Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Rahasia Permaisuri Mawar


__ADS_3

"Berubah tidak harus sama namun jika hal itu dapat membuat mu bahagia maka lakukanlah."


*****************######****************


Aroma manis bunga mawar menyeruak harum di setiap sudut area paviliun. Aroma segar juga tercium disana tanpa malu-malu.


"Paviliun yang indah tapi sayang..."


Luna sangat menyayangkan tempat ini, ia merasa jika Duke terlalu bias dan serakah. Jika tempat ini terawat dengan baik, maka sungguh akan ada pemandangan indah yang menyenangkan di tempat ini.


"Nona, disana." Xena mengarahkan kedua sahabat itu menuju lokasi dimana ia menerima sinyal peringatan dari Muna.


Mereka kemudian pergi menuju sumber sinyal tersebut. Disana mereka melihat Maya dan Muna yang bergelantungan secara vertikal dan horizontal.


"Astaga Nona!" teriak Xena panik sambil menarik pedang yang ia sembunyikan.


"Hik...," seru Senja kaget. Ia tidak menyangka jika pelayan pribadi Muna adalah seorang ksatria.


"Jangan gegabah," bentak Muna memperingati bawahannya itu.


"Menurut mu mengapa kami tetap seperti ini jika pedang bisa mengatasinya." seru Maya dengan ekspresi wajah kelelahan.


"Maafkan saya," Xena terlihat kacau, ia merasa bersalah sekaligus bingung.


"Tetap tenang, biar aku yang membantu membebaskan kalian."


Senja lalu memutari area pohon tersebut, ia dengan hati - hati memperhatikan setiap detail pohon tersebut.


"Sulur ini tentunya memiliki awal dan akhir, tapi dimana?" gumam Senja saat memperhatikan bagian atas dan bawah akar pohon.


"Biar aku saja." Seru Luna sambil mengeluarkan tingkat sihirnya.


"Seben..."


Belum selesai Senja berbicara, sihir Luna sudah meledak dan membuat lubang di bawah area pohon.


"Astaga Luna, hachi...!" Maya bersin dengan keras. Ia menutup mulutnya akibat debu yang berterbangan.


"Maafkan aku." lirih Luna malu.


"Sudah aku katakan jangan gegabah!" bentak Muna semakin kesal dengan abu yang menutupi wajahnya.


Luna ingin marah tapi ia tidak jadi melakukannya. ia hanya bisa menahan tawanya saat melihat wajah Muna yang menghitam karena debu.


"Aku punya solusi," seru Senja dari balik pohon. Ia kemudian mendekati keduanya dan mulai menarik beberapa sulur yang bersilangan diantara mereka.

__ADS_1


Lama Senja mengotak-atik sulur tersebut sampai ia menarik sebuah sulur kecil yang akhirnya membuat Muna dan Maya terjatuh.


"Selesai." seru Senja dengan ekspresi wajah lega.


"Akhirnya, aku bebas juga." Maya yang terbebas segera bangkit dari jatuhnya dan mulai merenggangkan tubuhnya.


"Nona, anda baik-baik saja?" Xena terlihat khawatir. Ia membantu Muna berdiri dari jatuhnya dan mulai mengibaskan pakaian Muna dari debu kotor.


"Terima kasih Senja," seru Muna dan Maya hampir bersamaan.


"Aku senang kalian sudah bebas, tapi sebelum itu mari ikuti aku ke paviliun tulip." balas Senja sambil melangkah pergi dari tempat itu.


"Area ini terlarang, jika kita ketahuan resikonya akan besar." lanjut Senja yang dibalas anggukan kepala oleh yang lainnya.


****


Suasana malam di paviliun tulip begitu tenang, tidak ada keributan baik dari pelayan mau pun hewan pengerat. Bahkan suara langkah kaki saja bisa kedengaran dengan jelas.


"Aku harus berhati-hati,"


Senja perlahan membuka pintu kamarnya yang berada di lantai dua. Tepat saat jendela kamar terbuka udara dingin dengan kasar menyapa wajah cantiknya.


"Aku tidak tahu jika suasana malam di tempat ini begitu sunyi."


Senja sudah awal mengetahui jika tidak banyak pelayan di paviliunnya. Namun keadaan tenang ini sedikit janggal. Atau mungkin saja ia baru menyadari hal tersebut ketika benar-benar memperhatikannya.


Setelah pendaratan yang mulus Senja segera pergi dari tempat itu. Namun baru beberapa langkah ia sudah dikagetkan dengan sosok Luna yang sedang berdiri termenung di depan jendela kamarnya.


"Apa dia tidak kedinginan?"


Senja terlihat bingung, meski ini masih musim gugur namun suhunya sudah sedingin musim winter.


"Ada apa dengan Luna? Sejak awal kedatangan ia sudah kelihatan murung. Tidak biasanya ia seperti ini."


