
"Pengkhianatan yang kau buat akan menjadi bumerang bagi dirimu sendiri nantinya."
*****************#####****************
Para penonton yang menyaksikan ekspresi terkejutnya Dira merasakan keanehan.
"Apa yang dikatakan putri Luna hingga membuat ekspresi Nona Dira menjadi kaku seperti itu?"
"Entahlah, tapi yang pasti itu bukan hal yang bagus baginya."
"Ini aneh, aku rasa ada hal yang mereka tutupi di tempat itu."
"Kurasa kau benar, mungkin ini adalah alasan mengapa kelompok putri Luna masih belum mengeluarkan seluruh kemampuan mereka."
Semua penonton saling memberikan spekulasinya masing-masing. Mereka percaya bahwa ada tipu muslihat tersembunyi di hutan itu sehingga membuat seluruh anggota kelompok Luna menuju titik buta hutan.
Disisi lain, Selir Jina dan Pangeran Kelima yang menonton dari balik layar merasa sedikit kesal. Mereka tidak senang dengan spekulasi yang diucapkan para penonton yang duduk di belakang mereka.
"Ibu, ini..."
"Tenang saja," lirih selir Jina ketika pangeran kelima ingin mengatakan sesuatu padanya.
Mereka berdua masih belum mengetahui jika Luna dan kelompoknya sudah tahu jika ada pembunuh bayaran di dalam hutan tersebut.
"kita tunggu saja dulu."
"Baik, Bu."
Keduanya saling menatap satu sama lain sambil memberikan kode untuk tetap tenang. Putra mahkota yang merasa aneh dengan situasi ini sudah menduga jika ada campur tangan dari pihak selir utama untuk mengacaukan ujian adik tersayangnya itu.
"Periksa seluruh area akademik, jangan lewatkan apa pun."
"Baik, tuan."
Lucas menyuruh bayangannya untuk mencari di setiap sudut akademik jika ada hal yang mencurigakan. Mungkin ini adalah kesempatan emas baginya untuk bisa menghancurkan ibu dan anak itu sekaligus.
Lucas tanpa sadar bertemu mata dengan Prof Edward yang sama-sama terlihat panik. Lucas tersenyum hangat pada Prof Edward sebelum memalingkan wajahnya untuk menatap layar tempat dimana Senja dan Sarah sedang bertarung selama dua hari penuh.
Prof Edward juga melakukan hal yang sama sebelum menghela napas panjang dan segera meninggalkan podium untuk mengawasi daerah sekitar tempat ujian.
"Ini sangat merepotkan," gerutu Prof Edward ketika ia melirik sekilas pada jendela layar yang menampakkan wajah tenang Senja.
"Aku tidak bisa terus mengawasi anak itu, kuharap ia bisa menjaga mana nya agar tidak pecah," gumam Prof Edward singkat saat melangkah keluar dari podium. Ia segera mengeluarkan Ciru, hewan magic yang sudah terikat sumpah olehnya.
"Ciru, awasi bagian Utara dan Selatan area hutan ini."
"Baik, tuan."
Ciru langsung bergegas pergi menuju area tersebut sedangkan Prof Edward pergi untuk mengawasi daerah lainnya.
"Aku berharap jika itu hanyalah omong kosong semata,"
****
"Kau tidak akan bisa terus sembunyi dariku, dasar sampah," teriak Sarah tajam setiap kali Senja menghindari serangannya. Hal itu sengaja dilakukan Sarah agar Senja merasa terprovokasi oleh ucapannya.
"Teriak lah sesuka hatimu, ini sudah dua hari penuh sejak kau tidak henti-hentinya berteriak memancingku,"
Senja memasang wajah poker, ia terlihat acuh tak acuh saat Sarah mulai memprovokasi dengan berbagai macam manipulasi.
Sudah dua hari sejak Senja berpisah dengan kelompoknya. Saat itu baik Senja dan yang lain sudah sepakat sebelumnya untuk membangun masing-masing dari kelompok Dira.
"Aku masih harus menggiring mu jauh ke dalam hutan untuk membuat mu merasakan hal yang jauh lebih pedih dari apa yang telah kau berikan pada Senja asli."
Senja tersenyum licik seperti iblis nakal, ia memperlihatkan gigi taringnya dengan ujung mata yang melengkung seperti bulan sabit.
"Sekali sampah tetaplah sampah, kau tidak akan bisa menjadi tuan putri dengan sikap pengecut seperti itu."
"Aku tidak peduli," sahut Senja acuh tak acuh.
Mendengar jawaban Senja membuat Sarah naik pitam. Ia dengan kekuatan penuh mulai mempercepat pengejarannya.
"Aku akan memberimu pelajaran yang berharga kali ini sampai kau tidak akan sanggup lagi bersikap sombong seperti itu."
