Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E55] Casting


__ADS_3

"Guru yang paling berharga adalah masa lalu."


******************#####********************


Seusai membuat para siswa panik, Prof Deru dengan kejam memerintahkan mereka untuk segera memulai. Banyak siswa yang merasa kesulitan saat pola rune yang ditampilkan tidak sesuai dengan ketentuan casting.


Beberapa diantara mereka sudah mulai menyerah dan memilih untuk berhenti. Tidak banyak yang dikatakan Prof Deru saat melihat rasa putus asa siswanya, ia hanya acuh tak acuh sambil memperhatikan siswa lain yang tersisa.


"Waktu kalian tinggal 30 menit lagi," seru Prof Deru saat Senja sedang fokus dalam polanya.


"Sejujurnya aku sudah siap beberapa menit yang lalu tapi jika aku angkat tangan, maka.."


Senja perlahan melirik Kira yang masih berkutat dengan pola rune nya. Terlihat jelas bahwa saat ini yang tersisa di lapangan tidak lebih dari lima orang murid saja.


Mereka masih ragu dan terus mengotak-atik pola sihir di depannya. Senja yang melihat mereka merasa sedikit kasihan namun ia tidak berniat untuk memberitahu mereka kebenarannya.


"Aku ingin tahu apa yang akan terjadi pada Kira,"


Senyum aneh mulai muncul dari bibir Senja, ia terlihat seperti menyimpan dendam tersembunyi. Meski begitu tidak banyak siswa yang peduli padanya, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Baiklah, karena waktunya tinggal sedikit, saya akan mensurvei pola masing-masing kalian."


Prof Deru kemudian beranjak dari duduknya, ia berkeliling melihat pola sihir setiap siswa sebelum menyatakan apakah mereka berhasil atau gagal.


Casting tidak akan dilakukan jika pola sihir yang mereka buat gagal. Namun sampai sekarang belum ada siswa yang berhasil menyelesaikan pola tersebut.


"Cukup bagus," lirih Prof Deru saat melihat pola sihir Amir sebelum menyuruhnya untuk keluar dari lapangan.


"Jika kamu lebih serius, maka pola ini sudah bisa kamu casting." lanjutnya sebelum berpindah pada murid selanjutnya.


Terlihat ekspresi sedih pada wajah Amir yang tidak dapat ia tutupi. Ia merasa frustasi dan gagal karena percaya dengan omongan teman sekelasnya itu.


"Aku akan memukulnya setelah ini," gumam Amir saat melewati Senja untuk sampai ke sisi lain lapangan.


"Hmm, cukup bagus tapi belum sempurna." seru Prof Deru sekali lagi. Dan sama seperti Amir, gadis itu dikeluarkan sebelum sempat melakukan casting.


"Hoo, apa ini?"


Prof Deru sedikit kaget saat melihat pola rune milik Kira. Ia sedikit terkejut namun entah mengapa Senja dapat melihat senyum mengejek dari balik sudut bibirnya.


"Baiklah, setelah diperhatikan punya kalian lumayan bagus dan cukup layak untuk bisa di casting." lanjut Prof Deru setelah melihat pola sihir Senja dan pria di sampingnya.


"Cobalah untuk casting mereka,"


Setelah mengatakan itu, siswa pria disebelah Senja segera melafalkan mantra dan segera perisai kecil muncul di sekelilingnya.


Perisai itu tampak samar dengan warna hijau muda yang terlihat memudar. Melihat itu Senja bisa menyimpulkan bahwa elemen pria tersebut adalah tanah.


"Lihat itu," teriak siswa lain yang mengalihkan perhatian Senja.


Disana Senja dapat melihat perisai merah tua yang membungkus tubuh Kira. Perisai itu lebih tipis dari pada pria di samping Senja hanya saja warna merah tua yang dimiliknya begitu pekat.


"Itu lebih mirip hitam dari pada merah," gumam Senja sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Entah mengapa sejak kejadian dua hari yang lalu, setiap kali Senja melihat Kira, lambungnya langsung sakit dan ingin muntah.


"Untung saja ledakan siswa sebelumnya membuat Kira berhenti berbicara,"


Sejujurnya Senja tahu motif Kira saat mendekatinya tadi. Ia sedikit pusing saat mencium aroma tubuh Kira yang seperti daging busuk. Untung saja ledakan siswa tersebut membuat Kira tidak jadi mengajaknya makan bersama.


"Bisa mati kelaparan aku jika makan dengannya."


Sejak hari dimana Senja memperbaiki meridian nya, ia dapat melihat warna mana dengan lebih jelas. Dan tentu saja kepekaannya terhadap mana membuat Senja menjadi lebih sensitif terhadap mereka.


"Senja!" panggil Prof Deru saat Senja masih terpaku di tempatnya.


"Lakukan casting segera," lanjutnya yang diikuti pandangan cemooh dari siswa lainnya.


Hanya Senja seorang yang belum mengaktifkan casting miliknya. Ia terlalu terlena melihat perisai Kira dan pria disampingnya.


"Ah, baik prof."


Segera Senja melafalkan mantra sihir untuk mengaktifkan casting pertahanan miliknya. Setelah casting dibacakan, seluruh tubuh Senja kini terbungkus oleh perisai perak dengan sedikit warna hijau di sudutnya.


