
"Malam dingin selalu hadir dengan membawa duka dan kenangan manis."
*****************#####*****************
Di malam yang sunyi, sinar bulan seakan tidak mau kalah dalam menapaki gelapnya malam. Semua lorong dan celah selalu di lewatinya, hal yang sama juga terjadi pada ruangan gelap yang berada di ujung lorong mansion.
Ruangan itu tampak tenang dan sepi, hanya ada empat gadis muda disana. Mereka tampak sangat kacau dengan ekspresi wajah yang berantakan, dua dari mereka bahkan mengeluarkan darah dari leher masing-masing.
"Apa kalian sudah gila?" teriak salah satu gadis tersebut.
"Bagaimana jika Senja sampai tahu perkelahian ini, hah? Memangnya apa yang akan kalian katakan untuk bisa lolos dari kecurigaannya?" tanya gadis itu kembali.
"Sabar Luna, kau harus sabar," lirih gadis di sebelahnya.
"Jika aku tadi tidak menghentikan kalian. Apa kalian pikir kita semua akan baik-baik saja?"
Gadis itu tampak sangat kesal, ia membentak kedua gadis yang saat ini tengah di obati.
"Kalian tidak seharusnya melakukan itu. Semarah apa pun kalian, tindakan tadi sangat berlebihan," seru Kaira sambil memberikan ramuan obat pada keduanya.
"Kalian harus introspeksi diri terlebih dahulu sebelum keluar dari ruangan ini," lanjutnya.
"Selain itu, kalian juga harus berdamai. Entah apa yang sedang kalian debatkan, tapi yang pasti jangan sampai tempat ini hancur oleh amarah kalian," timpal Luna sebelum memilih keluar dari ruangan tersebut.
"Kalian sama-sama ksatria, aku yakin kalian bisa menyelesaikan ini dengan kepala dingin."
setelah mengatakan itu, Zakila kemudian memutuskan untuk keluar menyusul Luna dibelakangnya.
"Jaga sikap kalian disini," bisik Kaira setelah ruangan hanya menyisakan ketiganya.
"Aku akan memantau kalian dari luar. Jika kalian sudah berdamai, maka pintu itu dengan otomatisnya akan terbuka," lanjut Kaira sembari meninggalkan ruangan tersebut.
Muna dan Maya yang ditinggal berdua di ruangan tersebut hanya bisa diam. Mereka tampak acuh satu sama lain, tidak ada banyak kata yang terucap hanya kesepian dan dinginnya dinding yang saat ini menemani keduanya.
Mereka kemudian saling memandang satu sama lain, melihat tempat di mata pedang sebelumnya berada, tempat yang saat itu mengeluarkan banyak darah.
"Huff, menyebalkan," batin Maya kesal.
"Aku membenci situasi ini," lanjutnya sambil mengalihkan pandangan.
"Apa kau sudah cukup puas bersenang-senang?" tanya Muna saat Maya mulai mengalihkan perhatiannya.
"..."
Maya hanya diam, ia sama sekali tidak menanggapi pertanyaan Muna.
"Aku tahu kau sedang kesal, tapi apa kau tahu karena perbuatan konyol mu itu aku sampai berakhir disini," lanjut Muna penuh penekanan.
"Kau selalu saja seperti itu, apa yang kau pikirkan itu salah. Aku mengatakan apa yang saat itu aku dengar, tapi bukannya berterima kasih kau malah mengarahkan pedang mu ke leherku."
"Itu semua tidak nyata. Aku tahu itu."
"Tapi itulah kenyataannya, mau sampai kapan kau terus menutupi itu dari Zakila, Hah?" teriak Muna kesal.
"Aku menyaksikannya langsung di depan mataku saat pesta kedewasaan kalian," lanjutnya penuh emosi.
"Aku tahu, aku tahu itu. Tapi, tapi..."
"Tapi apa, hah? Apa kau akan menutupinya sampai akhir?"
