Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Permulaan Rencana


__ADS_3

"Hasil dari pengkhianatan adalah kematian, itu adalah pembalasan yang setimpal dari apa yang telah dilakukan."


*****************#####*****************


Hembusan angin musim semi mulai menyeruak masuk melalui jendela kamar hanya untuk menyentuh tubuh mungil seorang wanita yang tengah tertidur lelap di bawah pohon rindang. Wanita itu tampak sangat menikmati tidurnya, ia tidak sadar bahwa sebuah tangan sedang mengelus pelan rambutnya.


Sentuhan tangan itu sangat hangat dan nyaman sehingga membuat wanita itu semakin terlelap dalam tidurnya sampai ketika sebuah suara membangunkannya.


"Bangun sayang," seru seorang wanita paruh baya dengan suara ramahnya.


"Sayang, sudah waktunya untuk makan siang," lanjut wanita setengah baya itu kembali.


Senja dengan perlahan membuka matanya, ia dapat melihat seorang wanita paruh baya yang sedang menatapnya lembut.


"Mama?"


Senja terlihat kaget, ia begitu terkejut melihat sosok wanita yang sudah lama di rindukannya.


Wanita itu masih dengan senyum ramahnya mulai mengelus lembut wajah Senja. Ia terlihat bahagia melihat putrinya sudah terbangun dari tidur panjangnya.


"Bulan sayang, makanlah ini."


Wanita yang di panggil 'mama' oleh Senja kini memberikannya sebuah roti lapis keju kesukaannya, dan dengan ragu Senja mengambil roti lapis tersebut.


"Apa ini sebenarnya"


Senja bertanya dengan bingung, ia sadar jika semua ini tidak nyata namun menyangkalnya juga tidak mungkin.


"Bukankah ini,"


Senja mulai memperhatikan sekelilingnya, ia melihat lapangan luas dengan pemandangan bukit yang indah. Sejenak Senja teringat akan tempat yang biasanya ia dan keluarganya datangai waktu di bumi dulu.


"Aku ingat tempat ini, tapi apakah ini nyata? Aku tahu dengan jelas bahwa tubuh ku sudah tidak ada lagi di tempat itu, tapi ini terlalu nyata untuk dibilang halusinasi."


Senja kembali memperhatikan sosok Farel yang tengah bermain lempar bola dengan ayah mereka. Senja juga melihat ibunya yang tengah berjalan menyusuri lapangan untuk memanggil kedua pria itu.


Senja dengan sedih teringat masa lalunya dimana ia dan keluarganya pergi berlibur ke sebuah lapangan besar pada saat musim semi tiba.


"Persis seperti saat itu," gumam Senja singkat ketika melihat seluruh kejadian yang ada di hadapannya tersebut.


Senja mulai mempertanyakan memorinya karena apa yang ia lihat saat ini sama persis seperti kejadian saat itu. Hal ini lebih mirip seperti memutar video rekaman klasik dimana ia masuk ke dalam rekaman tersebut.


"Ada yang aneh," lirih Senja ketika Farel datang menghampirinya sambil membawa Juan, kucing kesayangannya.


"Bulan, ayo main," seru Farel sambil menarik tangan Senja menuju tengah lapangan.


"Apa ini," lirih Senja saat menyadari tubuhnya mengecil layaknya anak umur 7 tahun.


"Aku mengecil? Tidak itu tidak mungkin. Aku hanya kembali menjadi diri ku lagi saat masih kecil dulu."


Senja mulai melihat ke sekelilingnya dengan tatapan tajam. Ia merasa bahwa ini tidak nyata. Benar ini sangat tidak nyata baik baginya atau mereka semua.


Senja ingat hal terakhir yang tejadi padanya saat itu. Dimana dirinya berlumuran darah karena mana yang pecah dan tidak stabil di dalam tubuhnya.


"Aku harus segera kembali," seru Senja sambil memukul keras pipinya.


Senja berhenti sesaat dan melihat kembali sekitarnya namun kini yang terlihat hanyalah gumpalan awan hitam yang menutupi hampir seluruh area itu.


Senja yang semula resah kini penuh dengan tanda tanya. Ia merasa bingung dengan kegelapan ini.


"Dimana aku sekarang?" tanya Senja ketika menelusuri area tersebut.


