Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E85] Tangkapan


__ADS_3

"Kamu dapat bersembunyi dari waktu tapi itu tidak berlaku dengan takdir."


******************#####******************


Wilayah dalam merupakan salah satu wilayah di kerajaan Green yang dijaga ketat oleh Master Guardian. Wilayah itu memiliki banyak hewan liar dan monster berbahaya. Bahkan wilayah itu dikatakan lebih berbahaya dari pada hutan kegelapan milik Marques Winter.


Oleh karena itu master guardian dipercayai untuk menjaga keseluruhan area tersebut. Master Guardian menciptakan sebuah kubah raksasa yang akan melindungi wilayah inti dari serangan monster liar.


Karena itu jika seorang siswa wilayah luar dengan berani memasuki wilayah dalam tanpa persetujuan, maka siswa itu akan langsung menjadi santapan monster-monster liar disana.


Selain monster, wilayah dalam juga memiliki tingkat mana dua kali lipat lebih baik dari wilayah tengah. Meski begitu tidak banyak siswa yang diizinkan untuk berlatih secara berlebihan.


Mereka hanya diperbolehkan berlatih maksimal 12 jam. Jika lebih dari itu maka Mana yang yang mereka serap akan berubah menjadi racun dan akan membahayakan tubuh siswa tersebut.


Hal itu dapat terjadi karena Mana yang dimiliki oleh wilayah dalam telah bercampur dengan Mana alam yang dimiliki oleh monster disana.


Sehingga para siswa wilayah dalam hanya akan berlatih di siang hari dan pada malam harinya mereka akan lanjut berlatih di wilayah tengah.


"Variasi warna yang menarik," gumam Senja pelan saat melihat Warna Aura yang dipancarkan oleh hutan wilayah dalam.


Hutan tersebut memiliki warna hijau dan kuning yang kentara dengan balutan warna merah diselingi dengan kumpulan warna abu-abu.


Keempat warna itu saling terikat dan terkadang menyatu membentuk warna lain. Hal itu membuat Senja tertarik dan tanpa sadar menghentikan langkahnya.


"Ada apa? Apa kau baik-baik saja?" tanya Sam saat ia menyadari bahwa Senja hanya diam di tempatnya.


"..."


Diam, Senja sama sekali tidak merespon. Ia hanya terpaku melihat warna aura dari Mana yang dipancarkan oleh wilayah dalam. Selain dari hutan, warna aura yang paling mencolok berada di balik pegunungan di ujung pandangan matanya.


Gunung itu di kelilingi oleh kabut awan yang tebal. Kabut itu juga sesekali mengeluarkan rintikan air dalam frekuensi sepuluh menit sekali.


Senja tahu jika di wilayah dalam memiliki lebih dari satu orang Sage namun apa yang dilihatnya pada pegunungan itu bahkan lebih tinggi dari pada Sage.


"Apa itu? Kenapa warna auranya lebih pekat dari Sage pada umumnya." batin Senja bingung.


Senja sama sekali belum pernah melihat warna aura sepekat itu, bahkan warna aura Prof Edward tidak bisa dibandingkan dengan warna aura yang dimiliki oleh sosok di balik gunung itu.


"Senja," panggil Sam sekali lagi.


"Senja!" Sam mulai mendekati Senja dan menggoyangkan bahunya.


Ia sama sekali tidak tahu penyebab Senja diam. Biasanya siswa yang pertama kali menginjakkan kakinya di wilayah dalam hanya dapat diam dengan tubuh yang bergetar.


Namun hal itu tidak terjadi pada Senja, ia memang diam tapi tubuhnya sama sekali tidak bergetar. Dari pada itu ekspresi wajah Senja lebih kearah penasaran dan bingung dari pada takut dan tidak nyaman.


"Senja, apa kau baik-baik saja?" tanya Sam sekali lagi.

__ADS_1


"Hah, inilah alasan ku mengapa tidak mengizinkan dia masuk kesini." seru Carla di sela-sela pertanyaan Sam.


"Carla, jangan terlalu frontal seperti itu." bisik Sam pelan.


"Ini juga sala kita, seharusnya kita memberikan dia peringatan terlebih dahu..."