" ... "
"Awas kau."
" ... "
Senja masih saja diam dan terus berlari jauh ke dalam hutan.
Pada dasarnya Senja akan sampai di titik tujuan lebih cepat dari pada Luna atau pun Muna namun karena sikap agresif Sarah yang menyerangnya dalam beberapa titik sehingga jalur pelarian utama menjadi kacau dan pada akhirnya Senja memutuskan untuk mengambil jalan memutar.
"Jia, serang dia," teriak Sarah parau pada Jia yang merupakan hewan magic miliknya.
Jia adalah seekor hyena yang memiliki kecepatan tinggi dalam memburu mangsanya. Tentu saja dengan cepat Jia dapat langsung berada di samping Senja dan inilah alasan mengapa Senja menjadi terhambat.
Senja yang merupakan spesialis dalam teleportasi langsung menghilang begitu saja ketika Jia mulai menyerangnya dengan kasar. Selama prose pertarungan yang sengit itu Senja hanya menggunakan satu kekuatan yaitu teleportasi sehingga para penonton menjulukinya 'Flash girl' karena kemampuan nya dalam berpindah begitu cepat melebihi seorang ahli sihir tingkat biasa.
Senja bisa saja langsung berteleportasi menuju tempat tujuan namun jika begitu ia akan kehilangan momen penting untuk menguras seluruh tenaga Sarah.
"Aku harus menambah kecepatan, hari sudah malam dan hanya butuh 10 menit lagi untuk bisa sampai di sana," lirih Senja semakin mempercepat larinya.
Sarah yang melihat perubahan kecepatan Senja mulai berpikir jika Senja sudah sampai pada batasnya.
"Jia, tingkatkan kecepatan mu, kali ini kita pasti bisa menangkapnya."
Senyum licik mulai muncul pada wajah Sarah, ia sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang menunggunya di depan.
__ADS_1
"Hah, aku sampai," seru Senja lega tapi itu hanya sementara karena Sarah juga sudah sampai pada posisinya sekarang.
"Hehehe. Mari kita mulai permainannya."
Senja mulai menatap tajam pada wajah Sarah yang juga menatapnya lebih tajam lagi.
"Kau tidak akan bisa kabur lebih jauh dari pada ini," seru Sarah puas ketika Jia sudah mengepung bagian belakang tubuh Senja.
"Tenang saja, aku tidak akan kabur lagi."
"Hahaha, apa kau sudah siap mati sekarang hah?"
"Tidak juga, aku hanya merasa kasihan pada mu."
" ... "
Mata Sarah menjadi fokus pada perkataan Senja semenjak ia mendengar kata 'Kasihan pada mu'. Entah mengapa hal itu menusuk langsung hatinya.
"Sekalipun aku mati kau tetap saja tidak bisa menaiki posisi putri utama Duke, karena memang sejak awal posisi itu bukanlah milik mu."
Wajah Sarah semakin memerah, tangannya terkepal erat, hal yang sama juga terjadi pada Jia. Ia melototi Senja sambil menampakkan taringnya yang tajam.
"Berani nya kau pada ku, dasar sampah buangan."
"Sampah? Buangan? Apa aku terlihat seperti itu bagi mu sekarang?"
Senja sengaja memprovokasi Sarah lebih jauh lagi agar dirinya tidak terkendali dan lepas kontrol. Sehingga membuatnya tidak lagi efisien dalam bertarung.
"Dari dulu sampai sekarang kau tetaplah sampah. Itu tidak akan pernah berubah."
"Tentu saja ada perubahannya. Jika dulu aku selalu percaya pada kata-kata mu, kini itu hanyalah omong kosong"
Sarah yang sejak awal mulai kehilangan rasionalitasnya langsung menyerang Senja dengan bola es padat. Bola-bola es itu mulai datang menerjang Senja, namun dengan mudah bola es diblokir dengan bola api milik Senja.
"Api dan es, menurutmu siapa yang akan menang?"
Senyum licik mulai mengembang pada wajah polos Senja, segera Senja kembali menyerang Sarah dengan puluhan panah api yang dikuatkan oleh angin.
"Sialan kau," teriak Sarah tajam sambil memblokir serangan panah api tersebut namun salah satu diantara mereka berhasil menyayat pipi kanan Sarah.
Darah mulai keluar dari pipinya. Ia menghapus darah tersebut sambil memelototi Senja dengan tajam.
"Sampah gila ini...!" pekik Sarah marah sambil memberikan kode pada Jia untuk menyerang langsung Senja dari arah belakang punggungnya.
Senja dengan reflek menghindari serangan itu, ia kemudian menggunakan sihir angin untuk meringankan tubuh sehingga ia bisa bebas berada di udara terbuka.
