Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Gelisah


__ADS_3

"Cara terbaik untuk melarikan diri adalah dengan bersembunyi."


******************####*****************


"Nona, bangun. Kau akan menyesal jika tidak bangun sekarang," link White pada Dian yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Ugh..." erang Dian malas.


"Nona, bangun!" pekik White sekali lagi.


"Ada apa White?" tanya Dian sambil menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya.


"Kaira ada di bawah dan hendak naik kesini."


Perkataan White yang menyebut nama 'Kaira' sukses membuat Dian tersentak kaget.


Dian yang awalnya masih merasa kantuk, kini menjadi sadar sepenuhnya. Ia bahkan tidak merasa lelah sedikit, tubuhnya seakan segar kembali seperti biasanya.


"Sial, mati aku!"


"Aku harus bagaimana ini?" tanya Dian sambil menerawang ke sekeliling area kamar Senja.


"Aku tidak mungkin menemui Kaira dengan cara begini. Bisa tamat aku nantinya," gumam Dian gelisah.


Dian yang panik mulai memutari area kamar kesana-kemari tanpa tujuan. Ia bingung harus melakukan apa.


"Pikir Dian, pikir."


Dian berputar-putar sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Kenapa disaat seperti ini pikiran ku menjadi kosong," gerutu Dian kesal dengan dirinya.


"Nona, mereka hendak menjumpai mu."


White memperingati Dian yang masih sibuk dengan nasibnya.


"Astaga...!" teriak Dian frustasi.


"Aku harus bagaimana ini?" tanyanya kembali sambil melirik keluar jendela kamar.


"Apa aku lompat saja ya?" tanyanya kembali.


Disaat Dian hendak melakukan rencananya, ia malah kembali lagi ke dalam kamar dengan wajah pucat.


"Ada apa Nona? Bukannya kau ingin melompat dan kabur?" tanya White penasaran.


"Sial,"


Dian sama sekali tidak bisa kabur dari hotel, masalahnya selain Luna dan Muna yang sedang menuju kearahnya, Kaira yang merupakan masalah utamanya sedang menunggu di luar hotel saat ini.


"Aku tidak bisa kabur, mereka mengepung ku dari dua arah."


White yang mendengar penjelasan Dian, menjadi begitu kasihan dengan nasib nona nya tersebut.


"Bagaimana jika anda teleportasi saja."


"Huh. Seandainya aku bisa, mengapa tidak!"


Dian merasa sangat frustasi sekaligus gelisah. Ia bingung harus berbuat apa. Di satu sisi, ia harus tetap menjadi Senja karena perintah nona nya. Di sisi lainnya, Dian harus menghindari Kaira karena masalah sebelumnya di bar.


"Nona, mereka semakin mendekat."


"Hah, sialan. Aku harus bagaimana ini?"


Dian terlihat sangat frustasi dan gelisah. Ia terlalu bingung sampai tidak bisa memikirkan apa pun lagi.


"Apa aku berubah saja menjadi diri ku ya?" gumam Dian panik.


"Tapi, jika mereka bertanya tentang Nona. Aku harus menjawab apa?"


"Ini membuat gila," teriak Dian sambil menendang kasur di hadapannya.


"Tunggu dulu..."


Dian menghentikan kalimatnya saat melihat kasur yang tingginya sekitar 40 cm dihadapannya itu.


"Apa aku masuk saja ke dalam sini ya?" tanya Dian bingung sambil melirik ke bawah kolong.


"Nona, mereka sudah tiba," link White yang seketika membuat Dian jantungan.


"Sialan, tidak ada pilihan lain."


Dian kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam kolong kasur. Tidak lama Dian masuk, Luna dam Muna sudah membuka pintu kamar tersebut.


"Selamat," gumam Dian pelan.

__ADS_1


"Tinggal menunggu kapan mereka keluar saja." lanjutnya sedikit lega.


"Dimana Senja?" tanya Luna saat tidak mendapati siapa pun di kamar tersebut.


"Sudah aku duga, dia pasti sedang bekerja saat ini," seru Muna datar.


"Padahal aku sudah mengatakannya untuk tidak memaksakan diri." lanjut Muna kesal.


"Apa Senja sekarang sedang berada di wilayah timur?"


"Mungkin saja."


"Lucu sekali melihat mereka salah paham seperti ini, tapi ini lebih baik karena mereka tidak akan bertanya lagi pada Nona tentang aku yang menghilang," batin Dian merasa lebih baikan.


"Apa yang harus kita katakan pada Kaira? Kita tidak mungkin bilang tentang Senja yang sedang bekerja."


Luna terlihat bingung harus berbuat apa sekarang.


"Itu benar. Aku takut Senja akan kesal jika pekerjaannya diganggu," timpal Muna setuju.


