
"Kabur dari masalah bukan sebuah solusi melainkan hanya kecendrungan untuk ."
******************#####*****************
Wilayah tengah merupakan wilayah yang terdapat di bagian selatan Akademi. Wilayah tersebut hanya bisa diakses melalui hutan musim gugur, dimana hutan tersebut dijaga ketat oleh staf pengawas dan guardian elit.
Ada beberapa kasus dimana siswa wilayah luar mencoba memasuki wilayah tengah tanpa izin. Kasus yang paling terkenal adalah saat keempat siswa tahun pertama mencoba untuk menipu staf penjaga dan mencoba memasuki hutan musim gugur.
Awalnya tindakan mereka berjalan dengan lancar, namun ketika mereka sudah berada di tengah hutan, kejadian aneh pun menimpa keempatnya.
Dimana saat itu mereka terjebak dalam sebuah kutukan batu. Kutukan itu diberikan oleh Medusa karena mereka dengan ceroboh menatap mata Medusa saat hendak bertarung dengannya.
Medusa adalah makhluk mitologi Yunani yang memiliki rambut seperti ular dan kemampuan yang dapat membuat tubuh lawan menjadi batu saat menatap kedua matanya secara langsung.
Alhasil keempat siswa tersebut harus mendapatkan perawatan khusus dari para guardian. Mereka juga di skors dan dipulangkan ke rumah masing-masing untuk mendapati perawatan lebih lanjut.
Selain perawatan fisik mereka juga harus melakukan perawatan mental. Dimana kedua hal tersebut membuat mereka tidak dapat mengikuti kegiatan akademi selama satu tahun.
Oleh karena itu Senja dan Zakila memiliki keuntungan besar karena memiliki sahabat seperti Luna. Dimana mereka bisa dapat masuk dengan mudah karena akses wilayah tengah yang dimiliki oleh Luna.
Selain itu Senja juga menjadi lebih leluasa dalam menyusun rencananya. Dimana ia berencana untuk menjebak beberapa senior sehingga dapat memancing nomor 46 keluar dari sarangnya.
Meski metode Senja sedikit kasar tapi hal tersebut adalah salah satu jalan keluar terbaik dari banyaknya jalan keluar yang telah dipikirkan Senja.
"Lagi pula siapa yang tahu jika dia termasuk dalam mereka." batin Senja puas.
Senja kemudian melirik ke kanan dan kiri untuk melihat lebih jelas situasi hutan musim gugur. Saat ini Senja dan keempat sahabatnya sedang mengantri untuk memasuki wilayah tengah.
Dan tentu saja dari banyaknya siswa yang mengantri hanya mereka berlima saja siswa tahun pertama disana. Rata-rata siswa yang masuk ke wilayah tengah berada di tahun kedua ataupun ketiga.
Sangat jarang bagi siswa tahun pertama memasuki wilayah tengah tanpa adanya pendamping dari senior mereka. Jadi wajar saja jika saat ini banyak mata yang sedang mengarah pada kelompok Senja.
"Kita sudah bisa masuk sekarang," seru Luna setelah kembali dari pos pemeriksaan.
Setelahnya mereka lalu mengikuti Luna yang sedang dibimbing oleh salah satu staf penjaga menuju pintu masuk hutan. Awalnya semua terasa biasanya saja namun ketika mereka sudah beberapa langkah menjauh dari bibir hutan, mereka pun tersadar akan satu hal.
Mereka sadar bahwa suara bising yang selama ini mereka dengar tiba-tiba saja menghilang begitu cepat. Hal itu terasa begitu janggal sehingga tanpa sadar Senja dan ketiga temannya yang lain menoleh ke arah belakang.
Namun anehnya hanya Luna seorang sajalah yang terlihat biasanya saja. Ia kemudian menjelaskan aturan lain yang dimiliki oleh hutan musim gugur tersebut.
"Kita dipindahkan oleh portal, sehingga wajar saja jika saat ini dibelakang kita bukan lagi para senior yang mengantri untuk masuk melainkan hutan."
Penjelasan Luna cukup membantu sehingga keempatnya kini mulai paham. Mereka juga menyadari bahwa alasan mengapa hutan musim gugur sangat berbahaya karena jebakannya yang membingungkan.
"Entah mengapa aku bersyukur bisa berteman dengan mu," celetuk Maya tiba-tiba.
Hal tersebut tentu saja membuat Luna heran kebingungan. Ia tidak menyangka jika Maya dapat berkata seperti itu, dan tidak hanya Luna bahkan Senja dan Zakila pun ikut keheranan dengan ucapan Maya.
"Kenapa?" tanya Maya bingung.
"Ada apa dengan kalian? Mengapa melihat ku seperti itu?" tanya Maya sekali lagi.
"Sudahlah, lupakan saja." lirih Luna sebelum membimbing mereka menuju jalan keluar hutan.
