
"Tidak peduli dari mana asalnya seorang guru tetaplah guru bagi muridnya."
*******************#####********************
Tiga jam lamanya Senja tertidur dan kini ia tengah berguling ringan di kasur. Senja merasa nyaman dengan senyum puas merekah di bibirnya.
"Ternyata bolos itu sangat menyenangkan," gumam Senja sembari duduk dari tidurnya.
Senja kemudian menyalakan lampu dengan sihirnya sebelum melihat pemandangan luar jendela yang indah. Meski pun hutan kegelapan identik dengan monster namun keindahan alamnya patut di apresiasikan.
"Yah karena Lucas akan sibuk selama satu minggu ke depan, tidak ada pilihan lain selain menjumpai Sera."
"Tapi sebelum itu aku akan memeriksa keadaan mereka," lanjut Senja saat mengingat wajah bawahannya.
"Ristia, buat Portas segera." seru Senja setelah puas memandangi langit jingga yang temaram.
Beberapa saat kemudian portal sihir selesai dan Senja pun langsung menghilang dari tempat itu. Setelah silau yang singkat akhirnya Senja dapat melihat ruang latihan bawah tanah guild.
Saat ini para bawahan Senja sedang dilatih oleh Kun. Mereka terlihat kesusahan tapi masih bisa mengikuti perintah Kun yang kasar.
"Nona.."
Perkataan Dennis terhenti saat Senja mengangkat tangan kirinya. Ia menyuruh Dennis untuk tetap fokus pada latihannya dan tidak mengabari rekannya yang lain tentang kedatangan Senja.
Dennis hanya mengangguk pelan tanda setuju sebelum meneruskan kembali latihannya. Senja merasa puas dengan sikap Dennis yang tidak basa-basi itu.
"Lily, bagaimana perkembangan mereka?"
"Tidak buruk, sejak mereka mengkonsumsi bahan makanan dari tempat itu, setidaknya level mereka sudah meningkat sedikit."
"Begitu, berapa banyak?"
"Jangan berekspektasi besar, level mereka hanya dibantu untuk naik tapi tidak benar-benar naik dalam arti yang sesungguhnya."
"Kenapa bisa begitu?"
"Bahan makanan itu seperti obat vitamin bagi mereka. Hanya membuat vitalitas mereka naik tapi tidak terlalu signifikan."
"Aku mengerti" balas Senja sebelum memutuskan link diantara keduanya.
Senja merasa jika saat ini kekuatan bawahannya sangatlah kurang. Meski mereka tengah dilatih oleh Kun tapi kecepatan latihan itu sangat lambat.
"Sudah aku duga Kun tidak cocok dalam melatih mereka." gumam Senja saat melihat Dian dan Morreti yang kesusahan dalam melewati rintangan Kun.
"Aku harus mencari pelatih yang sesuai untuk mereka."
Senja juga tidak bisa membiarkan Nindia tertinggal karena tidak ada yang bisa melatihnya. Tentu saja Kun juga tidak ingin melatih elf kegelapan yang bertentang jauh dengan energinya.
"Aku paham perasaan Kun saat melihat Nindia tapi membuatnya terasingkan bukanlah hal yang benar."
Senja kembali teringat akan rasa mualnya saat pertama kali bertemu Nindia sejak Indra mana nya terbuka. Ia bahkan tidak memiliki cukup tenaga untuk bisa berdiri lama dalam jarak jauh dengan Nindia.
"Aku harus menemui Basel," gumam Senja sebelum mengaktifkan portal sihir menuju wilayah timur.
Tidak butuh waktu lama, satu menit kemudian Senja sudah berada di wilayah timur. Karena ini sudah malam, jadi yang berjaga di penginapan dan restoran hanya pelayan elf kegelapan saja.
"Mereka juga mengerti tentang alkimia rupanya." lirih Senja saat melihat peri gelap yang tengah menjaga toko obat.
"Maaf nona, tuan Agra sedang tidak berada di kantor saat ini." seru salah satu pelayan yang merupakan peri gelap.
"Tak apa, aku datang kesini bukan untuknya." balas Senja sambil menunjuk area dalam tempat dimana kota mati berada.
