Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Danau Sinju pt 3


__ADS_3

"Kota yang damai hanyalah kamuflase dari kejahatan itu sendiri."


******************#####****************


Pagi hari semuanya kembali ke keadaan semula, tidak ada keributan, tidak ada kekerasan yang ada hanyalah rakyat yang tertawa senang bersama dengan sesekali bercanda mengenai hari yang telah mereka lalui.


Suasana itu tampak indah seperti kebanyakan kisah dongeng di buku. Dimana semua orang hidup dengan bahagia dan saling membantu, hanya ada keceriaan dan kehangatan yang dapat dilihat di kota ini.


"Miris sekali," gumam Senja apatis saat melihat pemandangan hangat di hadapannya itu.


Senja tahu betul bahwa mereka sama sekali tidak mengetahui apa yang sudah di perbuat oleh tuan rumah mereka sendiri. Tidak ada yang tahu bahwa danau kecil yang mereka anggap sebagai simbol kesucian merupakan tempat paling kotor di kerajaan ini.


Sambil menikmati secangkir teh hangat dan cemilan ringan, Senja masih fokus dalam mencibir para warga yang terlihat bodoh baginya. Wajah-wajah yang di penuhi oleh senyuman hangat hanya membuat Senja semakin jijik dengan tempat ini.


"Nona, wajah anda sangat jelek saat ini."


Dian yang baru saja tiba tidak sanggup melihat ekspresi jijik nona nya itu. Senja hanya diam dengan acuhnya. Ia sama sekali tidak menanggapi Dian dan masih fokus dengan apa yang sedari tadi ia lihat.


Dian sendiri hanya bisa menghela napas panjang dengan reaksi dingin dari nona nya itu. Beberapa menit kemudian Senja memutuskan untuk berjalan ria mengelilingi kota.


Di sepanjang jalan, Senja hanya melihat kebahagiaan yang semakin membuatnya kesal tanpa sebab, sedangkan Dian yang berada di sampingnya hanya merasa aneh dengan sikap nona nya tersebut.


"Nona, jika anda kurang sehat. Mari kita kembali saja ke penginapan."


"Tidak."


Senja menjawab dengan singkat sebelum pergi masuk ke dalam bar yang berada di sampingnya.


"Kota ini tidak sekacau Kerajaan Guira namun tetap saja penampakkan ini masih aneh bagiku." batin Senja saat ia memasuki pintu bar. Anehnya bar ini tidak terlihat seperti bar-bar lain pada umumnya.


Terdapat banyak perbedaan disini, selain dari dekorasinya, penempatan ruang judinya pun terlihat sangat simpel dan berkerakyatan sosial atau bahkan bisa di bilang rendah.


"Apa ini?" tanya Senja frontal saat pertama kali melihat bar dengan nuansa aneh seperti ini.


"Ini..."


"Ini terlihat biasa saja," potong pria aneh yang entah dari mana datangnya.


Pria itu dengan sombongnya berdiri di samping Senja. Pakaian pria tersebut tampak tua namun masih terlihat mewah dengan ornamen perak di sekitar tangan dan dadanya.


Perlahan Senja melihat ke arah pria yang kini tengah tersenyum lembut padanya. Senyum itu tampak tulus namun entah mengapa Senja sama sekali tidak menyukai pria di sampingnya ini.


"Apa aku segitu tampannya tuan?" pria itu bertanya masih dengan senyum lebar di wajahnya. Senja yang mendengar pertanyaan narsis pria tersebut hanya menyipitkan matanya.


"Kau tampak kuno," balas Senja setelah beberapa saat diam.


"Aku tidak suka pada mu," lanjutnya dengan sinis sebelum menatap kembali ke arah depan untuk melihat isi bar.


"Oho, aku sangat tersanjung dengan itu."


Pria tersebut menjawab dengan nada sarkasme yang tajam. Ia terlihat begitu tertarik dengan Senja yang saat ini sedang dalam posisi menyamar sebagai seorang pria.


"Huh."


Senja membalasnya dengan helaan napas kesal. Ia lalu pergi meninggalkan pria tersebut untuk masuk ke dalam salah satu kamar judi.


Kamar judi itu terlihat sama persis dengan bagian luarnya, begitu sederhana dan biasa saja. Tidak ada yang spesial dari kamar judi tersebut, yang ada hanya beberapa pemain yang sedang bermain dengan santainya.


Mereka tampak acuh dengan kedatangan Senja disana, selain itu mereka semua rata-rata berusia lanjut. Beberapa diantara mereka bahkan terlihat cukup tua seperti seseorang yang hidup lebih dari setengah abad.


