
"Tujuan adalah hal terpenting dalam memulai suatu tantangan baru."
******************#####*****************
Malam itu saat semua orang sedang asik tertidur pulas, ada seorang gadis yang tengah berkutat dengan suratnya. Gadis itu tampak kesal sesaat namun sedetik kemudian senyum samar muncul di sudut bibirnya.
Gadis itu kemudian pergi meninggalkan kamarnya dan masuk ke dalam gerbong kereta. Ditengah malam yang gelap gerbong kereta melaju kencang menuju akademi.
Sesampainya di akademi, gadis itu dengan segera pergi menuju gedung asrama lantai tiga. Dengan satu ketukan pintu itu terbuka dan memperlihatkan sosok pelayan ramping.
Pelayan itu kemudian menyambut sang gadis dan mengambil mengambil mantelnya. Ia mempersilahkan sang gadis untuk beristirahat dan melepas penatnya.
"Dian, sampaikan pesanku ini,"
Senja kemudian melepaskan salah satu anting miliknya dan menyerahkannya pada Dian bersamaan dengan sepucuk surat yang telah ia siapkan sebelumnya.
"Sisanya kau tahu harus melakukan apa bukan?"
Dian dengan senyum malasnya mengambil pesanan itu. Ia lalu keluar dari kamar dan segera pergi menemui Eza di sisi gedung lainnya.
Senja dengan malas membuka sepatunya sembari menatap jadwal ujian. Disana tertera lima pelajaran wajib seperti teknik pertarungan dasar, teknik pertahanan dasar, teknik penyembuhan dasar, teknik analisa tempur dasar, dan teknik manipulasi elemen dasar.
Kelima teknik ini merupakan mata pelajaran wajib tahun kedua. Dimana para siswa harus lulus dengan nilai sempurna pada mata pelajaran ini.
Ujian kali ini berlangsung selama lima belas hari. Lima hari pertama dihabiskan dengan ujian praktek bersama para profesor pengajar. Sedangkan sisa hari lainnya akan digunakan untuk kakak tingkat.
"Meski terlihat sulit tapi faktanya kelima pelajaran itu sangatlah mudah karena masih bersifat dasar." seru Senja sembari merebahkan dirinya ke kasur.
"Yang menjadi masalah bagi ku hanyalah mendapatkannya saja." lanjut Senja dalam hatinya.
Senja kembali memfokuskan visinya pada jadwal ujian. Terdapat lima mata pelajaran wajib yang ditampilkan disana beserta dengan waktu dan lokasi ujian.
"Teknik pertarungan dasar dijadwalkan pada hari senin pukul sembilan pagi. Terdapat dua metode pengujian yaitu ujian teori sihir dan ujian praktek."
Sejujurnya tidak hanya teknik pertarungan dasar melainkan seluruh mata pelajaran menggunakan kedua metode tersebut. Hal ini dilakukan untuk melihat kemampuan siswa dari dua sisi, yaitu pemahaman teori dan keahlian penggunaan sihir melalui praktek.
"Lady, anda harus segera tidur karena lima jam lagi anda sudah harus berada di kelas untuk ujian." seru Khalid saat melihat langit di luar jendela.
"Aku tahu,"
"Lady, anda tida...."
"Iya, iya aku tahu. Aku akan segera tidur." balas Senja sembari memejamkan matanya.
Beberapa menit kemudian suara napas teratur mulai terdengar dari atas kasur. Khalid yang menyadari bahwa nona nya sudah tidur segera mematikan lampu dan membiarkan suhu di dalam ruangan tetap hangat.
****
Gedung sihir
Senja yang masih mengantuk dituntun pelan oleh Khalid menuju kelasnya. Ia dengan malas memasuki kelas dan duduk di bangku belakang.
Bangku itu berada di sudut kanan kelas yang berada tepat di depan jendela. Senja sengaja memilih kursi tersebut agar tubuhnya bisa mendapatkan asupan sinar mentari pagi yang hangat.
Selain itu, pemandangan luar jendela juga menyenangkan untuk dilihat. Terdapat taman kecil dengan beberapa bangku tertata rapi di setiap circle nya.
"Uhm, aku jadi teringat kejadian waktu itu." gumam Senja saat melirik lorong yang berada tepat di samping taman.
Senja kemudian mengarahkan pandangannya pada Amir yang duduk empat baris kursi di depannya. Amir terlihat sangat sibuk dengan buku teori pertahanan dasar di atas mejanya.
"Dia terlihat rajin tapi aku tidak yakin jika dia benar-benar membaca seluruh bagian buku itu." seru siswa perempuan yang berada di samping Senja.
"Alisa," lanjut siswa perempuan itu sembari mengulurkan tangan kanannya.
