
"Semakin banyak yang ditutupi maka semakin banyak pula yang terluka."
******************#####****************
Setelah kamarnya di periksa, Senja kemudian memutuskan untuk segera pergi menuju ibu kota kerajaan Guira. Dalam perjalanannya menuju ibu kota, banyak sekali pengawasan ketat di setiap pintu masuk dan keluar dari setiap wilayah yang ada.
"Nona, saya sangat terkejut berita ini tersebar dengan sangat cepat," seru Eza ketika ia melihat begitu banyak kereta kuda yang sedang mengantri untuk masuk ke wilayah selanjutnya.
"Itu sangat wajar jika mengingat apa yang telah mereka sembunyikan, selain itu hal ini sangat menguntungkan bagi kita karena bisa berbaur dengan para pedagang yang lain, sehingga informasi yang kita dapat akan semakin bertambah," lirih Senja dengan wajah acuh tak acuhnya.
"Anda ada benarnya Nona," balas Eza sebelum pergi keluar dari gerbong kereta menuju perkumpulan pedagang yang tengah menunggu giliran masuk.
Senja dan Eza saat ini sedang menyamar sebagai mengembara, tidak ada yang bisa mengenali mereka karena Kun telah membuat penyamaran terhadap keduanya.
"Seperti yang dikatakan Dian, mereka memang sangat cepat," lirih Senja datar.
"Ini artinya Raja juga terlibat dibalik ini semua,"
"Hah, aku tidak menyangka jika kerajaan ini juga terlibat dalam kasus hewan malang tersebut," lanjut Senja sambil mengingat Hyena dan Macan Kumbang yang berubah menjadi gila karena mutiara hitam tersebut.
Beberapa saat kemudian, Eza kembali dengan membawa surat izin masuk ke wilayah ibu kota.
"Nona kita akan berangkat sebentar lagi," seru Eza sambil menyerahkan dokumen tersebut.
"Apa yang kau dapat dari mereka?" tanya Senja penasaran dengan apa yang dibicarakan Eza dengan salah satu pedagang tersebut.
"Mereka mengatakan jika beberapa hari lagi akan ada ujian masuk Akademik Lumine."
"Begitu rupanya," balas Senja dingin kemudian menyuruh Eza untuk segera masuk ke dalam gerbong kereta.
Setelah proses yang panjang akhirnya Senja berhasil lolos masuk ke dalam ibu kota kerajaan Guira. Di sepanjang jalan Senja bisa melihat banyaknya bangunan megah baik kecil atau pun besar. Setiap bangunan dihiasi dengan lampu-lampu jalan yang tampak sangat mewah.
"Sepertinya kerajaan ini ingin menampakkan seberapa kayanya mereka," gumam Senja pelan namun masih bisa didengar oleh Eza.
"Saya dengar dari para pedagang tadi jika raja selalu memberikan donasi besar kepada para rakyat dan juga panti asuhan," balas Eza penuh antusias.
"Ah begitu, tapi entah mengapa aku merasa jika mereka telah di tipu," lanjut Senja dingin ketika melihat mata rakyat yang tampak kosong.
"Mereka seperti telah di sihir oleh sihir imajinasi dan anehnya ini seperti sudah berlangsung lama,"
"Eza, hentikan kereta kuda ini di hotel fexu nantinya," seru Senja masih terus memperhatikan warga sekitar.
"Baik Nona," balas Eza kemudian bergerak kearah sang kusir untuk memberi pesan.
"Lily, pergi selidiki apa yang sebenarnya terjadi di kota ini."
"Baik Nona," balas Lily sebelum keluar dari jendela gerbong yang sedang dibuka Senja.
****
"Nona, kita sudah sampai," seru Eza setelah kereta kuda berhenti tepat di depan hotel Fexu.
"Silahkan Nona,"
"Terima kasih,"
Senja kemudian memasuki hotel dengan sambutan hangat dari sang pemiliknya.
"Selamat datang Nona," sapanya ramah.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya kembali masih dengan senyum lebar diwajahnya.
"Aku sudah memesan kamar disini sebelumnya," seru Senja kemudian mengeluarkan surat dari saku pakaiannya.