"Aku pasang dua cip," teriak salah satu pria tua sambil melemparkan cip miliknya.


"Aku ikut," balas yang lain bersemangat.


"Ke*arat sialan ini!" pekik yang lain kesal sambil mencampakkan kartunya ke lantai.


"Bhuaahaha..., pergilah dasar pecundang."

__ADS_1


Pria yang diteriaki terlihat semakin kesal, wajahnya memerah seperti siap meledak kapan saja. Ia dengan kejam mendorong kursinya kemudian pergi meninggalkan kamar itu.


"Pria tua sialan," gumam pria tersebut saat berpapasan mata dengan Senja. Ia dengan kasar menghela napasnya sebelum pergi meninggalkan kamar.


"Hei, ada apa bung?" pekik pria misterius yang sebelumnya berbicara dengan Senja.


"Kurang ngajar sekali," sambungnya sambil mengelus dadanya yang tersenggol.


Senja sendiri hanya menatap malas ke arah pria misterius tersebut. Ia sama sekali tidak minat dengan apa yang terjadi di sana.


"Merepotkan sekali," gerutu Senja dingin.


"Kita ketemu lagi disini," seru pria misterius tersebut masih dengan senyum ramahnya.


"..."


"Hahahaha..." pria itu tertawa canggung saat Senja hanya mengabaikan sapaannya. Ia terlihat malu dengan menggaruk lehernya yang sama sekali tidak gatal.


"Perkenalkan namaku Derick," lanjutnya kembali dengan tangan yang terulur. Namun sekali lagi Senja hanya menatap kosong ke arah tangan Derick dengan acuhnya.


"Aku tidak peduli," lirih Senja tajam yang menegaskan bahwa ia sama sekali tidak menyukai kehadiran Derick di kamar tersebut.


"Begitukah?" tanya Derick penasaran, namun bukannya menjawab Senja malah pergi meninggalkannya menuju kursi kosong yang sebelumnya ditinggalkan pemiliknya dengan kasar.


"Siapa ini?" tanya salah satu pria tua yang berada tepat di depan Senja.


Pria tua itu tampak senang dengan kehadiran Senja, mungkin ia berpikir untuk mengambil keuntungan yang banyak darinya.


Senja dengan malas mengabaikan pertanyaan pria tua tersebut. Ia kemudian melemparkan beberapa cip ke atas meja lalu memandang ke arah bandar.


"Mulai."


Beberapa pria tua yang berada di meja merasa tertarik dengan sosok pria muda yang tampak begitu percaya diri dalam tindakannya. Mereka dengan gembira menyambut permainan Senja namun sayangnya mereka tidak menyadari bahwa itu adalah akhir dari uang yang mereka miliki.


*****


"Apa sudah berakhir?" tanya Senja nakal.


"Aku menyerah," balas pria tua yang ada di sampingnya.


"Aku juga."


Pada akhirnya satu persatu dari pria tua tersebut menyerah pada Senja. Mereka sudah tidak memiliki uang lagi untuk bertarung maut dengan pria asing yang bahkan lebih licik dari siapa pun yang pernah mereka jumpai.


"Sayang sekali," seru Senja kecewa. Ia lalu melemparkan cip-cip tersebut pada bandar untuk di tukar menjadi uang sungguhan.


"Ah, tadi kalian sempat menyebutkan danau kesucian bukan?"


Mata pria tua kini beralih ke arah Senja saat ia menanyakan hal yang sudah jelas di kota tersebut.


"Itu benar pendatang baru," cibir mereka kesal.


"Baiklah, kalau begitu apakah kalian tahu apa isi dari danau tersebut?"


"Apa kau sudah gila karena kebanyakan menang?" salah satu pria tua bertanya dengan mata merahnya.


"Di seluruh benua ini, semua danau diisi oleh air. Air hah, air. Kau tahu apa itu air bukan?"


"..."


Senja hanya diam sambil mengangkat kedua bahunya.


"Astaga, anak ini!" teriak pria tersebut kesal.


"Paman, aku bertanya bukan karena aku tidak tahu melainkan aku hanya penasaran mengapa danau itu menjadi terasingkan?"


"Itu karena danau itu merupakan tempat kematian dari anak pemilik kota ini. Salah satu anak kembarnya meninggal disana sehingga danau itu di tutup untuk umum."

__ADS_1


Jelas Pria tua yang berada di samping kiri Senja.


"Begitukah? Aneh sekali."


Kini Derick yang angkat bicara. Ia terlihat bersemangat dalam cerita kali ini.


