Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E80] Mencari


__ADS_3

"Jika kau ingin berhasil, maka berjuanglah."


******************#####*****************


Ujian teknik penyembuhan dasar telah selesai dan sesuai dengan perkiraan Senja, ia dapat menyelesaikan semua soal dengan gampang sebelum waktu berakhir.


Selanjutnya Senja harus menunggu hasil ujian diumumkan dan melihat apakah ia akan lulus ketahap selanjutnya atau tidak. Dalam proses itu dibutuhkan waktu sekitar dua jam lamanya, karena bosan menunggu Senja memutuskan untuk kembali ke gedung asrama.


"Sudah dua hari aku tidak melihat Khalid," batin Senja bingung.


Senja sama sekali tidak mendapati pesan apa pun dari Khalid, bahkan ucapan selamat tinggal saja tidak ada. Khalid benar-benar menghilang begitu saja tanpa meninggalkan petunjuk apa pun.


"Dia datang sesuka hati dan pergi pun sesuka hatinya." gerutu Senja kesal.


Senja hanya bisa menghela napas panjang sebelum memasuki lobby asramanya. Ia sudah sejak tadi berkutat dengan pikirannya hingga tanpa sadar langkah kakinya sudah membawa ia menuju lantai tiga asrama.


"Uhm, sudah disini saja." lirih Senja saat sadar dari lamunannya.


"Aku benar-benar lengah jika sedang banyak pikiran seperti ini." batin Senja sebelum mengambil kunci kamar dari saku seragamnya.


"Selain itu, siapa dia?" lanjut Senja saat melirik sekilas pada bayangan yang sedari tadi mengikutinya.


Bayangan itu sudah berada di sekitaran Senja sejak dirinya keluar dari kelas. Awalnya Senja berpikir jika bayangan itu adalah Khalid, tapi sepertinya dugaan Senja salah.


Senja baru menyadari hal tersebut saat dirinya hendak memasuki gedung asrama. Saat itu Senja dapat melihat dengan jelas siluet dari sosok tersebut.


"Wanita?" gumam Senja bingung.


Jika dilihat dari siluetnya sosok itu memiliki tubuh yang ramping dengan tinggi badan sekitar 170 cm. Selain itu warna aura yang ia pancarkan seperti laut biru di samudra. Dan warna itu hampir sama dengan milik Ronald.


Setelah menyadari hal tersebut Senja tanpa sadar mulai mempercepat langkah kakinya. Hal tersebut Senja lakukan karena ia malas berurusan dengan bayangan itu karena dapat membuang energinya dengan percuma.


Selain itu Senja menyadari bahwa si bayangan juga mengetahui perubahan sikap dirinya. Dengan ini bisa dipastikan jika kedua belah pihak saling mengetahui satu sama lain.


"Meski begitu dia tetap saja mengikuti ku," batin Senja sebelum membuka pintu kamarnya.


Senja kemudian masuk ke dalam kamar dan tidak lupa pula mengunci kembali pintunya. Senja lalu diam, ia sama sekali tidak bergerak satu inci pun dari depan pintu. Hal itu Senja dilakukan untuk melihat apakah bayangan itu akan mendatangi kamarnya atau tidak.


Satu-dua menit Senja sudah menunggu tapi bayangan itu sama sekali tidak menunjukkan kehadirannya. Senja sedikit curiga, apakah bayangan itu mulai menyerah karena Senja sudah mengetahui keberadaanya atau malah sebaliknya.


"Ini aneh, selain itu aku tidak bisa terus dalam posisi ini," gumam Senja bingung sekaligus kesal.


Setelah diam beberapa saat akhirnya Senja memutuskan untuk memasang barrier di sekitar kamarnya. Dengan adanya barrier itu Senja dapat tahu siapa saja yang ingin masuk ke dalam kamarnya.


"Barrier ini seperti alarm, jika ada yang masuk ke dalam kamar tanpa izin dari ku maka aku akan segera mengetahuinya."


Ketika semua persiapan tersebut selesai, Senja segera naik ke atas kasurnya untuk tidur siang. Ia tidak ingin menghabiskan energinya untuk hal yang tidak berguna.


"Aku akan tidur sampai hasil ujian diumumkan." gumam Senja sebelum menyelimuti dirinya.


Disaat yang bersamaan sosok bayangan yang tadinya mengikuti Senja karena rasa penasaran, kini mulai terlihat bersemangat sembari mengamati kamar Senja dari jauh.


Awalnya sosok itu hanya ia mengamati Senja sampai di depan gedung asrama saja. Namun semua itu berubah ketika ia sadar bahwa Senja sudah menyadari keberadaannya.


"Aku sudah mendengar bahwa dia unik, tapi ini sungguh di luar imajinasi ku." seru sosok itu dengan sudut bibir yang melengkung tajam.


"Aku jadi tidak sabar menantinya," lanjutnya sembari merobek gulungan teleportasi.