"Aku tidak bisa, kau tahu ini masalah besar. Apa yang akan terjadi jika ayah tahu nantinya."
"Apa kau akan menunggu pemberontakan itu terjadi baru kau akan bertindak."
"Muna!" Bentak Maya frustasi.
"Masih, masih kurang bukti untuk itu. Jika aku gegabah dalam mengambil keputusan maka Zakila yang akan dalam bahaya."
"..."
Muna hanya bisa diam melihat reaksi berlebihan dari Maya.
"Setidaknya, kau bisa mengurus mereka secara diam-diam, masih banyak cara untuk bisa membuat mereka tertekan bukan?"
Maya tampak sangat bingung, ia merasa frustasi memikirkan kerajaannya.
"Mereka adalah bangsawan besar dan yang bisa kita lakukan hanyalah membuat relasi mereka hancur," seru Maya lelah.
"Itu tidak cukup, kau tahu itu," balas Muna kesal.
"Iya aku tahu, tapi saat ini kekuatan ku masih kurang dalam segala hal. Aku butuh berlatih dan meningkatkan popularitas ku di antara bangsawan lainnya."
"Hah, dasar bodoh."
"Aku tahu, aku memang bodoh."
"Maya, kau hanya punya satu solusi untuk itu. Tekan mereka sebelum mereka menekan mu. Cari kelemahan mereka dan pegang itu sebagai kartu As mu."
"Aku mengerti."
****
Pagi hari di dalam mansion tampak sangat tenang. Senja bisa merasakan kesunyian yang damai di sepanjang jalannya menuju ruang makan.
__ADS_1
"Tumben sekali aku tidak melihat para pelayan di sekitar sini," seru Senja ketika ia hanya melihat koridor yang kosong tanpa adanya seorang pun pelayan yang lewat.
"Apa mereka tengah sibuk ya?" tanya Senja acuh tak acuh.
Beberapa saat kemudian, Senja sudah berada di ruang makan. Anehnya Senja tidak menemukan siapa pun di sana kecuali Luna.
"Dimana yang lainnya?" tanya Senja saat ia hendak duduk di kursinya.
Luna hanya diam tidak menjawab pertanyaan Senja. Matanya tampak sedang menerawang suatu hal yang tidak Senja mengerti.
"Ada apa dengannya?"
"Luna," panggil Senja namun tetap tidak ada respon.
"Tidak biasanya Luna seperti ini,"
"Luna!" teriak Senja sambil menarik pergelangan tangan Luna.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Senja dengan raut wajah panik.
"Ah, astaga..." pekik Luna kaget.
"Luna, apa kau baik?" tanya Senja sekali lagi.
"Ah, iya. Aku baik-baik saja,"
"Dimana yang lainnya?"
"Oh, mereka sedang sibuk menyiapkan festival rakyat di kerajaan ini."
"Apa? Festival rakyat?"
"Iya Festival," jawab Luna sambil meminum teh yang ada di hadapannya.
"Kenapa tidak ada yang mengatakannya padaku?" tanya Senja dengan wajah sedihnya.
"Ah, itu. Itu karena kau kembali ke kamar terlalu cepat tadi malam," jawab Luna kebingungan.
"Begitukah?"
"Apa kalian hendak menyembunyikan tentang fakta semalam,"
Senja masih memikirkan kejadian semalam dimana Maya dan Muna bertarung di depan kamarnya.
"Itu benar," jawab Luna canggung.
"Sebaiknya kita habiskan saja dulu sarapan ini dan kemudian menyusul mereka ke ibu kota. Bagaimana?"
Senja menjawab dengan datar namun Luna melihat hal tersebut dengan sangat puas. Setidaknya saat ini Luna berpikir bahwa lebih baik mengalihkan perhatian Senja dari menanyakan mengenai Maya dan Muna yang pada faktanya mereka masih terkurung di dalam ruangan tersebut.