"Apa sebaiknya kita tunggu saja Senja kembali?" tanya Muna sambil mendekat ke kasur.


"Itu ide yang bagus," balas Luna sedikit menimbang.


"Tapi itu akan membuat mereka bertanya, terlebih lagi jika Zakila tahu. Urusannya akan semakin panjang." lanjut Luna saat Muna sedang membaringkan dirinya di atas kasur.


"Sialan, Muna ada di atas ku sekarang!"


Dian mulai terlihat gelisah, ia kemudian memutuskan untuk menutup erat-erat matanya.


"Aku masih ingin hidup tuhan," gumam Dian dengan keringat dingin yang mulai bercucuran di tubuhnya.


"Hah, kau benar. Akan sangat gawat apabila Zakila tahu mengenai ini," balas Muna sedih.


"Baiklah, bagaimana jika kau yang pergi menemani mereka, sedangkan aku tetap menunggu Senja disini." lanjut Muna mengusulkan idenya.


"Apa? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Dian panik saat mendengar penuturan Muna.


"Tidak bisa." balasan Luna sontak membuat Dian bahagia.


"Itu benar cep..."


"Tapi itu juga bukan ide yang buruk." lanjut Luna yang lantas membuat perkataan Dian terhenti.


"Malangnya nasib ku."


"Baiklah, kalau begitu. Aku akan keluar untuk mengulur waktu. Apabila Senja tiba, segera bawa dia."


"Baiklah, apa yang bisa kita lihat disini," lirih Muna sambil berdiri dari tidurnya.


"Hik, aku tidak akan pernah mau lagi melakukan ini," batin Dian tersiksa.


Satu jam telah berlalu, namun Muna masih setia berada di kamar Senja. Ia sekarang sedang berada di balkon luar untuk menikmati pemandangan. Sedangkan Dian saat ini sedang tertidur di bawah kasur. Ia sudah lelah menunggu Muna untuk keluar dan tanpa sadar tertidur disana.


"Pemandangan dari sini bagus juga," seru Muna sambil melirik ke arah pasar yang ada di bawahnya.


"Ami," panggil Muna saat ia sudah merasa bosan dalam menunggu.


"Iya Nona."


"Apa kau sudah menemukan Senja?"


"Belum Nona. Aku sama sekali tidak bisa merasakan aura keberadaannya."


"Huh, ini sangat sulit. Lalu bagaimana dengan yang lain?"


"Armi juga sama, ia sama sekali belum mendapatkan keberadaan Senja sampai sekarang."


"Apa kalian sudah memperluas area pencarian? Senja itu sangat pandai berteleportasi, karena itu aku yakin dia pasti sedang berada di suatu tempat dimana kita tidak bisa mencarinya."


"Jadi apa yang harus kami lakukan Nona?"


"Untuk sementara, fokus saja pada area dalam."


"Baik Nona."


Muna kemudian memutuskan linknya sebelum kembali masuk ke dalam kamar Senja. Muna memutuskan untuk duduk di sofa tepat di depan kasur. Ia lalu mengambil satu buah buku yang terletak di atas meja.


"Jadi ini yang sering ia baca," gumam Muna sebelum membuka buku tersebut.


"Lumayan," lirih Muna singkat saat sudah mulai membacanya.


"Lumayan, untuk mengisi waktu luang," batin Muna sambil membalikan halaman buku yang sudah ia baca sebelumnya.


Sepuluh menit sudah berlalu dan Muna masih terus membaca buku tersebut. Sampai pada suatu halaman, ia tidak sengaja menjatuhkan sebuah koin yang terselip di sela-sela buku. Koin tersebut jatuh ke lantai dan menggelinding jauh masuk ke dalam kolong kasur.

__ADS_1


"Ugh, apa ini?" erang Dian saat hidungnya di hantam oleh sesuatu.


"Tidak sakit sih, tapi aku sedikit ka..."


Perkataan Dian terhenti ketika ia melihat sepasang sepatu tengah berada tepat di depan matanya.


"Sial,"


"Aku harus bagaimana?" tanya Dian gelisah saat sebuah tangan mulai merayap masuk di hadapannya.


Dian yang panik hanya bisa menutup mulut dan matanya. Ia merasa cemas sekaligus frustasi dengan keadaannya saat ini. Dian juga takut, apabila tanpa sengaja tangan itu menyentuh tubuhnya.


Bukan masalah besar jika Dian punya alasan jelas untuk sikapnya ini, namun jika Muna mengetahui bahwa sejak awal Dian bersembunyi disana, maka Senja lah yang akan menerima imbasnya nanti.


"Ugh, dimana sih," gumam Muna pelan saat tidak mendapatkan apa pun.