"Ah baiklah nona, saya akan segera memandu anda."
"Tidak perlu, layani saja para tamu yang lain."
"Baik nona, hati-hati dijalan."
Segera setelah pelayan itu meninggalkan Senja sendirian, ia dengan santai memasuki area dalam. Perlu waktu sepuluh menit hingga senja berhasil sampai di pintu masuk kota bawa tanah.
"Tempat ini tidak pernah berubah," gumam Senja saat melihat bangunan megah yang berdiri di jantung kota.
Tidak lama Senja berjalan ia dihadang oleh seorang gadis yang terlihat pucat. Gadis itu memegang pedang besar di balik pinggulnya. Terlihat jelas jika gadis itu terus memelototi Senja dengan ekspresi wajah panik.
"Ber, berhenti. Hah..., hah." seru gadis itu dengan napas terputus-putus.
"Mau kemana?" lanjutnya sudah tidak tertolong lagi.
"Hah, kau bisa mati jika tidak menenangkan diri."
"Bagaimana saya tidak mati jika anda datang tiba-tiba begini." teriak gadis itu putus asa.
"Saya harus menyusuri kita untuk menemukan anda." lanjutnya dengan keringat dingin membasahi wajah.
"Kenapa kau harus mencari ku? Aku berniat untuk menemui walikota."
"Nona, anda tahu kan jika ini bukan jalan menuju rumah saya."
Nindia terlihat kesal namun masih bisa tersenyum hangat pada nona nya. Ia tidak tahu perasaan macam apa itu, tapi yang pasti saat ini perasaanya benar-benar buruk.
"Aku tidak," lirih Senja sambil melirik ke sekelilingnya.
"Aku yakin tadi cuman berjalan beberapa menit saja dari gerbang, kenapa sekarang aku bisa ada disini?"
__ADS_1
Senja tidak yakin apa yang tengah terjadi padanya, tapi ia merasa bahwa baru saja melewati pintu masuk kota mati dan entah mengapa sekarang ia tepat berada di jantung kota tersebut.
"Sudahlah nona, anda ingin menemui ayah saya bukan?"
"Kau benar,"
"Kalau begitu ikuti saya," lanjut Nindia sembari membimbing Senja menuju rumahnya.
"Sejak kapan kota mati seramai ini?" gumam Senja saat melihat begitu banyak warga yang berlalu lalang disekelilingnya.
"Nindia, apa hari ini kalian mengadakan perayaan?"
"Hah, sekarang aku tahu alasan mengapa Dian kesal dengan nona."
"Tidak nona, kami tidak mengadakan perayaan apa pun."
"Benarkah? Lalu kenapa ramai sekali disini?"
"Ramai? Nona, anda tidak sedang mabuk kan?"
"Ramai dari mananya, jelas-jelas jalanan ini sepi." batin Nindia sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Nindia, apa kau pikir aku gila?"
"Hahaha, tentu saja tidak. Nona adalah wanita anggun yang pintar."
"Bohongnya jelas sekali."
"Jika Nindia tidak bisa melihat ini, lalu apa ini? Jangan bilang mereka arwah yang bergentayangan." gumam Senja saat melihat anak kecil yang sedang asik bermain dengan temannya.
"Tidak, tidak mungkin aku saja yang kelelahan."
Senja mencoba menepis apa yang saat ini sedang ia lihat. Senja berharap mereka hanyalah ilusi karena ia sedang kelelahan saja.
"Benar, aku hanya lelah. Itu saja." lirih Senja sebelum memasuki rumah walikota.
Di dalam rumah walikota masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada perubahan apa pun kecuali lukisan pemandangan dengan sungai emas.
"Nona, silahkan."
Senja dengan lembut duduk disalah satu sofa yang menghadap langsung ke jendela luar. Dari sana Senja dapat melihat dengan jelas seluruh seluk-beluk bangunan kota.
"Selamat malam nona, maaf saya terlambat menyambut anda." seru Basel saat baru saja tiba di depan pintu rumahnya.
"Saya buru-buru datang kesini karena mendengar anda sedang berkunjung."