Setelah selesai sarapan, Senja dan Luna memutuskan untuk pergi meninggalkan mansion untuk ikut berpatisipasi dalam festival rakyat yang akan digelar mulai nanti malam.
Sesampainya di ibu kota, Senja bisa melihat berbagai kesibukan yang tengah dilakukan oleh masing-masing warga. Ada yang sibuk menghiasi kedainya dan ada pula yang sibuk membeli pakaian serta perlengkapan lainnya. Semuanya begitu antusias dalam menyambut festival rakyat yang akan di gelar malam nanti.
"Senja!" teriak Zakila yang muncul tiba-tiba dari kerumunan warga.
"Zakila, kau sedang apa?" tanya Senja kaget saat melihat pakaian Zakila yang penuh dengan warna.
"Ahahaha, aku habis mengecat kedai disana."
Zakila kemudian menunjuk ke arah selatan dimana kedainya berada.
"Kedai?"
"Iya, kedai. Aku dan Kaira akan berjualan barang-barang antik disana nantinya," jawab Zakila penuh antusiasme.
"Kalian disini?" tanya Kaira yang muncul entah dari mana.
"Iya, kami datang ingin membantu," jawab Luna sambil melirik sekilas area tersebut.
"Tidak perlu, kalian pergi berkeliling saja."
Kaira tampak kesal saat mengatakan hal tersebut, ia kemudian menarik tangan Zakila dan membawanya pergi kembali ke kedai.
"Pergilah bermain dulu, saat ini Kaira tengah kesal dengan adiknya," bisik Zakila di sela-sela tarikan tangan Kaira.
"Baiklah. Senja, apa kau bisa pergi berkeliling sendirian. Aku ada urusan dengan Kaira," seru Luna kemudian pergi meninggalkan Senja sendirian ditempatnya.
"Aku harus menjauh dari Senja untuk sementara. Ini kulakukan agar Senja tidak bertanya lebih lanjut mengenai Maya dan Muna yang sama sekali tidak berada disini,"
"Mereka sangat aneh hari ini," gumam Senja bingung.
"Apa kau bisa merasakan keberadaan Muna ataupun Maya disini?" link Senja pada Ristia.
"Tidak sama sekali Nona. Mereka sepertinya tidak ada disekitar sini."
"Sudah aku duga," lirih Senja sebelum pergi menuju arah barat area tersebut.
"Kun sudah mengatakan padaku jika Maya dan Muna masih berada di mansion Kaira namun keberadaan mereka sulit untuk di lacak," batin Senja sambil memikirkan obrolannya dengan Kun sebelum menuju ke ibu kota.
"Aku sengaja meninggalkan Kun disana untuk mencari tahu lokasi asli dari mereka. Entah dia mau melakukannya atau tidak," lanjut Senja sambil memikirkan Kun yang tengah tertidur di ranjangnya.
"Awas saja jika dia tidak melakukannya," gerutu Senja sebelum memasuki butik pakaian pria.
__ADS_1
Satu jam kemudian seorang pria muda keluar dari butik tersebut. Pria itu tampak sangat baik dan polos, ia juga tampak sederhana dengan balutan biru tua yang diselimuti oleh bintang terang dibawahnya.
"Nona, kita mau kemana?" tanya Dian saat Senja berjalan tanpa tujuan.
"Kita akan pergi bersantai,"
"Jika anda ingin bersantai, mengapa harus berganti pakaian?"
"Tidak ada alasan,"
Dian hanya bisa sabar menghadapi sikap aneh nona nya itu. Ia terus berharap agar nona nya tidak menghilang secara tiba-tiba dan menyulitkan dirinya seperti sebelumnya.
"Aku senang jika Nona tidak berulah gila seperti sebelumnya, akan lebih baik jika sifat anda terus seperti ini,"
Beberapa saat kemudian, Senja memutuskan untuk beristirahat di dalam sebuah bar yang menampakan pemandangan indah ibu kota El-Aufi. Pemandangan yang disajikan oleh bar ini langsung menghadap ke plaza kota tempat dimana festival akan di laksanakan.
