Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E82] Kunjungan Sahabat


__ADS_3

"Rentetan takdir terjadi begitu saja tapi tidak ada yang tahu bahwa semua itu sudah direncanakan sejak awal."


******************#####******************


Akademi Adeline


Pagi yang cerah seakan menjadi awal baru bagi setiap siswa untuk memulai kembali aktivitas mereka. Meski pun masa ujian belum berakhir, namun bagi siswa yang tidak mengikuti tahap selanjutnya mereka dipersilahkan untuk berlibur.


Hal ini juga berlaku bagi mereka yang tidak mengikuti ujian. Kebanyakan dari mereka menghabiskan waktu tersebut untuk piknik dan bersantai ria.


Sayangnya itu tidak terjadi pada Senja, ia harus menghabiskan sepuluh hari ke depan untuk mengikuti ujian tahap selanjutnya. Selain itu tantangan tersulit dari tahap ini adalah mencari para senior pendamping dengan nomor yang telah ditentukan.


Jika para siswa gagal menemukan senior tersebut, maka mereka tidak akan bisa mengikuti ujian selanjutnya. Dimana kebanyakan ujian tersebut akan bergantung dari misi yang diberikan oleh senior tersebut.


Tahun sebelumnya para senior kebanyakan memberi misi untuk mengumpulkan tanaman obat di wilayah tengah. Namun ada juga senior yang memberikan ujian tidak masuk akal dengan menyuruh siswa berburu harta karun yang mereka kubur di wilayah dalam.


Tantangan tersulit dari itu semua bukan karena mereka tidak dapat mencari hal tersebut, melainkan akses masuk wilayah tengah dan dalam yang dijaga ketat oleh staf administrasi dan guardian penjaga.


Butuh waktu dua sampai tiga hari untuk memproses akses masuk tersebut. Selain itu waktu kunjungan maksimal hanya lima hari saja. Setelah limit batas berakhir maka siswa tersebut harus mengulang prosesnya kembali.


Itulah alasan mengapa banyak siswa gagal dalam ujian tengah semester. Ditambah lagi jika senior yang mendampingi mereka memiliki sifat yang tidak peduli pada aturan. Bisa dipastikan bahwa ujian tersebut sudah gagal sebelum mereka mencobanya.


"Peraturan yang miris tapi itulah point pentingnya. Para senior memiliki prioritas utama yang harus mereka selesaikan, jadi wajar saja jika mereka tidak akan peduli pada junior yang bahkan tidak tahu betapa sulitnya menjadi lulusan tanpa nama."


Senja yang sadar dengan peraturan tersebut hanya bisa menghela napas panjang. Ia tidak mengerti mengapa pihak akademi akan menyusahkan siswanya untuk sekedar point prestasi saja.


"Yah tapi itu tidak masalah bagi ku yang merupakan pemimpin dari guild informasi." lirih Senja pelan.


Saat ini Senja sedang memperhatikan para siswa yang berlalu-lalang di taman belakang asrama. Biasanya taman itu sepi keronta karena kebanyakan siswa enggan datang kesana.


Namun karena ini masa liburan bagi mereka, jadi bisa dipastikan bahwa taman yang biasanya kosong kini menjadi riuh akibat banyaknya aktivitas disana.


Ketika sedang asik memperhatikan taman tiba-tiba saja bel pintu kamarnya berdering. Dan beberapa detik kemudian Senja mendengar suara familiar yang sudah lama tidak ia dengar.


"Silahkan Masuk para Nona," seru Dian seraya menyingkir dari depan pintu.


Setelahnya empat orang gadis muda masuk ke dalam kamar Senja. Mereka terlihat penuh energi dengan senyum samar melekat di bibir masing-masing.


"Nona ada di balkon, silahkan."


Dian lalu mempersilahkan keempatnya pergi menuju balkon kamar. Meski ukuran balkon tidak luas namun itu sudah cukup menampung sebuah meja bundar dengan empat buah kursi mengitarinya.


Keempat gadis muda itu pun mengikuti saran Dian. Setelahnya Dian pergi menuju dapur untuk mempersiapkan minuman dan beberapa camilan lezat.


Jujur saja jika diperhatikan lebih detail luas kamar masing-masing siswa di akademi sama luasnya dengan sebuah apartemen mewah di kota besar.


