
"Investasi hanya menjaga uang mu bukan membuatmu kaya raya."
*****************#####*****************
Suasana kelas tampak begitu riuh dengan beberapa murid yang masih fokus dalam pembelajaran dan sebagian besar lainnya fokus berdiskusi tentang lingkaran sihir teleportasi.
"Senja," panggil Luna pelan dari arah belakang kursi tempat duduknya.
"Senja," panggilnya sekali lagi tapi Senja masih belum merespon.
"Senja!" teriak Luna kesal sambil memukul ringan bahu Senja.
"Kya, sakit." Senja mengelus pelan bahunya sambil memutar tubuh melihat Luna di belakangnya.
"Kau sedang memikirkan apa? Aku terus memanggil mu tapi kau sama sekali tidak mendengarnya?"
"Benarkah? Maaf aku tidak dengar."
"Tidak bukan itu, lupakan saja. Apa rencana mau tentang ujian nanti?"
Luna ingin bertanya lebih detail tapi ia tahu jika Senja tidak akan menceritakannya. Jika sejak awal Senja ingin cerita, maka ia sudah mengatakannya tanpa harus ditanya terlebih dahulu.
"Entahlah aku belum memikirkannya."
Akhir-akhir ini Senja tampak berbeda, ia sering menghilang dan jarang berkumpul dengan yang lain. Senja seperti sedang menutupi sesuatu dari temannya itu.
"Aku harap itu bukan suatu hal yang buruk."
"Senja, Bagaimana jika kita latih tanding sore ini?"
"Maaf Luna aku tidak bisa, aku ada urusan sore ini."
"Bagaimana dengan malam harinya?" tanya Senja saat melihat raut wajah Luna yang kecewa.
"Aku tidak bisa. Ibu memanggilku ke istana."
Luna terlihat kecewa, ia tahu bahwa perintah ibunya adalah pasti. Jika Luna tidak menemui ibunya segera, maka ia akan terkena omelan panjang.
"Tidak masalah, masih ada banyak waktu untuk kita latih tanding berikutnya."
"Baiklah, tapi kau harus janji akan melakukannya."
"Aku janji."
****
Pukul 2 siang seluruh pembelajaran teori sihir pun selesai. Senja kemudian pergi meninggalkan kelas menuju gudang belakang asrama. Seperti biasanya Senja datang ke halaman belakang gudang untuk berlatih sihir bersama profesor Edward.
"Prof, menurut mu bagaimana perkembangan ku akhir-akhir ini?"
"Lumayan, meski masih banyak hal yang harus kau perhatikan."
Prof Edward sedikit menimbang apa saja kendala Senja selama pelatihan ini. Ia tahu perkembangan Senja dalam latihan mana cukup pesat namun itu hampir tidak mendekati kata sempurna.
"Kau masih harus mengurangi jumlah energi mana dalam gerakan yang tidak perlu selain itu fokus mu masih buruk untuk bisa membentuk mana ke tingkat yang lebih kuat."
Prof Edward menjelaskan secara detail bagian apa saja yang terlewatkan olehnya. Anehnya semakin Senja mendengar ocehan itu semakin ia merasa pusing dan mual.
"Prof, bukankah aku hanya perlu fokus saja?"
"Fokus tidak sesederhana itu, butuh konsentrasi penuh dalam melakukannya. Kau itu cukup pintar tapi jika kau tidak bisa memusatkan perhatian mu dengan benar maka mana yang kau hasilkan bisa berantakan dan itu akhirnya akan menghilang dan terbuang sia-sia."
"Selain merapalkan mantra sihir untuk membuat lingkaran sihir yang sempurna, kau juga bisa menggunakan mana untuk membuat lingkaran sihir yang berbeda sekaligus beberapa mantra penyerangan secara bersamaan."
"Baiklah, aku mengerti."
"Latihlah pernapasan mu terlebih dahulu. Diafragma yang kuat akan membuat mu lebih leluasa dalam melakukan beberapa panggilan mantra."
"Baik Prof."
Setelah 2 jam latihan, Senja pun kembali menuju kamar 07 lantai 3 asrama. Ia dengan lelah masuk ke dalam kamar mandi dan menyelesaikan segala urusannya.
