Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Kerajaan Guira


__ADS_3

"Milik ku tidak akan pernah menjadi milik mu, dan jika kau berani menyentuhnya. Maka kematian lah bayarannya."


******************#####****************


"Eza, simpan ini dengan baik," seru Senja sambil menyerahkan dokumen dan juga botol yang berisi darah keluarga Amel.


"Baik Nona," balas Eza kemudian menghilang dari balik pintu penghubung lantai satu dan dua.


"Dennis, segera siapkan kereta kuda setelah Dian kembali dari tugasnya," seru Senja kemudian melangkah pergi menuju kamarnya.


"Baik Nona," jawab Dennis sebelum Senja menghilang dari hadapannya.


Beberapa saat kemudian Senja sudah berada tepat di depan kamarnya. Disana ia bisa melihat Count Servan yang sedang menunggu di depan pintu masuk.


"Selamat pagi Nona," sapa Count ramah.


"Selamat pagi," jawab Senja acuh tak acuh sambil membuka pintu kamarnya.


"Masuklah," perintah Senja dingin.


Count lalu masuk ke dalam kamar setelah memastikan bahwa Senja sudah benar - benar duduk di sofanya.


"Bagaimana kabar anda?" tanya Senja ketika Count baru saja duduk dihadapannya.


"Saya baik Nona dan bagaimana dengan anda?" tanya Count basa - basi.


"Baik," seru Senja dingin.


Dengan jelas Count Servan dapat melihat bahwa wanita muda di depannya ini terlihat sedang kesal.


"Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya Count tepat sasaran ketika ia melihat senyum licik dari balik wajah polos Senja.


"Hah, kau pintar sekali dan aku sangat menyukainya orang pintar seperti mu," seru Senja masih dengan senyum licik diwajahnya.


"Nah, kalau begitu kau pasti sudah tahu mengenai informasi penting dari Kerajaan Guira?" tanya Senja yang kini membuat mata Count terlihat bergetar dan kaku.


"Sudah ku duga pasti ada suatu hal yang membuatnya kesal sejak tadi,"


"Saya tidak tahu banyak tentang kerajaan tersebut Nona tapi..."


"Tapi apa? Apa kau ingin membual lagi pada ku?" tanya Senja kesal sambil memotong perkataan Count yang belum selesai menjelaskan maksudnya.


"Nona, setidaknya anda harus mendengarkan cerita saya sampai selesai," seru Count sabar dengan perilaku Senja padanya.

__ADS_1


"Jadi begini Nona..."


Count Servan mulai menceritakan apa yang dia ketahui mengenai kerajaan Guira pada Senja. Ketika Count Servan mengalami kesulitan besar di Kekaisaran Green. Ia memutuskan untuk kabur menuju benua Barat dimana kerajaan Guira berada.


Kerajaan tersebut merupakan kerajaan yang makmur dan memiliki seorang raja yang adil dan baik hati sehingga banyak sekali dari rakyat biasa yang datang dan tinggal disana. Kerajaan Guira juga memiliki sebuah akademik pelatihan yang tidak jauh berbeda dari Akademik Adeline.


Akademik tersebut dinamakan Lumine yang merupakan akademik terbaik di benua tersebut selain akademik Adeline yang berada di benua selatan. Kedua akademik ini saling bersaing satu sama lain.


Namun karena Akademik Adeline berada di kerajaan Green yang notabene adalah kerajaan terkuat ke tiga di benua sehingga popularitas akademik Lumine menjadi menurun. Hal itu pula yang menyebabkan akademik Lumine dan Adeline menjadi saingan berat.


Setelah kepindahan Count Servan, ia baru saja menyadari bahwa keagungan kerajaan Guira hanyalah dongeng, nyatanya mereka yang berada disana adalah kumpulan pedagang ilegal yang sering melakukan transaksi jual beli secara bebas.


Hal ini berbanding terbalik dengan kerajaan Green yang hanya memiliki pasar gelap di sisi dalam ibu kota, mereka tidak bisa secara bebas menjual barang ilegal pada rakyat biasa atau pun bangsawan yang tidak mendapatkan persetujuan dari Raja Green.


Berbanding terbalik dengan Kerajaan Guira yang hampir sebagian penduduknya adalah pedagang ilegal yang bebas masuk dan keluar kapan saja. Pedagang ilegal inilah yang menjadi sumber daya utama kerajaan tersebut sehingga pajak yang dibebankan pada rakyat biasa menurun secara signifikan.


Namun demikian banyaknya kerajaan asing tidak mengetahui hal tersebut karena mereka hanya melihat rakyat kerajaan itu hidup dengan makmur dan aman.


Count Servan yang sebelumnya diburu kini berubah menjadi orang bebas di kerajaan tersebut, ia dan keluarganya bebas berkeliaran tanpa harus takut ditangkap karena hukum di kerajaan itu jelas melindungi rakyat dan pendatang dengan aman.