Terlebih lagi jika yang menempati kamar tersebut adalah seorang bangsawan maka bisa dipastikan jika kamar mereka sudah lengkap dengan berbagai kebutuhan yang ada.


Hal tersebut juga berlaku untuk Senja dan keempat sahabatnya. Mereka mendapati kamar mewah yang setara dengan kamar mereka sendiri di kediaman masing-masing.


Meski kamar ini mirip seperti apartemen tapi kamar yang dimiliki Senja dikediaman Duke Ari lebih mewah lagi. Hal itu karena Senja tidak mendapatkan sebuah kamar saja tapi ia mendapatkan satu bangunan rumah yang disebut sebagai paviliun beserta halaman yang mengitarinya.


Luas paviliun Senja setara dengan 1/2 dari lapangan sepak bola. Mirisnya paviliun Senja merupakan paviliun terkecil di kediaman Duke Ari karena paviliun lainnya memiliki luas satu lapangan sepak bola.


"Senja," panggil Zakila saat ia tepat berada di bibir pintu balkon.


"Kalian disini?" tanya Senja bingung dengan senyum tipis di bibirnya.


"Kami rindu pada mu," balas Zakila yang mendapatkan anggukan pelan dari yang lain.


"Tidak, sejujurnya hanya aku yang rindu pada mu," keluh Zakila seraya memeluk erat tubuh Senja.


Senja tidak bisa berkata apa pun karena selama dua bulan terakhir ini kelimanya jarang sekali bertemu. Mereka hanya bertemu sekali karena mendiskusikan urusan yang mendesak dan selebihnya hanya bertukar sapa seadanya saja.


"Sudah dua bulan ternyata," lirih Senja pelan.


"Benar, sudah dua bulan dan kami akhirnya berhasil lolos dari jebakan mereka." timpal Luna dengan senyum penuh kemenangan.


"Itu bagus, aku sempat khawatir kalian akan gagal." seru Senja kemudian mempersilahkan keempatnya duduk di sofa ruang tamu karena Dian sudah mempersiapkan semuanya.


"Silahkan dinikmati Nona," seru Dian sebelum pergi meninggalkan kelima nona muda tersebut.


Setelah kepergian Dian, barulah pembicaraan serius dilakukan. Mereka sudah mempersiapkan ini sejak awal bahkan sebelum kunjungan dilakukan.

__ADS_1


Dengan satu tarikan napas panjang Luna pun mengungkapkan niatnya. Ia menatap lama kearah Senja sebelum mengatakan maksud kedatangannya ke tempat itu.


"Senja, siapa dia?" tanya Luna sambil menyerahkan foto yang selama ini disimpan di dalam kantong seragamnya.


"Siapa itu?" tanya Zakila penasaran.


"Luna, ternyata kau benar-benar serius dengan ini." timpal Maya tidak habis pikir.


"Kurasa itu patut dipertanyakan," balas Muna datar seperti biasanya.


Senja tertawa pelan saat melihat interaksi lucu dari keempat sahabatnya itu. Ia tidak percaya bahwa sahabatnya kini terlihat seperti seorang ibu yang sedang mengintrogasi anaknya karena ketahuan berduaan dengan pria asing.


"Ini Amir, Amir Beck. Dia teman sekelas ku." seru Senja sembari menyentuh foto Amir yang ada di meja.


"Dia baik, cukup baik dari pada Kira." lanjut Senja kemudian meletakkan kembali foto tersebut.


"Hanya teman?" tanya Luna tidak percaya. Pasalnya Luna sudah melihat bagaimana interaksi mesra antara Senja dan pria tersebut selama ujian berlangsung.


"Iya, kami hanya teman. Apa ada lagi?" tanya Senja kembali.


"Hmm, baguslah jika kalian hanya teman." balas Muna serius.


"Kenapa begitu?"


Maya yang semula diam kini ikut nimbrung dalam pembicaraan. Ia merasa bahwa ada pesan tersembunyi dari apa yang baru saja dikatakan Muna pada mereka.


"Jujur saja aku banyak mendengar berita buruk tentang si Amir ini. Ia dikabarkan sering bertengkar dengan anak-anak bermasalah lainnya." jelas Muna setelah menimbang dengan baik apa yang hendak ia katakan.


"Mungkin itu hanya spekulasi saja," balas Maya tidak percaya.