****


Ketika hasil ujian diumumkan, seluruh siswa akademi menjadi heboh. Pasalnya dari 250 siswa yang mengikuti ujian, hanya 100 dari mereka yang berhasil lolos ketahap selanjutnya.


"Hmm, seperti dugaan ku." gumam Senja saat melihat nilai sempurna yang ia miliki di setiap mata pelajaran.

__ADS_1


Senja cukup yakin dengan kemampuannya sehingga ia tahu bahwa dirinya tidak akan gagal dalam ujian tersebut. Pasalnya Senja merupakan sosok yang paling tidak suka mengikuti sesuatu yang ia tahu bahwa dirinya akan kalah.


"Jika aku tahu bahwa sejak awal aku akan gagal dalam ujian ini, maka aku sudah berhenti sebelum ujian dimulai." batin Senja puas.


Senja merasa bahwa usahanya selama dua bulan terakhir ini tidak sia-sia. Ia yakin bahwa usaha yang keras tidak akan pernah mengkhianati hasilnya. Meski pun terkadang tidak semua usahanya dapat ia pertontonkan dengan baik.


"Aku tetap merasa kecewa meski nilai ku sempurna." keluh Senja sembari menyentuh nilai yang ia dapatkan dari ujian teknik penyembuhan dasar.


"Uhm, selain diri ku siapa lagi yang lolos ditahap ini ya." lirih Senja sembari melihat nama-nama siswa yang lulus ujian.


Setelah mencari cukup lama akhirnya Senja menemukan nama Zakila. Ia berada di urutan ke 75 dari 100 siswa yang lolos. Melihat itu Senja tanpa sadar tersenyum hangat. Senja juga melihat nama lain yang familiar baginya.


"Hmm, mereka juga lulus rupanya." gumam Senja saat melihat nama Dira dan komplotannya.


"Ini pasti akan seru," batin Senja dengan senyum mengejek.


Selain melihat nama siswa yang lolos, Senja juga melihat nama-nama siswa yang gagal dalam ujian tersebut. Disana Senja mendapati nama Amir dan Ronald.


Entah mengapa Senja merasa kasihan pada keduanya. Menurut Senja mereka mungkin saja gagal karena Alisa yang tidak pernah hadir sekalipun pada setiap sesi ujian.


"Sayang sekali," lirih Senja. Ia kemudian melihat pengumuman lain yang ditempel di mading tersebut.


Ketika Senja sedang asik membaca tiba-tiba saja ia mendengar namanya di panggil oleh seseorang. Rasanya suara tersebut sangat familiar sehingga membuat Senja tanpa sadar menoleh ke kiri dan kanan.


"Senja, apa yang sedang kau cari?" tanya suara bariton dari belakang tubuhnya.


"Amir, aku kira siapa tadi." seru Senja pelan.


Amir hanya tersenyum manis saat melihat wajah Senja yang sedikit lega. Ia kemudian melangkah lebih dekat lagi menuju Senja. Sehingga kini jarak diantara keduanya hanya menyisakan satu meter saja.


"Ada perlu apa dengan ku?" tanya Senja untuk menghentikan Amir lebih dekat padanya.


Melihat ekspresi Senja yang acuh tak acuh seketika membuat Amir ragu. Namun setelah diam beberapa detik, ia kemudian mencoba untuk tetap tersenyum hangat sembari mengulurkan tangannya.


"Ada apa?" tanya Senja sembari mengabaikan uluran tangan tersebut.


"Oh begitu, terima kasih." balas Senja acuh tak acuh.


"Senja, apa kau marah pada ku?" tanya Amir dengan ekspresi wajah sedih.


"Sial, lagi-lagi ekspresi itu." batin Senja kesal. Ia paling tidak suka jika ada seseorang yang dengan mudahnya menunjukkan segala macam emosinya melalui mimik wajah.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Senja balik.


"Itu, itu karena kau bersikap dingin pada ku."


"Amir, aku sedang tidak mood untuk saat ini. Selain itu aku tidak marah pada mu." seru Senja menjelaskan situasinya.


"Benarkah?" tanya Amir memastikan.


"Tentu saja, lagi pula tidak ada alasan bagi ku untuk marah pada mu. Selain itu aku sedang sibuk saat ini." jawab Senja sembari menunjukkan kertas pengumuman di sampingnya.


kertas pengumuman tersebut dipasang bersamaan dengan pengumuman hasil ujian. Dimana pada kertas itu menyatakan agar para siswa yang dinyatakan lulus ujian untuk segera pergi menuju ruang administrasi untuk registrasi ulang.


"Aku sangat senang mendengarnya, aku kira kau akan menjauh dari ku." seru Amir setelah selesai melihat pengumuman tersebut.


"Jangan khawatirkan itu," balas Senja dengan senyum hangatnya.