"Ah, tidak kena," seru Senja nakal sambil mengibaskan angin puyuh ke arah Jia yang membuatnya terhempas jauh kebelakang.
Melihat itu membuat Sarah semakin kesal. Ia lalu meluncurkan tombak es ke arah Senja secara liar. Melihat bahwa Sarah mulai menjadi liar Senja hanya tersenyum riang sambil mengayunkan angin puyuh ke arah perut Sarah yang membuatnya terhempas kebelakang sedangkan tombak es miliknya terbang ke berbagai arah secara acak.
"Emosi adalah kelemahan fatal bagi seorang petarung, seharusnya kau tahu itu Sarah,"
"Ini, ini...!" pekik Sarah semakin kesal setiap kali darah mengalir keluar dari mulutnya. Ia menatap tajam Senja sambil membentuk bola es raksasa yang sangat kuat.
Bola es tersebut ia lemparkan ke wajah Senja namun Senja dengan santai menghancurkan bola es tersebut dengan hanya satu tangan saja.
"Lemah, kau lemah sekali," bisik Senja pada Sarah ketika bola es tersebut hancur berkeping-keping.
"Senja...!" teriak Sarah frustasi sambil menyuruh Jia menyerang Senja kembali dari samping sedangkan dirinya mulai meluncurkan panah es dari depan.
"Kali ini kau akan tamat," batin Sarah senang namun tiba-tiba saja datang sebuah raungan besar dari arah belakang dirinya. Suara itu mengaum sangat besar sehingga membuat seluruh tubuh Sarah bergetar hebat.
Sarah yang kehilangan fokus mulai memutar tubuhnya menatap asal suara tersebut. Di sana ia bisa melihat seekor harimau putih sedang melompat ke arahnya.
Dengan panik Sarah terjatuh duduk di tanah tanpa bisa berkata apa pun. Tanah mulai bergetar dengan energi hebat yang dikeluarkan oleh hewan magic tersebut.
Harimau putih itu lalu mengelilingi Senja dan duduk di sampingnya. Senja lantas mengelus lembut kepala harimau tersebut sambil tersenyum nakal pada wajah kaku Sarah.
"Kun, sudah siap?"
Kun hanya menatap kosong pada wajah Senja sebelum meringkukkan wajahnya dalam - dalam.
"Dasar kakek tua sialan ini."
Wajah Senja yang senang tidak menampakkan rasa kesalnya terhadap sikap acuh Kun yang sama seperti biasanya.
"Hahaha. Kau luar biasa," seru Senja sekali lagi masih tetap mengelus lembut kepala Kun.
"Apa..., apa itu?"
"Tentu saja hewan suci milik ku."
"Bukankah itu hanya seekor kucing yang kabur terakhir kali."
"Heh."
Mendengar nada tidak percaya dari Sarah membuat Senja tersenyum nakal.
Kun yang tidak terima dihina oleh Sarah mulai mengaum kasar. Ia membuat Jia yang tadinya ingin menyerang Senja menjadi takut dan meringkuk di tanah. Dengan sekali kibasan tangan, Jia terhempas jauh kebelakang hingga tubuhnya membentur batu dan pecah.
Kondisinya sangat parah sehingga mulut Sarah terbuka dan mengatup dengan cepat.
"Siapa yang kau sebut pengecut hah? Aku tidak kabur seperti yang kau kira, itu hanya sebuah pengalihan." bentak Kun kasar.
Sayangnya Sarah sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja di teriakkan Kun. Ia hanya mendengar raungan kasar dan berat dari seekor makhluk magic yang terlihat suci itu.
Senja yang melihat wajah takut Sarah mulai tersenyum makin lebar, ia duduk di atas pundak Kun sambil menatap tajam ke arah Sarah yang terduduk kaku di atas tanah.
"Apa kau pernah berpikir mengapa tidak ada seekor monster pun yang muncul sejak awal pertarungan kita."
__ADS_1
" ... "
"Mereka semua sudah dibereskan olehnya dengan perintah ku agar tidak ada satu pun yang bisa menggangu pertarungan ini."
"Itu..., aku..."
"Kau mungkin tidak berpikir sejauh itu karena kau sangatlah bodoh dan percaya diri."
Sarah mulai menatap wajah Senja yang sejak awal menatapnya sangat rendah. Sudut bibir Senja mulai naik ketika ekspresi Sarah berubah dengan cepat.
Mulut Sarah mulai terbuka dan menutup dengan sendirinya. Ia tidak pernah berpikir jika Senja yang notabenenya lebih lemah dari pada dirinya bisa memiliki keberuntungan semulus ini.
"Bagaimana bisa?" tanya Sarah kaku.
"Apa kau bertanya bagaimana aku bisa mendapatkannya hah?"