Perisai itu tidak sebesar milik Kira dan tidak setebal milik pria disampingnya. Hanya saja Senja yakin bahwa perisai miliknya dua kali lebih kuat dibandingkan milik keduanya.


Perisai ini membungkus tubuh Senja layaknya baju Zirah, begitu pas dan sempurna. Prof Deru memasang senyum simpul saat melihat wujud perisai Senja. Ia terlihat sedikit memiringkan kepalanya sebelum menyuruh Senja untuk membatalkan casting.


"Semuanya sudah diberi contoh yang baik, lihatlah perisai milik Senja. Itu begitu sempurna, perisai ini mampu menyelimuti tubuh kalian seperti zirah."


Para siswa yang mendengar pujian Prof Deru terhadap Senja hanya bisa menghela napas iri. Mereka benci saat Senja mendapatkan dukungan dari para profesor dan guru magang di tempat ini.


"Pasti karena dukungan putri Luna makanya dia bisa berhasil."


"Benar, andaikan saja aku juga begitu."


Para siswa yang cemburu bahkan tidak mendengarkan penjelasan Prof Deru mengenai pola sihir Senja yang sempurna. Mereka hanya sibuk bergosip dan mencibir Senja hingga membuat Prof Deru marah.


"Hentikan semuanya, pelajaran selesai sampai disini."


Dengan kesal Prof Deru pergi dari lapangan. Ia muak mendengar ocehan para siswa yang cemburu terhadap prestasi siswa lainnya. Ia juga tidak menyangka jika rune sederhana milik Senja begitu sempurna.


"Awalnya aku kira rune itu hanya akan berakhir dengan satu perisai, ternyata..."


Prof Deru yakin jika Senja sama seperti siswa lainnya yang tidak begitu peduli terhadap kelasnya. Tapi setelah melihat pertunjukkan tadi, ia yakin jika Senja dapat menjadi contoh bagi mereka semua.


"Aku tidak sabar menantikan pertunjukkan selanjutnya," gumam Prof Deru saat melihat wajah bodoh para muridnya itu.


****


"Hah,"


senja hanya bisa menghela napas panjang saat melihat kepergian Prof Deru yang tiba-tiba. Ia yakin entah mengapa suasana kelas akan menjadi lebih buruk setelah kejadian ini.


"Entah mengapa punggungku rasanya dingin." gumam Senja saat merasakan hawa dingin yang lewat sekelebat di punggungnya.


"Permisi, bisakah aku berbicara dengan mu sebentar?"

__ADS_1


Senja yang hendak kembali ke asrama dikagetkan dengan suara samar pria disebelahnya.


"Ah, siapa?" tanya Senja kaget saat melihat seorang pria yang malu-malu mendekatinya.


"Maaf, nama ku Ronald. Aku sudah bersikap tidak sopan pada mu."


"Oh, kau pria yang tadi bukan?"


"Hehehe, iya."


Ronald tertawa malu saat melihat reaksi Senja yang kaget. Ia tidak menyangka jika gadis cantik di kelasnya ini mau berbicara dengannya.


"Maaf, ada perlu apa ya?" tanya Senja penasaran.


"Ah iya, maaf. Aku tadi sangat terpukau dengan perisai mu, jadi..."


"Jadi?"


"Jadi, jadi aku ingin tanya saran dari mu."


Senja yang melihat sifat malu-malu Ronald hanya bisa menggelengkan kepalanya. Entah mengapa Ronald terlihat seperti anak anjing bagi Senja.


"Baru kali ini aku bertemu pria pemalu sepertinya,"


"Saran apa yang kau butuhkan?"


"Oh itu mengenai ini,"


Ronald dengan sigap menggambarkan pola rune miliknya. Ia sangat yakin jika pola miliknya tidak sempurna dan masih perlu ditingkatkan lagi.


Dengan lembut Senja menjelaskan pola-pola itu pada Ronald. Ia tidak sepelit itu sampai menyimpan seluruh pengetahuan untuk dirinya sendiri.


"Kamu hanya perlu menyambungkan mereka seperti ini,"


Senja mengukur pola rune berbentuk kotak dengan bagian tengahnya diisi oleh beberapa ukuran bintang kecil. Ukiran setiap bintang saling terhubung sehingga membentuk pola baru yang indah.


"Terima kasih, aku jadi paham sekarang." seru Ronald sebelum menyimpan seluruh kertas ke dalam tasnya.


"Baiklah, jika tidak ada lagi yang ingin ditanyakan. Aku akan pergi."


Ketika Senja hendak pergi, Ronald dengan sigap menarik pergelangan tangan Senja dengan wajah malu-malu nya.


"Itu..., itu. Jangan pedulikan omongan mereka. Kamu adalah gadis baik, jadi tetaplah bahagia."


Setelah mengatakan itu Ronald pergi terburu-buru. Ia berlari sekencang mungkin dan tentu saja seperti yang dipikirkan. Beberapa langkah setelahnya ia jatuh dengan sepatu yang lepas dari kakinya.


"Kau tak apa?" tanya siswa yang berpapasan dengan Ronald.


"Tidak, aku baik," balas Ronald sebelum mengambil sepatunya dan berlari pergi.


"Dia kenapa?" gumam Senja yang sejak awal melihat kejadian tersebut. Ia merasa lucu dengan sifat Ronald yang begitu berani memegang pergelangan tangannya.


"Dia lucu juga,"

__ADS_1


__ADS_2