
"Tenangkan diri mu sehingga kau bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi."
*****************#####*****************
Lama Senja menyelami mimpinya sampai ia akhirnya bertemu kembali dengan monster itu. Monster yang kini terlihat lebih bersemangat dari pada sebelumnya. Ia terlihat senang dengan kedatangan Senja, ia tersenyum sambil memperlihatkan gigi taringnya yang tajam.
"Kau terlihat begitu senang," lirih Senja kesal.
"Hahaha, lihat wajah sombong bocah ini. Bukankah terakhir kali kau berteriak malas untuk mendatangi tempat ini lagi tapi sekarang...!"
"Cih," Senja malas untuk berdebat panjang dengan monster itu kali ini.
"Apa yang membuat mu sampai mencari ku sejauh ini?"
"Bukannya itu sudah jelas." Senja memperlihatkan cengiran nakalnya kali ini.
"Aku datang untuk mempertanyakan tempat aneh ini." lanjutnya acuh tak acuh.
"Betapa berani bocah ini sekarang." Meski bicaranya sangat arogan namun nada suaranya terdengar hangat dan nyaman.
"Pertama, siapa kau? Kenapa kau bisa ada disini dan tempat apa ini?"
"Hahaha, pertanyaan bodoh macam apa itu?"
"Kau, aku bertanya dengan sungguh-sungguh kau tahu."
"Hahaha, baiklah-baiklah."
Monster itu diam untuk sesaat, ia memperhatikan Senja dari ujung rambut sampai kaki. Ia melihat Senja seperti sedang menelanjanginya dengan tatapan yang bahkan Senja sendiri tidak tahu arti dibaliknya.
"Tapi sebelum itu...,"
Monster itu mencoba untuk menyentuh Senja namun dengan sigap Senja berhasil mundur sehingga hanya ruang kosong yang disentuhnya.
"Kau, apa yang ingin coba kau lakukan?"
"Hahaha."
Monster itu kembali tertawa, ia mengerang dengan kesal sambil menarik kembali tangannya.
"Bocah ini sudah tumbuh besar rupanya."
Senja memalingkan wajahnya dengan acuh tak acuh. Ia marah dan takut secara bersamaan, meski begitu ia mencoba untuk tetap tegak berdiri di tempatnya.
"Jangan coba-coba bermain dengan ku!" pekik Senja sambil menendang lantai.
"Jangan khawatir kali ini aku hanya akan memeriksa tubuh mu saja."
"..."
Senja menatap heran pada monster itu seolah-olah sedang bertanya 'apakah kau waras.'
"Kemarilah, aku tidak akan berkata dua kali."
"Jangan mencoba untuk menipu ku."
"Aku tidak menipu mu. Bukankah kau datang kesini untuk mengetahui kesehatan mu?"
Senja diam, ia berfikir sejenak sebelum memutuskan untuk melangkah maju menuju monster itu.
"Jika monster ini mencoba untuk menipu ku maka," Senja sudah mempersiapkan belati tajam dibalik saku pakaiannya. Jika suatu hal yang tidak diinginkan terjadi maka ia akan segera menyerangnya.
Beberapa langkah kemudian Senja sudah berada tepat dihadapan monster itu. Dengan satu gerakan monster itu menyentuh dahi Senja. Tidak seperti sebelumnya kali ini Senja hanya merasakan perasaan hangat yang mengalir ke seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Rasanya seperti sesuatu yang rusak sedang di perbaiki. Ia merasa lebih sehat dan bugar bahkan rasa kantuk yang sebelumnya ia rasakan kini menghilang.
"Nama ku Sera. Aku seorang penjaga yang di tempatkan di ruangan ini. Aku menjaga tempat ini untuk penerus yang mulia."
Senja sedikit kaget, ia bahkan tidak tahu apa yang sekarang ia lihat. Monster yang sebelumnya menyerang dirinya kini berubah menjadi gadis kecil yang imut.
"Siapa kau?" tanya Senja setelah ia berhasil mengambil alih pikirannya.
Sebelum monster itu berubah menjadi peri cantik, ada sebuah cahaya terang yang menutupi penglihatan matanya. Cahaya itu berasal dari monster tadi dan setelah cahaya itu menghilang, munculah Sera.
"Aku, adalah apa yang ingin kau cari tahu sebelumnya."
"..."
Senja mengerutkan keningnya bingung. Apa yang ia cari bukanlah seorang anak yang manis melainkan kebenaran dari tempat ini.
"Sedang mencari apa?" tanya Sera saat Senja terlihat panik sambil melirik ke kanan dan kiri.
"Dimana monster menyeramkan itu?" Senja tidak menjawab, ia malah bertanya balik yang alhasil membuat Sera tertawa.
"Itu aku," jawab Sera dengan cengiran lebar bibirnya.
Senja terkejut, ekspresinya seperti mengatakan bagaimana bisa monster jelek berubah menjadi gadis manis seperti ini.
"Yang kau lihat sebelumnya adalah wujud astral ku."
"Hah, apa?" Senja terlihat tidak percaya.
"Aku berkata jujur, terserah kau mau percaya atau tidak."
"Baiklah-baiklah." Senja menggelengkan kepalanya dengan acuh.
"Kalau begitu, bisa kau jelaskan semua fenomena tentang diri ku ini?"
"Tentu."
"Wow, tempat apa ini?" batin Senja kagum dengan apa yang ia lihat.
Bagaimana bisa ruangan gelap kini berubah menjadi ruangan yang terlihat begitu mewah. Ada banyak perabotan cantik dan mahal, dan yang lebih penting dari itu semua adalah arsitektur dari ruangan ini sangat indah.