Senja mencoba mencari tahu tapi ia sama sekali tidak mengerti apa masalahnya. Luna bahkan tidak mengatakan apa pun kepadanya dan itu membuat Senja semakin bingung.


"Mungkin ada hubungannya dengan keluarganya."


Senja dengan hati-hati pergi meninggalkan tempat itu. Ia perlahan berjalan memutari arah kamar Luna. Saat Senja sedang berada di persimpangan jalan, ia tidak sengaja mendengar perkataan Luna. Hal itu sungguh membuat Senja syok bahkan ia tidak sempat menutupi mulutnya.


"Benarkah itu? Licik sekali." gumam Senja pelan sambil menghentikan langkah kakinya. Ia masih ingin mendengarnya lebih jauh tentang hal itu tapi Luna sudah menutup jendela, tidak lama cahaya lampu di kamarnya pun mati.


"Percuma saja, biarkan waktu yang akan menjawabnya."


Senja kembali pada misi nya malam ini. Ia begitu semangat dan tidak sabar untuk menjelajahi tempat tersebut. Sesampainya disana Senja langsung melompat turun Tania aba-aba terlebih dahulu.

__ADS_1


"Aku tidak sengaja melihat telat ini tadi sore, saat Luna tidak sengaja membuat tanah disekitar pohon runtuh."


Senja kembali teringat kejadian dimana Maya dan Muna tersangkut sulur pohon. Saat ia hendak memperingati Luna untuk tidak menggunakan sihir tapi sudah terlambat karena Luna bereaksi terlalu cepat.


"Saat itu aku kebetulan melihat ke arah lubang dan entah aku beruntung atau sial, aku malah melihat tempat ini." gumam Senja dengan perasaan senang.


"Untung saja tempat ini berada di balik pohon jika tidak mungkin mereka sudah melihatnya terlebih dulu dari pada aku."


Senja lalu membuka pintu kecil yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ketika pintu itu terbuka, ia melihat lorong panjang yang hanya diterangi oleh beberapa obor saja.


"Tempat apa ini?"


Perasaan Senja campur aduk, ia meras senang dan juga gelisah. Entah mengapa ada rasa geli yang merayap dihatinya ketika ia mulai memasuki lorong tersebut.


Perasaan yang tidak dapat Senja definisikan dengan benar. Ia merasakan emosi yang campur aduk antara marah dan kerinduan yang mendalam.


"Perasaan ini begitu asing, aku belum pernah merasakannya selama hidup ku ini."


Senja sedikit ragu dalam langkahnya, ia bingung ingin terus masuk menelusuri lorong atau berbalik kembali ke tempat awalnya.


"Tidak, aku tidak boleh lengah." gumam Senja sesaat sebelum membalikkan tubuhnya.


"Tapi ini sudah setengah jalan," lirihnya tidak senang.


Senja yang bingung tetap terpaku ditempatnya. Ia melihat bolak-balik antara pintu masuk dan kedalaman lorong. Merasa bimbang Senja pun mulai berspekulasi. Ia curiga bahwa ujung lorong ini akan membawanya pada rahasia yang dimiliki oleh permaisuri Mawar.


"Entah apa yang beliau sembunyikan tapi yang jelas tempat ini berhasil membuat perasaan ku kacau balau."


15 menit kemudian setelah Senja berspekulasi banyak hal, ia memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan ini.


Senja terus melangkah jauh menuju ke kedalaman lorong. Ia merasa akan menemukan hal yang besar sekaligus berbahaya untuknya.


"Jika itu terlalu berbahaya, aku akan segera melarikan diri dari tempat ini."


Lama Senja berjalan sampai akhirnya ia melihat anak tanggal yang mengarah ke bawah tanah. Dengan ragu Senja melangkahkan kakinya menuju ruang bawah tanah itu.


Anehnya tidak ada hal spesial yang Senja dapati diujung anak tangga itu. Disana ia hanya melihat sebuah pintu besar dengan berbagai ukiran aneh di setiap sisinya.


Pintu itu diukir dengan gambar naga yang setiap sisiknya berwarna hitam pekat. Anehnya di setiap tubuh naga terdapat sulur bunga mawar dengan duri yang menancap tajam pada tubuh naga tersebut.


Naga itu terlihat kesal namun tidak ada reaksi yang berlebihan. Ia hanya menatap bunga mawar dengan Lily di ujung taringnya. Sungguh pemandangan yang aneh tapi juga indah.


"Tempat apa ini?"


Senja yang bingung mencoba untuk membuka pintu tersebut. Namun sayangnya bukan pemandangan indah yang menanti Senja melainkan kabut hitam yang membawa Senja pada halusinasi panjang.

__ADS_1


"Aku harus melarikan diri,"


Alam bawah Senja mulai memperingatinya, namun sayang sebelum Senja sempat bereaksi ia sudah ditelan oleh awan hitam tersebut.


__ADS_2