"Entahlah, mungkin itu benar dan mungkin juga itu salah. Tapi disini yang harus diwaspadai adalah apa tindakan dia kedepannya." seru Muna.


"Muna benar, kita harus waspada padanya." timpal Luna dengan perasaan sedikit senang dihatinya.


Luna entah mengapa sejak pertama kali melihat interaksi antara Senja dan Amir, merasa bahwa Amir bukanlah sosok yang pantas untuk berada disisi Senja. Ia berpikir jika ada sesuatu hal yang disembunyikan dari wajah tampannya itu.


"Pria tampan itu sangat berbahaya, jadi jangan percaya padanya." batin Luna membenarkan tindakannya.


"Dan itu sangat mencurigakan, bukan?" batin Luna sekali lagi.


Luna dengan percaya diri menyatakan bahwa prasangkanya pada Amir adalah benar adanya. Ia tidak tahu bahwa sebenarnya ia sedang cemburu karena takut Senja akan berpindah hati pada pria lain dan bukan pada kakaknya.


"Ugh, aku tidak mengerti." teriak Zakila yang membuat lamunan Luna buyar seketika.


Zakila sama sekali tidak tahu bahwa ada pria lain yang sedang mendekati Senja. Ia terlalu sibuk pada ujian tengah semester dan kini ia bahkan tidak bisa berpikir sama sekali.


"Siapa pria itu dan apa tujuannya pada Senja. Aku sama sekali tidak mengerti. Aku pusing." lanjut Zakila sembari memegang kepalanya yang mulai berdenyut nyeri.


"Eh, maaf kami belum memberitahu mu mengenai ini sebelumnya." seru Luna panik.


"Sudah, kita tunda saja dulu pembicaraan ini," saran Muna sembari menarik foto Amir dari meja.


Senja yang melihat wajah pucat Zakila segera menyuruh Dian membawa ramuan herbal. Lima menit kemudian kondisi Zakila mulai membaik dan kini ia sedang beristirahat dengan tenang.


"Mungkin itu adalah efek dari ujian," seru Luna setelah kondisi Zakila membaik.


"Aku kira juga seperti itu, dia sering diam sejak satu minggu yang lalu." balas Maya dengan ekspresi wajah panik.


"Tenanglah, dia akan baik-baik saja setelah ini." lirih Muna menenangkan.


"Tidak, dia masih akan begini sampai menemukan pendampingnya."


Maya lalu menceritakan betapa frustasinya Zakila saat mengetahui bahwa ia harus menemukan pendamping yang sesuai dengan nomor urut.


Tidak ada seorang pun yang tahu siapa pemilik nomor urut itu. Bisa saja ia berasal dari unit yang sama atau pun divisi yang timbal balik dari milik siswa tersebut.


"Nomor urut berapa yang Zakila dapat?" tanya Senja penasaran.


"17," jawab Maya pelan.


"Itu bagus, aku rasa dia akan mudah menemukan senior tersebut." balas Senja sambil mengeluarkan kertas catatan miliknya.


"Lihat ini, aku mendapatkan informasi ini dari Prof Edward. Tapi kalian harus ingat untuk merahasiakannya." lanjut Senja sembari menunjuk urutan nomor setiap divisi.

__ADS_1


"Untuk divisi sihir senior yang ikut andil sebanyak 35 orang, divisi ksatria sebanyak 30 orang dan divisi guardian sebanyak 35 orang." jelas Senja kemudian.


Senja juga menjelaskan bahwa setiap senior yang ikut andil dalam ujian ini juga memiliki misi lainnya. Terkadang mereka cenderung untuk memprioritaskan misi tersebut dari pada junior yang mengikuti ujian.


"Bagaimana bisa kau mendapatkan informasi ini?" tanya Muna penasaran.


"Aku diberitahukan hal ini sebelumnya oleh Miss Aila. Lalu setelahnya aku menemui Prof Edward untuk detailnya."


Senja sengaja berbohong tentang Miss Aila karena ia yakin bahwa ia tidak akan ketahuan. Lagi pula setiap siswa di akademi tahu betapa baiknya Miss Aila sehingga wajar saja jika Miss Aila memberikan bocoran mengenai ujian tersebut.


"Jika itu benar maka apa yang akan kita lakukan berikutnya?" tanya Maya bingung.