"Kalau begitu, aku pamit dulu. Aku harus segera kesana." lanjut Senja kemudian pergi meninggalkan Amir.


"Lagi-lagi seperti ini," gerutu Amir kesal dengan sudut mata yang memancarkan cahaya merah terang.


****

__ADS_1


Setelah semua urusan administrasi selesai, akhirnya Senja mendapatkan nomor urut 46. Nomor tersebut menunjukkan siapa kakak kelas yang akan menemani Senja di tahap selanjutnya.


Tentu saja dalam pemilihan nomor semuanya dilakukan secara acak. Namun entah mengapa Senja merasa bahwa nomor yang ia pilih sudah sejak awal ditetapkan khusus untuknya.


"Ini aneh, tidak ada nama tapi hanya nomor saja." gumam Senja bingung.


"Apa aku disuruh mencari tahu siapa pemilik dari nomor ini?"


Senja terlihat tidak senang, ia mengerutkan kedua alisnya dengan marah. Ia tahu jika ujian tengah semester lebih sulit dibandingkan ujian akhir, tapi ini sudah kelewatan.


Andai kata jika para siswa tidak berhasil menemukan senior tersebut maka sudah dipastikan jika ujian mereka akan gagal sebelum mereka berhasil menyelesaikan tantangan yang diberikan.


"Lucu sekali," gerutu Senja tidak puas.


Senja kemudian menyimpan nomor urut tersebut di dalam kantong spesialnya. Ia tidak ingin nomor urut tersebut hilang sehingga dapat menyulitkannya nanti.


"Sebelum aku memulai pencarian, alangkah baiknya jika aku melihat daftar nama kating yang turut andil dalam ujian ini."


Senja kemudian pergi meninggalkan kamarnya. Ia berencana menjumpai Prof Edward untuk mendapatkan detailnya. Senja cukup yakin jika Prof Edward akan dengan senang hati menolongnya.


Beberapa saat kemudian Senja sudah berada di depan pintu ruang kerja Prof Edward. Setelah beberapa kali ketukan, akhirnya ada sambutan pelan dari dalam ruangan.


Dengan satu tarikan napas Senja membuka pintu tersebut. Ia kemudian masuk ke dalam ruangan dan melihat wajah kusam Prof Edward dengan tumpukan laporan di atas meja kerjanya.


"Wow, Prof. Anda terlihat sangat kacau." seru Senja kaget.


"Terima kasih untuk itu," balas Prof Edward acuh tak acuh.


"Luar biasa, sekarang aku tahu jika Prof memang sudah tidak waras." ejek Senja sarkas.


Sejujurnya Senja tahu jika Prof Edward adalah sosok yang sangat peduli dengan penampilannya. Namun setelah mendengar jawaban acuh tak acuhnya membuat Senja sadar bahwa apa yang saat ini sedang ditangani oleh Prof Edward bukanlah hal yang mudah.


"Ada perlu apa kau kesini?" tanya Prof Edward yang malas basa-basi.


"Uhm, karena aku tahu Prof sedang sibuk jadi tolong jawab saja pertanyaan ku ini." seru Senja langsung ke intinya.


"Apa dulu itu? Aku tidak bisa menjawab jika itu diluar batas."


"Tenang saja tidak seperti itu kok," balas Senja sembari mengeluarkan nomor urut dari tas spesialnya.


"Anda tahu apa ini Prof?" tanya Senja kemudian.


"Nomor urut yang menunjukkan kakak tingkat."


"Kalau soal itu aku juga tahu Prof, tapi yang ingin aku tanyakan adalah apa anda tahu siapa pemilik dari nomor ini?"


Awalnya Senja ingin bertanya apakah Prof Edward memiliki nama kakak tingkat yang ikut andil dalam ujian, namun melihat betapa sibuknya Prof Edward membuat Senja mengurungkan niatnya.


"Tidak bisa, itu dapat melanggar peraturan." seru Prof Edward setelah diam beberapa saat.


"Kenapa? Apa ini juga termasuk tantangan dalam ujian?" tanya Senja penasaran.


"Benar, itulah tantangan yang harus dilalui setiap peserta dalam ujian ini."


"Tidak bisakah kau memberi ku petunjuk?"


"Tidak, kecuali jika kau ingin didiskualifikasi." jawab Prof Edward dengan tegas.


"Prof, apa tidak ada cara lain?"


"Tidak ada,"


"Ayolah Prof, aku tidak meminta keseluruhan datanya, hanya sedikit saja, sedikit."

__ADS_1


Senja menunjukkan ukuran mini dijari tangannya namun Prof Edward tetap teguh dalam pendiriannya. Ia sama sekali tidak mengatakan apa pun, sehingga itu membuat Senja sedikit bingung.


"Apa yang harus aku lakukan? Ujian hanya menyisakan 10 hari lagi, tapi jika aku menghabiskan banyak waktu untuk mencari bukankah itu akan sia-sia."


__ADS_2