
"Ketika jaring terus dirajut ada kemungkinan untuk rusak dan patah demi bertahan hidup."
*****************#####*****************
"Apa itu?" teriak para ksatria penjaga saat melihat cahaya berbentuk benang di sekitar tepi danau. Cahaya itu berbentuk seperti jaring laba-laba yang sedang di rajut untuk menyelimuti danau.
Para kstaria dan penyihir menjadi panik, wajah mereka memucat dengan ekspresi kaku. Nafas mereka mulai terengah-engah dengan penampakkan cantik namun menakutkan.
Benang itu terus tersambung satu demi satu, membentuk pola lingkaran sihir yang akan berakhir tepat di tengah danau. Para penyihir yang mengetahui arti simbol dari bentuk rajutan itu mulai merasa mual.
"Itu, itu sihir penghancur!"
Para penyihir berteriak secara histeris. Mereka kini mencoba fokus untuk menggagalkan sihir itu namun sayangnya para pria bertudung hitam menghalangi mereka.
"Sial, jika kita tidak bisa menghentikan sihir ini maka kita semua akan mati."
Wajah para prajurit tampak syok mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh si penyihir. Kini mereka hanya melihat maut di balik sulaman yang indah itu.
Sayangnya tidak ada yang tahu dimana letak si penenun mantra. Mereka berusaha mencari namun gagal karena selalu dihalangi oleh pria bertudung hitam.
Pertarungan yang sengit terus terjadi disana. Para penyihir mengeluarkan tombak api serta panah untuk menghalau pria bertudung hitam namun di sisi lain para pria bertudung hitam memblokir serangan tersebut dengan sihir yang tidak kalah hebatnya.
Disisi lain, Senja yang masih fokus dalam merajut benang sihir mulai merasa lelah. Ia menghabiskan sebagian mana miliknya untuk merajut danau namun sampai sekarang pertumbuhan benangnya terbatas.
Hal itu dikarenakan mana miliknya bentrok dengan mana mati yang ada di danau sehingga setiap kali benang ingin menyambung selalu saja terputus.
"Aku akan tingkatkan jumlah benangnya," gumam Senja sambil memperkuat mana miliknya.
"Tinggal bagian tengahnya saja dan dengan ini maka mantra penghancuran sudah bisa di aktifkan," lanjutnya dengan memasang senyum tipis.
BRUK!
Salah satu benang terputus karena benturan keras pada kubah yang membuat getaran di dalamnya.
"Sial, dia kembali," seru Senja saat mendapatkan link dari Lily.
Senja tampak kacau namun saat ini bukan waktunya untuk memikirkan hal itu. Senja harus fokus pada benangnya karena hanya bagian tengah danau saja yang masih tertinggal.
"Sedikit lagi," lirihnya saat menyatukan benang yang sebelumnya terputus.
"Aku harus cepat," batin Senja saat kubah mulai retak di beberapa titik.
Disisi lain pria berjubah hitam terus mendorong mundur para ksatria yang saat ini mulai menjadi gila. Mereka menjadi gila semenjak para penyihir mengatakan jika tuan mereka sudah datang dan saat itulah semuanya menjadi berubah.
"Seberapa kuat tuan mereka sampai efeknya sejauh ini?"
Salah satu dari pria bertopeng bertanya pada pemimpinnya namun bukannya jawaban yang ia terima malahan hanya tatapan tajam dari tuannya itu.
"Prioritas utama kita adalah para budak. Lepaskan mereka dan kita akan akhiri ini segera," seru pemimpin dari para pria berjubah setelah melihat danau yang mulai terajut dengan sempurna.
Sedangkan disisi lain, para ksatria penjaga dan juga penyihir mulai bergerak secara bruntal. Mereka menyerang kesana-kemari tanpa melihat itu musuh ataupun sekutu. Mereka menghancurkan semua demi mencari dalang di balik sihir penghancuran di danau tersebut.