"Itu gampang, jika Zakila mendapatkan nomor urut 17 artinya senior yang mendampinginya adalah penyihir. Zakila hanya perlu mencari senior itu dengan bantuan..."


Senja sengaja menggantung kalimatnya sembari melihat ke arah Luna. Tidak hanya Senja bahkan Maya dan Muna pun ikut melihat kearah Luna secara bersamaan.


"Apa ini?" tanya Luna kaget sekaligus bingung.


"Luna memiliki akses khusus untuk masuk wilayah tengah dan dalam," seru Senja setelah diam beberapa saat.


"Aha, aku paham sekarang," lanjut Maya sembari menepuk kuat kedua tangannya.


"Apa ini, ada apa ini?" tanya Luna semakin bingung.


Luna sama sekali tidak mengerti maksud Senja dan kedua sahabatnya itu. Ia tahu jika dirinya memiliki akses khusus untuk memasuki wilayah tengah dan dalam karena koneksi pribadi putra mahkota.


Luna juga sering datang ke dua wilayah itu untuk berlatih bahkan ia pernah mengajak Senja dan yang lainnya untuk ikut berlatih bersamanya. Namun mereka menolak karena alasan pribadi.


Melihat Luna bingung akhirnya Senja pun menjelaskan maksud dari ketiganya. Ia mengatakan bahwa seluruh senior yang ikut andil dalam ujian ini kebanyakan berada di wilayah tengah ataupun dalam.


Sayangnya karena akses yang sulit membuat mereka harus menunggu selama tiga hari untuk bisa masuk kesana. Namun karena Luna memiliki akses khusus tersebut sehingga hal itu bisa teratasi.


"Oh begitu, aku paham sekarang." seru Luna pelan.


"Hmm, tapi bukankah itu tetap sulit. Selain akses masuk kita juga harus menemukan mereka bukan?" lanjut Luna setelah ia berpikir lebih jauh.


"Tidak akan sulit, aku jamin itu," balas Senja penuh rasa percaya diri.


"Dengar apa yang didapatkan Zakila adalah nomor urut senior penyihir sedangkan aku adalah nomor urut seorang ksatria." lanjut Senja sembari menunjukkan nomor urut miliknya.


"Lalu?" tanya Luna kembali dengan wajah bingungnya.


Senja kemudian menjelaskan tentang keseluruhan rencana miliknya. Dimana mereka berlima akan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama ada Luna dan Maya.


Tugas mereka adalah membantu Zakila dalam menemukan senior pendampingnya. Sedangkan untuk kelompok kedua diisi oleh Muna dan Senja.


"Bagaimana cara kami membantu Zakila?" tanya Luna penasaran.


"Luna, kau bisa menanyakan hal itu pada kak Jacob atau senior sihir lainnya. Aku yakin mereka pasti akan membantu mu." jawab Senja serius.


"Apakah hanya itu?" tanya Maya tidak yakin.


"Tentu saja tidak, aku yakin mereka akan memberi kalian tugas untuk jawaban tersebut." jelas Senja kemudian.


"Hmm, aku rasa itu tidak masalah. Bagaimana?" tanya Maya pada Luna.


"Aku rasa itu bukan masalah besar bagi ku." balas Luna yakin.


Setelah kedua belah pihak sudah yakin, kini mereka tinggal sepakat harus memulai dari mana. Setelah perdebatan panjang akhirnya Maya dan Luna memutuskan untuk mendiskusikan hal ini dengan kak Jacob.


"Aku rasa itu adalah pilihan yang bagus," seru Senja puas.


Ketika semua rencana sudah berhasil mereka susun. Akhirnya Luna dan Maya merasa lega, namun sepertinya Luna sadar bahwa ia telah melupakan sesuatu.


"Senja, sejak tadi kau hanya membantu kami dan Zakila. Lalu, bagaimana dengan mu?" tanya Luna setelah sadar akan hal tersebut.


"Benar, bagaimana dengan mu?" timpal Maya kemudian.


"Aku?"


Senja menunjuk dirinya, ia tidak percaya bahwa temannya akan sadar mengenai hal itu. Senja kemudian tertawa santai sembari memukul ringan buku catatan miliknya.


"Aku memiliki rencana tersendiri untuk itu," seru Senja dengan senyum nakalnya.

__ADS_1


__ADS_2