Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E54] Pratikum


__ADS_3

"Konsisten merupakan kunci latihan terpenting dari segala teknik latihan."


*********************####*******************


Dua hari telah berlalu sejak pertemuan Senja dan empat sahabatnya itu. Ia merasa lega karena kondisi mereka baik-baik saja. Untungnya mereka tidak mudah menyerah dan terus berusaha untuk memperbaiki kesalahan tersebut.


"Sudah waktunya untuk sesi latihan," gumam Senja sebelum ia keluar dari kamarnya.


Sudah hampir satu minggu Senja vakum dari latihan nya bersama Lucas. Karena urusan pribadi Lucas tidak bisa menjumpai Senja dan sesi latihan pun tertunda.


"Ya untungnya masalah Lucas adalah berkah bagi ku,"


Senja kembali teringat akan latihannya dengan Sera. Meski Sera tidak secara langsung melatihnya namun hal itu sangat berguna untuk Senja dalam memperbaiki Meridian nya.


Sekarang meridian Senja sudah dijahit hingga lingkaran ke empat. Dan tentu saja butuh dua hari baginya untuk bisa menjahit lingkaran keempat. Hal ini dikarenakan semakin besar lingkarannya meridian maka akan semakin sulit pula untuk dijahit.


"Tersisa tiga lingkaran lagi hingga vitalitas ku kembali seperti sediakala."


Setelah memikirkan itu semua, Senja memilih untuk keluar dari kamarnya dan pergi menuju kelas. Kali ini kelas akan dilakukan sesi casting dimana seluruh siswa akan merapalkan mantra sihir yang sebelumnya dipelajari.


"Setiap sihir memiliki keunikannya masing-masing, jadi jangan terlalu terpaku pada orang lain dan fokuslah dalam membentuk sihir mu sendiri."


Prof Daru memberikan instruksi kepada para siswa untuk melakukan casting setelah pola sihir pertahanan sudah selesai disempurnakan.


Meski pelajarannya membosankan tapi praktek secara langsung cukup membuat para siswa bersemangat. Mereka dengan antusias mulai memperbaiki pola sihir yang masih belum lengkap.


"Ini mah gampang," seru salah satu murid sambil menggambarkan pola rune disekitar garis pertahanan.


"Benar juga, tinggal melakukan ini dan ini."


Temannya yang lain pada mengikuti jejaknya dengan riang gembira. Mereka tidak tahu jika saat ini Prof Daru sedang tersenyum tajam menatap mereka.


"Hahaha, mudah sekali." seru yang lain saat mencoba melakukan tindakan yang sama.


"Mereka sudah gila, apa mereka tidak tahu jika pola rune itu berbahaya."


"Aku saja harus belajar selama sebulan karena memang sulit mempelajarinya." gumam Senja saat mengingat sesi pembelajaran yang melelahkan bersama Vanilla.


Bukannya Senja tidak sueka sihir rune hanya saja karena kerumitan dan detail yang rinci membuat Senja malas memperlajarinya.


"Jika bukan karena protes Vanilla sejak kurungan itu, mungkin saja aku..."


Senja teringat kembali akan wajah masam Lucas sebelum ia ditinggal sendirian dikamar itu. Meski begitu Senja merasa senang karena ia bisa kabur dari Lucas berkat sihir rune Vanilla.


"Dari kejadian itulah Vanilla meminta ku untuk belajar sihir rune meski hanya dasarnya saja."


Sihir rune pertahanan yang harus ditanamkan pada pola sihir inn tidak terlalu rumit. Namun tidak semudah yang dikatakan para siswa sebelumnya. Tetap saja Senja harus bersusah payah untuk membuat pola rune yang sempurna.

__ADS_1


"Sejauh yang aku bisa, ini yang paling jauh." gumam Senja yang mulai fokus pada pekerjaannya.


Saat Senja sedang asik dan fokus dalam sihir rune nya, Kira yang sejak tadi memperhatikan Senja mulai bersikap aneh. Ia merasa jika kondisi fisik Senja entah mengapa mulai membaik dan itu sangat tidak bagus untuk situasinya.


"Bukannya dia sekarat beberapa hari yang lalu? Jadi kenapa sekarang begini,"


Dengan wajah tegang Kira menggigit kuku jarinya satu-persatu. Ia merasa gagal dan frustasi saat harus melaporkan kejadian ini pada Dira.


Apa yang akan dikatakan Mari dan Tasya tidak terlalu penting baginya namun Dira adalah kasus yang berbeda.


"Jika Dira tidak mengakui ku maka posisi itu akan sirna." gerutu Kira saat memikirkan posisi Mari dan Tasya yang semakin kokoh sedangkan dirinya hanya menjadi tiang kering disudut jalan.


"Aku tidak bisa diam begitu saja,"


Kira juga kesal karena seminggu yang lalu ia harus sakit karena meminum racun yang disiapkan untuk Senja. Racun itu seharusnya jadi milik Senja dan entah mengapa ia harus meminum racun itu menggantikannya.


"Semua karena jal*ng itu." gumam Kira yang masih teringat akan rasa sakit dari racun tersebut.


Untung saja ia bisa dengan cepat meminum penawarnya, jika tidak mungkin saja yang akan mati adalah dirinya bukan Senja.


