Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Episode 25. Rindu*


__ADS_3

“Nama saya dokter Ryan, ya saya tadi sudah menghubungi dokter Clara tapi saat ini dia


sedang membantu persalinan, begitu selesai dia akan kemari, silahkan kalau mau


menjenguk istrinya dulu, tapi karena ibu Alana masih membutuhkan banyak istirahat, jadi  satu orang saja yang boleh menunggu di dalam .” Sahut dokter Ryan mempersilahkan Saka untuk menjenguk istrinya.


“Lio, urus kepindahan Alana ke kamar VVIP, aku masuk dulu untuk memberi kejutan kepada


Alana.” Ujar Saka kepada Lio yang hanya dibalas anggukkan saja oleh Lio.


Cekrek…


Alana tampak lemah tak berdaya. Rupanya kehamilannya kali ini berbeda dengan saat Alana hamil Genta.


“Hai sayang…. Kamu sakit karena rindu sama aku ya?” tanya Saka sambil mengelus


punggung tangan Alana dan membawa tangan Alana untuk dikecupnya.


Alana hanya diam saja, dipikirnya Saka yang saat ini dihadapannya adalah fatamorgana, karena dia sudah terlampau rindu.


"Ah kayak gini rasanya rindu, sampe bisa melihat fatamorgana, berasa di padang pasir." monolog Alana sambil membuang pandangan wajahnya ke jendela kamar ruangan itu.


"Heiii, sayang... ini suamimu." potong Saka lagi, dan Alana hanya memandang Saka dengan pandangan tak percaya dan mencubit pipi Saka yang berada dekat dalam jangkauannya itu.


"Aduhhhh!!! Sakittt.." seru Saka yang kesakitan dicubit pipinya oleh Alana, untuk membuktikan keaslian orang yang sedang ada di hadapannya itu.


“Lho, Bby! Ini bener bener kamu? Kamu kok bisa disini?” tanya Alana kaget, karena mendengar suara orang yang


sangat dia rindukan selama hampir 1 bulan tidak bertemu.


“Kejutan!! Aku khawatir dengan keadaanmu, aku langsung kemari saat aku tahu kamu


sakit.”ujar Saka sambil mendekatkan wajahnya untuk mencium Alana dan mengabaikan pipinya yang masih nyeri karena dicubit oleh Alana.


Cup….cup…cup…


Saka mencium pipi dan kening Alana dengan penuh kerinduan. Alana pun menikmatinya sambil memejamkan matanya.


“Kamu gak ada yang ingin kamu katakan sama aku, sayang?” tanya Saka dengan pandangan yang menyelidik.


“Apa?” tanya Alana dengan wajah keheranan.


“Kamu gak ada kejutan yang ingin kamu katakan sama aku?” tanya Saka lagi sambil melirik ke perut datar Alana, seketika itu juga Alana paham apa yang dimaksud oleh suaminya.


“Kamu sudah tahu? Gak jadi kejutan dong kalau begitu!” kata Alana sambil mencebikkan


bibirnya tanda dia kesal karena ternyata Saka sudah tahu duluan.


“Kamu nakal banget ya…. Siapa yang nyuruh menyembunyikan hal sebesar ini dibelakangku?” tanya Saka dengan nada datar, Alana tahu Saka sudah ingin menjadi seorang Ayah, tentu saja Saka ingin tahu setiap progress kehamilan darah dagingnya itu.

__ADS_1


“Maaf, Bby! Aku juga baru tahu hari ini.” Sesal Alana sambil menundukkan kepalanya.


“Kamu kan sudah janji sayang… kalau kita bakal share semua yang menjadi masalah dan rencana kita… serta membahasnya berdua? HmmmH? “ nada Saka masih datar, tidak ada intonasi marah, tapi itu membuat Alana merasa bersalah.


“Awalnya aku kasihan kalau kamu harus membagi waktu ke Yara dan Aku, dan alasan keduaku tentunya aku ingin bikin kejutan. Aku gak tahu kalau kehamilanku yang ini lebih


rentan, sekalipun aku juga tidak merasakan mual muntah parah. Tapi anakmu ini


kayaknya ingin selalu sama daddynya, aku juga sekarang punya kebiasaan aneh,


suka mencium bau keringat kamu, Bby … jadi baju baju kamu yang menggantikanmu


selama hampir sebulan ini gak ada kamu.” Jawab Alana sambil menundukkan


kepalanya.


“Hei, mommy… kamu pasti menderita ya, harus berjauhan dariku? Maaf… maaf..” kata Saka sambil menangkupkan kedua tangannya diwajah tirus Alana dan menciumi seluruh wajah Alana penuh penyesalan. Dia tahu Alana harus menahan rindu akibat bawaan bayi yang ada didalam kandungannya demi tidak egois dengan kondisi Yara yang perlu penanganan Saka juga.


“Gak pa pa, Bby! Gimana kondisi Yara? Kok kamu tinggalin kesini?” tanya Alana dengan raut wajah khawatir.


