
"Untuk membuat seseorang percaya padamu hanya perlu menggunakan dua hal yaitu uang dan makanan."
*****************#####*****************
Seminggu telah berlalu sejak pertemuannya dengan Count di rumah pertarungan. Senja sedang menunggu kabar baik yang akan diberikan Count padanya mengenai gedung itu.
"Nona, saya akan pergi. Tolong jangan menyusahkan diri anda selama saya tidak ada." seru Dian ketika semua perlengkapan sudah selesai dikemasi.
Senja hanya mengangguk acuh tak acuh masih dengan macaron manis di bibirnya.
"Lakukan dengan benar."
Itu adalah kata terakhir Senja pada Dian sebelum Dian pergi meninggalkan asrama. Setelah kepergian Dian maka semua tugas pribadi Senja kembali dipegang oleh Amel. Amel merasa sangat senang karena sudah sejak lama ia menunggu saat-saat seperti ini.
Sayangnya Amel tidak tahu jika semua itu adalah salah satu dari rencana yang telah disusun oleh sahabat Senja sebelumnya.
"Amel, bawakan aku teh hangat yang baru."
"Baik Nona."
Senja hanya menatap kosong pada arah pintu dimana Amel baru saja menghilang.
"Menjijikan."
Beberapa saat kemudian Amel datang bersama dengan sebuah nampan yang berisi teh lemon hangat dan beberapa kue kering di sampingnya.
"Nona, silahkan dinikmati."
Senja mengambil cangkir teh tersebut namun ketika hendak meminumnya Senja merasakan aroma aneh yang samar-samar dari dalam air teh tersebut.
"Ingin bermain rupanya."
Senja hanya tersenyum sinis melihat cangkir teh itu, sedangkan Amel hanya melirik sekilas pada Senja sebelum melanjutkan kembali aktifitasnya dalam membersihkan kamar.
Tentu saja racun itu tidak akan berefek apapun pada Senja sebab ia memiliki Ristia sebagai penawar racunnya. Ristia sangat ahli dalam menangani berbagai macam racun karena memang itu spesialisnya.
"Amel. Segera persiapkan kereta kuda setelah aku selesai belajar sore ini."
"Baik Nona."
Siang hari ketika tepat waktunya makan siang. Dira dan beberapa temannya sama sekali tidak menganggu Senja dan keempat sahabatnya.
Mereka terlihat santai dan acuh tak acuh terhadap sekitarnya sambil memasang senyum aneh seolah hal besar akan terjadi setelahnya.
"Jangan pedulikan mereka," seru Muna santai sambil menyesap teh hitam di depannya.
"Sedikit aneh, namun itu bagus." lirih Maya yang dijawab anggukan oleh Zakila.
"Kita harus bisa menjaga jarak dari mereka sejauh mungkin." Luna kembali teringat akan wajah masam Dira saat mereka kembali dari kediaman Duke Ari.
****
Selesai makan siang Senja memutuskan untuk pergi menemui Prof Edward ditempat biasa. Sesampainya disana Prof Edward sudah berdiri dengan posisi yang masih sama seperti hari-hari sebelumnya.
"Tumben kamu cepat."
"Prof, aku ada urusan sore ini. Jadi bisakah kita latihan selama 2 jam saja?"
"Itu cukup selama kamu bisa fokus," jawab Prof Edward sambil berdiri dari duduknya.
"Baik Prof, terima kasih."
Latihan dimulai dengan mengambil kuda-kuda sebagai dasarnya. Setelahnya Senja memulai berkonsentrasi pada satu titik hitam di ujung dantian nya sebelum mengeluarkan sihir.
Pertama kali Senja melakukannya ia gagal total begitu pula untuk yang kedua dan ketiga kalinya. Namun secara perlahan Senja mulai berubah dan kini ia sudah bisa sedikit mengendalikannya.
"Pertahankan pernapasan mu," seru Prof Edward sambil menendang kaki kiri Senja yang mulai oleng.