"Siapa yang berada di gunung itu?" potong Senja tepat sebelum Sam menyelesaikan kalimatnya.


"Gunung?" tanya Carla bingung.


"Iya gunung, siapa yang ada di gunung itu?" tanya Senja kembali.


"Itu...," Carla terlihat bingung, ia kemudian melirik sekilas pada Sam dan ketiga temannya yang lain.


"Itu tempat Prof Xei, siswa yang tidak berkepentingan dilarang datang kesana." jelas salah satu rekan Sam.


Ia kemudian menjelaskan beberapa aturan yang berlaku di wilayah dalam. Tentang apa yang harus dilakukan oleh setiap siswa yang masuk dan keluar dari wilayah itu.


"Karena kepentingan mu disini hanyalah dia, maka kau tidak diizinkan untuk pergi lebih dari area itu." lanjutnya sambil mengarahkan jari telunjuk mengitari area inti wilayah dalam.


"Area itu disebut sebagai area inti, bahkan kami yang merupakan siswa berlevel delapan saja tidak diizinkan keluar masuk hutan sesuka hati." timpal Sam kemudian.


"Benarkah itu Mana Porf Xei?" batin Senja yang merasa tidak yakin.


Pasalnya ia sudah pernah melihat seberapa pekat Mana yang dimiliki oleh Prof Xei, sehingga hal itu sedikit Senja menjadi bingung siapa sesungguhnya yang memiliki Mana tersebut.


"Uhm, baiklah aku mengerti." seru Senja setelah diam beberapa saat.


"Seperti piknik," batin Senja saat melihat beberapa tenda mengelilingi api unggun.


Sam kemudian membimbing Senja berjalan melewati beberapa kemah milik siswa lain. Ia lalu membawa Senja menuju area selatan lapangan. Disana Senja dapat melihat dua buah tenda yang di depannya sudah ada tumpukan kayu bakar.


"Disinilah kita akan bermalam," seru Sam sambil menunjuk dua tenda tersebut.


"Roy dan Fei, ambil ini dan bersihkan di sungai." lanjut Sam sembari memberikan empat ekor rusa yang mereka miliki.


Dua diantara rusa itu adalah tangkapan mereka sedangkan dua lainnya adalah pemberian Senja.


Setelah menerima perintah tersebut pria yang di panggil Roy dan Fei segera pergi meninggalkan kelompok. Setelahnya Sam meminta Carla untuk menyalakan api unggun dibantu dengan Popei.


"Sedangkan kau dik, ikuti aku." lanjut Sam setelah melihat rekan-rekan nya sibuk dengan urusan masing-masing.


Setelah mengatakan itu Sam kemudian pergi menuju tenda-tenda lain. Disisi Sam terdapat Senja yang sedari tadi mengikutinya seperti anak itik.


Di tenda pertama Sam dan Senja bertemu dengan sebuah party yang sedang bersantai ria. Disana Sam bertanya tentang senior nomor punggung 46, namun tidak ada yang mengenalnya.


Sam kemudian silih berganti menuju tenda-tenda lain untuk bertanya mengenai senior tersebut. Namun lagi-lagi jawabannya tetap sama.

__ADS_1


Senja yang mulai bosan terus mengikuti langkah Sam mengelilingi tenda-tenda tersebut. Hingga secara kebetulan seorang wanita muda melewati kedua. Wanita itu berambut coklat dengan tinggi badan 170 cm.


Dengan senyum nakal Senja melirik wanita itu, ia kemudian melangkah mendekati Sam lalu berbisik pelan. "Senior Sam, aku izin ke toilet sebentar, perut ku sakit."


Sam yang bingung hendak menghentikan Senja, ia ingin menemani Senja menuju toilet namun Senja berhasil menahannya dengan mengatakan bahwa ia baik-baik saja pergi sendirian.


"Apa dia malu?" gumam Sam dengan tatapan mata yang masih mengarah pada Senja hingga ia menghilang dari balik tenda siswa lain.


****


"Bagaimana dia bisa sampai disini?" batin Noime saat melewati sosok gadis muda yang sedang berjalan bersama Sam, teman sekelasnya.


"Apa Sam yang membawa dia masuk kesini? Tapi kenapa?"