“Aku kangen kamu sayang…” geram Saka ditelinga Alana, sambil mengecup cuping telinga Alana dan menjilatnya, tak memperdulikan pertanyaan Alana.


“Bby… ahh!” desah Alana tak sanggup menahan desir hebat diseluruh tubuhnya. Saka paling tahu letak letak sensitive istrinya itu. Saka merindukan Alana, merindukan


pelukannya yang selalu membuat hatinya nyaman menghadapi masalah yang seakan


bertubi tubi.


“Bby, jangan disini… ini rumah sa.. kit.. ahh.” Lagi lagi Alana mengeluarkan suara suara yang membuat Saka semakin bersemangat menyentuh sana sini.


Cekrek…


“Maaf.. maaff… saya gak tahu kalau kalian ..” seru dokter Clara sambil menutup kedua


matanya, tapi belum beranjak dari ruangan VVIP tempat Alana beristirahat sekarang.


“Ehmm,,, dokter, kenapa gak ketuk pintu sih! Nanggung jadinya..” jawab Saka dengan nada


datar dan ketus, karena masih dalam kondisi hype dan diganggu dengan kedatangan


dokter Clara, sedangkan Alana, jangan ditanya mukanya merah padam. Alana sibuk


membetulkan bajunya yang amburadul diserang tangan nakal suaminya.


“nggg.. Gak pa pa dok! Kamu mau periksa aku ya?” tanya Alana dengan nada ragu ragu dan


malu, karena ketangkap lagi sibuk bermesraan di kamar rumah sakit. Duh, malu bangettt!!


“Udah apa belum?” tanya dokter Clara masih sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


“Emang lagi main petak umpet!” segah Saka yang sukses mendapatkan cubitan manjah dari Alana di pinggangnya.


“Lha dia nutup matanya sambil bilang udah belum kok, baby! Kan kayak anak kecil yang


lagi main petak umpet.” Lanjut Saka sambil mencebikkan bibirnya, tanpa menghilangkan ketampanannya, bahkan Saka terlihat sangat menggemaskan dimata Alana.


“Udah, dok… lekas periksa aku! Aku kok rasanya lemas ya, dok..” tanya Alana tanpa


menghiraukan suaminya yang manyun karena dicuekin oleh Alana.


“Hmm..” hanya itu ucapan dokter Clara saat ditanya oleh Alana, membuat Saka semakin kesal.


“Tapi kondisi kamu gak pa pa sih… mungkin kamu kurang makan saja, sehingga lemas.”


Jelas dokter Clara sambil mengalungkan kembali stethoscopenya.


“Trus, kapan Alana bisa pulang.” Tanya Saka dengan nada dingin, seperti biasa.


“Besok kalau sudah gak ada keluhan, dia boleh pulang. Untuk malam ini, biar nginap disini dulu. Siapa tahu butuh diobserve lagi.” Jelas dokter Clara, sambil memandang kedua orang yang ada dihadapannya itu.


“Kalau hubungan intim apakah boleh, dok?” tanya Saka dengan nada yang masih datar,


yang membuat Alana melirik kearah suaminya dan memutar bola matanya dengan pandangan kesal.


“Boleh, tapi frekwensi nya dikurangi, juga jangan keras keras, nanti si ibu gak nyaman, tapi kayaknya Alana malah hot ya?” sindir dokter Clara sambil melirik Alana yang sudah merah padam wajahnya.


“Ehm, dok… ini suamiku yang tadi siang kuceritain.” Jelas Alana dengan sedikit canggung.


“Iya, aku sudah tahu… siapa yang gak kenal dengan tuan Narendra Sakabumi Perdana kan?” sarkas dokter Clara yang masih sebal dengan tingkah dingin Saka.


“He he he maafkan suamiku emang begini ini kelakuannya, kapan hari waktu nganterin aku


pas hamil Genta, kamu juga sudah pernah lihat kan?” kata Alana lagi sambil


berusaha mencairkan suasana, sambil menyenggol Saka yang masih manyun manyun manja.


“Iya, pernah!!  Baiklah… aku gak mau ganggu kebersamaan kalian… pasti masih kangen kangenan karena sudah lama gak ketemu kan? Kalau emang ada yang lain yang dirasakan kamu bisa langsung whatsaapp aku aja ya.” Kata dokter Clara sambil berlalu, Alana menyenggol suaminya memberi kode.


“Terimakasih, dok!” kata Saka masih dengan nada yang sama, setelah menerima kode dari Alana untuk sedikit ramah dengan dokter kenalannya itu.


“Hmmh…” jawab dokter Clara sambil menutup pintu ruangan VVIP itu. Tapi tak berapa lama,


dokter Clara menyembulkan kepalanya dibalik pintu ruangan rawat inap itu dan berkata.


“Lain kali kalo mau berbuat mesum, tolong pintunya dikunci dulu. “ katanya sambil terkekeh geli  kalau teringat dengan pemandangan yang tadi ia lihat, yang sebenernya hanya  pantas dilihat oleh orang yang berusia 17 th keatas.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2