil mengecup kening Alana, dan menarik tubuh polos Alana serta mendekapnya


dengan erat, dan sesaat kemudian menyusul  Alana menggapai mimpi bersama.


***


Bangun dengan badan yang remuk redam seakan menjadi keseharian Alana, sesudah menikah dengan Saka. Sedangkan Saka bangun dengan vitalitas yang berlipat lipat.

__ADS_1


Setelah melakukan kewajibannya sebagai umat muslim, mereka berdua lantas turun


kebawah, mengecek Genta … berharap bisa bermain bersama Genta yang imut itu


sebelum berangkat kerja. Aktifitas ini sering dilakukan oleh Alana saat belum


menikah dengan Saka, dan Saka pun sekarang juga menikmati aktifitas yang sama.


Bermain bersama Genta membuat Saka merasa menjadi ayah seutuhnya.


“Bby, kamu sudah ngecek kondisi Yara?” tanya Alana mengingatkan.


“ Tadi malam aku menghubungi paman Yara, karena katanya Yara tidak diijinkan untuk memegang ponsel. Tapi aku minta ijin kalau pagi ini, kita vidcall sama Yara. Gimana


sayang?” tanya Saka sambil membelai puncak kepala Alana dengan sayang.


“Ya udah.. telpon dulu sana. Mudah mudahan belum saatnya dia untuk terapi pengobatan, jadi kita gak mengganggu waktu mereka.” Tegas Alana masih menggendong Genta yang sudah dimandikan oleh mbak Hartin.


“Tunggu ya… ini juga sudah aku call, belum di accept.” Kata Saka sambil masih sibuk dengan smartphonenya.


“Halo..” terdengar suara laki laki diseberang sana, karena ponsel Saka dalam mode


speaker on.


“Assalammualaikum paman, ini Rendra, gimana dengan kondisi Yara? Apakah bisa diajak vidcall?”.tanya Saka kepada paman Yara yang menerima telepon.


“Walaikumsalam Ren, Yara masih belum bisa diajak berkomunikasi, kondisinya agak drop ..” ujar paman Yara lirih.


mengeras, dan tangannya mengepal. Dia benar benar jengkel karena Paman Yara


tidak mengabari kondisi Yara sejak Yara berangkat ke Singapura di hari Saka


menikah dengan Alana. Pamannya juga tahu tentang pernikahan kedua Saka.


Sebenarnya paman Yara kurang setuju dengan keputusan Yara untuk menyerahkan


Saka kepada wanita lain. Tapi demi menyenangkan keponakan yang sudah ia anggap sebagai anak nya sendiri, paman Yara rela menelan sakit hatinya.


“ Yara tidak mau menyusahkan kamu, Ren. “ jawab paman Yara dengan diplomatis dan dingin.


“Paman, Yara masih istri aku.” Tegas Saka dengan kepalan tangan yang membuat buku buku jarinya memutih.


“Paman tahu, tapi kamu kan juga tahu kalau Yara sangat keras kepala, dia tidak mau


dikasihani.” potong paman Yara lagi dengan nada yang ketus. Semua percakapan


itu didengar oleh Alana, dia juga mulai memahami kalau Yara tidak ingin

__ADS_1


dikasihani, tapi ini kan suaminya sendiri, untuk menengahi suasana yang sedang


memanas, Alana memegang tangan Saka dan mengelusnya, wajahnya pun mengisyaratkan


agar Saka tidak melanjutkan perdebatan itu. Sakapun menghela nafas dengan kasar


berusaha menurunkan tensi  suaranya, karena bagaimanapun paman Yara adalah pamannya juga.


“Baiklah paman, siang ini Rendra akan berangkat kesana. Nanti Rendra menghubungi paman lagi  kalau sudah tiba disana.” lanjut Saka mengakhiri perbincangan alot dengan paman Yara. Saka memandang Alana dengan tatapan sendu, seolah dia ingin minta maaf karena tidak meminta ijin


dari Alana terlebih dahulu untuk menengok Yara, karena bagaimanapun Alana


sekarang adalah istrinya juga.


“Maaf sayang, aku tidak ngomong dulu sama kamu, perihal menengok Yara ke Singapura.


Kamu gak apa kan, kalau aku kesana?” tanya Saka hati hati sambil menatap


ekspresi Alana yang saat ini terdiam.


“Ya allah, Bby! Yara itu istrimu juga. Kalau dia sedang drop, giliran kamu harus menjaga


dia. Persetan kata dokter dengan program hamil kita. Anak itu titipan, Bby!


Sekeras apa kita berusaha kalau memang belum jodoh kita, ya ga akan dapat.


Insyaalah setelah semua masalah beres kita akan diberi kepercayaan. Amin!” tandas


Alana sambil mengusap wajahnya, berharap doa yang ia panjatkan melalui kata


katanya akan dijabah oleh Allah.


“Ya, sayang. Maaf kalau aku lupa. Terimakasih udah selalu ingetin aku, semoga Yara tidak kenapa kenapa.” ujar Saka sambil menyugar rambutnya kebelakang, membuat rambutnya terlihat sedikit berantakan tapi tidak mengurangi kadar ketampanan seorang Saka dimata Alana.


“Lagian ini sudah kewajibanmu, dan aku juga kan harus berbagi..” kata Alana mengingatkan Saka dengan raut wajah datar, entah apa yang sedang dipikirkan oleh istri cantiknya itu.


" Yakin nanti gak rindu?” tanya Saka dengan niat menggoda Alana. Alana pun menghela nafasnya sebelum memberi jawaban  pada Saka.


“Bby, jangan gede rasa, ingat kamu yang memaksa aku menikahi kamu...” tanya Alana balik dengan tatapan dingin.


“Kamu gak sedang cemburu kan?” goda Saka lagi, ia tahu Alana sedang menata hatinya,


karena seperti yang ia katakan di waktu Saka melamarnya, dan sewaktu Yara memaksanya, bahwa ia tidak suka berbagi suami. Tapi ia juga sadar kalau dirinyabtidak boleh egois, sebagai istri kedua ia juga harus membagi kasih sayang suaminya kepada yang lain.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2