Noime terus bertanya, ia bingung bukan kepalang karena melihat siswa wilayah luar berada di wilayah dalam. Pasalnya tidak pernah ada dalam sejarah siswa wilayah luar memasuki wilayah dalam di tahun pertamanya belajar di akademi.


"Aku tahu ada yang tidak beres dengan anak itu," gumam Noime sebelum pergi meninggalkan area lapangan.


Saat ini Noime sedang melaksanakan misi yang baru saja ia ambil di gedung misi tadi siang. Disana ia dan Evan mengambil misi untuk mengumpulkan tanaman obat di hutan terlarang.


Tidak banyak siswa yang bisa menyelesaikan tugas tersebut dikarenakan hutan terlarang adalah hutan yang dihuni oleh hewan suci langka sekaligus monster berbahaya.


Kebanyakan dari mereka yang memasuki hutan akan kembali dengan cedera berat bahkan ada juga yang kehilangan salah satu anggota tubuhnya. Maka dari itu yang bisa memasuki hutan terlarang hanyalah siswa dengan level lebih dari delapan.


"Karena aku dan Evan berlevel sembilan maka kami diizinkan untuk memasuki hutan tersebut. Meski begitu kami hanya diperbolehkan berkeliaran disekitaran bibir hutan saja."


Noime terlihat kecewa, ia sadar jika kemampuannya tidak sebanding dengan seorang Swordsman. Oleh karena itu ia berharap bahwa misinya kali ini dapat meningkatkan levelnya setidaknya satu tingkat saja.


Di akademi Adeline siswa yang dapat dinyatakan lulus adalah mereka yang sudah mencapai level 10. Jika dibawah itu maka mereka harus mengikuti trainee dan mengambil misi untuk bisa menaikkan level.


Tidak hanya itu mereka juga harus lulus tepat waktu yaitu sekitaran tiga sampai empat tahun setelah memasuki akademi. Jika ebih dari itu maka mereka akan di keluarkan tanpa surat rekomendasi sama sekali.


Oleh sebab itu banyak dari para siswa berusaha mati-matian untuk dapat naik level di tahun-tahun terakhir mereka. Kebanyakan dari mereka akan lebih sering mengambil misi dan tugas sampingan demi bisa menaikkan level menjadi level 10.


Dikarenakan hal itu membuat Noime menjadi sangat sibuk dan tidak memiliki waktu untuk membimbing siswa tahun pertama dalam ujian tengah semester mereka. Baginya lulus dan naik level adalah hal pertama yang paling penting selain point prestasi yang tinggi.


"Huh, sudah waktunya." lirih Noime saat melihat waktu sudah menunjukkan pukul 11:15 malam.


Noime dan Evan berencana untuk pergi menuju hutan terlarang pada pukul 12 malam. Mereka sengaja memilih waktu itu karena kebanyakan monster liar akan kembali ke sarang mereka sehingga jalan yang mereka lalui akan lebih mulus.


Noime kemudian berjalan menuju gedung transmisi dimana portal sihir berada. Kebanyakan siswa wilayah dalam akan menggunakan portal sihir tersebut setiap kali mereka sedang menjalankan misi.


Ketika hendak menuju ke gedung tersebut Noime harus melewati gedung laboratorium dan beberapa taman. Awalnya perjalanan Noime terasa aman namun saat hendak melewati taman terkahir ia secara tiba-tiba menghentikan langkahnya.


Disana, diujung bibir taman Noime dapat melihat sosok seorang gadis mungil tengah berdiri kaku. Gadis itu memasang wajah kesal dengan senyum aneh yang memperlihatkan gigi taringnya.


Dengan panik Noime membalikkan tubuhnya dan hendak pergi dari taman tersebut. Namun yang tidak disadari oleh Noime adalah bahwa ia telah masuk ke dalam perangkap gadis tersebut.

__ADS_1


Noime sama sekali tidak bisa meninggalkan taman dikarena taman itu sudah di selimuti oleh kubah transparan yang bahkan seorang Mage pun tidak dapat merusaknya.


"Tertangkap," lirih gadis itu sembari mendekati Noime yang masih terlihat bingung.


__ADS_2