Senja yang saat ini mulai kehabisan mana masih terus fokus merajut benangnya satu-persatu. Benang itu kini merajut dengan sempurna hanya menunggu beberapa untaian saja untuk membuatnya benar-benar menyatu.
Perlahan tanpa ia sadari darah mulai mengalir keluar dari hidungnya, darah itu menetes dengan ringan menuju bibirnya yang saat ini masih fokus dalam merajut sihir penghancuran. Dengan malas Senja mulai mengabaikan hidungnya tersebut.
Senja tidak menyadari bahwa saat ini tubuhnya mulai kacau. Aliran mana mengalir dengan cepat, sehingga terjadi bentrokan antara mana api dan es miliknya. Beberapa tulang rusuknya mulai bergetar karena tekanan kuat yang mengalir di sekitar area tersebut.
__ADS_1
Bentrokan mana mulai mempengaruhi kinerja Senja sehingga beberapa benang mulai kehilangan keseimbangan dan hancur dengan cepat. Senja yang menyadari hal tersebut terlihat sangat kesal. Ia tahu jika saat ini kapasitas mananya sudah hancur namun untuk berhenti di tengah jalan, hal itu sangat mustahil dilakukan sekarang.
"Brengsek!" teriak Senja kesakitan ketika darah hitam keluar dari sudut bibirnya.
Dengan ujung tangannya, Senja menghapus darah tersebut. Ia juga melakukan hal yang sama dengan darah di hidungnya.
PRANK...!
Bunyi retakan besar terdengar di langit saat kubah itu hancur dan pecah. Bunyi itu sangat memekakkan telinga sehingga beberapa di antara mereka yang berada di dalam kubah harus menutup telinganya.
Bukan hanya satu titik namun pecahan kubah mulai menjalar hampir keseluruh area hutan yang terlindungi. Kubah itu mulai pecah dengan dinding-dinding yang berjatuhan begitu saja. Siapa pun yang melihat adegan ini pasti merasa bahwa beginilah bentuk jika dunia benar-benar runtuh nantinya.
"Ahrrg...!!?"
Semuanya berteriak sambil memegangi kepala mereka. Beberapa di antara mereka bahkan bersembunyi di dalam lubang dan lainnya bahkan membentuk perisai agar reruntuhan kubah tidak menimpa mereka.
Senja hanya tersenyum mengejek ketika melihat pemandangan lucu di hadapannya itu. Mereka bahkan tidak sadar jika kubah langsung pecah dan hancur sebelum bisa menyentuh tanah.
"Heh, apa-apaan in... Glup...!"
Perkataan Senja terhenti ketika gumpalan darah berhasil lolos dari mulutnya.
"Sial," gumam Senja sambil menyekat darah di ujung bibirnya. Ia kemudian kembali fokus pada benangnya.
Benang rajutan mulai kembali membentuk sihir penghancur. Beberapa bentuk rajutan mulai terlihat menyatu kembali. Senja berusaha keras menyatukan mereka dengan mana yang tersisa darinya. Perkembangan rajutan bertambah dua kali lipat dari sebelumnya dan hal ini juga berimbas fatal bagi tubuh Senja.
Darah yang mengalir keluar tidak hanya dari bibir dan hidungnya namun juga dari telinga dan beberapa lubang lain yang ada di tubuhnya. Penampakan Senja saat ini lebih persis seperti mayat hidup yang mengeluarkan darah di sekujur tubuhnya.
Mata Senja tidak lagi bisa melihat dengan sempurna. Mata itu kini mulai mengeluarkan darah yang tidak kalah banyaknya dari yang lain. Sayangnya tidak seorang pun menyadari hal itu bahkan Kun dan Dian masih fokus dalam mengurus ksatria yang mencoba memasuki wilayah mereka.
Kedatangan Nindia yang mendadak saat ini sangat membantu perkembangan pertarungan namun itu tidak bisa menolong banyak karena kubah masih terjaga dari dalam. Ia tidak bisa masuk karena jika itu terjadi maka kubah akan benar-benar hancur.
"Apa Nona akan baik-baik saja di dalam sana?" tanya Nindia khawatir.
