Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E52] Kekuatan Baru


__ADS_3

"Terlahir kembali tidak membuat mu lupa akan masa lalu, hanya saja itu lebih baik dari pada sebelumnya."


*******************#####********************


Cahaya biru samar mulai menutupi bagian kosong yang sebelumnya hilang. Seperti melengkapi puzzle yang telah lama hilang. Rasanya begitu lengkap dan sempurna.


"Ah, aku merasa utuh sekarang,"


Senja merasa vitalitasnya kembali dan kesehatan tubuhnya sudah pulih sempurna. Ia merasa segar dan nyaman setiap kali menghirup udara disekitarnya.


Sebelumnya meski tidak berdampak besar namun setiap kali ia menghirup oksigen, ia merasa debu juga ikut terhirup bersamaan. Tapi kali rasanya beda, ia merasa nyaman dan lega.


"Aku melihatnya," gumam Senja saat melihat wujud meridiannya yang mulai terjahit rapi.


Meridian Senja berbentuk piringan hitam dengan tujuh lingkaran. Tiga lingkaran dalam sudah pulih sempurna. Tidak ada lagi lubang kosong yang menghiasi sisi nya.


"Tinggal empat lagi," lirih Senja saat hendak menjahit sisa lingkaran meridiannya. Namun pada saat hendak menjahit lingkaran keempat entah mengapa rasanya sangat sulit.


Senja merasa bola mana yang ia lihat menjadi lebih kecil dan sangat sulit untuk dikendalikan. Semakin Senja menarik mereka, semakin ia merasa terdorong dan menjauh.


"Nona...!"


Senja sedikit kaget saat ia merasakan sentuhan lembut di tubuh fisiknya. Senja ingin terus melanjutkan sesi latihannya ini namun suara itu semakin nyaring dan terus mengganggu nya.


"Hah,"


Perlahan Senja membuka kedua matanya, tepat saat itu ia melihat Vanilla yang tengah mengibaskan sayapnya pada wajah Senja.


"Vanilla," seru Senja sambil mengangkat tubuh Vanilla menjauh dari sisi wajahnya.


"Akhirnya nona bangun juga," lirih Vanilla lega.


"Saya sudah sejak tadi membangunkan nona, tapi anda bahkan tidak bergerak sedikit pun." keluh Vanilla sambil memperlihatkan sudut bulunya yang mengeriting karena kepakan berulang.


"Maaf, aku tadi sedang fokus."


"Baiklah, Vanilla maafkan."


Senja tersenyum lucu saat melihat pipi Vanilla yang memerah karena pujian. Ia lalu mengangkat Vanilla dan pergi dari bukit itu menuju sungai terdekat.


"Ada apa? Kenapa kau membangunkan ku?" tanya Senja saat ia hendak membilas wajahnya dengan air sungai.


"Nona belum makan siang kan? Sudah waktunya jadi Vanilla khawatir."


"Hmm...."


"Jika dipikir aku sudah lama berada di tempat ini, jika tidak salah sudah setengah hari artinya...."


Senja terdiam kaget saat mengetahui bahwa dirinya sudah berada di tempat ini selama 48 jam dunia nyata. Artinya ia sudah menghabiskan waktu selama dua hari penuh di ruang bawah tanah itu.


"Sial, pasti akan ada rumor baru lagi." gumam Senja yang kini merasa punggungnya dingin karena udara aneh yang sekelebat datang.

__ADS_1


"Nona, apa anda baik-baik saja?"


"Aku baik, dimana Kun?"


"Kakek Kun lagi tidur disana."


"Haih...,"


Senja hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan sifat Kun yang terus saja bersikap santai dan melalaikan tugasnya.


"Kakek tua itu perlu diberi pelajaran kayaknya."


Senja kemudian pergi menemui Kun yang tengah tertidur pulas di bawah pohon apel. Ia terlihat begitu nyaman dengan sinar mentari yang tengah menyinari area itu dengan sempurna.


"Kun...!" panggil Senja yang membuat bulu kuduk Kun merinding.


"Sial, apalagi ini?"


Kun mencoba untuk mengabaikan Senja dengan berpura-pura tidur namun bukan Senja namanya jika tidak tahu bahwa Kun sudah bangun beberapa saat yang lalu.


"Vanilla, apa yang sudah diajarkan Kun pada mu?"


"Hmm..., tidak banyak. Itu hanya mengontrol mana dan membuat beberapa teknik perlindungan saja."


"Oh begitu rupanya,"


Senja menatap balik ke arah Kun dengan ganas, ia menyipitkan matanya sambil melotot tajam ke arah Kun yang saat ini mulai berkeringat dingin.


