Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Danau Sinju pt 4


__ADS_3

"Titik balik dari kejadian adalah apa yang akan terjadi selanjutnya."


******************#####****************


"Nona, siapa pria itu?" tanya Dian saat mereka sudah keluar dari bar.


"Orang gila," jawab Senja malas. Ia lalu berjalan kembali menuju penginapannya untuk meredam amarah.


"Entah siapa dia tapi yang pasti aku sangat membencinya."


Tidak ada yang tahu alasan mengapa Senja begitu kesal pada Derick. Pasalnya ini adalah kali pertamanya bertemu dengan Derick namun entah mengapa rasanya begitu akrab dan karena hal itulah Senja membencinya.


Ia benci tentang fakta bahwa Derick terasa begitu akrab dengannya, rasanya seperti bertemu dengan pria yang selama ini ingin ia hindari. Pria yang menyebalkan yang dulu pernah membuat rencananya kacau. Ia benci pria keras kepala itu, sangat membencinya bahkan.


Setelah berhasil mereda emosinya, Senja lalu memutuskan untuk memanggil Lily datang. Kedatangan Lily berhasil membuat pikiran Senja sedikit jernih dan tenang.


"Saya sudah mendengar semuanya dari Ristia," seru Lily saat portal teleportasi menghilang.


"Itu bagus jadi aku tidak perlu bicara panjang lebar dengan mu."


Senja kemudian berdiri dari duduknya, ia lalu berjalan ke arah balkon untuk melihat aktifitas di luar.


"Kau bisa melihatnya sendiri dengan jelas saat ini," lanjut Senja saat melihat senyum hangat para penduduk.


"Mereka masih belum terpengaruh secara nyata namun aku penasaran siapa ilusionis yang telah melakukan ini semua?"


Lily terdiam beberapa saat ketika mendengar pertanyaan terakhir Senja. Ia juga tahu jika ilusi dibuat oleh para ilusionis namun siapa mereka, itu masih menjadi misteri.


"Saya yakin dia adalah orang yang hebat."


Senja membalikkan tubuhnya untuk melihat Lily. Ia kemudian menatap aneh ke arah Lily sambil berkata, "Aku melihat Lich."


Sontak Lily dan yang lainnya menjadi tegang. Mereka jelas tahu apa itu Lich dan selama ini mereka hanya mendengarnya saja. Mereka belum pernah melihatnya secara langsung, sehingga Lich bagi mereka hanyalah dongeng yang diceritakan pada anak-anak hanya untuk menakuti mereka.


"Apa kau yakin dengan ucapan mu?" tanya Kun dingin.


"Apa kau pikir aku ini tukang tipu?"


Senja tampak kesal dengan pertanyaan aneh yang keluar dari Kun, namun semua mata kini juga bertanya dengan ekspresi yang sama.


"Ah, sial," maki Senja kesal.


Senja lalu menceritakan apa yang ia alami saat pergi berkunjung ke danau itu. Ia menceritakan semuanya tanpa melewatkan satu pun.


Awalnya mereka tenang dalam mendengar cerita itu namun pada akhirnya tubuh mereka menjadi tidak terkontrol dengan urat biru mengambang di kulit mereka.


"Kita harus menyelamatkan mereka," teriak Kun kesal.


"Tidak bisa," balas Senja tegas.


Mereka semua kini menatap ke arah Senja dengan mata menusuk yang tajam. Mereka tidak percaya bahwa Senja begitu tegas dalam menolak permintaan Kun.


"Jika kita menolong para budak maka mereka akan terus mencari budak yang baru dan itu tidak akan ada habisnya."

__ADS_1


Perkataan Senja ada benarnya, jika ingin menghabisi sesuatu, itu harus dari akarnya bukan dahannya.


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita tidak mungkin pergi tanpa melakukan apapun bukan?" tanya Dian setelah diam untuk waktu yang lama.


