
"Tidak semua kegagalan akan berakhir dengan rasa kecewa, karena terkadang kegagalan adalah awal dari segalanya."
******************#####*****************
Ujian hari kelima merupakan salah satu momen yang paling ditunggu oleh semua siswa. Pasalnya diakhir ujian tersebut para siswa akan mengetahui apakah mereka akan lanjut ke sesi berikutnya atau tidak.
Jika mereka gagal maka mereka hanya akan mendapatkan point sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Point ini bisa mereka gunakan untuk berbagai hal.
Misalnya sepuluh point untuk akses keluar-masuk akademi selama 24 jam dan lima point untuk mengakses buku teknik lanjutan. Serta masih banyak lagi, tapi rata-rata para siswa menggunakan sistem point untuk memenuhi kebutuhan pokok selama berada di akademi.
Sistem point pertama kali diberikan saat siswa berada di kelas dua. Biasanya point pertama diberikan saat para siswa mengikuti ujian tengah semester.
Namun karena sistem ini tidak familiar dikalangan siswa tahun pertama maka mereka baru akan mengetahui hal tersebut saat sudah memasuki tahun kedua atau kelas tiga.
Dan ketika mereka mulai menyadari betapa pentingnya sistem point, rata-rata dari siswa tersebut sudah terlambat dan hanya bisa mendapatkannya kembali saat ujian berikutnya.
Sedangkan bagi mereka yang lulus akan segera mengikuti ujian sesi selanjutnya. Sesi ini biasanya dipegang oleh para kating, dimana mereka akan memberikan tugas khusus terhadap para siswa penantang.
Jika tugas tersebut berhasil diselesaikan maka para kating akan memberikan point agar para siswa tersebut bisa memenuhi jumlah point untuk naik kelas.
"Tidak ada yang mengetahui sistem point ini kecuali mereka yang dekat dengan senior." lirih Senja pelan.
Senja kemudian teringat kembali tentang kejadian dua bulan yang lalu. Saat itu ketika Sneja sedang bosan seharian dikamar, ia pun memutuskan untuk berkeliling asrama.
Secara kebetulan Senja melihat Kira dan memutuskan untuk bersembunyi. Namun karena gerak-gerik Kira sangat mencurigakan, akhirnya Senja memutuskan untuk mengikutinya.
Dalam proses itu Senja dapat mengetahui apa saja aktivitas yang dilakukan Kira. Lama Senja mengamati Kira hingga ia keluar dari gedung asrama.
Senja yang semula bosan kini mulai tersenyum senang, ia turut mengikuti pergerakkan Kira hingga akhirnya Kira berhenti di hutan dekat asrama.
Perlahan Senja memasuki hutan, disana ia bisa melihat Dira dan komplotannya sedang berbincang ringan. Dengan senyum nakal Senja mulai berbaur dengan hutan dan mendekati mereka.
"Sudah dapat?" tanya Dira saat melihat Kira mendekatinya.
"Belum, masih sulit." balas Kira pelan.
"Dasar bodoh, begitu saja tidak bisa." bentak Mari kesal.
"Sudahlah jangan buang tenaga mu," seru Dira saat Mari hendak memukul Kira.
"Dia sangat bodoh, padahal tugasnya sangat mudah. Payah sekali," gerutu Mari tidak senang.
Kira hanya diam, terlihat jelas bahwa dirinya sedang menahan amarah. Hal itu membuat Senja salut karena Kira mampu mengontrol emosinya dengan baik dalam situasi seperti itu.
"Aku ingin kau terus memberikannya ini." seru Dira sambil menyerahkan sebuah botol kecil.
"Ini lebih kuat dari sebelumnya," lanjut Dira yang dijawab anggukan kepala oleh Kira.
__ADS_1
"Ujian tengah semester tinggal dua bulan lagi jadi jangan sampai kau gagal kali ini." lirih Tasya yang sedari tadi hanya mengamati keadaan.
"Memang benar jika Luna dan Maya serta Muna tidak mengikuti ujian tapi bukan berarti kita harus lengah." lanjutnya sebelum mengirim Kira pergi dari hutan.
Senja yang sejak awal mengikuti Kira kini beralih haluan. Ia sekarang sedang asik mengamati Dira dan kedua sahabatnya itu.
"Mari, kau tahu harus berbuat apa bukan?" tanya Tasya setelah sosok Kira sudah tidak terlihat lagi.
"Aku tahu, kau tenang saja." balas Mari dengan senyum licik di bibirnya.
"Karena aku seorang guardian berlevel 5, dia pasti akan kalah dari ku." lanjut Mari seraya menjilati bibirnya.
"Jangan terlalu sombong, kau tidak tahu kekuatannya." ejek Dira tidak senang.
Tentu saja Dira tahu bertapa buruknya sikap Mari. Ia tahu jelas bahwa Mari adalah orang yang sangat agresif dan mudah untuk dijebak. Selain itu Zakila juga tidak lemah, dan fakta itu ia ketahui saat pertarungan mereka di ujian kenaikan kelas.
"Jangan meremehkan ku Dira, aku tahu apa yang harus dilakukan." cicit Mari tidak senang.
"Ya ya ya, aku tahu itu. Aku hanya memperingati mu saja." balas Dira acuh tak acuh.
"Dira, kau..."
"Hentikan Mari, apa yang dikatakan Dira itu benar. Kau jangan terlalu gegabah dan berbangga diri, Zakila juga kuat." potong Tasya kesal.