"Terlebih lagi aku harus meyakinkan mereka untuk tidak membocorkan tentang racun itu."


Kira melirik sekilas pada teman sekelasnya yang asik menghiasi pola dengan sihir rune. Ia harus bersusah payah meyakinkan mereka jika bukan Senja yang meracuni nya melainkan dia sendiri yang salah makan.


Setelah berkutat panjang dengan pikirannya, Kira kemudian berjalan perlahan mendekati Senja. Ia membuang seluruh egonya dan mulai tersenyum riang.


"Senja," panggil Kira sambil melihat pola rune apa yang sedang digambar oleh gadis itu.


Senja dengan manis menyapa Kira, ia terlihat senang dengan wajah polosnya. Kira yang melihat hal itu justru tertawa internal karena kebodohan Senja.


"Apa kau sudah selesai?" tanya kira ketika ingin melihat dengan detail pola rune milik Senja.


"Jangan, masih belum."


Senja dengan malu menutupi pola sihirnya, ia tidak ingin Kira melihat pola rune nya yang kacau.


"Dasar bodoh, begitu saja tidak bisa." batin Kira saat melihat Senja buru-buru menutupi pola sihirnya.


"Jika kau merasa kesulitan, aku bisa memberi mu contoh punya ku."


"Tidak, terima kasih. Aku ingin membuatnya sendiri."


"Baiklah, jika ada kesulitan jangan ragu untuk bertanya pada ku."


"Umh, baik."


"Selain itu, makan sianglah dengan..."

__ADS_1


DUAR....!!


DUAR....!!


Perkataan Kira terhenti saat ledakan hebat terjadi di tempat itu. Ledakan itu berasal dari siswa yang membuat sihir rune diawal tadi. Ia dan beberapa temannya terlempar jauh saat casting baru saja dilakukan.


Prof Deru yang melihat kejadian itu segera menolong mereka dan bergegas memindahkan ke ruang UKS terdekat. Sedangkan sisa murid lainnya hanya bisa melihat tempat kejadian dengan wajah penuh tanda tanya.


Beberapa saat setelahnya Prof Deru kembali dengan wajah kesalnya. Ia memelototi para siswa yang tersisa dengan pandangan sinis.


"Sudah saya katakan jika sihir pertanahan itu bukanlah mainan anak-anak tapi apa ini? Apa kalian ingin menjadi seperti mereka?"


Semua siswa diam termasuk Senja dan Kira, mereka tidak menyangka jika casting dapat sangat berbahaya jika pola sihirnya salah.


"Saya harap anda semua mengambil pelajaran dari insiden ini. Setelahnya saya ingin melihat sihir pertanahan lengkap tanpa cacat seperti tadi."


Setelah mengatakan itu semua, Prof Deru mempersilahkan para siswa untuk istirahat sejenak dan akan kembali menguji mereka 30 menit kemudian.


Senja yang melihat kejadian itu hanya bisa menghela napas panjang. Sejujurnya ia juga pernah mengalami ledakan casting saat berlatih dengan Vanilla, hanya saja saat itu ia baik-baik saja karena perisa pelindung Ristia.


"Untung aku menutupi pola rune ini dari nya,"


Senja melirik sekilas pada Kira yang masih terpaku di tempatnya. Entah apa yang ia pikirkan namun saat ini Kira terlihat pucat dengan keringat dingin yang sudah membahasi punggung belangnya.


"Kira, maaf aku harus fokus pada pola rune ini." seru Senja dengan wajah sedihnya. Ia kemudian pergi meninggalkan Kira sendirian.


"Sial, aku jadi lupa harus berkata apa tadi," gumam Kira saat melihat punggung Senja yang menjauh dari lapangan.


****


30 menit telah berlalu dan kini para siswa kembali dikumpulkan di lapangan. Mereka masih syok atas kejadian tadi namun prof Deru sama sekali tidak mengendorkan pelajarannya.


"Saya sudah mengatur jarak diantara kalian masing-masing, jadi lakukan dengan benar. Jika kalian gagal dalam pola sihir, maka casting akan dibatalkan langsung."


Para siswa mulai mengambil tempatnya masing-masing dan mulai membentuk pola sihir seperti sebelumnya.


"Dan tentu saja jika kalian gagal, maka kita akan bertemu kembali di semester berikutnya."


Perkataan selanjutnya dari Prof Deru berhasil membuat mereka bergidik ngeri. Meski ini bukan ujian tengah semester, namun penilaiannya praktek lebih tinggi dari pada teori.


Jika mereka gagal disini, maka bisa dipastikan nilai mereka akan turun. Dan hal itu juga akan berdampak pada nilai kelas ini berikutnya.


"Masih ada dua bulan lagi sampai ujian tengah semester dilaksanakan dan..."


Prof Deru sengaja menggantung kalimatnya sehingga membuat para siswa deg-degan menunggu perkataannya selanjutnya.


"Dan masih ada dua praktikum lagi yang belum dilakukan." lanjut Prof Deru.

__ADS_1


Para siswa yang panik kini semakin tegang dan gelisah. Mereka merasa kelas ini memang pantas disebut sebagai kelas tersulit dari keseluruhan kelas yang pernah mereka alami.


"Mulai sekarang," teriak Prof Deru yang membuat lamunan mereka terbuyarkan.


__ADS_2