Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Wilayah Timur Pt 2


__ADS_3

"Dibalik hamparan debu, sebuah kota terlarang lahir dan hidup."


******************#####****************


Setelah cahaya terang menutupi pandangan Senja. Akhirnya ia bisa melihat sebuah ruangan besar dengan begitu banyak barang di dalamnya.


"Ah, ternyata ini tempatnya,"


"Nona, apakah kita akan segera pergi?" bisik Eza tepat ketika Senja hendak melangkah keluar portal.


"Iya," balas Senja pelan namun masih bisa didengar oleh Eza.


"Maaf Nona, anda hendak kemana?" tanya seorang penjaga yang sebelumnya ditugaskan Snap untuk melindungi Senja.


"Nona memiliki urusan penting oleh karena itu ia harus segera pergi," jawab Eza cepat sebelum Senja sempat membuka mulutnya.


"Tunggulah sebentar Nona, kami akan mengawal anda pergi ketempat tujuan," seru penjaga itu kembali.


"Kota ini sangat berbahaya bagi pemula, sehingga saya takut anda akan terluka nantinya," lanjutnya penuh penekanan.


"Terima kasih karena telah mengkhawatirkan aku, tapi aku harus segera pergi karena ada urusan mendesak," balas Senja dengan senyum hangat diwajahnya.


"Kamu tidak perlu khawatir, pengawal ku ini sangatlah ahli," lanjut Senja masih dengan senyum ramah diwajahnya.


"Nona, anda sungguh luar biasa dalam berakting," puji Lily takjub dengan kepintaran Senja.


"Omong kosong apa yang sedang kau katakan," gerutu Senja kesal pada Lily namun masih menampakkan wajah ramahnya pada penjaga tersebut.


"Sudah kuduga, Nona memang sangat licik," lanjut Lily bangga dengan sifat nona nya ini.


"Yayaya, terserah kau saja,"


"Benar yang dikatakan Nona Rosset, saya bisa menjaganya dengan baik namun jika anda masih ingin mengawal..."


Perkataan Eza terputus sesaat ketika ia melirik sekilas pada Senja.


"Kita bisa berangkat sekarang, dan itu tentu saja tidak akan membebankan kalian saat ini," lanjut Eza sambil melirik ke tumpukkan barang yang sedang dipindahkan.


Pengawal itu tampak menghela napas panjang, ia tahu bahwa tugas utamanya adalah melindungi barang-barang tersebut namun tuannya sendiri juga menyuruhnya untuk menjaga nona kecil ini.


"Apa aku lepaskan saja? Tapi aku juga sudah berjanji untuk menjaganya," batin penjaga itu bimbang. Senja yang melihat hal tersebut hanya bisa tersenyum nakal di dalam hatinya.


"Pak, anda tidak perlu merasa khawatir. Tuan Snap sudah memberikan gelang ini pada ku, sehingga jika ada yang terjadi dengan ku maka kalian bisa segera datang untuk menolong bukan?" seru Senja polos tetap dengan senyum manis diwajahnya.


"Hah, ini sedikit sulit," gumam penjaga tersebut sambil melirik rekannya yang lain.


"Baiklah Nona, kami tidak akan mengawal anda tapi satu hal yang harus anda ingat, kami tetap berada disini selama satu bulan penuh untuk perdagangan dan jika anda membutuhkan sesuatu, datanglah kemari," lirih penjaga tersebut setelah mendapatkan anggukan tegas dari rekannya.


"Jangan pernah percaya kepada siapa pun yang ada di kota ini, karena mereka tidak sebaik seperti yang anda pikirkan," bisik penjaga tersebut sebelum mempersilahkan Senja keluar dari ruangan.


"Terima kasih untuk nasihatnya" seru Senja sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan tersebut.


"Aku harap Nona Rosset akan baik-baik saja. Terkadang sikap polos bisa membuat mu masuk ke dalam masalah besar, padahal kau tidak menginginkannya," batin penjaga tersebut sambil berjalan mendekati rekannya yang lain.


****


Di wilayah timur yang dipenuhi dengan hamparan debu, Agra seorang diri sedang berdiri di depan sebuah pohon tua yang mulai lapuk.


"Agra, makan siang sudah selesai," seru Nindia, yang merupakan salah satu sekretaris manajemen tambang berlian milik Senja.


"Baiklah, siapkan dengan benar karena Nona sebentar lagi akan sampai," balas Agra yang masih memandang kearah pohon tua tersebut.


"Iya, baiklah," balas Nindia kemudian pergi meninggalkan Agra seorang diri disana.


