Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Pukulan Kecil


__ADS_3

"Tidak perlu menghancurkan semua, karena beberapa bagian kecil sudah membuatnya sekarat."


******************####*****************


Nike dan Ariel sangat terpaku melihat tuannya yang sedang berlumuran darah. Mereka hendak menarik Lucas kembali namun dihadang oleh Jack dan Billy. Keduanya jelas tahu bahwa saat ini tuannya dalam keadaan tidak stabil.


"Jika kalian masih ingin hidup, sebaiknya jauhi tuan untuk sesaat."


Perkataan Jack ada benarnya karena saat ini keadaan Lucas cukup kacau. Mereka tahu jika tuannya bukanlah pria bodoh yang akan bertarung tanpa pertimbangan apapun.


"Sebaiknya kita mulai waspada, kalian bisa melihatnya sendiri bukan?" timpal Billy sambil menunjuk ke arah danau.


"Penyihir yang mengendalikannya telah pergi, jadi besar kemungkinan sihir itu akan meledak tidak terkontrol. Kita harus mewaspadainya karena itu adalah mana mati bukan air biasa," lanjut Billy tegas.


Kini mereka berempat mulai menyerang kembali. Dua diantaranya mengurus penyihir dan sisanya mengurus para ksatria, sedangkan Lucas sendiri sedang asyik berurusan dengan Lich yang merupakan dalang di balik ini semua.


Lucas dengan tenang mendorong Lich menjauh darinya. Serangan demi serangan terus di luncurkan oleh Lich tersebut. Sayangnya setiap serangan Lich berhasil di blokir oleh Lucas. Ia terlihat seperti orang gila yang kesetanan. Siapa pun yang melihat Lucas pasti akan berpikir bahwa saat ini ia sudah tidak waras.


Panah api yang melaju dengan cepat menembus kulit Lucas namun ia terus saja maju dengan pedang auranya. Cahaya merah tua bersinar terang di sekujur area pedangnya. Cahaya itu dengan kasar menusuk tubuh Lich hingga beberapa tulangnya patah dan hancur.


Lich yang sadar akan kekuatannya memilih untuk terjun ke danau untuk mengambil mana mati sebagai kekuatan tambahan namun sayangnya ia tidak bisa melakukan hal itu karena sihir penghancuran Senja masih setia berada di sana.


Sihir penghancur yang aktif mulai bercahaya terang, sebagian dari benang mulai mengeluarkan percikan api yang akan membakar mana mati tersebut. Melihat pemandangan ini membuat tubuh Lich meringis kesal. Ia dengan marah terus menghantam Lucas dengan kasarnya.


Beberapa ksatria sudah lumpuh karena dua bawahan Lucas sudah menghabisi mereka. Selain itu, para penyihir mulai kehabisan mana karena terus-menerus berurusan dengan Nike dan Jack. Keduanya mungkin lelah karena sudah memindahkan para budak namun kekuatan mana mereka masih terbilang cukup untuk mengalahkan para penyihir untuk saat ini.


Lagi dan lagi kemenangan berada di tangan Lucas. Ia sadar bahwa saat ini adalah saat yang tepat untuk menghancurkan Pangeran Kelima dari keserakahannya aka Selir Jina.


"Dengan ini aku pastikan bahwa dia tidak akan berani lagi menyentuh milik ku," gumam Lucas yang dapat di dengar jelas oleh Lich.


Lucas sengaja melakukan itu agar Lich sadar bahwa saat ini lawannya bukankah pria biasa melainkan orang yang memiliki kedudukan penting di Kerajaan.


Meski berbeda dengan pertarungan yang ada di Kerajaan Guira yang menggunakan Golem serta boneka mana, disini mereka hanya bertarung dengan diri sendiri tanpa bantuan dari hal-hal tersebut. Ini sedikit aneh bagi Lucas namun juga sebuah keuntungan besar baginya.


Lucas tanpa ampun terus menyerang Lich yang masih kebingungan dalam diamnya. Lucas sengaja melakukan itu agar pertarungan unggul di pihaknya. Ia juga merasa takut jika Lich memanggil bawahannya yang lain karena saat ini kekuatan pihaknya mulai menurun.


Mantra penghancuran mulai meledakan bagian kecil dari danau kesucian. Danau itu kini mulai meluncurkan mana mati kemana-mana. Beberapa ksatria yang terkena siraman mana mati langsung merasakan sakit yang begitu hebat.


