Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Festival Rakyat pt 2


__ADS_3

"Kenali dirimu maka kau akan mengetahui apa yang kau inginkan."


*****************#####*****************


BRUK!


Terdengar suara jatuh seperti tubuh yang menghantam tumpukan kayu. Suara itu semakin lama semakin sering terdengar. Anehnya tidak ada seorang pun yang berani menghentikan suara tersebut.


"Nona, tidak maksudku Tuan. Apakah anda ingin mendengar rumor tersebut?" tanya Bina penasaran.


Bina sedikit takut untuk bertanya karena pria dihadapannya itu hanya diam tanpa rasa tertarik sedikit pun, meski saat ini posturnya sedang menghadap pertarungan namun itu terlihat acuh.


"Ceritakan," seru Senja yang masih menatap ke arah pertarungan.


"Baik Nona, tidak Tuan."


Bina masih saja salah menyebutkan identitas Senja karena meskipun saat ini Senja sedang menyamar tapi penampilannya masih terlihat seperti pria muda yang berparas cantik.


Bina kemudian menceritakan segala hal yang ia ketahui mengenai rumor dari gadis yang tengah berhadapan dengan Kaira.


"Nama gadis itu adalah Dera de Sein, ia adalah putri kedua dari bangsawan timur yaitu Marques Sein,"


"Marques Sein juga merupakan salah satu dalang yang membuat Kaira harus dikeluarkan dari keluarga kerajaan dan menjauhkannya dari tahta sebagai Ratu masa depan," lanjut Bina serius.


"Menarik," gumam Senja pelan pada dirinya.


"Marques saat ini sedang mendukung pangeran kedua dengan melakukan pernikahan politik antar keluarga dan..."


"Dan gadis itu adalah anak yang ia rekomendasikan," potong Senja acuh.


"Benar No..,Tuan. Dera adalah gadis yang akan dinikahkan oleh Pangeran kedua sebagai penghubung keluarga Marques."


"Hmm, menarik,"


"Selain itu..."


Bina menjeda perkataannya sambil melirik sekilas kearah Dera yang saat ini tengah melempari batu ke Kaira.


"... Pangeran kedua pada faktanya sangat mencintai Kaira, kakak sepupunya itu. Ia mencintai Kaira lebih dari hubungan darah dan hal itulah yang membuat Dera sangat membenci Kaira."


"Tunggu, apa maksudmu dengan cinta melebihi darah? Apa jangan-jangan..."


"Yang anda pikirkan itu benar Tuan. Oleh karena itu, Kaira memutuskan untuk keluar dari istana dan memilih menjadi petualang."


"Hah, ini gila!" lirih Senja tidak percaya.


"Tapi Tuan, fakta itu belum segila bahwa Kaira sendiri juga menyukai pangeran kedua. Mereka terlibat cinta terlarang yang pada akhirnya membuat Kaira setuju untuk keluar dari istana."


Penjelasan Bina sukses membuat mulut Senja terbuka lebar. Wajahnya mengkerut dengan tajam dan matanya hampir saja keluar karena terkejut.


"Apa yang kau katakan, tidak. Sebelum itu, dari mana kau mendapatkan informasi ini?" tanya Senja serius dengan wajah dinginnya. Bina tampak kaget namun dalam sesaat ia segera kembali ke keadaan semula.


"Saya punya mata dan telinga yang baik Tuan. Saya juga terhubung oleh berbagai teman yang setia dan tentu saja informasi ini keluar dari orang terpercaya yang menjualnya dengan mudah."


Senja hanya menghela napas panjang dengan omong kosong yang di lontarkan Bina.


"Katakan padaku dengan bahasa yang aku mengerti Bina?" bentak Senja kesal.


"Ah, maksud saya Nona, tidak Tuan. Jadi begini, sahabat saya yang bekerja di bar mendengar hal itu langsung dari bawahan terpercaya Marques dan bangsawan lainnya yang pada saat itu sedang memesan jasanya unt..."


"Aku mengerti," potong Senja datar.


Terkadang para bangsawan kurang berhati-hati dalam menceritakan aib bangsawan lain di depan para wanita penghibur. Mereka berpikir bahwa wanita penghibur hanya sekedar pajangan yang tidak berarti, sehingga mengabaikannya begitu saja.