"Bawa aku kesana, segera," lanjut Senja sambil menyerahkan surat tersebut.
"Baik Nona, silahkan ikuti saya," balas pelayan tersebut kemudian membimbing Senja menuju kamar 04 yang berada di lantai 2.
"Silahkan masuk Nona dan jika anda membutuhkan sesuatu, silahkan panggil saja saya," seru pelayan ramah sebelum meninggalkan Senja dan Eza sendirian di depan pintu kamar.
"Tunggu disini," bisik Senja pada Eza sebelum memasuki kamar tersebut.
"Baik Nona,"
Di dalam kamar Senja sudah disambut oleh sosok pria muda yang usianya 3 tahun lebih muda darinya.
"Selamat datang Nona,"
"Silahkan duduk,"
"Bagaimana kabar mu?"
"Saya baik-baik saja Nona."
"Hmm, bagus,"
"Nona, seperti yang anda katakan sebelumnya..."
Perkataan pria muda itu terputus ketika Senja menatapnya dengan dingin.
"Aku sudah membaca surat dari mu, jadi singkatnya saja," lirih Senja masih dengan tampang acuhnya.
"Selain itu, apa kau merasakan ada yang aneh ditempat ini?"
"Saya tidak merasakan ada yang aneh disini, mereka semua hidup dengan damai, tidak ada perkelahian, perampokan atau bahkan pembunuhan disini."
"Karena itulah tempat ini sangat aneh," balas Senja sambil meminum tehnya kembali.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kerajaan ini hidup dengan makmur sedangkan para pedagang saja selalu melakukan tindakan keji dibalik layar," lanjut Senja setelah meletakkan cangkirnya di atas meja.
"Kerajaan ini seperti sedang menyembunyikan sesuatu," lirih Senja pelan sambil menatap keluar jendela kamarnya yang berhadapan langsung dengan jalan raya.
"Awalnya saya juga menduga seperti itu. Bahkan diantara rakyat biasa, mereka tidak menyadari bahwa beberapa anggota keluarga mereka menghilang secara tiba-tiba," seru pria muda itu dengan raut wajah aneh.
"Apa saya harus menyelidikinya ulang Nona?"
"Tidak perlu, investigasi mu sudah cukup, dan sekarang kamu bisa kembali ke guild."
"Tapi Nona, saya belum menemukan keberadaan Nona Sarah dan pelayan pribadinya."
"Tidak masalah, karena sudah ada yang akan menggantikan mu disini. Selain itu, sebentar lagi kerajaan ini akan mengadakan ujian masuk akademik sehingga kemungkinan Sarah hadir disana sangatlah besar namun..."
Senja sedikit menjeda perkataannya sebelum kembali berbicara.
"Jika dia tidak datang maka aku juga tidak peduli karena saat ini bukan dia prioritas utama kita."
"Karena sudah ada yang akan mengincarnya disini," batin Senja ketika melihat wajah Terry Cloe yang tengah berada di depan gedung hotel.
"Tapi Nona, saya masih tidak terima." lirih Sean dengan wajah pucat nya.
"Berhenti jika aku bilang berhenti. Ikuti saja apa yang aku katakan." seru Senja yang membuat Sean terdiam kaku.
"Kau dan Aslan akan mengurus ini kemudian." lanjut Senja sambil menyerahkan mutiara hitam yang ia simpan di dalam sakunya.
"Selidiki dengan baik dari mana asal mutiara itu."
"Baik Nona, saya akan undur diri dulu."
Sean kemudian pergi keluar dari kamar tersebut. Di pintu ia tidak sengaja melihat Eza yang tengah berdiri membelakangi nya.
"Selamat siang, semoga hari anda menyenangkan," seru Sean sebelum menghilang dari balik tangga.
Eza yang melihat kepergian Sean hanya menatap kosong pada are itu sebelum kembali sadar dan memutuskan untuk masuk ke dalam kamar nona nya.
"Nona, sudah waktunya makan siang," seru Eza saat memasuki kamar tersebut.
"Baiklah," balas Senja malas.
****
Malam hari di ibu kota kerajaan Guira terlihat lebih meriah dari pada siangnya. Para warga masih berkeliaran kesana-kemari sambil memperdagangkan barang pribadi mereka.