Penyihir yang tidak masuk ke dalam penyihir hitam pun ikut merasakan imbasnya. Mereka seperti terkena racun mematikan saat mana mati menyentuh kulit mereka. Kulit itu melepuh seperti terkena larva yang panas, setelahnya kulit itu hanya meninggalkan tulang tanpa daging.


Benar-benar mengerikan bahkan untuk ukuran orang biasa mungkin saja mereka akan langsung meleleh tanpa sisa. Hal ini juga disadari oleh Lucas. Ia mulai mengerti mengapa di tempat ini bahkan tukang korban sangat sulit untuk ditemukan.

__ADS_1


Kesal dengan hal itu Lucas mulai memburu Lich seperti orang kesetanan. Ia seperti pemangsa yang sedang memburu seekor tikus tanah. Dengan tatapan dinginnya Lucas berhasil memotong beberapa tulang Lich sehingga kekuatannya mulai menurun secara signifikan.


Lich meluncurkan tombak apinya ke arah Lucas yang berhasil dihindari mutlak oleh Lucas. Beberapa bawahannya yang masih berjuang juga melakukan hal yang sama. Dengan memanfaaatkan mana mati yang terbang ke udara, mereka semakin bertambah kuat untuk sesaat.


"Kita harus berhenti, jika ini terus berlanjut maka kekuatan mereka tidak bisa dihentikan," bisik Nike saat penyihir hitam menyedot habis mana mati yang terbang di sekitarnya.


"Kau benar, kita harus mundur saat ini juga," balas Billy sambil melirik ke arah Lucas.


"Aku dan Jack akan mengurus sisa para budak sedangkan kalian, amankan tuan."


Mereka lalu melakukan apa yang Billy rencanakan. Dengan cepat mereka berlari menuju tujuannya masing-masing. Mudah bagi Jack dan Billy untuk menyelamatkan para budak karena saat ini mereka sudah kembali sadar seperti semula.


Mungkin saja kesadaran mereka terjadi karena saat ini Lich sedang dalam kondisi terburuknya sehingga sulit untuk mengendalikan ilusi secara bersamaan.


"Masuklah kemari, kita akan segera berteleportasi."


Para budak yang masih syok dengan apa yang terjadi disana segera masuk ke dalam portal bersamaan dengan Jack dan Billy di dalamnya. Mereka sudah tidak punya waktu banyak sebelum danau benar-benar memuntahkan seluruh isinya.


"Ini akan jauh lebih baik jika tuan tidak kehilangan akalnya," gumam Jack saat melihat Nike yang sedang bersusah payah untuk membuat Lucas sadar.


"Kita harus pergi," lirih Billy yang dijawab anggukan kepala oleh Jack.


Setelah portal selesai Jack langsung melafalkan mantra teleportasi dan mereka pun segera berpindah dari hutan tersebut. Beberapa ksatria yang melihat kejadian itu merasa iri sekaligus kesal.


Sisa kubah sudah mulai hilang secara perlahan namun tidak bisa hilang dengan sempurna meskipun pemiliknya sudah tidak ada disana. Kubah ini memang sengaja dibuat agar mana mati tidak menyebar ke luar hutan sehingga para rakyat yang lain tetap aman di rumah mereka.


Penyihir yang bisa berteleportasi langsung meninggalkan tempat tersebut tanpa membawa para ksatria yang kebingungan sedangkan penyihir hitam semakin gila dengan mana mati yang mereka serap.


Mana mati ini berasal dari rasa kekecewaan, keputusaan dan penyesalan korbannya sehingga siapa pun yang menyerap mana mati ini akan merasa gila karena efeknya yang luar biasa kuat.


Jika mereka tidak bisa mengontrolnya maka mereka akan menyerap mana mati tersebut secara berlebihan. Hal yang paling menyeramkan dari mana mati tersebut adalah jika penyerapannya terlalu banyak maka mereka akan meledak begitu saja sehingga butuh keahlian khusus untuk menangani mana mati ini.


Mana mati ini juga di produksi hanya untuk pembuatan Golem dan boneka mana dimana mereka membutuhkan asupan yang cukup sekaligus kekuatan keputusasaan yang besar agar Golem yang diciptakan semakin kuat nantinya.


"Sial, hentikan itu. Kalian tidak bisa sembarangan menyentuh mana mati keputusasaan. Hey..." teriak Lich saat beberapa penyihir tidak mendengarnya.


Dua diantara mereka mulai mengembung seperti balon dan meledak dengan mana mati yang muncrat kemana-mana. Dampaknya adalah para ksatria yang masih terkurung disana.