"Maaf membuat mu repot, aku datang karena ingin menanyakan beberapa hal."
"Tidak nona, jangan minta maaf. Sudah sewajarnya kami siap menyambut anda kapan pun itu."
"Apa dia mengatakan omong kosong itu karena tidak berniat menjawab pertanyaan ku." lanjut Senja dalam hatinya.
"Ekhem, selain itu pertanyaan apa yang ingin anda tanyakan pada saya."
"Apa dia membaca pikiran ku?" tanya Senja tidak senang.
"Ahaha, tenang saja Nona saya tidak sedang menguji anda."
Basel terlihat panik ia tidak tahu jika kehati-hatiannya akan membawa curiga seperti ini. Ia ingin menunjukkan sifat sempurna pada gadis didepannya itu tapi malah rasa curiga yang ia dapatkan.
"Baiklah, aku hanya ingin menanyakan beberapa hal."
"Silahkan nona, tanya saja."
"Pertama, bagaimana cara mu melatih Nindia? Aku rasa kau pasti tahu tentang masalah itu bukan."
Senja tahu jika Nindia tidak akan berlatih sama dengan para bawahannya yang lain. Selain karena Nindia menggunakan mana mati, ia juga tidak terlalu akrab dengan mereka.
"Saya tahu apa kekhawatiran anda, tapi jangan takut Nindia dilatih oleh ksatria terbaik kita ini."
"Siapa dia?"
"Nama kstaria itu adalah Sir Naven. Ia merupakan kstaria sejati yang memiliki garis keturunan bangsawan peri murni."
"Benarkah? Aku jadi ingin menemuinya secara langsung."
"Tidak masalah,"
Basel segera menyuruh bawahannya untuk memanggil Sir Naven. Dan tidak butuh waktu lama sesosok pria mungil muncul di hadapan Senja. Meski tubuhnya kecil tapi Senja dapat melihat kekuatan besar dari pria itu.
"Navel ya, kuharap dia bisa berguna."
"Sir Naven, silahkan duduk." seru walikota sambil menunjuk kursi di sampingnya.
"Ah iya saya sampai lupa, perkenalkan ini Nona Senja. Beliau adalah tuan pemilik wilayah ini."
Basel menjelaskan latar belakang Senja tanpa dimintai olehnya. Ia terlihat bangga dan senang apalagi saat menyebutkan jika Nindia adalah kstaria dibawah naungan Senja.
"Begitu rupanya, maaf nona saya tidak mengenali anda." lirih Sir Naven saat melihat Senja yang sedang tersenyum hangat di depannya.
"Saya Naven Lingga, anda bisa memanggil saya Naven." seru Naven sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Senja, panggil saja senyamannya anda." balas Senja saat menyambut hangat uluran tangan Naven.
__ADS_1
"Usianya masih muda, aku tidak menyangka jika dia yang menjadi pemilik wilayah ini, hebat." batin Naven ketika selesai berjabat tangan.
"Omong-omong Nona, ada perlu apa anda dengan saya?"
"Saya dengar Sir Naven yang selama ini membantu pelatihan Nindia. Saya jadi penasaran tentang anda."
Senja terlihat sedang menelisik Naven dengan sudut matanya. Apa yang dilakukan Senja lebih seperti elang yang sedang memantau mangsanya.
"Benar nona, saya yang melatih Nindia. Apa ada masalah dengan itu nona?"
"Hohoho, lihat cara bicaranya itu. Sungguh provokatif. Apa aku permainkan saja ya."
"Tidak, saya malah merasa senang dengan adanya bantuan tuan sehingga Nindia sekarang menjadi lebih kuat."
"Anda terlalu memuji saya nona."
"Hahaha"
Kedua saling tertawa satu sama lain tapi entah mengapa suasana tempat itu terasa begitu dingin. Basel selaku walikota hanya bisa berkeringat dingin saat melihat pemandangan di depannya itu.
"Apa seharusnya aku keluar saja ya?" batin Basel sambil melirik pemandangan luar jendela rumahnya.
"Tuan, saya rasa kemampuan anda akan sangat berguna bagi orang lain."
"Pujian nona terlalu berlebihan untuk saya."