"Aku harap juga begitu," balas Lily bingung.
"Hah, apa kita panggil bantuan lagi saja?"
Lily menggelengkan kepalanya atas permintaan Nindia. Ia tahu jika memanggil lebih banyak bantuan akan menolong nona nya yang sedang berjuang di dalam sana.
Namun jika itu dilakukan maka nona nya akan marah besar dan mungkin saja hal buruk akan terjadi dalam kemarahannya itu. Sejak awak kedatangan Nindia adalah tidak disengaja.
Hal itu terjadi karena ada hal penting yang ingin disampaikan olehnya. Namun pada saat sampai di lokasi, bukannya bertemu dengan nona nya Nindia malah melihat kekacauan besar yang sama sekali tidak pernah ia duga sebelumnya.
Melihat Lich yang sedang berada di dalam tubuh anak kecil, membuat Nindia menjadi sangat kesal. Ia menggunakan pedang auranya untuk menyerang Lich sehingga menampakan wujud asli Lich tersebut.
Ristia dan Lily yang menyaksikan hal tersebut dengan kedua matanya hanya bisa mengatupkan bibir mereka tidak jelas. Baru kali ini mereka melihat wujud asli Lich secara nyata.
Pertarungan terus terjadi antara pihak Senja dan Lich. Kedua pihak saling mengeluarkan kekuatan terbesar mereka, sehingga beberapa pohon dan sebagian tanah yang ada di hutan menjadi rata bahkan tidak berbentuk lagi.
Senja yang sudah banyak meneteskan darah, kini mulai kehilangan kontrol. Ia masih bisa menjaga penglihatannya namun sekujur tubuhnya sudah tidak bertenaga lagi. Mana yang ia keluarkan sudah melebihi batas sehingga hanya beberapa organ saja yang berfungsi dengan benar.
Jantungnya berdetak dengan kencang seakan-akan inilah akhirnya. Senja berusaha sekuat tenaga untuk merajut benang terakhir yang akan membuat seluruh mantra akan aktif nantinya. Senyum kecil mulai melingkar di sudut bibirnya.
"Sudah selesai," gumam Senja saat seluruh benang berhasil terajut dengan sempurna.
"Sekaranglah waktunya," lanjut Senja sambil melafalkan mantra penghancuran.
__ADS_1
"Hentikan itu!" teriak penyihir yang menyadari jika mantra penghancuran mulai aktif. Sel dari benang-benang yang di rajut oleh Senja mulai bersinar dengan terang. Sekutu mulai tersenyum kemenangan dengan hal tersebut namun Lich yang berada di luar kubah semakin gila.
Lich dengan sekuat tenaga menghancurkan kubah yang saat ini tinggal beberapa titik lagi yang harus di robohkan. Beberapa menit kemudian muncullah retakan di sepanjang titik-titik tersebut menandakan bahwa kubah akan benar-benar hancur.
PRANK...!!
Saat ini kubah sudah hancur dengan sempurna. Baik Senja maupun sekutunya mulai berwajah pucat. Dengan cepat Senja terus merapalkan mantra sihirnya.
"Sedikit lagi,"
"Sedikit lagi!" teriaknya berulang kali pada diri sendiri bersamaan dengan hancurnya beberapa tulang rusuk yang sudah terkena tekanan akibat bentrokan mana di dalam tubuh Senja.
"Ini akan berakhir dengan cepat," lirihnya dengan jantung yang mulai mengeluarkan mana tanpa henti.
Lich yang menyadari posisi Senja segera terbang menuju arahnya. Lich itu terbang bersamaan dengan tombak api di sekitaran tubuhnya. Tombak api yang siap kapan saja untuk menyerang siapa pun yang berani menghalanginya.
Dengan satu gerakan tangan, tombak api tersebut menyerang ke arah Senja namun berhasil di blokir oleh sihir pelindung Ristia yang sudah menetap di tubuh Senja saat kepergiannya.