Muna kemudian memutuskan untuk melihat ke bawah kasur tersebut untuk mengambil koin dengan jelas.


"Tuhan, tolong selamatkan aku!" batin Dian yang sedang berteriak histeris saat kaki Muna mulai menekuk dan rambutnya mulai menyentuh lantai.


"Meong..."


Seketika terdengar suara kucing yang seakan-akan menjawab doa Dian. Kucing itu tidak lain adalah Kun. Ia sampai terlebih dahulu dari Senja.


"Kun," lirih Muna sambil berdiri dari lantai.


"Dimana Senja?" tanya Muna selanjutnya.


Sayangnya Kun hanya diam dan mengabaikan Muna, ia lalu melompat ke atas kasur dan berbaring disana. Muna yang melihat Kun, hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Apa yang bisa kau harapkan dari kucing sombong ini."


Muna tentu saja tahu bahwa Kun, hanya menuruti perkataan Senja saja yang merupakan tuannya.


"Baiklah, aku yakin pasti Senja akan segera kembali." lanjut Muna sebelum kembali duduk ke sofa.


Muna tidak mengetahui bahwa Kun sebenarnya adalah kucing pembangkang yang juga sering membantah Senja, dan terkadang membuat Senja sakit kepala. Meski begitu, Kun tetap sangat perhatian dan tahu apa yang ia lakukan untuk bisa menjaga nona nya tersebut.


"Aku tidak tahu jika Nona juga memelihara seekor tikus." link Kun pada Dian yang berada tepat di bawahnya.


"Itu bukan urusanmu. Lagi pula dimana Nona?" tanya Dian kesal.


"Tidak tahu," jawab Kun acuh sebelum memutuskan linknya.


Dian yang mendengar jawaban acuh tak acuh nya Kun hanya bisa menjadi kesal. Ia ingin sekali berteriak di hadapan Kun sambil mengatakan, betapa buruknya harinya selama menggantikan posisi Senja yang hampir saja selalu membuatnya dalam masalah.


Namun kata-kata itu harus ia telan dalam hatinya karena saat ini kondisi nya sedang tidak memungkinkan. 15 menit kemudian, munculah cahaya putih terang di sudut ruangan tersebut. Cahaya itu semakin lama semakin terang hingga memunculkan sosok gadis setelahnya.


"Dia sudah tiba."


Muna mengirimkan link pada Ami agar pencariannya dihentikan. Ia kemudian melangkah pergi menuju arah cahaya tersebut yang kini mulai memudar.


"Aku tidak tahu jika kau begitu gila dalam bekerja," Seru Muna saat Senja sudah keluar dari portal.


"Muna!" seru Senja bingung.


"Apa yang sedang ia bicarakan? Mengapa wajahnya sangat kesal?"


"Lihatlah wajah tanpa dosa mu itu." lanjut Muna yang terlihat kesal.


"Kau bahkan memiliki kantong mata sebelumnya dan apa ini?" bentak Muna yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya.


"Sial. Apa yang sedang terjadi sekarang? Dimana Dian dann mengapa Muna ada di kamar ku sekarang?"


Pertanyaan demi pertanyaan terus muncul di pikiran Senja. Ia kemudian menerawang ke sekeliling area kamarnya dan mendapatkan aura samar Dian dari balik kasur.


"Sedang apa dia disana?" tanya Senja makin kebingungan.


"Apa yang sudah terjadi sebenarnya selama aku pergi?" tanyanya lagi dengan wajah ekspresi wajah dingin.


"Kenapa diam saja?" tanya Muna sekali lagi.


"Apa kau sungguh menganggap kami teman?"


Pertanyaan Muna sontak membuat mata Senja terbelalak. Ia tidak tahu harus merespon apa. Jujur saja Senja sungguh bingung kali ini.


"Hah, kau sungguh membuat ku gila!" bentak Muna frustasi.


"Habislah aku," batin Dian panik saat mendengar teriakan Muna pada nona nya.


"Baru kali ini aku melihat Nona Muna semarah ini." lanjut Dian yang juga terkejut dengan reaksi Muna.


"Aku tidak tahu alasan mengapa ia marah dan aku juga tidak mengerti," batin Dian yang tampak sangat kacau.


"Tapi satu hal yang aku ketahui disini. Nona pasti akan menghukum ku dengan berat."

__ADS_1


Dian lebih memilih bertarung dengan monster ataupun Kaira dari pada harus mendapatkan hukuman dari nona nya. Dian merasa sangat frustasi mengingat apa yang selama ini telah ia lalui dan sekarang, semua itu hancur hanya karena pengakuan mendadak dari Muna.


"Mau bagaimana lagi," batin Dian pasrah dengan air mata yang sudah mengering.


__ADS_2