
"Tidak ada yang tahu bahwa dibalik senyum ramah itu, terdapat tipu muslihat yang dalam."
*****************#####*****************
"Tempat ini indah," seru Maya saat matahari mulai tenggelam.
"Itu namanya Senja," lirih Senja yang membuat seluruh mata temannya memandang kearahnya.
"Itu nama mu."
Senja hanya tersenyum sambil menunjuk kearah cahaya orange kemerahan diujung cakrawala kota El-Aufi.
"Itu yang dinamakan senja, dan dia hanya bertahan selama beberapa menit saja," balas Senja yang merasa lucu dengan reaksi sahabatnya.
"Ah, begitu. Nama mu sangat indah, tapi lebih indah lagi diri mu," seru Luna yang mendapatkan anggukan kepala dari yang lainnya.
"Terima kasih," balas Senja sebelum kembali duduk ke kursinya.
Setelah malam tiba, mereka memutuskan untuk pergi keluar dari kafe tersebut. Malam di ibu kota sangatlah indah, ada begitu banyak rakyat yang berseliweran di sepanjang jalan plaza.
Mereka pada akhirnya memutuskan untuk berhenti sementara di sebuah restauran sekaligus menunggu waktu untuk makan malam.
"Nona, ada surat untuk mu," bisik Dian sebelum Senja memasuki restauran tersebut.
Senja kemudian berjalan menyepi ke gang kecil yang ada di samping restauran sementara keempat sahabatnya masuk ke dalam. Mereka sama sekali tidak menyadari perginya Senja sehingga itu sangat memudahkan baginya.
"Dian," panggil Senja sambil menatap tajam kearah Dian.
"Kumohon tidak,"
"Kun, lakukan."
Kun kemudian mengubah wujud Dian menjadi dirinya.
"Nona, kenapa anda kejam sekali pada saya?" tanya Dian sedih sekaligus kesal.
"Ini pelajaran singkat untuk mu,"
"Kau tahu harus berbuat apa bukan?"
"Hah, astaga."
Dian berteriak dengan frustasi ketika melihat Senja meninggalkannya sendirian di gang tersebut.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Apa mereka akan tertipu juga kali ini?" tanyanya sekali lagi sambil mengingat kejadian dimana ia menjadi Senja dihadapan Muna saat itu.
"Hah, sial," gerutu Dian kesal sambil mengacak-acak rambutnya.
"Masalahnya kali ini mereka berempat. Apa mungkin tidak ada yang curiga dari salah satu diantara mereka?" tanya Dian sekali lagi.
Dian jadi memikirkan tentang Luna yang memiliki kekuatan terbesar diantara mereka berempat. Jika Luna mengetahui bahwa ia adalah palsu mungkin saja Dian bisa berakhir di tiang gantungan.
"Ah, astaga. Kepala ku," teriak Dian sambil memegangi lehernya.
"Nona, kali ini permainan anda membuat saya menggila,"
Dian yang frustasi tanpa sadar didatangi oleh seorang gadis muda.
"Senja, sedang apa kau disini?" tanya Luna yang sebelumnya mencari Senja di dalam restauran.
"Ah, itu. Aku..."
Dian terlihat panik saat Luna mulai mendekatinya.
"Sudahlah, semua sudah menunggu."
__ADS_1
Luna kemudian menarik tangan Dian dan membawanya masuk ke dalam restauran.
"Matilah aku... Hik!"
****
Senja yang berhasil lolos dari keempat temannya itu memutuskan untuk beristirahat di bar. Senja lalu mengambil surat ya ia simpan dan membukanya.
"Hah, mereka benar-benar sialan," gerutu Senja saat membaca bagian awal surat tersebut.
"Apa mereka hendak berperang?" gerutu Senja sekali lagi ketika ia sudah membaca hampir setengah dari isi surat tersebut.
"Kun, persiapkan portal," link Senja pada Kun yang saat ini sedang tidur.
Kun perlahan membuka matanya dan kemudian menatap Senja.
"Baiklah,"
Senja yang melihat Kun pergi dari tidurnya perlahan mulai mengerutkan kening.
"Tumben sekali,"
Senja yang tidak punya waktu untuk memikirkan sikap Kun, kemudian terus membaca isi surat tersebut. Senja yang sejak awal sudah kesal sekarang menjadi semakin kesal.
"Sial, mereka ingin memberontak rupanya."
Senja menggenggam erat surat tersebut sebelum membakarnya habis.
"Akan aku beri mereka hadiah spesial nantinya."
Senja lalu berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan bar menuju portal yang sudah selesai dibuat oleh Kun. Segera Senja dan Kun berpindah menuju wilayah timur tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Agra dan Arthur yang mendapati kehadiran mendadak dari nona nya terlihat sangat panik.
"Astaga Nona, ada masalah apa?" tanya Agra ketika melihat wajah kesal Senja.
"Nona," seru Eza sambil mendekati Senja.
Senja sama sekali tidak merespon panggilan Eza, ia malah terus berjalan menghampiri Nindia.
"Nindia,"
"Suara ini," batin Nindia kaget sebelum membalikan tubuhnya untuk melihat sosok dari suara tersebut.
"Nona Senja," pekik Nindia sambil segera membungkuk kearah Senja.
"Maafkan..."
Perkataan Nindia terputus saat Senja memotongnya.