Disana Senja juga bisa melihat Zakila yang tengah mendekorasi kedainya, sedangkan Kaira tengah sibuk diceramahi oleh adiknya.
"Nona, saya akan pergi ke hotel untuk membereskan perlengkapan kita yang sebelumnya tidak sempat di bereskan," seru Dian meminta izin.
"Baiklah, tapi kau harus kembali sebelum jam pulang malam."
"Baik Nona."
Dian lalu pergi dari bar tersebut meninggalkan Senja seorang diri. Beberapa saat setelah Dian pergi, dua orang wanita malam menghampiri Senja.
Kedua wanita itu tampak sedang menggoda Senja dengan menaruh alkohol ke dalam cangkir yang sudah kosong. Salah seorang dari mereka bahkan menyuapi Senja dengan makanan kering yang dipesannya.
"Duduklah dengan santai," seru Senja acuh setelah memakan kue kering tersebut.
"Hah, Nona. Kau dingin sekali," gerutu salah seorang dari wanita tersebut.
"Tuan, panggil aku tuan."
"Baik, tuan."
"Mana suratnya?"
"Apa tuan tidak bisa bermain sebentar saja dengan kami?"
"Ayolah Bina, waktuku tidak banyak."
Wanita yang di panggil Bina itu kemudian diam dan duduk dengan santai di hadapan Senja.
"Ah iya tuan, saya sampai lupa memperkenalkan teman saya ini," seru Bina sambil menunjuk kearah wanita muda yang ada di sampingnya.
"Namanya Dewi, ia akan menjadi partner saya nantinya. Dewi itu orangnya..."
Perkataan Bina terhenti saat Senja mengangkat tangan kirinya.
"Cukup."
Bina lalu diam tanpa sepatah kata pun. Setelah Bina diam, Senja kemudian kembali membaca surat yang dibawa oleh Bina tersebut.
Surat itu sebenarnya berasal dari Sean, pria muda yang sengaja Senja perintahkan untuk menyelidiki secara langsung mengenai kerajaan Guira.
"Seperti yang aku duga," gumam Senja saat hendak membakar surat tersebut.
"Kalian pasti sudah mengetahui maksudku dari Sean. Jadi aku tidak perlu lagi menjelaskannya," seru Senja pada Bina dan Dewi.
"Tuan, apakah dengan ini sudah cukup?"
"Ikuti saja perintah ku dan jangan banyak tanya mengenai hal itu."
"Baik tuan, kami mengerti."
Senja lalu mengeluarkan sebuah surat yang sebelumnya sudah ia tulis di mansion Kaira.
"Berikan ini pada Sean dan suruh dia untuk segera kembali ke Guild."
"Saya menge..."
BANG
Perkataan Bina terhenti ketika suara keras terdengar nyaring di area tersebut. Mereka kemudian dengan bingung melihat kearah sumber suara tadi.
Disana mereka bisa melihat seorang putri bangsawan yang tengah terduduk jatuh di tanah. Tampak wajah putri itu merah padam dengan pakaian yang kotor akibat lumpur yang ia duduki.
"Dera de Sein," seru Bina kaget.
Senja yang mendengar seruan Bina langsung melirik ke arahnya.
"Apa kau mengenalnya?"
"Saya tidak terlalu mengenalnya tapi saya mengetahui beberapa rumor mengenainya,"
"Begitukah?" tanya Senja kembali sambil melirik kearah Kaira yang tengah ditodong pedang oleh ksatria keluarga Sein.
"Sepertinya ini akan seru," batin Senja ketika Kaira menghantamkan panah apinya pada ksatria tersebut.
"Luna dan Zakila tampak menjauh, sepertinya mereka tidak ingin terlibat politik dengan hal ini,"
"Menarik," gumam Senja pelan dengan senyum licik yang mengembang di sudut bibirnya.
__ADS_1