Pada faktanya, wanita penghibur sering kali digunakan sebagai aset jasa pertukaran informasi untuk menjatuhkan musuh yang lalai seperti mereka. Terkadang wanita penghibur juga digunakan sebagai alat membunuh yang tidak bisa diwaspadai oleh mereka.


"Memang benar, harta dan wanita itu sangat menyeramkan. Mereka membuatmu lupa bahwa mawar juga memiliki duri yang tajam,"


"Kalau begitu, menurutmu apa yang akan terjadi nantinya?" tanya Senja sambil melirik ke arah Kiara.


"Saya tidak tahu tapi kemungkinan besar Kaira akan disalahkan itu. Lagi pula, Kaira tetaplah putri sang Raja bagiamana pun kondisinya dan mereka yang melawannya sama saja seperti pengkhianat."


"Jadi menurutmu Dera yang akan di hukum?"

__ADS_1


"Saya rasa tidak, Nona. Karena Marques tidak akan membiarkan putrinya dalam masalah seperti ini."


Jawaban Bina sontak membuat Senja tertawa lepas. Tawa itu tampak sangat bengkok dan menyeramkan. Beberapa orang yang melihat tawa itu menjadi merinding karena rasa takut yang merayap tidak jelas.


"Bina, pergilah sekarang."


Senja kemudian menghentikan tawanya dan melemparkan sekantong koin emas pada Bina.


"Gunakan uang itu untuk keperluan mu dan ingat, apa janjimu padaku saat itu."


Bina tampak bingung sesaat sebelum mengambil kantong tersebut dengan wajah seriusnya.


"Baik Tuan, saya mengerti."


Setelahnya, Bina dan Dewi keluar dari bar tersebut meninggalkan Senja yang masih sibuk menonton pertunjukan.


"Saya pasti akan memenuhi janji itu, Nona Muda," gumam Bina saat hendak menaiki gerbong kereta kuda.


"Saya janji itu," lanjutnya sesaat sebelum kereta kuda melaju dalam kerumunan yang pekat.


*****


"Dasar jal*ng, berani sekali kau padaku, hah?" teriak Dera kesal.


"..."


Kaira hanya diam acuh tak acuh dengan teriakan Dera. Ia sama sekali tidak terganggu ataupun tersinggung oleh Dera yang terus saja memakinya.


"Kenapa kau datang kesini, hah? Bukannya kau sudah diusir?" teriaknya sekali lagi.


"Wanita itu tidak tahu malu," bisik para penonton yang sejak awal melihat pertarungan mereka.


"Kurasa keduanya sama-sama tidak punya malu," celetuk yang lainnya sambil meninggalkan pertarungan yang terlihat konyol.


"Memangnya siapa kau, berani mengusirku dari sini?" tanya Kaira dingin.


"Hanya karena kau tunangan Pangeran kedua, kau tidak berhak mengaturku. Kemana pun aku pergi, itu adalah keputusanku. Dasar idiot."


"Dasar tidak tahu diri!" teriaknya sekali lagi sambil terus melemparkan batu kearah Kaira.


Siapa pun tahu jika kekuatan Dera bahkan tidak sebanding dengan Kaira. para prajurit yang menjaga Dera bahkan harus mengalami luka serius setelah hantaman tajam dari panah api yang di lontarkan Kaira beberapa saat yang lalu.


"Dia bodoh," bisik pejalan kaki yang tidak mau mengambil bagian dalam menonton drama tersebut.


"Siapa pun tahu jika putri Kaira adalah yang terkuat kedua di kerajaan ini selain Raja dan putra mahkota," timpal yang lain dengan acuhnya.


Dera yang mendengar gumaman mereka menjadi tidak terkontrol, ia memelototi mereka dengan tajam sebelum beralih ke Kaira.


"Panggil ayahku kesini!" teriak Dera putus asa.


Jujur saja, Dera tahu bahwa kekuatan Kaira sangat besar. Ia bahkan sengaja datang kesini untuk mengganggu Kaira agar emosinya pecah sehingga ia akan diusir lagi dari tempat ini. Itulah yang ia inginkan sejak tadi, dan Kaira mengetahui maksudnya.


"Nona, apa aku bakar saja dia?" tanya Opi kesal.


"Tidak perlu, kita tunggu saja trik apa yang akan ia mainkan nantinya," balas Kaira dengan senyum liciknya.


"Baiklah, aku akan menunggu."