" ... "
"Pikirkan saja sendiri, aku tidak akan pernah memberitahukan hal ini pada wanita sombong seperti mu."
"Sial."
"Guahrhh!!"
Wajah Sarah semakin kacau ketika raungan besar keluar dari mulut Kun. Ia merasa seolah-olah akan hancur hanya dengan berdiri di hadapan harimau putih itu.
Disisi lain jendela layar, para penonton mulai heboh dengan kemunculan hewan legendaris sehingga mereka tidak bisa menutup rasa penasaran terhadap Senja.
"Bagaimana bisa?"
"Bagaimana bisa?" gumam mereka satu persatu tanpa henti sedangkan para bangsawan yang lain hanya bisa mengepalkan tangan mereka cemburu.
Mereka sangat menginginkan hewan tersebut namun karena memiliknya memiliki posisi tinggi mereka tidak bisa sembarangan menyentuh putri utama seorang Duke yang memiliki ikatan dengan Raja.
"Sungguh hari yang sial!" pekik pangeran kelima yang tidak habis pikir tentang kartu AS yang bakal dikeluarkan oleh mantan tunangannya itu.
Meski Helios sangat menyayangkan hal itu Namun ia sama sekali tidak menyesal karena telah memutuskan hubungan tersebut.
Helios hanya kesal karena Senja memiliki hewan suci legendaris dan bukannya Arina.
"Seharusnya itu milik Arina. Milik ku," lirihnya kesal. Ia juga tidak bisa merebut hewan suci itu karna seluruh kerajaan sudah mengetahui pemilik asli dari harimau suci itu.
Raja yang melihat harimau putih hanya bisa menatap jendela layar dengan perhatian penuh, ia teringat kembali tentang permaisuri mawar yang memiliki dua elemen dan juga seekor hewan suci legendaris sama seperti Senja.
"Sungguh kau terlihat mirip dengan ibu mu, dari wajah sampai kepribadian, kalian terlihat tidak jauh berbeda," seru Raja yang dibalas anggukan kepala permaisuri.
"Anda benar yang mulia, ia sangat mirip dengan Permaisuri Mawar, adik kesayangan ku."
Permaisuri menjadi senang karena putrinya telah berteman baik dengan anak dari seseorang yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
*****
Sarah yang kaku tidak tahu jika tanah yang ia pijaki mulai runtuh.
"Mari kita akhiri ini," seru Senja acuh sambil menatap wajah dingin Sarah.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Masih banyak yang harus di urus kali ini," jawab Senja datar dengan senyum dingin diwajahnya.
"Kau, seharusnya..."
"Seharusnya sudah mati bukan?"
"Apa? Tidak!"
"Bukankah itu yang ingin kau katakan setelah menyuruh Amel untuk menaruh racun dalam minuman ku selama ini." seru Senja dingin yang membuat wajah Sarah mulai memucat.
"Aku tahu jika Amel mengkhianati ku karena mu. Ia bekerja sama dengan kau dan Dira untuk menghancurkan ku bukan?"
"Itu.. Itu tidak benar."
"Tidak benar? Apa kau masih ingin menyangkalnya sampai akhir?"
Senja terus menyerang Sarah tanpa henti. Ia ingin para penonton yang ada di podium serta para bangsawan yang hadir mengetahui tentang rencana busuk mereka.
"Tidak mungkin. Kau..., kau salah paham."
"Hah, membosankan sekali."
Senja yang sudah bosan dengan Sarah segera menghancurkan pijakan kaki Sarah dengan sihir angin sehingga membuatnya terperosok jatuh ke dalamnya.
"Argh...!!?" teriak Sarah ketika tubuhnya sudah terjatuh ke dalam lubang yang ada dibawah kakinya.
"Apa-apaan ini?"
Sarah mulai bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi sekarang. Ia masih belum kembali sadar setelah mendengar perkataan Senja tentang rencananya.
Sesampainya di bawah tanah, Sarah bisa melihat begitu banyaknya monster yang sudah bersiap untuk menyerangnya.
"Ini, sialan kau Senja!," pekik Sarah kasar ketika salah satu dari monster itu mulai menyerangnya.
Senja yang mendengar erangan Sarah hanya menatap ke arah lubang dengan pandangan dingin sambil memegang gulungan Ying yang ia dapat dari nya dalam pertarungan sebelumnya.
"Ayo kita pergi," seru Senja pada Kun yang segera menghilang dari balik pohon meninggalkan Sarah dan teriakannya.
Para penonton yang melihat Senja mulai menghilang dari balik pohon bersamaan dengan Kun mulai saling berbisik satu sama lain mengenai perkataan Senja terhadap Sarah.
"Apa itu benar?"
__ADS_1
"Jika benar, maka ini bukan lagi ujian tapi pembunuhan."