15 menit kemudian Senja keluar dari kamar mandi dengan wajah segarnya. Ia kemudian melihat Amel yang sedang menyiapkan pakaian untuknya.
Seperti biasa pakaian yang disiapkan Amel cukup aneh. Lengan gaun itu mengembang seperti bunga mekar. Bagian ujung gaunnya mengecil dengan bagian pinggang yang lebar.
"Gaun itu lebih mirip badut dari pada seseorang yang mengenakan kostum badut."
Senja yang tidak ambil pusing pun segera memasuki ruang ganti pakaiannya. Ia lebih memilih memakai kemeja biru lengan pendek dengan rok hitam panjang.
"Nona, mengapa anda berpakaian seperti pria? Saya sudah siapkan gaun indah ini untuk anda pakai." Amel terlihat kecewa, ia merasa tidak dihargai oleh nona nya itu.
"Indah? Aku lebih suka pakai gaun tidur dari pada itu."
Senja acuh tak acuh dengan sikap kecewa Amel. Ia segera pergi dari kamarnya menuju lobby. Amel yang melihat Senja acuh padanya hanya bisa menghela napas kesal sebelum mengikuti Senja dari belakang.
Ketika sampai di lobby, Senja tanpa sadar melihat Sarah dan Dira sedang berjalan bersamaan. Mereka terlihat beradu mulut sebelum berhenti ketika melihat Senja melewati mereka dengan Amel dibelakangnya.
"Puas sekali senyum mu,"
Senja mengejek Dira dan Sarah saat sudut matanya melihat mereka tersenyum licik. Dengan acuh Senja terus melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
"Nona, saya sudah menyiapkan kereta kuda sebelumnya."
Dari belakang Amel mencoba terlihat sangat akrab dengan Senja. Mungkin saja hal ini bertujuan untuk memamerkan kerja kerasnya pada Sarah dan Dira.
"Kerja bagus," seru Senja sambil mengikuti bimbingan Amel menuju kereta kuda.
Sejujurnya Senja sudah tahu kolusi antara Sarah dan Dira. Tapi ia tidak yakin jika Arina mengetahui tentang Ini. Meski Sarah dan Arina membenci Senja tapi hubungan keduanya juga tidak terlalu baik.
"Aku mencium bau-bau konspirasi disini."
****
Senja melihat pemandangan indah selama perjalanan menuju plaza kota. Ia merasa tenang setelah beberapa saat yang lalu masih diawasi oleh Amel.
__ADS_1
"Aku tidak peduli apa yang mereka rencanakan, tapi hari ini akan ku manfaatkan dengan benar."
Beberapa saat yang lalu Senja yang hendak naik gerbong dihentikan oleh seruan Amel yang tidak masuk akal. Saat itu Amel mengatakan jika tiba-tiba ia sakit perut dan membutuhkan istirahat sejenak.
Tentu saja hal itu membuat Senja senang dan tanpa pikir panjang mempersilahkan Amel untuk istirahat di kamarnya.
"Padahal beberapa saat yang lalu ia masih aktif, tapi yasudah ini jauh lebih baik."
Saat Senja menyuruh kusir untuk pergi, ia dengan diam menghilang dari dalam gerbong. Hal itu ia lakukan untuk mengetahui apa yang ingin dilakukan Amel saat ini.
Meskipun Senja mengatakan bahwa ia tidak peduli, namun nyatanya Senja sangat penasaran akan rencana mereka. Menurutnya bersiap tanpa tahu rencana dari musuh adalah kesalahan fatal.
"Untung saja aku sudah mempelajari sihir teleportasi 10 hari lalu. Meski belum lancar, setidaknya aku sudah tahu dasar-dasar nya. Ini semua berkat prof Edward yang senantiasa mengajari ku hal-hal instan, ya meskipun itu karena masalah Hutan Teratai juga."
Senja teringat betapa bersalahnya prof Edward saat itu. Ia merasa gagal sebagai seorang guru dengan membiarkan muridnya terluka parah saat pelatihan. Dan dengan begitu ia pun mengajari Senja metode untuk Kabir secara instan, metode itu tidak lain adalah teleportasi.
"Senangnya bisa menipu orang lain, apalagi sampai memukulnya dari belakang, sungguh menyenangkan."