"Nona!" teriak Dian saat tanah di sekitar Senja mulai hancur tak berbentuk.
Hal yang sama juga di lakukan oleh Kun. Mereka dengan sigap terbang ke arah Senja namun terhalang oleh tombak api yang sekali lagi di luncurkan oleh Lich.
Dian dan Kun bisa menghindari serangan tersebut namun dampaknya sangat besar. Keduanya terlempar jauh dari posisi awal sehingga saat ini Senja dalam kondisi sendirian tanpa pengawal.
Kesempatan ini tidak dibuang sia-sia oleh Lich. Ia dengan sengaja terbang ke arah Senja dengan pedang api di tangannya. Pedang itu dengan tajam mengarah ke dada Senja. Sayang sekali kali ini Senja tidak bisa melawan ataupun melindungi dirinya sendiri karena jika ia melakukan hal tersebut maka sihir penghancuran akan menghilang begitu saja.
Ia tidak boleh menyia-siakan hal tersebut karena pengorbanan yang sudah ia keluarkan sejauh ini. Darah terus mengalir keluar dari tubuhnya tanpa henti. Rasanya sakit sangat sakit bahkan namun hal itu sudah tidak bisa ia rasakan lagi sebab keadaan memaksanya untuk mengabaikan itu semua.
Jarak antara dirinya dan Lich tinggal beberapa meter lagi namun Senja masih tetap diam di tempatnya. Ia sama sekali tidak bergerak bahkan se-inhci pun dari posisi awalnya. Melihat hal itu, baik Dian maupun yang lain merasa cemas.
Mereka dengan sekuat tenaga mencoba untuk menyelamatkan nona nya namun karena jarak yang jauh sehingga posisi mereka kali ini tidak menguntungkan satu sama lain.
Lich yang melihat hal itu hanya tersenyum senang dengan keadaan saat ini. Ia dengan semangatnya menyerang ke arah Senja. Pedangnya dengan cepat mengarah pada dada kiri Senja tepat dimana jantungnya berada.
"Nona...!!"
Semua bawahan Senja berteriak histeris dengan hal itu. Mereka dengan cepat bergerak menuju Senja namun semua sudah terlambat. Senja yang saat ini masih fokus dengan mantra penghancuran terlempar jauh dari posisinya. Darah terus mengalir keluar dari tubuhnya bagai air tak terbendung.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" tanya Dian saat ia berhasil menangkap Senja yang terlempar jauh.
Sayup-sayup Senja dapat melihat posisinya yang dulu sudah di gantikan oleh sosok pria berjubah hitam. Tangan pria tersebut tertusuk dalam oleh pedang Lich.
Darah mengalir keluar dari kulit pria tersebut. Pedang api yang diselimuti aura beradu dengan kulit yang juga berselimutkan aura. Senja yang melihat adegan itu hanya bisa menelan ludah yang terasa pahit.
Jika saja yang tertusuk pedang itu adalah jantungnya maka itu adalah akhir dari hidupnya. Entah sejak kapan pria berjubah itu ada disana namun yang pasti saat ini jantung Senja sudah berganti dengan tangan kanan pria tersebut.
"Nona, kau terluka parah. Kita harus pergi sekarang."
Tanpa aba-aba dari Senja, Dian yang sudah panik dengan keadaan nona nya langsung menyuruh Kun untuk melakukan teleportasi. Ia juga menyuruh Ristia dan Lily serta Nindia untuk segera kabur dari hutan.
"Hutan Kegelapan," lirih Senja pada Dian sebelum sinar teleportasi menutupi pandangan mereka.
Satu hal yang di lihat Senja sebelum dirinya berteleportasi yaitu bahwa pria berjubah hitam tengah bertarung sengit melawan Lich.
Senja hanya mampu melihat dari ujung matanya ketika pria itu tersenyum lembut padanya sambil mengucapkan beberapa patah kata sebelum ia benar-benar menghilang dari sana.
"Siapa dia?" lirih Senja lemah saat kesadaran mulai mengambil alih tubuhnya.
__ADS_1