"Senja," balas Senja sambil menyambut uluran tangan tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak suka duduk di depan, terlalu tegang dan kompetitif." seru Alisa sekali lagi.
"Oh, begitu."
"Kau sendiri kenapa duduk disini? Bukannya kau selalu berada disana ya?"
Alisa menunjuk kursi langganan Senja selama ia belajar di kelas ini. Faktanya kursi itu adalah kursi favorit Senja karena berada tepat di tengah. Kursi yang tidak terlalu menonjol dan tidak terlalu mendapatkan tekanan dari para profesor.
"Tidak, aku hanya bosan saja duduk disana."
"Oh begitu, baguslah. Sesekali kita perlu mencari suasana baru."
"Benar, selain itu kenapa kau berbicara dengan ku? Bukannya kau..."
"Aku tidak membenci mu, yang membenci mu itu mereka." potong Alisa sambil menunjuk salah satu barisan kursi yang berada tidak jauh dari mereka.
"Aku ini netral, aku tidak terlalu suka ikut campur urusan orang lain." lanjut Alisa sebelum membuka buku catatannya.
"Selain itu, kau harus berhati-hati dengannya." bisik Alisa sembari mengangkat pandangannya pada Amir.
"Dia sangat licik," lanjutnya dengan ekspresi wajah benci.
"Kau mengenalnya?" tanya Senja penasaran.
"Tidak, aku hanya tahu jika dia itu yatim piatu."
"Maksudnya?"
"Amir berasal dari panti asuhan, semua siswa di tempat ini membencinya karena dia sangat arogan."
"Apakah itu dapat dipercaya?"
"Bukankah Amir sangat pemalu dan pendiam." lanjut Senja dalam hatinya.
"Tentu saja, apa kau tahu jika dia sering berkelahi dengan beberapa siswa di angkatan kita."
"Tidak, Amir adalah seorang pem..."
Perkataan Alisa terhenti saat ketukan ringan menyapa kelas itu. Terlihat jelas diambang pintu jika Prof Philip tengah memandang siswa dengan senyuman aneh di bibirnya.
"Ingat, kau harus berhati-hati dengannya." lirih Alisa sebelum fokus dengan Prof Philip yang tengah mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
Seketika seluruh jendela tertutup rapat, tidak ada seorang pun yang dapat melihat pemandangan di luar jendela, bahkan sinar mentari saja tidak bisa menerobos masuk.
Di dalam kegelapan, Senja dapat mendengar suara Alisa yang kaget. Tidak hanya Alisa bahkan beberapa siswa lainnya mulai berteriak bingung.
Senja dengan malas melafalkan sihir lightning untuk menerangi sisinya. Ia melakukan itu untuk melihat keadaan Alisa dan sekitarnya.
Seketika suara tepuk tangan menggema di ruangan itu bersamaan dengan munculnya pencahayaan. Terlihat jelas wajah nakal prof Phillip yang tengah tersenyum manis pada Senja.
"Sangat bagus," puji Prof Philip yang membuat seluruh siswa menatap Senja.
"Dalam keadaan terdesak, kalian harus tetap tenang dan berpikir logis, jangan gegabah apalagi harus berteriak."
Prof Philip memulai kembali kebiasaannya dalam sarkastik. Ia tidak segan-segan menyindir siswa yang menurutnya tidak kompeten. Bahkan tanpa ragu Prof Philip akan mengusir siswa dari kelas jika ia sudah tidak suka.
"Apa yang dilakukan Senja adalah contoh bagus yang bisa kalian terapkan. Jika musuh membuat serangan seperti tadi, yang harus kalian lakukan adalah tetap tenang sembari melafalkan mantra sihir untuk segera mencari tahu lokasi mereka. Jika kalian terus diam seperti batu, kalian bisa saja terbunuh sebelum bisa melihat cahaya lagi."
Prof Philip menjelaskan dengan detail bahaya yang dapat terjadi dalam situasi seperti itu. Ia kemudian menunjuk siswa yang berteriak satu-persatu.
"Kalian bisa keluar," lanjutnya sambil menunjuk kearah pintu.
"Kalian telah gagal dalam ujian ini, itu sudah terlihat dari cara kalian menangani situasi tadi, cukup mengecewakan."
"Tapi prof itu tidak adil, kami bahkan bel..."
__ADS_1
"Tidak perlu, kalian sudah gagal sebelum memulai ujian. Saya khawatir kalian akan terluka jika tetap diteruskan. Selain itu kalian masih bisa berjumpa kembali dengan saya di semester berikutnya."
Senyum manis Prof Philip bahkan membuat seisi kelas merinding. Ia dengan tegas menolak permohonan para siswa dan langsung mengusir mereka dari kelas.