Senja yang mengikuti pergerakkan Amel dengan teleportasi jarak pendek akhirnya berhenti di lantai 4 asrama. Disana Senja melihat Amel yang sudah ditunggui Dira dan Sarah.
"Sudah diberikan?" tanya Dira serius.
"Sudah Nona, saya memberikannya rutin sesuai dengan takaran yang anda berikan." jawab Amel puas sambil menundukkan kepalanya.
"Bagus, sangat bagus."
Dira terlihat puas, ia menepuk ringan pundak Amel dengan bangga. Setelahnya ia kembali menatap Sarah dengan pandangan mengejek.
"Kau seharusnya belajar dari pelayan mu ini." ejek Dira sebelum memasuki kamarnya.
Sarah yang ditinggal berduaan dengan Amel lantas menatap kearah pelayannya itu.
"Tambahkan rasio takaran itu dua kali lipat," seru Sarah tajam sebelum melangkah pergi dari lantai 4.
Senja yang melihat Sarah mendekat segera kembali melakukan teleportasi. Untuk saat ini jarak teleportasi Senja hanya 200 meter saja. Ia tidak bisa melakukan teleportasi jarak jauh karena kemampuannya yang kurang.
"Aku harus segera kembali ke gerbong kereta." gumam Senja saat ia baru saja sampai di lantai 2.
Setelah beberapa kali melakukan teleportasi jarak dekat, akhirnya Senja berhasil masuk ke dalam gerbong keretanya. Sialnya sebelum Senja sempat duduk kereta kuda itu sudah berhenti di pintu masuk kafe delima.
"Aku tidak tahu apakah aku harus tertawa atau menangis." gumam Senja sebelum membuka pintu gerbongnya.
Senja yang masih lelah karena kehilangan banyak mana setelah teleportasi memutuskan untuk segera masuk ke dalam kafe. Disana ia disambut pelayan wanita dengan senyum ramahnya dan kemudian diarahkan menuju ruangan yang sudah dipesan sebelumnya.
Dalam ruangan itu sudah terdapat Leah dengan seorang pria setengah baya di sampingnya.
"Selamat datang Nona." seru Leah bersamaan dengan pria itu.
"Selamat sore Leah dan..."
"Keil, Keil Wesly Nona."
"Senang berkenalan dengan mu tuan Keil. Aku Senja De Ari, kau bisa memanggil ku Senja."
Senja dengan senang hati mengulurkan tangannya. Melihat itu Keil langsung menjabat tangan lembut Senja dan tentu saja sebelum melakukan jabat tangan Keil sempat-sempatnya mengelap telapak tangannya itu.
"Kalian terlalu kaku, tapi baiklah."
Tanpa membuang waktu ketiga langsung saja membahas inti dari pertemuan ini. Meski awalnya Leah menolak permintaan Senja namun setelah pemikiran matang dan persetujuan dari suaminya akhirnya ia pun setuju untuk menghadiri pertemuan ini.
"Leah. Bagaimana dengan kesepakatan kita sebelumnya?"
"Mengenai hal itu, biarkan suami saya menjelaskannya pada anda, Nona."
"Silahkan."
Dengan gugup suami Leah mulai berbicara.
"Begini Nona Senja, setelah mendengar penjelasan dari istri saya dua hari yang lalu, kami pun bersepakat untuk menjual tempat ini pada mu."
"Tunggu dulu, menjual? Apa aku tidak salah dengar?"
"Itu benar Nona, istri saya sudah lama mengelola tempat ini tapi beberapa bulan terakhir pemasokan dari toko ini terus berkurang. Meski sulit bagi kami untuk menjualnya tapi setelah tahu siapa Nona yang sebenarnya saya dan istri saya pun berencana untuk menjual gedung ini dan memilih untuk mengurus ternak kami saja di desa."
"Aku yakin kau tahu bahwa itu sangat menguntungkan bagiku, tapi ini terlalu cepat. Bukankah gedung itu memiliki kenangan keluarga mu Leah?"
"Nona benar, namun jika saya terus bersikeras terhadap gedung itu maka akan ada orang lain selain nona yang nantinya akan mengambil alih tempat itu baik secara hukum maupun ilegal."
"Itu memang benar, posisi gedung itu sangat strategis sebagai lokasi bisnis. Jadi wajar saja bila banyak pedagang yang menginginkan tempat itu."