"Baiklah, aku akan mengirimkan kalian berdua ke guild untuk terus berlatih dan fokus pada pertumbuhan."


"Tidak, tidak kami akan berlatih disini." seru Kun dengan panik.


"Kurasa akan lebih baik jika itu dilakukan di guild."


"Tidak, guild khusus untuk manusia bukan hewan suci seperti kami."


"Hoo..."


Senja tahu maksud Kun apa tapi dia sama sekali tidak berminat untuk menurutinya.


"Lalu?" tanya Senja dengan wajah tidak senangnya.


"Aku berjanji akan melatih Vanilla dengan baik di tempat ini sampai ia bisa mencapai level elit dalam waktu singkat."


"Apa kau yakin?"


"Tentu saja, Vanilla adalah hewan suci legendaris sama seperti ku, mengapa dia tidak bisa menjadi jenius dalam waktu dekat."


"Baiklah, tapi jika dalam waktu dekat tidak ada perubahan maka.."


"Tidak, selalu ada perubahan."

__ADS_1


"Baiklah waktu mu hanya 4 bulan sampai ujian tengah semester tiba dan jika ..."


"Tidak bisa, 4 bulan terlalu sedikit."


"..."


"Satu tahun, akan aku buat Vanilla menjadi level elit dalam satu tahun."


"Hmm, memang sulit untuk meningkatkan level dalam waktu empat bulan saja. Tapi satu tahun dari level tiga menjadi elit itu sudah luar biasa cepat."


"Baiklah, satu tahun. Aku akan menunggu perubahan Vanilla dalam satu tahun ke depan."


Kun terlihat lega sedangkan Vanilla hanya bisa melihat keduanya bingung. Ia tidak tahu apa itu level dan tingkatan sehingga baginya bukan masalah besar.


"Hah, tunggu kau terlihat lebih baik dari pada sebelumnya. Tingkatkan mu..."


Kun mulai menyelidik keadaan Senja, ia melihat wajah Senja mulai kembali sehat dan vitalitasnya mulai meningkat sempurna. Anehnya baru beberapa saat yang lalu Senja terlihat seperti mayat hidup tapi kini ia terlihat seperti bayi yang baru lahir.


"Benarkah? Apa kau bisa melihat level kekuatan ku juga?"


"Kau, aku yakin level mu sudah meningkat pesat tapi yang terlihat kau hanya naik satu tingkat."


"Maksud mu?"


"Sebelumnya aku melihat level mu berada di urutan empat tapi kini itu sudah meningkat menjadi urutan lima."


"Oh begitu, ternyata gelang ini mampu menutupi setengah dari kekuatan ku. Luar biasa."


Sejujurnya level senja memang meningkat tapi bukan satu tingkat melainkan dua. Dulunya Senja berada di level 6 awal dan sekarang setelah Meridian nya terjahit, ia sudah berada di level 8 tengah.


"Sekarang aku bisa melihat apa yang sebelumnya hanya cahaya putih saja." gumam Senja saat melihat warna mana alam yang kini terlihat begitu jelas.


Bukan lagi bola kecil yang tidak beraturan, kali ini Senja melihat mana lebih seperti aura yang menyelimuti hampir seluruh tubuh makhluk hidup.


Untuk manusia, mana ditubuhnya tergantung pada elemen dan levelnya. Semakin tinggi level maka semakin melimpah pula mana yang ada di tubuhnya.


Sedangkan alam seperti hewan, tumbuhan, dan udara terlihat seperti bayangan pelindung yang menyelimuti mereka seperti perisai.


"Aneh namun unik."


Setelah mengobrol lama mengenai mana dan berbagai warnanya di dunia ini, Senja lalu memutuskan untuk kembali ke asrama. Ia sudah lama meninggalkan akademi dan sudah saatnya untuk kembali.


"Seperti yang Kun jelaskan, setiap individu memiliki warna mana nya masing-masing." gumam Senja saat melihat Dian yang tengah membersihkan kamarnya.


"Nona, saya pamit undur diri dulu." seru Dian setelah seluruh ruangan dibersihkan olehnya.


"Tumben sekali anak ini pergi tanpa banyak bicara. Iya sih memang aku menghilang tanpa mengabarinya, tapi ini terlalu aneh."


"Baiklah," balas Senja acuh tak acuh.


"Saya senang melihat Nona kembali sehat seperti dulu," seru Dian sebelum portal sihir seutuhnya membawa ia pergi.

__ADS_1


Senja hanya diam melihat senyum manis Dian, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Selain itu sudah hampir seminggu ia tidak bertemu dengan sahabatnya.


"Pasti ada yang terjadi," gumam Senja sambil melirik area luar jendela kamarnya.


__ADS_2