Oleh karena itu banyak sekali penjahat yang berkeliaran bebas disana dan dengan kata lain kerajaan Guira adalah kerajaan bebas yang tidak memiliki hukum bagi rakyat dan pendatang baru.


"Jadi maksud mu Kerajaan Guira adalah kerajaan yang bebas dari hukum pemerintahan?" tanya Senja menghentikan cerita Count Servan.


"Bukannya para pedagang biasanya saling berebutan pelanggan dan karena hal itu pula banyak yang melakukan hal gila agar dagangan lawannya kalah atau bangkrut."


"Tapi disana berbeda Nona, mereka menjual barang yang berbeda di setiap kiosnya atau dengan kata lain setiap barang ilegal yang mereka jual sangatlah bervariasi namun berbeda disaat yang bersamaan."


"Oh maksud mu itu terlihat sama tapi berbeda"


"Tepat sekali Nona dan karena hal itu pula kebanyakkan yang membeli barang mereka adalah penyihir hitam dan juga ksatria bayaran," seru Count yang membuat mata Senja melotot secara seketika.


"Penyihir hitam?" tanya Senja penasaran ketika ia mendengar kata 'penyihir hitam' Keluar dari mulut Count.


"Itu benar Nona, penyihir hitam."


" ... "


"Penyihir hitam adalah mereka yang menggunakan mana mati sebagai kekuatannya."


"Tunggu dulu, bukannya mana mati itu berasal dari mereka yang sudah tidak hidup lagi."


"Anda benar Nona dan hal itu pula yang membuat mereka dijauhi namun demikian masih banyak sekali penyihir hitam yang masih hidup meski pun mereka pernah dibantai sebelumnya."

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak mengerti maksud mu tapi aku yakin jika mereka bukanlah orang baik."


"Sebenarnya Nona tidak semua dari mereka adalah penjahat namun karena kebanyakan dari mereka itu memusuhi para penyihir agung dan mereka juga melakukan hal gila dalam banyak hal," jelas Count Servan yang membuat Senja semakin penasaran.


"Aku bisa menanyakan soal ini nanti pada yang lain," batin Senja sambil memikirkan teman-teman Dian yang dulunya adalah tentara bayaran.


"Count, kau pasti ingin tahu alasan mengapa aku memanggil mu kesini bukan?" tanya Senja acuh tak acuh sambil melihat keluar jendela kamar dimana Dian sedang memasuki gedung Guild.


"Aku tidak punya banyak waktu, jadi akan ku katakan sekarang," lanjut Senja lalu menatap Count Servan kembali.


"Aku menginginkan salah satu bangunan gedung di kerajaan tersebut, aku ingin kau mendapatkannya segera dalam dua hari ini," seru Senja masih dengan tampang acuh tak acuhnya.


"Nona itu tidak mungkin," jawab Count panik dengan tugas yang mendadak diberikan oleh Senja apalagi waktu yang ia berikan sangatlah sedikit.


"Aku tidak peduli," gumam Senja masih bisa didengar oleh Count.


"Aku hanya ingin sebuah gedung dan aku sama sekali tidak peduli bagaimana cara mu mendapatkannya," lanjut Senja datar tidak peduli dengan ekspresi kosong Count saat ini.


"Setelah kau berhasil menemukannya, temui lah Hazel karena dia sudah memilki orang yang tepat untuk mengolah gedung tersebut."


"Nona...!"


"Aku tidak ingin ada masalah mengenai hal ini," seru Senja memotong perkataan Count Servan.


"Jika tidak ada yang ingin ditanyakan, kau bisa keluar sekarang juga," lanjut Senja dengan senyum nakal di wajahnya.


Count yang awalnya ingin protes dengan tugas tersebut kini mulai bungkam ketika melihat senyum aneh yang mengembang di wajah Senja.


"Bisa mati aku kalau berbicara lagi," batinnya sambil menelan saliva yang terasa kering ditenggorokkan.


"Saya pamit undur diri Nona," seru Count kemudian berdiri dari duduknya sambil menahan rasa takut.


"Jaga diri mu baik-baik," seru Senja sebelum Count berhasil keluar dari kamar tersebut, sedangkan Count yang mendengarnya hanya bisa menelan banyak saliva nya.


Beberapa saat kemudian Dian datang menghadap Senja sambil membawa sepucuk surat dari Duke Ari.


"Kerja bagus Dian," seru Senja sebelum mengambil surat itu.


"Terima kasih Nona," jawab Dian senang.


"Ah iya Nona, Dennis sudah menyiapkan kereta kuda sesuai permintaan anda sebelumnya," lanjut Dian sambil mengingat percakapannya dengan Dennis sebelum naik ke lantai tiga untuk menemui Senja.


"Ayo pergi," seru Senja sambil melangkah keluar dari kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2