Prof Edward selalu menyuruh Senja untuk mempertahankan pernapasannya dengan alasan pernapasan dapat membuat seseorang berkonsentrasi secara baik dan bisa memperlancar aliran darah sehingga suhu tubuh tetap terjaga dan posisi badan tidak mudah berubah.
"Gerakan tubuh mu dengan benar jangan malas begitu."
Meski Senja sudah mulai terbiasa dengan latihan keras ini namun sulit baginya untuk tetap berkonsentrasi disaat yang bersamaan.
"Diafragma harus mengecil dengan sempurna sebelum kamu mengeluarkan pernapasan"
Ocehan demi ocehan terus dikeluarkan oleh Prof Edward sampai waktunya sudah hampir mendekati pukul 5 sore.
"Istirahatlah sejenak sebelum kamu merenggangkan tubuh."
"Baik Prof," lirih Senja setelah memperbaiki posisinya. Ia terlihat begitu kacau hanya dalam waktu dua jam saja.
"Prof, aku harus segera pergi dan terima kasih untuk hari ini."
"Kau harus terus melatih pernapasan mu hingga benar."
"Baik Prof."
Setelah mengatakan hal itu Prof Edward kemudian meninggalkan Senja sendirian di lapangan latihan.
Senja tanpa membuang waktu segera pergi dari tempat tersebut menuju kamarnya. Ia terlebih dulu masuk ke kamar mandi untuk bebersih.
20 menit kemudian Senja keluar dari kamar asramanya dan pergi menuju tempat parkir kereta kuda. Ia memakai pakaian kasual dengan atasan berwarna merah dan bawahan celana hitam panjang serta topi sutra hitam menghiasi rambutnya.
"Nona, 10 menit lagi kita akan sampai di kafe Delima."
Senja hanya mengangguk mendengar penuturan Amel. Beberapa saat kemudian mereka telah tiba di depan gedung kafe tersebut.
Senja dengan santai keluar dari kereta kuda, ia lalu masuk ke dalam kafe bersama dengan Amel yang berada di belakangnya.
"Selamat datang Nona, apa ada hal yang bisa saya bantu?"
Seorang pelayan wanita datang menghampiri Senja dengan senyum hangat terpampang diwajahnya. Meski Senja tahu bahwa senyumnya itu hanya sebuah formalitas saja.
__ADS_1
"Bawakan aku cemilan favorit di tempat ini."
"Baik Nona, segera saya siapkan."
Sebelum pergi, pelayan itu membawa Senja menuju ruang pesanannya. Beberapa saat kemudian pelayan itu datang kembali bersama dengan kereta dorong yang berisi penuh cemilan dari berbagai bentuk.
"Silahkan dinikmati Nona."
"Terima kasih."
Pelayan itu lalu keluar dan menutup pintunya kembali. Senja kemudian mengambil cangkir teh yang beraroma melati lalu menyesapnya.
"Aku harus memiliki teh dengan kualitas baik seperti ini."
"Amel, makan saja cemilan ini. Aku tidak sanggup menghabiskan semuanya."
Dengan senang hati Amel mengangguk, ia lalu mengambil kue coklat yang sejak awal menarik perhatiannya itu.
"Terima kasih Nona." seru ambil sebelum mengigit kue coklat tersebut.
Wajah Amel tampak bahagia dengan perilaku Senja yang mulai kembali seperti biasanya. Amel tidak mengetahui jika Senja menatapnya dengan pandangan jijik.
Senja awalnya sudah curiga dengan pelayanan Amel semenjak dikediaman Duke. Kecurigaannya menjadi semakin besar setelah Senja melihat Amel keluar-masuk kamar Sarah setiap harinya.
"Aku tahu kau setia pada siapa tapi kau juga tahu bahwa kesetiaan mu padanya hanya sebuah alat."