"Kita akan menghancurkan danau itu."


Senja dengan dingin mengatakan bahwa ia berniat untuk menghancurkan danau namun mereka dengan tegas menolaknya.


"Nona, jika danau itu hancur maka kota ini juga akan hancur."


"Aku tahu, karena itu aku memanggilmu kesini."


Lily diam untuk sesaat, ia tahu bahwa kemampuannya adalah manipulasi tapi itu sama sekali tidak berguna dalam situasi seperti ini.


"Tidak perlu kau pikirkan, aku hanya ingin membuat mereka tidur selama waktu penghancuran. Selain itu, Ristia akan membuat kubah sebagai perisai untuk membuat cairan mana mati tetap terkurung di dalam. Kun dan Dian akan mengurus bagian ksatria sedangkan aku, aku akan membuat mantra sihir penghan...."


"Tidak bisa."


Dian dengan tegas memotong perkataan nona nya itu.


"Jika Nona melakukan mantra penghancuran maka tubuh Nona sendiri yang akan menjadi korbannya. Apa Nona lupa, jika saat ini tubuh Nona sedang tidak seimbang? Jika Nona dengan nekatnya melakukan hal itu, maka Nona akan pingsan lagi nantinya."


Kun dan Lily juga setuju dengan Dian, mereka tidak ingin Senja dalam kesulitan apalagi sampai harus pingsan selama beberapa hari. Namun Senja hanya mengacuhkan Dian serta kedua hewan sucinya itu.


"Ini tidak akan sakit, aku sudah mengatur jumlah pengeluaran mana untuk sihir penghancur jadi aku akan baik-baik saja."


Dian tampak frustasi dengan keras kepala nona nya itu. Hal yang sama juga dilakukan oleh Kun dan Lily.


"Baiklah, kalau begitu terserah anda saja."


****


Malam harinya Senja dan bawahannya segera menuju ke hutan tempat dimana danau kesucian itu berada. Mereka berteleportasi langsung ke danau menuju tempat yang sebelumnya mereka datangi.


Setibanya disana mereka bisa merasakan energi mana mati yang kuat. Energi ini bahkan lebih kuat dua kali lipat dari sebelumnya dan hal itu membuat hewan sucinya merasakan sakit yang hebat.


"Sial, ini bahkan lebih kuat dari yang aku bayangkan," bentak Lily kesal. Ia tampak bersusah payah dalam mengkondisikan dirinya dari kekacauan yang ada.


"Nona, sepertinya kita terlambat," bisik Dian pelan.


Senja sudah mengetahui hal itu sejak ia keluar dari teleportasi. Ia merasakan energi asing yang sedang menyerang satu sama lain dan itu membuat keadaan hutan tampak begitu kacau sekarang.


"Kita tetap dalam rencana awal."


Perkataan Senja membuat bawahannya menjadi tenang kembali. Mereka kemudian mengambil tempatnya masing-masing.


"Ristia, kau bisa memulainya sekarang."


"Baik Nona."


Segera kubah besar menutupi area tersebut. Terlihat begitu jelas jika mereka yang sedang bertarung tampak bingung namun Senja dengan santainya memerintahkan Dian dan Kun untuk ikut campur di dalamnya.


"Bunuh mereka yang mengganggu, entah itu musuh atau sekutu."

__ADS_1


Perintah Senja sebelum Kun dan Dian bergerak.


"Selain itu, Kun. Kau harus menyembunyikan identitas mu, apa kau paham."


Kun dengan santai tersenyum nakal ke arah Senja. Ia kemudian menghilang di dalam hutan yang gelap, hal yang sama juga berlaku untuk Dian.


"Hah, ini sedikit merepotkan. Sebenarnya aku hanya ingin membereskan ini dengan tenang namun mereka sudah mengacaukannya." batin Senja sambil melihat ke arah orang berjubah hitam.