Kaira kemudian memutuskan linknya setelah Opi menenangkan dirinya yang kesal. Dari kejauhan Senja tetap memperhatikan kedua dengan antusias, selain itu Zakila dan Luna bahkan tidak bergeming dari tempatnya.


Mereka tetap waspada pada serangan Kaira sambil menyuruhnya untuk tetap tenang. Kedua tahu jika Kaira mengamuk maka kondisi plaza akan semakin kacau.


"Aku akan memanggil Kian, jadi awasi Kaira selama aku..."


"Tunggu Luna."


Potong Zakila sambil menarik tangan Luna yang hendak pergi.


"Biar aku saja, aku takut kekuatan ku tidak mampu menahan emosi Kaira nantinya," seru Zakila gelisah.


"Baiklah, kalau begitu hati-hati."


Ketika Zakila hendak pergi, Luna berbisik ringan padanya.

__ADS_1


"Gunakan ini dalam melacak Kian. Dia harus segera datang kesini sebelum Marques."


Luna kemudian memberikan kartu pelacak pada Zakila.


"Baik, aku mengerti."


Zakila lalu pergi meninggalkan Luna dengan kertas pelacak di genggaman tangannya.


Disisi lain, Dian kembali ke bar dengan wajah muramnya, ia terlihat kesal sekaligus gelisah. Senja yang melihat wajah muram Dian, kembali mengerutkan wajahnya.


"Ada apa denganmu?"


"..."


Dian hanya diam tanpa kata, ia sepertinya enggan menyampaikan apa yang telah ia terima dari hotel.


"Katakan padaku, jangan buat aku kesal."


Perintah Senja sontak membuat Dian kaget. Ia sebenarnya enggan untuk memberitahu nona nya itu.


"Nona, ini..."


Dian berhenti berbicara saat melihat kearah luar. Ia tampak terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat.


"Ada apa ini Nona?"


"Kau bisa melihatnya dengan jelas," jawab Senja acuh tak acuh.


"Jadi, apa yang sedang kau sembunyikan?"


"Ah, itu..."


Dian terlihat panik ketika Senja bertanya lagi padanya.


"Jangan alihkan permbicaran Dian, aku membencinya," seru Senja seakan tahu bahwa Dian hendak berbicara mengenai hal lain.


"Entah kenapa Nona sangat peka mengenai hal ini," gerutu Dian kesal.


"Jangan menggerutu seperti itu, katakan saja."


"Astaga Nona, bagaimana anda bisa mengetahuinya?" tanya Dian sarkastik.


"Wajahmu itu seperti sedang memaki ku dari dalam,"


"Baiklah, baiklah."


Dian lalu menyerahkan surat yang ia terima dari pihak hotel.


"Apa ini?"


"Itu surat,"


"Aku tahu itu, tapi dari siapa ini?"


"Dari kekasih anda yang sedang bertarung di sana," balas Dian semakin kesal.


"Ah, Kaira," batin Senja sambil melirik sekilas kearah pertarungan diluar.


"Saya akan pergi untuk memesan teh baru," seru Dian sebelum pergi meninggalkan Senja sendirian disana.


Jujur saja Dian tidak ingin melihat isi surat yang menurutnya akan membuat dia merinding sampai ke tulang. Ia lebih memilih untuk pergi dari pada harus menanggung beban berat dari keisengan nona nya itu.


Setelah Dian pergi, Senja memutuskan untuk membuka surat tersebut. Isinya tampak biasa saja tidak ada yang spesial, tidak juga menakutkan. Senja kemudian mulai membaca surat tersebut dengan wajah datarnya.


PRANG!


Terdengar suara besi yang saling bertabrakan dengan sangat keras. Hal itu membuat Senja mengalihkan perhatiannya dari surat menuju asal suara yang mengganggunya. Di sana ia melihat seorang pria tua dengan pakaian kebangsawanannya sedang memegang pedang dengan aura mematikan disekitarnya.


Di sana juga tampak Kaira yang tengah di peluk oleh Luna atau lebih tepatnya diblokir. Tampak juga Dera yang berwajah ceria sambil berjalan memunggungi Kaira menuju pria tua tersebut.


"Hahahaha, ini semakin menarik saja," batin Senja dingin sambil menggenggam erat surat tersebut.


"Cinta yang manis membuatnya lupa akan tali sedarah, sehingga karenanya ia memutuskan untuk pergi namun yang ditinggalkan malah berduka dan enggan dengan yang lain."

__ADS_1


__ADS_2