"Aku tidak tahu jika prostitusi disini begitu bebas."
Senja yang bingung segera bersiap dengan jubahnya sebelum keluar untuk menjelajahi ibu kota bersama dengan Eza.
"Berpisah," bisik Senja namun masih bisa didengar oleh Eza dan segera setelahnya mereka berpisah secara natural.
"Lily, apa kau yakin dengan tempat ini?" tanya Senja melalui link batin.
"Baiklah, mari kita mulai," lanjut Senja sebelum memasuki area perjudian yang terkenal di ibu kota.
"Aku jadi teringat apa yang dikatakan Eza mengenai tempat ini," gumam Senja pelan sambil mengingat kejadian tadi sore.
Saat setelah selesai makan siang, Lily terbang kearah Senja dengan wajah penuh semangat.
"Nona, saya telah menemukan tempat penghasil uang terbesar di ibu kota," teriaknya bersemangat.
"Tempat penghasil uang?"
"Iya Nona, tempat ini sangatlah besar sehingga sangat mudah untuk dijumpai."
"Oh, kalau begitu apa namanya?"
"Namanya Taron."
"Taron?" balas Senja yang merasa aneh dengan nama tempat tersebut.
"Nona, apa anda ingin datang ketempat itu?" tanya Eza ketika ia mendengar kata 'Taron' dari bibir nona nya itu.
"Apa ada yang salah dengan tempat itu?"
"Saya bingung harus menjelaskannya tapi yang jelas tempat itu tidak terlalu baik. Tempat itu adalah gedung perjudian terbesar di kota ini Nona,"
"Ah, begitu," seru Senja datar.
"Tapi Nona, anda bisa menghasilkan uang banyak ditempat ini," bisik Lily penuh semangat.
"Ya mungkin tidak masalah untuk dicoba,"
****
"Nona, apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa tidak masuk?" bisik Lily kesal ketika Senja hanya berdiri kaku di depan pintu masuk gedung Taron.
"Astaga. Baiklah, baiklah,"
"Selamat datang Nona," sapa salah seorang pelayan pria dengan senyum ramahnya.
"Aku ingin pesan sebuah kamar pribadi untuk bermain,"
"Baik Nona, silahkan ikuti saya," seru si pelayan sembari membawa Senja menuju salah satu kamar VIP yang terletak di lantai dua.
Sesampainya disana, pelayan itu membuka pintu dengan ramahnya. Di dalam sana Senja melihat beberapa orang yang sedang bermain kartu dengan serius.
"Sepertinya kita kedatangan tamu baru," seru salah seorang diantara mereka.
__ADS_1
"Hahaha, gadis kecil yang cukup misterius," teriak seorang wanita yang berhadapan dengan Senja.
Tentu saja saat ini Senja sedang menggunakan topeng rubahnya agar tidak dikenali oleh orang lain, selain itu dengan cara begini maka akan sulit bagi predator untuk mengganggunya.
"Silahkan dimulai," pesan Senja acuh tak acuh.
"Hahaha, bocah ini nyalinya besar juga," lirih pria disamping Senja yang sejak awal tertarik dengannya.
"Kalau begitu mari kita mulai," seru pelayan yang bertugas sebagai pemimpin bandar.
Beberapa saat telah berlalu, awalnya mereka sangat meremehkan Senja namun pada akhirnya mereka terlihat kesal dengan keberuntungannya.
"Sial, mengapa bocah ini hoki terus," batin wanita yang sedari awal meremehkan Senja.
"Kalau begini, bisa-bisa aku bangkrut," gerutunya tidak senang sambil melirik kearah teman-temannya yang lain.
"Kali ini aku harus menang," gumamnya dengan kesal.
Senja yang melihat sikap sombong dari lawannya ini hanya bisa tertawa, ia tentu saja menang banyak karena ada Lily disampingnya selain itu segala macam kecurangan tidak akan terpengaruh olehnya.
"Kita akan makan besar setelah ini."
Link Senja pada Lily yang tersenyum bahagia.
"Aku ingin daging panggang," balas Lily bahagia.