Dari jauh Dian dan Olaf yang sedang membangun tempat untuk Arthur terus saja memperhatikan Agra yang tampak sangat kaku.


"Dia terlihat gugup sekali," seru Olaf khawatir dengan keadaan Angra saat ini.


"Dia persis seperti junior yang akan bertemu senior di medan perang saja," lirih Dian acuh tak acuh.


"Padahal Nona itu sangat menyebalkan dan sulit diatur. Aku saja bahkan sudah bosan dengan sifatnya yang aneh akhir-akhir ini,"


"Hah, ini sangat menyebalkan!" pekik Dian kemudian menghampiri Arthur dan Kinan dan Risa yang sedang melakukan pekerjaan konstruksi disebelahnya.


"Kak Dian, anda lucu sekali," gumam Olaf ketika melihat wajah Dian yang memerah karena jengkel.

__ADS_1


"Hahaha, jangan terlalu dipaksakan karena waktu kita masih banyak untuk menyelesaikan tempat ini," seru Olaf yang dibalas anggukan oleh pekerja tambang milik Agra yang saat ini sedang bekerja sambilan dalam pembuatan tempat tersebut.


Beberapa saat kemudian, pohon tua tersebut mulai bercahaya dengan terang, setelahnya muncullah seorang wanita muda dengan topeng rubah yang sama yang digunakan oleh semua orang yang ada di area tersebut. Hal ini dilakukan agar identitas mereka tidak diketahui oleh semua pihak.


"Selamat datang Nona," seru Agra kaku saat Senja mulai berjalan mendekatinya.


"Selamat siang," balas Senja acuh sebelum pergi berjalan menuju Dian dan kelompoknya.


"Nona, saya sudah siapkan segala kebutuhan anda disini," lirih Agra pada saat Senja mulai melewatinya.


"Itu bagus," seru Senja datar sambil memukul ringan bahunya.


Arthur yang melihat kedatangan nona nya, mulai menghentikan segala aktifitas yang ada begitu pun dengan yang lainnya, hanya Dian saja yang masih bekerja tanpa memperdulikan kehadiran Senja.


"Selamat datang Nona," seru Arthur sambil membungkuk sopan kearah Senja, hal yang sama juga dilakukan oleh Risa dan Kinan.


Senja hanya menatap datar pada mereka sebelum melirik kearah Dian.


"Dian, dimana Vanilla?"


"Hah, mana saya tahu,"


"Kemari Lah," lirih Senja dengan senyum nakal diwajahnya saat ia melihat wajah Dian yang sedang kesal.


"Istirahatlah kalian, ini sudah waktunya makan siang," lanjut Senja saat Dian sedang berjalan kearahnya.


Semua mata kemudian tertuju pada Senja dan Dian yang mulai menghilang dari pandangan mereka. Agra yang sebelumnya menyambut Senja ikut bersama keduanya masuk ke dalam perisai pelindung penyamaran.


Perisai ini dibuat untuk melindungi area tambang agar tidak dapat terdeteksi oleh siapa pun bahkan jika ia adalah penyihir tingkat tinggi sekali pun.


"Nona, lewat sini," bimbing Agra sambil mengarahkan Senja pada sebuah ruangan kosong.


"Siapa saja yang memiliki akses masuk ke tempat ini?"


"Tidak banyak, hanya beberapa orang kepercayaan saya saja," jawab Agra masih kaku dengan kehadiran Senja disini.


"Hmm, pertahankan itu."


"Baik Nona,"


Awalnya Senja ragu dengan tempat ini namun karena informasi dari Kun, membuat Senja memutuskan untuk mengambil wilayah timur menjadi wilayah kekuasaannya.


Selain itu dengan adanya bantuan dari Vanilla, wilayah ini sekarang bisa ditempati namun meski begitu, Senja masih tidak ingin ada yang mengetahui tentang rahasia dibalik wilayah timur miliknya.


"Berilah ini pada Vanilla," seru Senja pada Dian sambil memberikan sekotak macaron padanya.


"Katakan padanya untuk segera menemui ku,"


"Baiklah Nona," jawab Dian sebelum meninggalkan ruangan tersebut.


Setelah Dian keluar, Senja memutuskan untuk mengeluarkan sebuah kotak hitam kepada Agra untuk diperiksa.


"Apa kau mengenalinya?" tanya Senja dengan raut wajah serius. Agra yang melihat hal tersebut lantas segera membuka kotak hitam dihadapannya itu.


"Astaga!"


"Ada apa?"


"Dari mana Nona mendapatkan benda terkutuk ini?"


"Benda apa itu sebenarnya?"