Mereka terus berteriak histeris saat mana mati yang meledak dari penyihir hitam menempel ke seluruh bagian tubuh yang tertutup baju besi itu. Mereka panik karena baju besi yang mereka gunakan langsung meleleh seperti terkena panas yang cukup tinggi.


Sayangnya para penyihir hitam terlalu terlena dengan mana mati tersebut sehingga mereka terus menyerap tanpa tahu batasnya.

__ADS_1


Nike dan Ariel hanya bisa mencibir akan keserakahan para penyihir hitam yang meledak satu demi satu. Mereka tentu saja terlindungi berkat Nike yang menggunakan sihir perisai di tubuh keduanya.


"Tempat ini sungguh kacau," lirih Ariel kesal.


"Kita tidak akan tahu apa yang terjadi setelah sihir penghancuran itu benar-benar aktif. Sebagiannya saja sudah sekacau ini apalagi jika seluruhnya hancur. Selain itu aku salut dengan pemikirannya tentang kubah ini," balas Nike sambil melihat kubah yang masih setia dengan bentuknya yang mulai menghilang secara perlahan.


Keduanya lalu mendekati Lucas dan menarik kedua lengannya. Lucas yang kesal lantas menghentakkan kedua tangganya tersebut namun pegangan Ariel dan Nike terlalu kuat untuk di lepas.


"Apa kalian ingin mati?" tanya Lucas penuh urgensi.


"Lepaskan aku!" Bentaknya sekali lagi.


"Tuan, ini sudah cukup. Jika kita terus berlama-lama disini maka kita akan mati bersamaan dengan mana mati itu," lirih Nike sambil menunjuk ke arah para penyihir hitam yang mengembung lalu meledak.


Lucas yang sadar akan maksud dari kedua bawahannya itu hanya bisa menghela napas kesal. Ia lalu menatap Lich yang masih sibuk dengan bawahannya yang mulai menghilang satu-persatu.


"Ini tidak akan lama."


Lucas lalu menggenggam erat pedangnya. Ia dengan cepat meluncur ke arah Lich dengan aura membunuh yang tajam. Lich yang sadar akan hal itu lantas melihat kebelakang punggungnya.


"Ugh...!!" pekik Lich saat ia terlambat menyadari bahwa jantungnya sudah tertusuk oleh pedang Lucas. Darah hitam mulai mengalir keluar dari pedang Lucas. Darah itu mengalir secara perlahan bersamaan dengan tusukan yang terus di perdalam oleh Lucas.


"Bagaimana rasanya?" tanya Lucas nakal.


"Aku tahu kau sangat menikmati ini bukan?" tanya Lucas sekali lagi dengan senyum liciknya.


"Kau, kau manusia sialan," teriak Lich dengan darah yang mulai keluar dari mulutnya.


"Kau tampak lucu saat ini, lihatlah tubuh abadi mu yang kesakitan ini. Sangat lucu," bisik Lucas tepat di telinga Lich tersebut. Lich yang merasakan sakit hanya bisa menatap tajam ke arah Lucas.


"Aku senang bertarung dengan monster seperti mu, tapi sayangnya aku harus pergi karena bawahan ku mulai khawatir."


Lucas tersenyum hangat pada Lich yang saat ini menurut Lich senyuman tersebut persis seperti senyum iblis yang sesungguhnya. Ia merasa jika pria dihadapannya ini adalah perwujudan dari seorang Raja iblis yang abadi. Iblis yang sangat mengerikan bahkan lebih buruk dari pada dirinya.


"Kau bahkan lebih buruk dari ku, ugh...!"


Lich tidak bisa menyelesaikan omongannya karena Lucas sudah menendang tubuhnya jauh ke dalam tanah. Tulangnya yang sebelumnya sudah hancur kini kembali hancur meski mana mati sudah membuatnya pulih kembali namun tekanan yang Lucas berikan berhasil membuat kulit tengkorak Lich tersebut hancur seperti gelas kaca.


"Mari pergi," seru Lucas bersamaan dengan munculnya sihir teleportasi di bawah kedua kakinya.


Kepergian Lucas bersamaan dengan meledaknya sebagian besar isi danau. Dimana seluruh ksatria yang terkurung mati secara menyedihkan.

__ADS_1


Para penyihir hitam terus mengembung dan meledak secara bergantian serta Lich yang mulai hancur secara perlahan. Semua pemandangan itu berhasil di tangkap oleh Lucas dan kedua bawahannya sebelum mereka benar-benar menghilang dari tempat tersebut.


__ADS_2