Senja merasa kasihan pada Amel yang digunakan sebagai alat sekali pakai namun ia juga kesal dengan perilaku pelayannya itu. Jika saja Amel tidak naif, maka saat ini ia mungkin mendapati kehidupan yang lebih baik dari pada hanya kata-kata palsu.
Tentu saja Senja tahu bahwa Amel selalu setia pada Sarah. Tapi Sarah bahkan tidak pernah menganggap Amel sebagai bagian dari hidupnya.
"Barang sekali pakai memang mudah hancur."
Senja kemudian beralih menatap Plaza kota, disana terdapat sebuah air mancur raksasa dengan patung naga yang mengeluarkan air dari mulutnya.
"Naga itu terlihat lebih baik ketimbang naga yang ada di ruang bawah tanah paviliun permaisuri Mawar."
Senja teringat akan tempat dimana ia mendapatkan memori masa kecilnya Senja asli. Anehnya setelah kepulangan Senja dari pasar gelap tadi malam. Ia mendapati dirinya kembali lagi ke tempat tersebut.
Tempat itu masih sama seperti sebelumnya, hanya ada kegelapan total yang menyelimuti seluruh bagiannya. Senja yang kaget sekaligus bingung hanya bisa mencoba pergi dari tempat tersebut sebelum akhirnya pasrah karena tidak menemukan pintu keluar.
"Kenapa lagi ini? Apa jangan-jangan aku sedang bermimpi?"
Senja ingat bahwa tadi ia baru saja melemparkan dirinya keatas kasur setelah menyuruh Dian pergi dari kamarnya. Tapi apa yang ia lihat setelah membuka mata adalah tempat gelap dan suram ini.
"Hei, siapa kau? Apa mau mu?" tanya Senja kesal.
"Jika memang ini mimpi, maka aku akan baik-baik saja."
"Aku belum memutuskan apakah akan membiarkan mu masuk atau tidak."
Suara misterius itu berkata dengan pelan. Ia seperti menimbah sesuatu dengan wajah seramnya itu.
Senja yang tidak paham maksud suara misterius itu mencoba untuk tetap tenang. Ia tidak ingin terpancing atau pun memancing keributan di tempat ini.
Suara misterius itu terus berbicara Tania henti, ia tidak membiarkan Senja menjawab atau pun memotong perkataannya.
"Dasar makhluk aneh, aku jadi tidak bisa tidur nyenyak malam ini karena kau."
Senja mulai jengah, ia ingin berteriak kencang pada suara misterius itu sebelum dihentikan oleh suara napas yang dalam dan panjang dari makhluk itu.
"Baiklah, sudah diputuskan." seru suara misterius itu tegas.
"Putuskan? Memangnya apa yang sudah kau...,"
Belum selesai Senja berbicara ia sudah di teleportasikan ke ruangan misterius yang penuh dengan ladang rumput hijau.
"Dimana ini?" gumam Senja takjub melihat pemandangan di hadapannya itu.
Pemandangan itu sangat aneh, terdapat berbagai macam jenis tumbuhan dan hewan yang berada di area tersebut. Lama Senja melihat-lihat tempat itu sampai akhirnya ia teringat akan memori lama Senja asli.
Disana Senja melihat bahwa Senja asli pernah masuk ke dalam tempat ini dan bermain riang bersama permaisuri Mawar.
"Apakah ini ilusi yang dibuat Senja asli karena trauma akan kehilangan ibunya?"
Senja yang bingung sekaligus takjub hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak paham dengan tempat ini.
"Sudah cukup, aku akan memulangkan mu dan memutuskan hasilnya secepat mungkin."
Suara berat dan kasar terdengar jelas di telinga Senja. Ia tidak tahu asal sumber suara tersebut. Ia tidak dapat melihat siapa pun kecuali dirinya sendiri di tempat itu.
Tidak butuh waktu lama saat suara itu selesai berbicara, Senja dengan aneh melihat tempat itu memudar dan menghilang dengan sendirinya dan yang ia lihat saat ini adalah ruang kamarnya yang masih sama seperti saat ia datang.