"Nona, benda ini sangatlah berbahaya!"


"Alasannya?"


"Benda ini adalah hasil eksperimen mana mati yang dikumpulkan dari mengekstraksi manusia."


" ... "


"Benda ini adalah benda terlarang dari klan Nara."


"Klan Nara?"


"Klan Nara adalah klan terkutuk yang menyembah iblis untuk mendapatkan kekuatan dan mereka juga melakukan banyak pembunuhan demi mendapatkan mana mati yang kuat," sambung Agra ketika melihat wajah penuh tanda tanya dari Nona nya.

__ADS_1


"Ah, begitu,"


"Benar Nona, dari mana anda mendapatkan benda terkutuk ini?"


"Aku menemukannya di kerajaan Guira,"


Tentu saja Agra tahu pasti makna dari kata 'menemukan' bukan berarti nona nya secara kebetulan menemukan benda ini.


"Apa mereka sedang memproduksi benda ini, tapi sejak kapan?"


"Apa kau mengatakan sesuatu?"


"Tidak, tidak sama sekali,"


"Aku harus menyelidikinya setelah ini," batin Agra yang langsung bisa dibaca oleh Senja.


"Kau tidak akan pergi kemana-mana setelah ini,"


"Aku yang akan menyelidikinya tapi sebelum itu, katakan pada ku benda apa ini sebenarnya,"


"Nona, saya tidak mengetahui dengan pasti benda apa ini sebenarnya, namun...," Agra sedikit menjeda kalimatnya.


"Saya punya orang yang tepat untuk menceritakannya," lanjut Agra penuh keyakinan.


"Baiklah, kalau begitu siapa dia?"


"Nona, sepertinya aku harus menceritakan ini sebelumnya pada mu,"


"Apa itu?"


"Nona, sebenarnya ada sebuah kota dibawah kita sekarang ini."


"Hah Kota?" tanya Senja dengan alis yang saling bersatu.


"Apa sebenarnya yang ingin dia katakan," batin Senja penasaran, jujur saja ia sudah mengetahui fakta tersebut sebelumnya.


"Begini Nona, jadi saat itu...,"


Agra menceritakan segala hal yang ia alami pada saat membangun terowongan untuk menambang berlian. Semua hal yang terjadi pada saat itu, semuanya diceritakan Agra tanpa menutupi apa pun.


Agra sangat yakin jika nona nya adalah wanita baik yang polos, sehingga ia mampu mengerti apa yang sebenarnya terjadi saat itu dan tentu saja Agra berharap bahwa nona nya akan menerima hal tersebut dengan baik.


"Begitulah Nona, saya menemukan mereka,"


"Saya tahu ini sulit, bahkan saya juga tidak menyangka akan ada sebuah kota dibawah tempat ini," lanjutnya dengan wajah yang penuh tanda tanya.


"Saya berfikir jika mereka adalah mitos namun ternyata mereka itu nyata," timpalnya penuh semangat.


"Ya, semua orang juga berpikir seperti itu sebelumnya,"


"Nona, saya tahu anda pasti menerima mereka," gumam Agra pelan namun masih bisa didengar oleh Senja.


"Jadi menurut mu, pemimpin mereka mungkin saja mengetahui secara detail mengenai benda ini?" tanya Senja mengulangi informasi yang telah ia terima.


"Tentu saja nona, karena mereka adalah ahlinya."


"Itu bagus."


"Saya juga tidak menyangka jika teman saya adalah bagian dari mereka sebelum hal tersebut terjadi," lanjut Agra masih bersemangat.


"Hahaha, ini sangat bagus,"


"Segera setelah makan siang, antarkan aku padanya," seru Senja singkat sebelum pintu ruangan tersebut terbuka dan menampakkan Dian disana.


"Makanan anda sudah siap Nona," seru Dian saat membuka pintu ruangan tersebut.


Senja kemudian berjalan pergi menuju Dian dengan senyum nakalnya.


"Apa lagi rencana Nona kali ini," batin Dian datar ketika merasakan senyum licik dari balik topeng nona nya.


"Baiklah Nona, saya akan siapkan segala hal keperluan anda nantinya," seru Agra ceria ketika keinginannya terpenuhi.


"Bagus," gumam Senja pelan sebelum pergi bersama Dian menuju ruang makan.


"Nona sangat baik, ia bahkan menerima kehadiran mereka disini," batin Agra sangat senang saat mengikuti Senja menuju ruang makan.

__ADS_1


"Kasihan sekali dirinya, telah tertipu," batin Dian sekali lagi setelah melihat raut wajah senang dari rekannya itu.


__ADS_2