Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E38] Perubahan Fisik Pt 2


__ADS_3

"Sakit hanyalah sebuah metamorfosis dari ketidakberdayaan."


*****************#####*****************


Keesokan paginya semua siswa pada membicarakan Senja. Mereka bahkan secara terang-terangan memperhatikan Senja bahkan sebelum ia keluar dari kamarnya.


"Aku penasaran dengan gosip semalam," bisik salah satu siswa yang berada di lorong kamar Senja. sangking penasarannya, ia bahkan rela bangun pagi hanya untuk melihat Senja keluar dari kamarnya.


"Siapa yang tahu jika wanita yang paling di cintai oleh para bangsawan menjadi menderita seperti itu," balas yang lain dengan ekspresi wajah senang.


Siapa pun di akademi ini pasti mengetahui tentang reputasi Senja yang selalu di kelilingi oleh anak dari bangsawan ternama. Terlebih lagi ia juga merupakan teman dari putri mahkota kerajaan Aruna.


Selain itu, ia adalah sahabat kesayangan putri Luna yang merupakan contoh baik dari kerajaan ini. Semua yang berteman dekat dengan Senja adalah kehebatan dari masing-masing keluarganya.


"Semua orang disini membencinya karena keberuntungan itu," batin salah satunya lagi.


Siapa yang tidak tahu jika dulunya Senja adalah anak buangan dari Duke Ari, atau bahkan sekarang pun masih menjadi seperti itu. Anak yang bahkan tidak memiliki ibu yang mendukungnya. Ia juga di abaikan oleh ayahnya sendiri.


Nasib Senja sungguh malang, terlebih lagi saat pertunangannya dengan pangeran kelima di batalkan, ia menjadi sangat gila. Rumor beredar jika ia melakukan bunuh diri di kediaman Winter, maka dari itu para siswa berfikir jika pertemanan yang terjadi saat ini adalah bentuk dari rasa kasihan.


"Mereka terlalu baik untuk berteman dengan penjahat sepertinya. Kalau saja itu bukan karena bunuh diri, maka sampai sekarang ia masih menjadi sampah." Gerutu salah satu siswa yang menunggu di lorong itu.


"Itu benar, kejahatan yang ia lakukan selama ini tidak akan bisa di tutupi hanya karena tindakan bunuh diri itu."


"Mungkin mereka berteman dengannya hanya karena rasa kasihan. Kita lihat saja nanti pasti ia akan di kerumuni oleh sahabatnya yang lain."


"Seperti ngengat," gumam siswa-siswa itu.


Mereka bahkan tidak tahu jika Senja sejak tadi mendengarkan seluruh ocehan mereka. Meski begitu, ia tidak mau ambil pusing atau pun berusaha untuk meluruskan kejadian yang ada. Menurutnya setiap orang memiliki hak nya sendiri untuk berpendapat.


Rasa iri dan cemburu menjadikan mereka buta akan kenyataan yang ada. Mereka bahkan tidak bisa melihat bahwa saat ini yang mereka bicarakan adalah seorang putri Duke yang posisinya lebih tinggi dari pada diri mereka.


Di kerajaan ini, hanya Senja lah putri Duke satu-satunya. Sebab kedudukan Duke hanya di miliki oleh Duke Ari seorang. Selain itu wilayah kekuasaan Duke Ari hampir sebanding dengan wilayah kerajaan Aruna. Mereka memiliki wilayah kekuasaan yang besar dengan pendapatan yang bagus.


Jika Duke Ari berkenan ia bahkan bisa membentuk kerajaannya sendiri dan bahkan ia akan sukses menjadi negara yang memiliki kekuatan dan kekayaan yang melimpah. Meski begitu Duke Ari sudah berjanji untuk setia pada kerajaan ini sehingga ia tidak bisa mengeluarkan diri begitu saja.


"Nona, apa saya..."


"Biarkan saja," potong Senja sambil melirik ke arah bawah jendela kamarnya."


Bahkan di luar asrama masih banyak siswa yang menunggu dirinya. Mereka melihat kamar Senja secara terbuka sambil bergosip ria mengenai dirinya.


"Tapi ini sudah keterlaluan!" pekik Dian kesal.

__ADS_1


"Diamkan saja, kita tidak perlu mengkonfirmasi apa pun." balas Senja saat duduk kembali ke meja riasnya.


"Mereka bahkan tidak pantas mendengar penjelasan dari ku," lanjutnya acuh tak acuh.


"Hah, Nona maka dari itu mereka sering seenaknya saja dengan anda," keluh Dian tidak senang.


"..."


Senja tidak mau ambil pusing, ia tahu sejauh apa pun ia menjelaskan. Mereka tidak akan pernah mengerti, sebab yang mereka inginkan adalah apa yang selama ini ada di bayangan mereka masing-masing.


"Menjelaskan situasi ku pada orang seperti itu hanya akan membuang waktu dan tenaga saja,"


Mereka hanya akan menganggap penjelasan Senja sebagai alasan semata. Mereka tidak akan pernah mau mendengarkan kenyataan yang ada karena yang mereka mau hanyalah kesalahan Senja.


Keinginan terbesar mereka adalah untuk melihat Senja menderita dan melihat betapa tidak berdayanya dirinya saat ini. Mereka itu seperti orang bodoh yang hanya berpegang teguh dengan kebodohannya sendiri.


"Mereka adalah tipe orang yang senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang. Jadi diamkan saja." Lanjut Senja saat melihat wajah Dian yang kesal.


"Baik Nona," balas Dian masih dengan ekspresi kesal.


Saat ini Senja sedang di dandani oleh Dian untuk menutupi kulit pucat nya. Tidak sampai harus mengubah seluruh fitur wajahnya, tapi itu cukup untuk menutupi bahwa ia sakit.