****
"Nona...?"
Senja tersentak kaget saat tubuhnya digoyangkan oleh Amel.
"Ada apa?" tanya Senja kesal.
"Nona, saya sudah memanggil anda sejak tadi tapi anda tetap diam seperti patung."
Amel menggerutu kesal, pasalnya sudah sejak tadi ia memanggil nona nya itu sampai mulutnya ingin berbusa.
"Aku ingin bertanya apakah anda ingin memesan tehnya lagi, ini sudah dingin." lanjut Amel sambil menunjuk kearah teko teh yang sudah tidak ada kepulan asap lagi diatasnya.
"Lakukan sesuka mu,"
Amel yang mendengar itu segera keluar dari ruangan. Ia terlihat senang Tania alasan sebelum turun ke bawah untuk menjumpai pelayan kafe ini.
Senja yang melihat kepergian Amel hanya bisa menghela napas. Ia kemudian melihat kembali area plaza yang berada tepat di alun-alun ibu kota Kerajaan.
"Aku bisa memanfaatkan tempat ini dengan baik."
__ADS_1
Ide bisnis seketika muncul dibenak Senja. Ia merasa bahwa perlu ada distributor dari tambang berlian yang ia miliki. Tanpa membuat banyak pihak curiga, ia merasa perlu membuat toko perhiasan yang mampu menargetkan kalangan bangsawan dan menengah di tempat ini.
Senja lalu keluar dari ruangan itu untuk melihat lebih jelas berbagai gedung disana. Sesampainya di tangga, Senja melihat Amel yang tengah membawa teko teh.
"Nona, anda ingin kemana?" tanya Amel gelisah.
"Aku ingin melihat-lihat gedung disekitar sini. Mungkin saja aku akan berbelanja beberapa pakaian dan aksesoris nantinya."
"Tunggu Nona, biar saya temani anda."
"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Lagian ini tidak lama. Kamu duduk diam saja di ruangan itu."
Senja menunjuk ruangan yang mereka pesan. Dengan lemah Amel mencoba untuk menolak perintah Senja namun ketika ia melihat Senja kukuh dengan pendiriannya, membuat Amel mengangguk dengan pasrah.
Saat di luar, Senja dapat melihat Amel dari lantai dua kafe Delima. Ia seperti sedang mengawasi gerak-gerik Senja kemanapun Senja pergi.
Senja yang acuh tak acuh tetap berjalan santai menyusuri plaza. Ia kemudian berhenti di depan sebuah gedung yang menjual banyak tanaman bunga.
"Aku ingin memiliki gedung ini,"
Gedung ini berada tepat di samping air mancur sehingga membuat pesonanya tambah indah. Selian itu tanaman bunga yang dijual di toko tersebut tumbuh subur hingga menutupi hampir sebagian kaca gedung.
Gedung berlantai tiga ini tampak sederhana dan beda dari pada gedung-gedung lainnya di tempat ini. Gaya arsitekturnya kuno namun tidak terlihat jadul, hal ini menambah kesan seni pada gedung tersebut.
Senja lalu mendatangi gedung itu dan masuk ke dalamnya. Gedung ini hanya menjual Bunga dengan kualitas yang terbilang biasa saja untuk ukuran bangsawan. Senja lalu melihat - lihat tempat itu secara seksama tanpa kehilangan seluruh detailnya.
"Selamat siang Nona, ada yang bisa saya bantu?"
Sebuah suara berhasil membuat Senja kaget namun dengan cepat Senja berhasil mengendalikan ekspresi wajahnya itu.
"Apa kau pemilik gedung ini?"
"Iya Nona, gedung ini milik saya."
"Apakah kau ada niat untuk menjualnya? Aku akan membeli gedung ini dengan harga tinggi."
Wanita itu terlihat bingung dan kaget, ia tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari pelanggan pertamanya hari ini.