"Alisa, kau baik-baik saja?" tanya Senja saat Alisa sedang membenahi bukunya.
"Tak apa, Prof Philip memang gila. Selain itu memang sejak awal aku tidak berniat untuk mengikuti ujian ini." balas Alisa sambil memamerkan gigi putihnya.
Alisa kemudian keluar dari kelas dan segera pintu kelas tertutup rapat. Kemudian Prof Philip segera membagikan selembaran kertas ujian kepada siswa yang tersisa.
"Dari 25 siswa hanya 15 dari mereka yang berhasil mengikuti ujian karena insiden tadi." gumam Senja saat kertas ujian sudah berada di mejanya.
"Sekarang, kalian bisa memulainya." Seru Prof Philip setelah semua siswa mendapatkan kertas ujian.
Setelah mendengar penjelasan Prof Philip sebelumnya Senja kemudian membuka lembar ujian tersebut. Disana terdapat tiga soal dengan tiga bentuk teori pertarungan yang berbeda.
"Pertama bagaimana menyelesaikan pertarungan jika musuh menggunakan sihir pertahanan, kedua jelaskan metode pertarungan jika musuh menyerang secara tiba..."
Perhatian Senja terhenti saat sedang membaca soal kedua. Ia merasa bahwa pertanyaan pada soal kedua ini sangat mirip dengan apa yang dilakukan Prof Philip saat pertama kali memasuki kelas.
Merasa ada yang aneh, Senja mulai memperhatikan Prof Philip. Ternyata tidak hanya Senja tapi beberapa siswa juga sedang memperhatikan Prof Philip.
Diam beberapa saat sampai salah satu siswa mulai melakukan kode mata dengan beberapa temannya. Setelah mendapatkan anggukan pasti, ia pun segera mengangkat tangannya.
"Prof..."
"Kerjakan saja," potong Prof Philip seolah tahu apa yang ingin ditanyakan oleh siswa itu.
Senja yang melihat reaksi santai prof Philip mulai menyadari alasan pengusiran siswa sebelumnya. Ia merasa bahwa perkataan Prof Philip mengenai gagal ujian bukanlah bohongan semata.
"Aku tidak tahu harus bersyukur atau menangis." gumam Senja saat melihat soal tersebut.
Dengan perasaan campur aduk Senja mulai menjawab seluruh soal tersebut. Ia merasa yakin jika ujian tengah semester adalah ujian tersulit yang pernah ada di akademi ini.
"Pantas saja tidak banyak siswa yang mengikuti ujian ini."
Senja kemudian melanjutkan kembali menjawab soal ujian. Ia dengan tenang menjawab seluruh soal satu-persatu.
Tanpa Senja sadari waktu sudah menunjukan pukul 11 siang. Saat Senja hendak menuliskan paragraf terakhir dari teori sihirnya, tiba-tiba saja lembar soal dan jawabannya tertarik terbang.
"Ah, apa ini?"
Reflek Senja bertanya saat melihat lembar jawabannya sudah ditarik pergi menuju meja Prof Philip. Tidak hanya Senja hal itu juga terjadi pada seluruh siswa disana.
"Waktu kalian sudah habis." seru Prof Philip sembari menunjuk jam yang berada tepat di hadapannya.
Jam itu tidak bisa dilihat siswa kecuali mereka membalikan badan. Jam itu sengaja diletakkan di belakang kursi siswa agar mereka lebih fokus pada pembelajaran ketimbang berapa lama waktu belajarnya.
"Hah,"
Senja hanya bisa menghela napas panjang saat melihat lembar jawabannya menghilang. Sejujurnya Senja tidak begitu takut karena seluruh soal sudah ia jawab sesuai dengan teori yang berlaku.
Prof Philip kemudian berdiri dari kursinya sembari meletakkan seluruh soal dan jawaban di kotak spesial. Kotak itu mampu menyimpan barang dan hanya bisa dibuka oleh si pemiliknya saja
"Tahap selanjutnya adalah ujian praktek dan kalian hanya diberi waktu 30 menit untuk istirahat." Seru Prof Philip sebelum keluar dari kelas.
"30 menit, sepertinya cukup untuk makan siang."
Senja kemudian pergi keluar bersamaan dengan siswa lainnya. Ia tidak ingin membuang waktu berharganya dan telat makan siang karena hal yang tidak penting.
"Senja," panggil sebuah suara yang membuat lamunan Senja buyar.
"Sial, makan siang ku." keluh Senja pelan sebelum membalikkan badannya.
Tepat di hadapannya sudah ada Amir yang tengah menggandeng dua buah sandwich yang terlihat lezat.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Senja sambil sesekali melirik ke arah sandwich yang dibawa Amir.
"Aku hanya ingin memberikan ini pada mu."