Beberapa saat kemudian Senja bisa melihat sebuah cahaya terang dari satu titik di sudut area hitam tempat itu. Perlahan Senja mendekati cahaya itu.


Setelah pengamatan rinci, Senja pun masuk ke dalam titik terang itu. Disana Senja berjalan cukup lama di dalam titik terang sampai akhirnya ia bisa melihat sebuah gambar samar yang perlahan mulai terlihat jelas.


Gambar itu kini terlihat seperti atap gedung sebuah bangunan. Senja yang berhasil mendapatkan kembali penglihatannya kini mulai melihat ke sekeliling untuk memastikan dimana kini ia tengah berada.

__ADS_1


"Nona, kamu sudah sadar," seru sebuah suara yang terasa sangat familiar bagi Senja.


"Nona, anda harus beristirahat dulu dan jangan banyak bergerak untuk saat ini," lanjut suara itu kembali ketika Senja hendak beranjak dari tidurnya.


"Dimana ini?" tanya Senja masih terlihat linglung dengan kondisinya.


"Nona Senja," panggil suara lainnya ketika baru saja memasuki ruangan.


Senja mulai memfokuskan pikirannya. Ia mulai sedikit sadar mengenai situasi nya saat ini. Perlahan ia menatap kedua pelayannya itu.


"Dian, Eza," panggil Senja memastikan bahwa yang ia lihat benar kenyataan bukan fatamorgana lagi.


"Iya Nona."


Ketika mendengar suara keduanya, Senja mulai terlihat sedikit tenang. Senja lalu beranjak dari tidurnya dan pergi menuju balkon yang ada di sisi kanannya.


"Nona!" teriak Dian ketika Senja melangkahkan kakinya menuju balkon.


"Aku kembali," gumam Senja ketika melihat banyaknya warga yang berseliweran di hadapannya.


"Kini aku sudah kembali menjadi Senja,"


"Dian, sudah berapa lama aku tertidur?"


"Nona, anda sudah tidur selama satu minggu."


"Seminggu?" tanya Senja bingung. Ia merasa bahwa dirinya baru saja tertidur dan entah sejak kapan itu sudah menjadi seminggu.


"Apa yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri?"


Senja harus mengumpulkan segala informasi yang terbuang ketika ia tidak sadarkan diri sejak hari berakhirnya ujian.


Dian yang tahu maksud dari nona nya kemudian memberikan sebuah koran yang berisikan informasi mengenai kejadian seminggu belakangan ini.


"Duduklah terlebih dahulu Nona, saya akan menyiapkan teh untuk anda."


"Apa yang terjadi saat ujian berakhir?" tanya Senja pada Eza yang sedari tadi hanya melihatnya dari sudut kamar.


"Saya sedikit memprovokasi mereka sesuai dengan perintah anda sebelumnya Nona, setelah itu semuanya berjalan sesuai rencana."


"Kerja bagus," lirih Senja kemudian membalikkan koran untuk membacanya.


Betapa kagetnya Senja ketika melihat wajah Amel yang terpampang jelas pada halaman pertama koran. Di sana tertulis bahwa Amel adalah dalang di balik kacaunya ujian.


Di jelaskan bahwa Dira dan kelompoknya adalah korban dari rencana tersebut sedangkan Sarah diduga berkomplotan dengan Amel hanya mendapatkan sanksi dari akademik.


"Eza, bisa kau jelaskan apa ini semua?" tanya Senja penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Nona sebaiknya hal ini anda tanyakan saja pada Morreti, dia mengetahui segalanya mengenai masalah itu."


"Kalau begitu panggil dia kesini."


Eza menganggukkan kepalanya sebelum ia pergi meninggalkan Senja. Beberapa saat kemudian Dian datang kembali bersamaan dengan nampan yang berisi teh dan juga semangkuk bubur manis.


Senja yang sedang menunggu kedatangan Morreti Kini tengah menikmati teh hijau buatan Dian. Perlahan pintu kamar terbuka dan menampakkan Dennis yang sedang menatap Senja penuh makna.


"Masuklah."


"Terima kasih Nona."


"Apa pekerjaan mu baik?"


"Tentu saja, itu berkembang dengan pesat berkat inovasi anda."