"Maaf Nona, gedung ini tidak dijual."
"Apakah ada alasan khusus?"
"Gedung ini adalah harta warisan turun-temurun dari keluarga saya, menjualnya sama saja dengan menjual seluruh memori keluarga."
Wanita itu terlihat bangga dan sekaligus sedih. Senja hanya melihat hal itu dengan acuh sebelum menaiki tangga ke lantai dua.
"Tempat ini bagus."
"Terima kasih atas pujiannya nona."
Setelah memperhatikan seluruh detail bagian lantai dua, Senja lalu naik lagi ke lantai tiga. Sama seperti lantai dua, lantai tiga tempat ini sangat nyaman dan tenang.
"Apa kau menggunakan gedung ini untuk tempat tinggal?"
"Aku tidak tinggal di gedung ini Nona. Rumah ku ada di pinggir kota, disanalah aku menanam semua bunga ini."
"Bagaimana dengan lantai dua dan tiga gedung ini?"
"Dilantai dua aku hanya menaruh beberapa bunga yang belum mekar sedangkan dilantai tiga itu kosong Nona."
"Kalau begitu aku akan gunakan keduanya"
Wanita itu kaget, jujur saja ia ingin mengusir Senja sejak awal dari tokonya ini, namun ia menahan hal tersebut mengingat bahwa Senja adalah seorang bangsawan. Bisa repot bila ia bermasalah dengan bangsawan yang acuh tak acuh seperti Senja.
"Apa maksudmu Nona? Bukankah saya sudah bilang jika saya tidak akan menjual gedung ini."
"Aku tidak akan membelinya tapi hanya menyewanya saja. Bagaimana? Bukankah itu sangat menguntungkan bagi mu."
"..."
"Itu tidak sulit, bukankah kau tidak menggunakan kedua lantai ini. Sewakan saja pada ku dan mengenai bunga ini, aku bisa menjadikannya hiasan."
Senja menunjuk pada bunga yang masih belum mengeluarkan kuncupnya. Ia merasa bahwa bunga itu lucu dan sangat cocok sebagai hiasan di toko berliannya nanti.
"Dengan lantai satu sebagai toko bunga, dan dua lantai lainnya sebagai toko perhiasan. Aku rasa penjualan bunga mu akan untung besar. Tentu saja jika kau pandai menarik minat mereka."
Wanita itu sedikit berpikir, ia tahu jika bekerja sama dengan wanita bangsawan dihadapannya ini maka penghasilannya akan bertambah besar. Namun ia juga takut jika keuntungan besar itu akan membawanya dalam bahaya yang sama besarnya.
"Nona, tapi..."
"Tidak usah terburu-buru, kau bisa memikirkannya nanti." seru Senja dengan senyum hangatnya.
"Jika kau setuju maka ambillah ini dan temui aku dua hari lagi di kafe delima" lanjut Senja sebelum meninggalkan wanita itu sendirian.
Senja sengaja melakukan itu untuk membuatnya bisa berpikir lebih baik. Wanita yang masih termenung itu pun segera mengejar Senja sebelum ia berhasil keluar dari toko.
"Nama ku Leah," seru wanita itu sambil berlari menuruni anak tangga.
"Leah Wesly," sambungnya kembali ketika melihat wajah Senja dari bawah tangga.
"Aku Senja de Ari," seru Senja yang membuat Leah sedikit kaget.
"Ari? Bukankah itu seorang Duke?"
Ketika Leah mendengar nama 'Ari' ia teringat dengan tampilan dingin seorang pria dengan rambut emas dan mata birunya. Seketika Leah merinding dan langkahnya mulai kaku.
"Senang berbisnis dengan anda, nyonya Leah."
"Tidak, jangan nyonya. Panggil saja aku Leah."
Leah tidak terbiasa dengan panggilan tersebut, apalagi yang memanggilkan adalah putri seorang Duke.
"Baiklah Leah, senang berbisnis dengan anda."
__ADS_1