Mereka tidak banyak hanya beberapa orang saja namun dilihat dari cara mereka bertarung, sepertinya mereka bukan orang sembarangan dan jelas Senja tahu itu.


"Aku tidak tahu mereka musuh atau bukan tapi yang pasti, jika mereka mengganggu rencana ini maka tidak ada pilihan lain selain melawan," gumam Senja saat ia sedang merapalkan mantra sihir penghancur.


"Aku harus cepat sebelum Lich menyadari keberadaan ku," lanjutnya dingin.


Disisi lain, para petarung terlihat kacau dengan adanya kubah raksasa yang sedang memenjarakan mereka. Beberapa dari mereka bahkan kehilangan konsentrasi sehingga tertusuk dan mati. Namun ada yang aneh, para pria berkerudung hitam malah terlihat tenang dan santai.


Mereka terus saja bertarung tanpa memperdulikan bahwa kubah semakin tinggi dan menutupi area hutan. Mereka malah tersenyum senang dengan adanya hal itu.


"Musuh baru tiba!" teriak ksatria pada salah satu penyihir yang sedang menyandera budak.


"Sial, hubungi tuan segera!" balas penyihir itu pada bawahannya sebelum kubah benar-benar menutup.


Beberapa penyihir lalu melakukan teleportasi namun hanya dua diantara mereka yang berhasil lolos keluar sedangkan yang lainnya sudah terhalang oleh kubah yang saat ini sudah menutup sempurna.


"Sialan, tetap pertahankan formasi."


Teriakan demi teriakan terus berdengung di dalam kubah, baik itu dari sekutu ataupun musuh.


****


Dian dan Kun yang sedang dalam samaran terus menyerang musuh satu-persatu. Mereka terlihat unggul karena memburu para ksatria yang menyebar hampir di seluruh area kubah. Posisi mereka terlihat jelas sedang melindungi sesuatu.


setiap kali ada ksatria yang hendak melewati bagian itu, mereka selalu membunuhnya. Ini adalah rencana yang dibuat oleh Dian dan Kun. Mereka tidak ingin ada yang mengacaukan nona nya saat sedang melakukan mantra penghancuran.


Lily sendiri bertugas untuk membuat para penduduk kota tertidur dengan mimpi yang panjang. Hal itu dilakukan agar mereka tidak sadar akan pertarungan besar yang tengah terjadi di danau kesucian.


Senja dengan sengaja menyuruh mereka untuk bersembunyi diluar kubah agar apa yang terjadi di dalam tidak akan mempengaruhi mereka nantinya. Selain untuk membuat posisi mereka aman, hal itu juga dilakukan agar musuh tidak bisa melacak sumber kekuatan dari kubah ini.


"Aku harus memperkuat kubah ini dengan racun," batin Ristia saat para ksatria mencoba menghancurkan kubah dari dalam. Mereka terlihat kacau karena setiap kali merusak kubah itu, bukannya hancur tubuh mereka malah terlempar jauh ke belakang.


Hal itu terus-menerus terjadi, seperti seseorang yang terkena sambaran listrik bertegangan tinggi hanya saja mereka masih hidup meski sudah terlempar beberapa kali.


"Mereka gigih juga."


Lily melihat adegan itu dengan tawa yang lebar namun tawa di sudut bibirnya tidak bisa bertahan lama karena beberapa menit kemudian, sebuah bayangan hitam datang dan mencoba untuk memaksa masuk ke dalam kubah.


"Sialan, mereka datang."


Lily lalu melakukan link dengan Senja yang dibalas dingin oleh nona nya itu.


"Ugh...!" pekik Ristia yang mencoba menahan bentuk kubahnya.


"Aku akan membantumu."

__ADS_1


Lily dan Ristia kini sedang bekerja sama dalam menjaga kubah agar tidak jatuh ke tangan musuh.


"Nona, kami harap kau baik-baik saja disana," batin Lily saat kubah mulai pecah di beberapa titik.


__ADS_2