"Tidak, saya hanya mengatakan sejujurnya. Jika tuan mau saya bisa mengakomodasikan seluruh kebutuhan tuan untuk hal baik itu."
"Hohoho, anda sungguh murah hati sama seperti rumor yang saya dengar."
"Hahaha, rumor itu kadang tidak terlalu bisa dipercaya tuan. Akan lebih baik jika anda melihatnya secara langsung."
"Benarkah, saya jadi tidak sabar."
"Jika tuan mau, datanglah ke tempat saya."
Senja dengan polos menyerahkan kartu guild pada Navel. Di dalam kartu itu terdapat informasi tempat dan berbagai detail pekerjaan lainnya.
"Saya akan sangat senang jika tuan bisa menjadi tutor bagi mereka dan Nindia."
Navel sedikit kaget, ia tidak tahu jika Senja ingin merekrutnya. Sejak awal Naven hanya berpikir jika Senja sedang mempermainkannya saja.
"Mengapa anda ingin menjadikan saya tutor mereka?"
"Karena tuan sudah menjadi tutor Nindia sejak lama."
"Tidak, anda tahu saya peri gelap bukan? Meski pun saya mampu memalukan itu tapi tetap saja rumor mengenai peri hitam pasti tidak baik."
"Dan mungkin saja mereka tidak akan mau menerima saya." lanjut Naven dalam hatinya.
"Bukankah sudah saya katakan jika terkadang rumor itu tidak benar. Kita harus bertemu secara langsung dan memastikannya baru tahu itu benar dan salah."
"Maaf nona, saya tidak sehebat yang anda pikirkan."
"Tuan, kita tidak akan pernah tahu jika tidak mencobanya bukan?"
"..."
"Dari pada anda terus bertanya ini dan itu bukanlah lebih baik anda mengujinya sendiri. Jika anda rasa bahwa bawahan saya tidak berguna anda bisa membatalkannya kapan saja."
"..."
Terlihat jelas jika Naven bingung dengan keputusannya. Meski pun ia kuat dan pintar namun tidak pernah ada seorang manusia yang mau memperkerjakan nya. Mereka selalu saja mengucilkan peri hitam dan mengatai mereka sebagai wadah iblis.
"Aku tidak ingin membawa masalah bagi kota ini lagi." gumam Naven gelisah.
"Nona, saya ...."
"Naven, kamu tidak perlu khawatir. Percayakan saja pada beliau."
Potong walikota yang sejak tadi ditatap tajam oleh Senja. Ia merasa tidak enak hati jika terus diam, maka dari itu ia dengan manis memegang kedua tangan Naven dan mencoba untuk meyakinkannya.
"Saya tahu walikota bahwa anda sedang menjebak saya kan?" bisik Naven pada Basel yang tidak dapat di dengar oleh Senja.
"Dasar bodoh, jika kau membuatnya marah maka kota ini tidak akan baik-baik saja." balas Basel sambil memberikan kode mata untuk melihat jendela.
Betapa kagetnya Naven saat ia mengikuti arah mata walikota yang melihat jendela. Disana ia melihat berbagai macam elemetal yang sedang berkerumun melihat Senja.
Elemental itu bahkan tidak segan-segan memelototi Basel dan Naven yang dengan berani membuat Senja terlihat sedih.
"Astaga, apa yang baru saja aku lihat?" batin Naven tidak percaya.
"Apa gadis ini tidak tahu jika para elemental menyukainya?"
"Tidak, mana ada manusia yang bisa melihat elemental." balas Basel saat kedua masih berbicara diam-diam.
"Benar juga, lalu apa yang harus saya lakukan walikota?"
"Ya apa lagi, setuju saja. Lagi pula bukankah beliau ada bilang jika kau tidak sudah maka perjanjiannya bisa dibatalkan kapan saja."
"Anda benar juga."
Setelah perundingan panjang akhirnya Naven setuju untuk menandatangi kontrak sementara. Ia yakin dapat membatalkan kontrak itu kapan saja sesuai dengan isi di dalamnya.
__ADS_1
Namun sayangnya Naven tidak tahu jika kontrak itu akan mengikatnya seumur hidup pada Senja.