"Ikuti aku," lirih Senja kemudian kembali berjalan menjauh dari gedung bangunan tersebut.
Eza yang bingung dengan situasinya tahu jelas bahwa sekarang nona nya sedang kesal. Ia lalu mengikuti Senja dari belakang untuk memastikan bahwa Senja baik-baik saja. Senja yang tahu bahwa Eza mengikutinya kemudian berhenti sambil menatapnya.
"Eza, kembalilah ketempat mu."
Eza yang mendengar perintah dari Senja hanya bisa terdiam kaku di tempatnya. Tanpa memperdulikan Eza, Senja terus saja berjalan menuju area dalam wilayah timur.
Setelah beberapa saat, Senja berhasil tiba di kota bawah tanah milik peri gelap. Kota itu tampak sama seperti terakhir kali ia melihatnya.
"Selamat datang kembali Nona," sapa walikota saat melihat kedatangan Senja yang tiba-tiba.
"Silahkan masuk." lanjutnya sambil mempersilahkan Senja untuk duduk di sofa.
"Hah, sial. Suara berisik ini lagi," gerutu Senja ketika mendengar suara ribut di sekitar telinganya.
"Nona, silahkan di nikmati," seru Nindia sambil menaruh teh hangat dihadapan Senja.
__ADS_1
Perlahan Senja meminum teh tersebut, ia kemudian dengan santainya melemparkan beberapa butir mutiara hitam ke arah walikota.
"Ubah itu, aku ingin lihat kesempurnaannya."
Walikota seketika menjadi syok, tanpa sadar ia menjatuhkan cangkir yang tengah ia genggam.
"Nona ini..."
"Lakukan perintah ku dan jangan banyak tanya." Potong Senja saat walikota masih dalam keterkejutannya.
"Baiklah, Nona."
Walikota lalu mengambil mutiara hitam tersebut dan segera keluar dari ruangannya.
Nindia yang bingung dengan situasi ini hanya bisa melihat Senja dengan pandangan aneh. Ia merasa khawatir dengan keadaan Senja yang datang dengan penuh emosi seperti ini.
"Nona, apa terjadi sesuatu disana?"
"Kau akan segera mengetahuinya,"
"Persiapkan saja portal sihir menuju kerajaan Guira, karena kita akan pergi kesana setelah mutiara hitam tersebut selesai di sempurnakan." lanjut Senja masih dengan tampang dinginnya.
"Baik Nona."
Nindia lalu keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan Senja sendirian disana. Dua jam kemudian, Walikota kembali dengan membawa dua buah pil yang sudah disempurnakan. Dia kemudian meletakan kedua pil tersebut ke dalam kotak sebelum memberikannya pada Senja.
"Maaf Nona, hanya ini yang bisa saya berikan," seru Walikota sambil menyerahkan kotak tersebut.
"Kedua pil ini hampir mendekati tahap sempurna, ia memiliki 85% dari kekuatan aslinya. Kami membutuhkan mana keputusasaan untuk setidaknya melengkapi bagian yang hilang tersebut."
"Tak apa, ini sudah cukup,"
"Kau masih punya sisanya bukan? Sempurnakan saja itu sampai waktu aku memintanya kembali."
Walikota lalu menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Setelahnya, Senja memutuskan untuk keluar dari wilayah dalam untuk segera pergi ke kerajaan Guira. Nindia yang sebelumnya ditugaskan untuk membuat portal, segera menghampiri Senja saat ia sudah keluar dari wilayah tersebut.
"Nona, semua persiapan sudah selesai," seru Nindia sambil membimbing Senja menuju portal.
"Itu bagus,"
"Terima Kasih," Lirih Nindia pada dirinya sendiri sambil memasang senyum bahagia diwajahnya.
Eza yang tahu bahwa Senja akan berangkat ke kerajaan Guira, segera menemuinya di area portal sihir. Disana Eza bisa melihat Senja yang sedang bersiap untuk pergi bersama dengan Nindia di sampingnya.
"Nona, saya akan ikut dengan anda," seru Eza sambil memasuki portal.
"Keluar."
Senja dengan tegas menyuruh Eza untuk keluar dari portal tersebut.
"Tapi Nona..."
"Sudah ada Nindia disini, kau bisa kerjakan tugas mu sampai selesai."
Potong Senja datar yang sama sekali tidak melihat kearah Eza.
Eza yang kaget mendengar perkataan Senja hanya bisa keluar dari portal dengan lemahnya. Ia kemudian menatap tajam ke arah Nindia yang sama sekali tidak mengerti situasi diantara mereka berdua.
"Ada apa ini? Apa terjadi sesuatu diantara mereka saat di ibu kota El-Aufi?" tanya kembali namun tidak pernah bisa ia katakan karena ia tahu bahwa itu bukan urusannya.
"Eza, kau harus tahu dimana posisi mu sekarang." lanjut Senja sebelum portal sihir dinyalakan.
"Tanyakan pada dirimu sendiri, siapa aku sesungguhnya," seru Senja saat cahaya teleportasi menyela di sekitar tubuhnya.
"Kau yang paling mengenal ku, jadi kau pasti tahu siapa aku." lanjut Senja di detik-detik terakhir teleportasinya.
"Sepertinya, aku sudah lupa," batin Eza disaat Senja mulai menghilang dari pandangannya.
__ADS_1