Jujur saja Senja sama sekali tidak sakit, ia malah merasa sangat sehat dan segar. Namun kondisi fisiknya sama sekali tidak mendukung hal itu.


Wajah yang pucat kini terlihat baik-baik saja dengan bedak yang menutupinya, bibir yang merah pucat kini terlihat hidup dengan sentuhan lipstik merah muda yang menghiasinya.


Meski hiasan ini terlihat biasa-biasa saja namun itu tidak bisa menutupi kecantikan alami Senja, bahkan tanpa make up pun Senja sudah sangat cantik. Biasanya Senja jarang berdandan atau bahkan tidak pernah menyentuh make up kecuali saat acara penting saja.


Hal itu dilakukannya karena ia malas berurusan dengan alat make up yang ribet. Namun kali ini ia harus memakainya sampai kondisi fisiknya kembali seperti dulu lagi.


"Ayo kita keluar," seru Senja setelah semua persiapannya selesai.


"Meski wajah Nona terlihat baik, tapi itu tidak bisa menutupi kondisi tubuh anda yang lemah. Tangan, kaki dan bagian yang terbuka lainnya masih menampakkan kulit pucat seperti zombie." batin Dian sedih.


Ketika Senja hendak membuka pintu kamar, Seketika Dian menutupnya kembali. Ia baru sadar jika Nona nya akan terlihat lebih aneh lagi dengan penampilan seperti ini.


"Ada apa?" tanya Senja penasaran.


"Nona, apa Nona tidak merasa aneh?" tanya Dian kembali.


"Apa maksud mu?"


"Begini Nona, saat ini wajah Nona memang terlihat baik-baik saja, tapi kondisi fisik Nona yang lainnya terlihat sangat buruk."

__ADS_1


Mendengar perkataan Dian, Senja pun segera memperhatikan kondisi fisiknya sendiri. Memang agak berlebihan jika dikatakan bahwa ia baik-baik saja, namun untuk dikatakan sehat pun rasanya agak memalukan.


"Jika kau keluar seperti itu, orang akan berfikir kau terkena kutukan mematikan saat ini." seru Kun yang sedari tadi hanya diam saja.


"Itu benar, sebaiknya Nona berganti pakaian dengan yang lebih tertutup. Selain itu ini sudah masuk musim gugur dimana suhu udara mulai semakin dingin." balas Dian sambil mempersiapkan pakaian baru Senja.


"Hah, ini sangat merepotkan. Apa tidak ada sihir untuk ini?" tanya Senja pada Kun.


"Sihir memang bisa di gunakan untuk manusia namun itu tidak akan bisa mengubah kondisi fisik seutuhnya. Jika kau menggunakan sihir penyamaran di akademi maka itu akan membuat orang lain lebih curiga pada mu." jelas Kun acuh tak acuh.


Melihat Kun yang seperti itu membuat Senja sedikit kesal. Tapi ia juga sadar bahwa hal itu hanya akan membuat dirinya semakin sulit bergerak di akademi ini.


"Ini Nona," Dian memberikan setelan pakaian musim gugur yang cocok dengan kondisi Senja saat ini.


Pakaian itu tidak kalah modis dari pakaian yang biasa Senja kenakan, hanya saja kali ini pakaian itu terlihat lebih tertutup dari pada sebelumnya.


"Ini jauh lebih baik dari pada pakaian sebelumnya," lirih Dian saat Senja sudah mengganti pakaiannya.


Pakaian itu berlengan panjang dengan motif renda abu-abu yang unik. Renda itu berbentuk naga dengan taburan bunga di sekitarnya. Untuk bagian bawah, Senja memakai celana panjang berwarna hitam.


Celana itu sangat cocok dengan pakaian abu-abu Senja yang sesuai dengan warna salah satu rambutnya. Sedangkan sepatu yang digunakan Senja adalah sepatu kulit hitam yang sesuai dengan setelannya saat ini.


"Yah, tidak ada salahnya untuk mengubah setelan." gumam Senja saat sedang memperhatikan dirinya sendiri di cermin.


"Sekarang Nona bisa keluar dengan nyaman." seru Dian puas.


"Baiklah, ayo pergi."


Senja lalu keluar dari kamarnya, dan seperti yang diduga ia melihat kerumunan siswa yang sudah siap melihat penampilan dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Untung saja Nona mau memakai setelan yang berbeda," batin Dian saat melihat kerumunan siswa yang sedang bergosip mengenai nona nya.


"Lihat itu, dia aneh bukan." bisik siswa yang baru saja di lewati oleh Senja.


"Benar, mau bagaimana pun apa yang ia pakai terlihat sangat jelek." balas yang lain.


Mereka tampak sangat cemburu dengan Senja. Mereka tahu bahwa Senja cantik namun mereka tidak mau mengakuinya. Mereka benci dengannya terlebih lagi saat melihat Senja berpakaian modis seperti itu.


"Mereka melupakan kondisi fisik ku hanya karena aku memakai pakaian seperti ini." batin Senja sambil tertawa sinis.


Di balik kerumunan itu, ada salah satu siswa yang sedang menggigit kukunya dengan ekspresi wajah marah, kesal, benci dan segala macam kecemburuan. Ia tampak tidak bahagia saat melihat Senja yang keluar dari kamarnya dengan kondisi baik-baik saja.


"Sial, aku mungkin salah dengar mengenai gosip semalam tapi aku tidak akan menyerah begitu saja." gerutunya sambil memperhatikan Senja yang menghilang di balik lorong.

__ADS_1


"Lihat saja, kau pasti akan mati." lanjutnya sebelum pergi meninggalkan tempat itu.


__ADS_2