"Kami sudah bertahan cukup lama disana Nona. Mungkin sekaranglah waktu kami untuk pensiun."
Keil terlihat yakin namun Leah masih linglung dengan pembicaraan ini. Sepertinya hanya Keil yang ingin tempat itu dijual sedangkan Leah masih ingin mempertahankannya.
"Seperti yang dikatakan Keil, mereka terlalu lemah dalam menghadapi para pedagang kotor itu. Tunggu dulu, apa aku juga termasuk ke dalam golongan pedagang kotor itu?"
Senja mulai berfikir keras untuk masalah ini. Ia tidak ingin dicap sebagai sumber masalah lagi setelah rumor buruknya menyebar dengan cepat. Memang menguntungkan jika bangunan ini menjadi miliknya namun itu juga akan sulit jika banyak yang mengetahui jika ini adalah miliknya.
"Aku setuju untuk membeli bangunan ini, tapi ada syaratnya."
Keil dan Leah saling menatap satu sama lain, mereka tidak tahu apa yang diinginkan oleh wanita muda di depannya itu.
"Syarat apa yang anda inginkan Nona?"
Mereka kembali khawatir tentang apa yang akan terjadi jika wanita yang ada di depannya ini marah dan terus mencurigai mereka.
"Aku akan tetap menjadikan bangunan ini sebagai toko bunga seperti rencana awal. Sulit bagiku jika banyak orang mengetahui siapa pemilik asli gedung nantinya. Jadi yang aku butuhkan adalah kerja sama kalian untuk menyembunyikan identitas asli pemilik gedung itu."
Kedua pasang mata suami istri itu bergetar. Mereka tampak bersyukur meski pun merasa takut dengan Senja. Ini adalah keputusan yang bagus bagi kedua belah pihak. Akhirnya kesepakatan pun terjadi diantara mereka.
"Besok bawahan ku akan datang. Dia yang akan mengurus sisanya."
"Baik nona, dan terima kasih atas belas kasih mu itu."
Setelah percakapan yang cukup melelahkan selesai. Kini Senja berencana pergi menuju pasar gelap untuk melihat perkembangan dari bangunan yang akan ia gunakan sebagai sumber informasi yang berharga.
__ADS_1
"Aku tahu kalian menjual gedung ini karna takut mendengar nama Duke Ari. Meski begitu aku senang, setidaknya itu menjadi sangat mudah bagi ku untuk selangkah menuju balas dendam."
Senyum iblis melingkar di wajah Senja yang polos. Meski terlihat jahat tapi ia sungguh senang dengan kedudukannya tersebut.
"Aku tidak perlu merasa kasihan pada mereka, lagi pula itu adalah keputusan mereka sendiri. Selain itu siapa juga yang mau membawa ksatria untuk mengacaukan hidup warga biasa."
Beberapa saat kemudian Senja sudah memasuki area pasar gelap. Disana Senja langsung pergi menemui Count Servan untuk mendiskusikan masalah gedung tersebut.
"Lama tidak bertemu, Count."
"Salam Nona Senja."
"Tidak perlu begitu sopan pada ku, santai saja lagi pula kita juga akan menjadi mitra kerja nantinya."
"Baiklah, terima kasih atas perhatian anda."
"Kau sudah tahu bukan maksud dari kedatangan ku ini?" tanya Senja nakal sambil terus memasang senyum ramah bak seorang malaikat.
"Tentu saja Nona. Aku sudah mendapatkan apa yang anda mau, sesuai dengan selera anda juga."
"Begitu kah? Bagus sekali. "
"Terima Kasih atas pujian anda."
"Baiklah kalau begitu, ayo."
Melihat ekspresi tanda tanya pada wajah Count. Membuat Senja sedikit kesal dan menggerutu.
"Ayo!"
Lama Count baru menyadari maksud dari kata 'ayo' yang diucapkan Senja.
"Astaga. Maaf Nona."
" ... "
"Silahkan."
Count ragu-ragu dalam membimbing Senja ke tempat tujuan. Keringat dingin terus saja menetes di wajahnya bahkan dalam beberapa tempat itu sudah menjadi sangat basah.
"Ini dia gedungnya Nona."