Mari hanya bisa mendecakkan lidahnya sambil duduk kembali ke kursinya. Ia tidak ingin berdebat lagi sehingga berakhir dipojokkan seperti tadi.
"Tidak ada cara lain," batin Mari kesal.
"Tentu saja aku ingat, aku bahkan bosan dengan itu karena pangeran kelima selalu memperingati kita mengenai hal itu." balas Mari masih dengan ekspresi kesal diwajahnya.
"Baguslah jika kau mengingatnya." seru Dira dan Tasya berbarengan.
Ketika Senja sedang asik bernostalgia tentang masa lalunya, ia dengan paksa harus bangun dari kenyataan saat Dian dengan keras memanggil namanya.
"Nona, anda akan telat jika terus melamun seperti itu." seru Dian sambil menyerahkan tas ransel milik Senja.
"Sudah pukul 8:39 dan anda masih disini," lanjut Dian seraya menyeret tubuh Senja keluar dari kamar.
Senja yang tidak sadar sudah berada di luar kamar terlihat linglung. Baru beberapa detik sebelumnya ia tengah duduk santai di kursinya tapi kini ia sudah menggandeng tas ransel dan berada di lorong kamar asrama.
"Hah astaga, Dian...," cicit Senja kesal saat baru sadar apa yang sudah terjadi padanya.
****
Gedung Sihir
Suasana kelas tampak hening saat Prof Aina mulai membagikan lembar ujian. Kali ini ujian teknik penyembuhan dasar dibagi menjadi dua kategori berdasarkan kemampuan para siswa.
__ADS_1
Bagi siswa yang memiliki kemampuan healing system maka mereka akan langsung mengikuti ujian praktek sedangkan bagi siswa yang tidak memiliki kemampuan tersebut, maka mereka akan mengikuti ujian tulis.
"Lalu, kenapa aku ada disini?" batin Senja bingung.
"Bukankah aku termasuk dalam kategori pengguna healing system. Jadi kenapa Prof Aina menyuruhku untuk mengikuti ujian tulis?" lanjut Senja dalam hatinya.
Senja memang pernah gagal dalam ujian praktek teknik penyembuhan dasar tapi itu bukan karena ia tidak bisa, itu hanya karena ia belum mempelajarinya.
"Aku sudah bersusah payah mempelajari teknik penyembuhan dasar hingga harus absen dari kelas selama satu minggu, tapi apa ini?" teriak Senja kesal.
Senja yang merasa diperlakukan tidak adil segera mendatangi Prof Aina. Ia hendak memprotes keputusan tersebut, pasalnya hal itu dapat mencoreng nama baiknya.
"Aku sudah berencana membalas mereka di ujian kali ini." gerutu Senja tidak senang.
Jujur saja Senja sudah membayangkan wajah terkejut sekaligus takjub dari teman sekelasnya. Senja ingin membuktikan pada mereka bahwa ia mampu menggunakan teknik penyembuhan dengan sangat baik.
Jika boleh sombong Senja juga ingin membuat teman sekelasnya iri dengan bakatnya itu. Ia ingin membalas dendam atas penghinaan mereka terhadapnya saat kelas praktek sebelumnya.
Namun sayang semua rencananya bisa saja pupus jika Prof Aina sama sekali tidak mengizinkannya untuk mengikuti ujian praktek, oleh karena itu Senja berinisiatif untuk menyuarakan isi hatinya.
"Permisi Prof, ada yang ingin saya katakan." seru Senja setelah jarak diantara keduanya menipis.
"Apa itu, katakan saja," balas Prof Aina seraya membuka buku catatan nilainya.
"Begini Prof, bukankah saya memiliki kemampuan sebagai healing system, lalu kenapa saya ditempatkan disini?" tanya Senja langsung ke intinya.
"Uhm..., apa kau sungguh tidak tahu?" Prof Aina balik bertanya dan itu tentu saja membuang Senja semakin bingung.
"Tidak, saya sama sekali tidak tahu."
"Begini, aku sempat curiga dengan kemampuan elemen angin mu karena warna auranya yang sedikit biru tapi setelah percobaan praktek waktu itu aku jadi sadar bahwa aku telah keliru."
"Maksud Prof apa ya? Saya tidak mengerti."
"Senja, itu hanyalah salah paham. Sekarang kamu bisa kembali duduk dan mengerjakan tugas mu."
"Tapi Prof..."
"Sudah jangan membantah lagi waktu mu akan terbuang percuma jika terus begini." potong Prof Aina sebelum keluar dari kelas.
Senja hanya bisa menghela napas panjang karena permintaannya telah ditolak mentah-mentah. Ia tidak tahu alasan apa yang membuat Prof Aina begitu yakin jika dirinya sama sekali tidak bisa menggunakan teknik penyembuhan.
"Sial, padahal aku sudah bersusah payah untuk itu." keluh Senja saat hendak duduk kembali ke kursinya.
Saat ini yang sedang mengikuti ujian tulis hanya Senja dan 18 siswa lainnya. Sedangkan 6 siswa lainnya tengah mengikuti ujian praktek di lapangan tempur.
Awalnya Senja merasa kesal dan marah, namun setelah dipikirkan kembali senyum aneh mulai muncul disudut bibirnya.
__ADS_1
"Kurasa ini ada bagusnya juga, dengan ini aku bisa melewati ujian teknik penyembuhan dasar tanpa harus menunjukkan kemampuan ku pada semua pihak." batin Senja saat sedang mengerjakan soal ujiannya.
"Lagi pula soal-soal ini begitu mudah, aku bisa lulus dengan gampang."