Arsitektur lama yang dibuat dengan pahatan-pahatan indah dari tangan para ahli. Bahkan di dunianya yang sekarang jarang ada bangunan dengan arsitektur bernuansa klasik seperti ini.
"Duduklah." Sera mempersilahkan Senja untuk duduk di salah satu sofa miliknya. Ia lalu menyerahkan beberapa minuman herbal untuk Senja.
"Ini..."
"Itu minuman herbal yang bisa membuat tubuh mu menjadi lebih sehat." potong Sera saat melihat wajah Senja yang berseri-seri.
"Terima ka..., tunggu dulu." Senja kembali teringat dengan tujuan utamanya menemui Sera.
"Kau belum menjawab seluruh pertanyaan ku itu?"
"Kau memang cerdik, tapi sebelum itu minumlah dulu. Aku akan menceritakannya..."
"Tidak, aku butuh itu sekarang."
"Baiklah-baiklah."
Sera kemudian duduk dengan santai di depan Senja. Sebelum ia memulai cerita, Sera meminum air herbal di depannya terlebih dahulu.
"Aku hanya akan menceritakan tentang kondisi mu saja, sedangkan tentang tempat ini..." Sera diam sambil memperhatikan Senja.
"Kau bisa mencari tahunya sendiri, itu pun jika kau beruntung untuk bisa mengetahuinya." lanjut Sera setelah diam beberapa saat.
__ADS_1
"Maksud mu?" Senja mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Aku hanya akan mengatakan ini sekali saja. Sebenarnya terdapat banyak pintu untuk masuk ke tempat ini hanya saja tidak semuanya bisa terbuka dengan mudah. Kau beruntung karena sebelumnya tempat ini telah dibuka oleh seseorang dan orang itu mewarisi darahnya pada mu."
"..."
"Darah wanita itu yang mengalir pada mu telah membuat tempat ini menyadari tuannya sehingga pintu itu terbuka secara otomatis. Namun jika kau tidak mewarisi darahnya, meski kau adalah bagian dari hidupnya kau tetap tidak akan bisa masuk ke tempat ini."
"Tunggu dulu, maksud mu hanya orang yang telah di akui oleh tempat ini yang bisa memasukinya, begitu?"
"Kurang lebih seperti itu."
"Ini agak aneh, jika begitu mengapa hewan magic ku bisa masuk kesini juga?"
"Itu karena mereka juga berbagi darah dengan mu. Mereka terikat kontrak hidup dan mati dengan tuannya sehingga mereka juga bisa memasuki tempat ini sama seperti mu."
"..."
Senja berfikir sejenak tentang tempat ini. Jika memang benar yang dikatakan Sera mengenai tempat ini maka wajar saja jika Duke dan bawahannya sama sekali tidak bisa menemukan tempat ini meski mereka sudah lama berada di atasnya.
"Hanya itu yang bisa aku katakan mengenai tempat ini."
"Baiklah, aku mengerti."
"Kemudian aku akan menceritakan sedikit mengenai kondisi tubuh mu itu."
Senja terlihat antusias saat Sera mulai menceritakan tentang kondisi fisiknya. Ia sempat berfikir keras mengapa kondisi fisiknya begitu buruk sedangkan mentalnya benar-benar sehat.
****
"Meridian mu sedang terganggu, kau harus segera memperbaikinya."
Perkataan Sera terus terngiang ditelinga Senja. Ia tidak bisa memahami apa itu Meridian yang sesungguhnya.
"Nona," panggil Vanilla saat Senja terlihat murung sejak kembalinya dari bukit itu.
Jujur saja baik Kun atau pun Vanilla tahu kemana Senja pergi sejak tadi. Mereka juga memperhatikan Senja sejak ia tertidur di atas bukit itu.
Awalnya terlihat baik-baik saja sampai mereka menjadi panik saat Senja berteriak sambil mengigau dengan bahasa aneh yang bahkan sama sekali tidak mereka pahami.
"Dalam hidup ku yang lama ini, aku sama sekali tidak pernah mendengar seseorang berbicara dengan bahasa itu." batin Kun terganggu.
"Apa yang terjadi?" tanya Kun saat Senja sudah kembali sadar.
"Tidak ada, aku hanya butuh istirahat lebih." balas Senja acuh tak acuh.
Setelah keluar dari rumah Sera, Senja terlihat tidak bernyawa. Bukan karena Sera menyerangnya namun karena fakta bahwa Meridian nya rusak diakibatkan energi yang terlalu besar dalam tubuhnya itu.
"Memperbaiki Meridian," gumam Senja pelan.
Sera mengatakan untuk segera memperbaiki Meridian nya secepat mungkin. Hanya dengan itu kondisi fisiknya akan kembali seperti dulu lagi. Namun syaratnya adalah ia harus terus berada di tempat ini.
"Kau berbohong." Kun kembali membuat Senja sadar dari lamunannya.
"Kau terlihat aneh setelah bangun dari tidur mu. Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada mu saat ini?"
"Aku hanya butuh istirahat, bukankah ini yang kau dan bocah itu inginkan?"
"Aneh, kau sangat aneh."
"Terserah."
Senja kemudian pergi meninggalkan Kun dan Vanilla. Ia menuju sungai yang ada tidak jauh dari posisi mereka saat ini.
__ADS_1
"Apa yang sedang terjadi?" tanya Vanilla tidak mengerti.
"Tidak ada." jawab Kun acuh tak acuh sambil tetap memperhatikan gerak-gerik Nona nya itu.