Senja hanya melihat sebuah gedung tua tepat di ujung lorong bagian timur pasar gelap. Gedung itu tidak terlihat mewah namun masih tetap cantik.
"Gedung yang bagus."
"Penilaian mu sungguh tepat Nona. Gedung ini awalnya adalah milik seorang pedagang dari daerah barat tapi entah mengapa dua tahun yang lalu dia mengalami kejadian besar dimana seluruh harta miliknya hilang tanpa sisa dan akhirnya gedung ini pun terbengkalai."
"Aku tidak sengaja menemukan gedung ini ketika aku hendak mencari seekor kucing yang hilang."
"Katakan saja jika pedagang itu adalah diri mu sendiri, Count."
"Hehehe. Aku ketahuan," lirih Count malu-malu sambil menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Bagaimana bisa kau kehilangan segalanya saat itu?"
"Ceritanya panjang Nona tapi sebelum itu, silahkan masuk."
Count membuka pintu gedung tersebut, di dalamnya sangatlah bersih dan rapi.
"Istri ku yang membersihkan tempat ini ketika ia tahu bahwa ada yang akan membelinya."
"Benarkah? Bagus sekali," seru Senja acuh tak acuh.
"Seperti yang nona tahu. Gedung ini sangatlah sesuai dengan kriteria yang anda minta pada ku. Ruang bawah tanahnya juga bagus dan tersembunyi."
Count lalu menuju ke dalam sebuah lorong dan menghidupkan lampu. Disana terdapat beberapa lukisan indah dan juga rak buku yang terpajang rapi.
"Silahkan lewat sini Nona," tutur Count sambil merapalkan mantra sihir.
"Ini adalah pintu masuk menuju ruang bawah tanah dan kuncinya bisa diubah sesuai dengan keinginan anda nantinya."
"Terdengar menarik."
"Tentu saja selain itu diruang bawah tanah ini juga terdapat jalan rahasia yang akan membawa mu ke hutan yang ada di pinggir plaza."
" ... "
"Nona bisa masuk dan keluar dari mana pun yang anda mau. Selain itu jika ada masalah, jalur ini bisa menjadi alternatif terbaik."
Senyum cerah Count kini semakin lebar. Ia tampaknya sangat puas dengan rancangan gedung yang ia miliki dulu.
"Bukankah itu jalan tikus dimana kau melarikan diri dulu?"
"Hahahah. Nona kau sangat pandai membuat situasi menjadi kacau."
Tawa Count Servan terus menggema di seluruh ruang bawah tanah tersebut. Ia tampak sangat senang sekaligus kesal dengan perkataan jujur dari Senja.
"Meski begitu jalan ini adalah penyelamat hidup ku. Mungkin anda juga akan melakukan hal yang sama nantinya."
"Kenapa aku harus, merepotkan sekali. Selain itu dari pada harus kotor melewati celah kecil tersebut lebih baik aku berteleportasi dengan sihir," lirih Senja acuh yang tidak peduli dengan nostalgia Count terhadap masa lalunya itu.
"Hahahaha. Nona kau sangatlah lucu,"
Selesai mengeliling bangunan sederhana itu, Senja lalu kembali ke akademik. Meski sudah larut malam namun jalanan kota masih terlihat ramai.
Ketika Senja sedang asyik melihat pemandangan sekitarnya, ia dengan kaget melihat Amel dan Dira yang tengah berbincang ringan.
"Sedang apa mereka disana?" gumam Senja sambil memutar kepalanya kebelakang untuk melihat keduanya.
"Ini aneh, bukankah mereka sudah selesai berbicara tadi siang."
Senja merasakan perasaan yang tidak enak ketika melihat Amel yang tersenyum ramah dihadapan Dira. Dan bukan itu saja yang aneh, wajah Dira yang tersenyum hangat pada Amel itulah yang jauh lebih aneh.
"Tunggu dulu, apa itu yang digenggam oleh Amel? Bukankah itu seperti alat pengenal?" gumam Senja sebelum gerbong kuda berbelok menuju jalan akademik yang membuatnya tidak dapat melihat mereka lagi.
__ADS_1
"Ada yang aneh. Aku harus segera memberitahukan hal ini pada yang lainnya juga," lirih Senja sebelum benar-benar menghilang dari jalanan ibu kota.