"Baguslah, lalu ada urusan apa kau datang menjumpai ku?"


"Nona, saya ingin melaporkan hal yang sangat penting pada anda."

__ADS_1


"Katakan segera aku tidak punya waktu banyak," seru Senja, bukannya ia bohong tapi sejujurnya Senja harus berbicara dengan Morreti mengenai masalah yang tengah terjadi saat ini.


Dennis dengan hati-hati mulai memberikan beberapa surat kepada Senja. Surat itu tampak sangat mewah dengan logo menarik di yang melekat diatasnya.


"Ini adalah surat dari orang misterius, ia meminta kami untuk mencari tahu keberadaan anda yang menghilang dari ujian."


" ... "


"Bukan hanya itu saja nona, banyak sekali permintaan mengenai anda akhir-akhir ini."


"Apa kau tahu dari mana asal mereka?"


"Saya hanya mengetahui beberapa diantara mereka sisanya masih samar."


"Maksud mu?"


"Karena kita memberlakukan syarat masuk, ada beberapa bangsawan yang memberikan kartu nama keluarganya sebagai simbol identitas sebagian lagi membayarnya dengan koin emas."


"Siapa saja yang memberikan kartu nama keluarganya?"


"Ada dari Vincount Difani, Count of Boot, Marques Jiur, Vincount Lapedi, dan Count Bernas."


"Hmm."


"Mereka sangat tertarik pada Nona terlebih lagi setelah anda menghilang saat berakhirnya ujian," seru Dennis kesal ketika privasi nona nya diselidiki.


"Sudah aku duga," lirih Senja acuh tak acuh.


"Nona, bagaimana saya harus menanggapi mereka?"


"Berikan saja apa yang mereka inginkan."


"Maaf Nona, saya tidak paham maksud anda."


Dennis tampak tidak percaya dengan pemikiran nona nya itu, bukannya marah nona nya malah menyuruh Dennis untuk memberikan informasi privasinya.


"Lakukan saja seperti yang mereka inginkan, karena aku bisa mengambil banyak keuntungan dari kebodohan mereka itu. Katakan saja pada mereka jika aku adalah sampah yang tidak berguna dan dengan itu kewaspadaan mereka terhadap ku akan sedikit hilang," seru Senja dengan senyum licik di wajahnya.


Senja ingin para bangsawan tidak memasang tembok kecurigaan padanya. Ia berharap dengan keadaan lemahnya ini, ia bisa dengan mudah memukul mereka dari belakang.


"Ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan pada anda."


"Katakan apa itu?"


"Kita mendapatkan tawaran untuk mengawal kelompok dagang Weru selama tiga bulan di kerajaan tetangga."


"Berita bagus, perintahkan Sean, Hazel dan Aslan untuk tugas itu. Sudah waktunya bagi mereka untuk menunjukkan kemampuan. Selain itu, perintahkan juga mereka untuk mengumpulkan informasi penting mengenai kerajaan tersebut pada Guild."


"Baik Nona, dan untuk mereka yang tidak diketahui identitasnya bagaimana saya harus menyampaikan informasi tentang anda?"


"Katakan saja pada mereka jika Guild melihat salah satu pelayan ku di hutan, untuk informasi lebih detail suruh mereka untuk membayar lebih."


"Baik Nona."


Dennis kemudian keluar dari kamar meninggalkan Senja bersama Dian.


"Aku yakin surat itu berasal dari Dira, melihat kesungguhan mereka menandakan bahwa nyawa ku sangatlah penting."


Senja terlihat acuh tak acuh sambil menatap kembali surat yang ada di atas meja di depannya itu.


"Bisa juga surat itu dari Luna atau pun musuh ku yang lain namun yang jelas saat ini aku harus lebih berhati-hati lagi."


Surat yang ada di atas meja tidak hanya ada satu melainkan empat, pastinya salah satu di antara mereka atau bahkan setengahnya bisa saja milik musuh yang tengah mengincar nyawa Senja saat ini.


"Dian, katakan pada Morreti untuk menemui ku diruang bawah tanah."


"Baik Nona," seru Dian sebelum keluar dari kamar untuk menemui Morreti yang sedang bersama Eza di luar gedung Guild.

__ADS_1


__ADS_2