Kini giliran Senja yang memasang seluruh bagiannya, bukan karena ia ingin ini cepat selesai namun Senja harus segera kembali karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Aku harus segera mengakhirinya,"
Melihat hal itu seluruh lawan yang ada di meja menjadi kaget, mereka berpikir jika gadis didepannya ini sedang gila.
"Aku akan merebut uang ku kembali," gumam pria tua yang sedari tadi kalah dalam permainan.
Pria tua itu kemudian memasang koin dengan jumlah yang sangat besar begitu pun dengan dua orang lainnya. Lama mereka bermain, sampai satu persatu diantara mereka gugur dengan kerugian yang cukup besar, tentu saja hal ini sangat menguntungkan bagi Senja.
"Selesai," seru Senja sambil melemparkan kartu miliknya keatas meja.
"Ini gila, betapa beruntungnya bocah sialan ini," pekik wanita yang sudah kehabisan uang dipermainkan tersebut.
"Apa kau bermain trik dengan kami bocah?" tanya kakek tua dengan wajah kesalnya.
"Oho, apa aku terlihat begitu buruk sekarang?" tanya Senja tidak percaya dengan omong kosong yang sedang mereka lontarkan.
"Kurasa kali ini Dewi Fortune sedang berpihak pada ku," lanjut Senja dengan nada sombong dan mata dinginnya.
"Jika kalian kalah, itu berarti kalian kurang beruntung atau memang kalian sedang sial saja." cicit Senja nakal dengan senyum aneh diwajahnya.
"Hah, sialan," teriak pria muda sambil membanting meja kearah Senja.
"Kembalikan uang ku."
"Dasar bodoh," balas Senja tidak senang dengan apa yang sedanh ia perbuat sekarang.
"Aku sama sekali tidak suka dengan cara bermain yang tidak sportif seperti ini, sangat mengganggu,"
"Cairkan seluruh uang ku ke rekening ini,"
"Aku beri kau waktu dua jam untuk mencairkannya jika tidak kurasa kau dan tempat ini akan menderita." ancam Senja kesal sambil mengeluarkan aura dominasinya.
"Sudah aku duga jika bocah sialan ini bukan bocah biasa," batin mereka semua penuh dengan kesal.
"Seharusnya saat itu aku keluar saja," lanjut mereka penuh penyesalan.
Setelahnya mereka semua keluar dari kamar tersebut dengan kesal dan tabah, antara terluka batin karena dikalahkan oleh anak kecil atau pun karena mengalami kerugian besar kehilangan harta.
"Saya akan segera mencairkannya, Nona." seru sang Bandar dengan wajah pucat.
"Baiklah, tapi waktu mu hanya dua jam saja,"
Satu jam telah berlalu tapi si bandar juga belum datang dengan uang yang sudah dijanjikan.
"Nona, apa aku pergi mengganggunya baru dia akan menyerahkan uang tersebut?" seru Lily saat bosan menunggu.
"Jangan dulu, masih ada waktu satu jam lagi sebelum tenggat."
20 menit kemudian si bandar datang kembali dengan uang yang dijanjikan, setelah memberikan uang tersebut si bandar pun langsung keluar dari ruangan.
"Lily, simpan ini dengan baik,"
"Baik Nona,"
Saat hendak keluar dari ruangan Senja mencium bau yang aneh dari dalam kamar tersebut.
"Apa ini?"
Senja yang merasa aneh lalu berjalan menuju pintu kamar untuk keluar namun sayang pintu kamar tersebut telah di kunci dengan rapat.
"Sialan!" teriak Senja kesal sambil menutup hidungnya karena asap semakin pekat di dalam kamar tersebut.
"Lily, segera hancurkan..."
Perkataan Senja terhenti karena kondisi tubuhnya sudah tidak stabil karena asap terus bertambah banyak sehingga udara yang dihirup Senja semakin berkurang.
"Sialan, siapa sebenarnya dalang dibalik ini semua?"
Usaha Senja untuk kabur pun sia - sia karena asap yang ia hirup mulai bereaksi di dalam tubuhnya. Perlahan pandangan Senja menghitam dan ia pun mulai pingsan.
__ADS_1
"Sial, aku pasti akan menghabisi kalian semua nantinya." pekik Senja kesal sebelum kesadarannya bena-benar hilang.