"Aku merasa jika danau itu agak aneh. Jika memang dia meninggal di sana, bukannya akan ada hari dimana danau itu di buka untuk mengenang arwah sang anak?"


Pertanyaan Derick sontak membuat seisi kamar diam. Mereka juga merasa ada yang aneh dengan hal itu, sebab setelah kematian dari anaknya, sang pemilik kota tidak pernah merayakan ataupun berduka cita dengan hal itu.


Mereka pikir pemilik kota mungkin saja merasa frustasi karena anak yang ia sayangi tewas begitu saja dengan cara mengenaskan sehingga ia sama sekali tidak pernah menunjukkan hal itu pada siapa pun. Mungkin saja si pemilik kota sedang bersusah payah melawan hatinya yang gelisah, namun ini sudah terlalu lama untuk itu.


Ini sudah terlalu lama sejak kematian sang putri namun si pemilik kota tetap diam bahkan cerita itu kini hanya menjadi dongeng dimana tidak seorang pun boleh mendekati area yang terus di jaga dengan ketatnya.


Melihat para pria tua yang kebingungan, Senja dengan senang hati ikut membuat mereka semakin gila.


"Apa mungkin saja si pemilik kota sedang menyembunyikan sesuatu disana?" tanya Senja dengan pancingan yang sempurna.


"Mungkin saja ada hal yang harus ia simpan rapat-rapat dari warganya sehingga tidak memperbolehkan siapa pun untuk berkunjung kesana meskipun itu hanya sekedar mengenang putri sendiri."


Senja terus saja menaburkan bumbu ke dalam pikiran kacau mereka.


"Mungkin si pemilik kota sedang bersiap untuk hal yang besar. Ya, hanya kemungkinan saja dan itu mungkin bisa jadi iya ataupun tidak. Siapa yang tahu."


Pikiran mereka kini semakin kacau dengan bumbu manis yang diberikan oleh Senja. Mata mereka berbinar dengan kasar dan tanpa memberi salam, mereka pergi meninggalkan kamar tersebut dengan wajah memerah dan langkah yang besar.


"Oh wow, kau hebat sekali."


Derick tampak kagum dengan Senja yang telah berhasil memprovokasi para pria tua tersebut.


"..."


"Jangan terus mengabaikan ku. Katakan saja apapun, meski itu hanya satu huruf saja."


Senja terlihat acuh meski Derick sudah memohon padanya. Ia masih tidak suka dengan Derick apa pun yang terjadi.


"Apa kau masih membenciku?"


"..."


"Kenapa?"


"..."


Hening beberapa saat disana, baik Derick maupun Senja. Mereka sama-sama diam tanpa kata. Sampai pada saat salah satu pelayan masuk dengan membawa uang milik Senja.


"Aura macam apa ini?" tanya pelayan itu saat memasuki kamar. Ia merasakan dingin di punggung belakangnya dan anehnya ia sama sekali tidak tahu asal dari rasa dingin itu.


"Tuan, ini uangmu."


Pelayan itu lalu menyerahkan uang Senja dengan terburu-buru sebelum keluar dari kamar tersebut dengan tergesa-gesa.


Senja dengan acuh melemparkan kantong uang tersebut pada Dian. Ia kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah pergi.


"Aku hanya tidak suka padamu, hanya tidak suka. Itu saja." seru Senja sebelum pergi meninggalkan kamar itu.


Setelah kamar hanya menyisakan dirinya seorang, Derick dengan santai menarik senyum nakal di kedua ujung bibirnya. Ia tampak begitu terhibur dengan permainan Senja beberapa saat yang lalu.


"Aku tidak menyangka jika Putri Utama Duke Ari ternyata sangat pandai dalam bermain judi." gumam Derick pelan.


"Aku bahkan tidak sadar jika ia sepandai itu dalam memprovokasi seseorang. Apa jangan-jangan selama ini sikap polosnya hanya kamuflase untuk kelicikannya itu?"


Pertanyaan demi pertanyaan terus muncul di pikiran Derick. Ia dengan dinginnya menatap area pintu keluar dimana Senja baru saja keluar dari sana. Dengan senyum anehnya, ia menarik sudut lidahnya untuk membasahi bibirnya yang kering.


"Apa kita perlu bermain lebih jauh lagi, sayang?" tanya Derick saat salah satu bawahannya memasuki ruangan.


"Tuan, semua persiapan sudah selesai."

__ADS_1


"Itu bagus, mari kita pergi." seru Derick saat menerima surat dari bawahannya itu.


__ADS_2