Setelah berjalan selama sepuluh menit mereka pun akhirnya keluar dari hutan musim gugur. Di luar tampak biasa saja, tidak ada hal spesial seperti yang mereka bayangkan ketika mendengar wilayah tengah.
Perbedaan yang paling mencolok hanyalah konsentrasi Mana di wilayah tengah lebih tinggi 15% dari wilayah luar. Selain itu ada juga beberapa monster liar yang berkeliaran bebas di sekitaran wilayah tengah.
Monster tersebut memiliki grade antara F dan E. Sehingga hanya mereka yang sudah berada di level lima keatas yang dapat membunuh Monster-monster tersebut. Selebihnya semuanya terasa sama saja.
"Tempat ini sangat cocok untuk berlatih," gumam Muna yang mendapatkan anggukan dari keempatnya.
__ADS_1
"Benar, tapi kita masih belum bisa membunuh mereka secara mandiri, kita membutuhkan senior pendamping untuk itu." timpal Luna sembari menunjuk salah satu kelinci hitam yang tengah bermain dengan burung camar tidak jauh dari mereka.
Luna kemudian menjelaskan bahwa alasan mengapa siswa wilayah luar dilarang masuk ke wilayah tengah karena monster-monster tersebut dapat membunuh secara instan.
Terkadang siswa tidak cukup waspada karena melihat para monster yang hanya diam dan berkeliaran dengan tenang namun ketika mereka sudah diganggu maka besar kemungkinan monster-monster itu dapat berubah menjadi ganas sangatlah tinggi.
"Aku mengerti," seru Muna paham.
"Mereka terlihat cukup imut." gumam Zakila pelan saat melihat monster kelinci yang tengah berguling-guling di rerumputan.
"Zakila, jangan konyol." seru Maya yang tidak sengaja mendengar gumaman Zakila. Ia pun dengan keras segera memegang erat pundak Zakila.
Zakila yang panik reflek membalikkan tubuhnya dan tersenyum kecut. Ia dengan polos menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya melepaskan tangan Maya dari pundaknya.
"Jangan MACAM-MACAM!" bisik Maya pelan sebelum melepaskan cengkeramannya dari pundak Zakila.
Melihat interaksi keduanya membuat Senja tanpa sadar tertawa. Ia tahu jika monster grade F dan E dapat ia bunuh dengan mudah. Namun ia tidak bisa mengatakannya dengan lantang karena takut mereka akan mencurigainya.
"Mari kita pergi," lirih Luna sambil melerai pertikaian Zakila dan Maya.
Setelahnya mereka pun pergi menuju gerbang masuk wilayah tengah. Di pintu gerbang terdapat dua guardian yang sedang berjaga. Guardian tersebut kemudian meminta ID Card izin masuk wilayah tengah.
"Kenapa kita diperiksa lagi?" tanya Zakila bingung saat Luna sedang menunjukkan ID card nya.
"Pernah ada satu kasus dimana siswa wilayah luar berhasil melewati hutan musim gugur dan menipu para penjaga." jawab guardian penjaga.
Guardian itu tidak lupa juga menjelaskan aturan dan syarat-syarat yang berlaku selama siswa wilayah luar memasuki wilayah tengah. Dimana mereka dilarang untuk membunuh monster yang berkeliaran disekitaran wilayah tengah tanpa seorang pendamping.
Setelah mendengar penjelasan guardian, mereka pun diizinkan masuk ke dalam wilayah tengah. Setelah beberapa perbincangan ringan akhirnya merek pun berpisah sesuai dengan tujuan masing-masing.
"Kita akan bertemu kembali di pintu gerbang pada sore hari nanti." seru Luna sebelum mereka berpisah.
"Baiklah, tenang saja." balas Senja yang dijawab anggukan kepala oleh Muna.
****
Senja terus menyusuri lapangan latihan, ia mencari senior dengan nomor punggung 46 namun seperti yang sudah ia duga bahwa senior tersebut tidak akan mudah ditemukan.
"Senja, sepertinya kita tidak akan berhasil hari ini." seru Muna setelah kembali dari berkeliling lapangan latihan.
"Masih ada waktu," balas Senja pelan.
"Benar, kalau begitu aku akan pergi kesana."
Muna menunjuk lapangan latihan yang berada di ujung gedung pertahanan. Setelahnya mendapatkan anggukan dari Senja, Muna pun segera pergi berlari menuju lapangan tersebut.
Setelah kepergian Muna, Senja pun berbalik arah. Ia berencana menuju gedung misi dimana biasanya para senior menerima misi dari pihak akademi.
Gedung misi sengaja didirikan di wilayah tengah untuk meminimalisir kan keributan dari para senior. Sebab kebanyakan dari mereka akan berdebat dan meributkan hal yang tidak penting sehingga dapat menggangu pelatihan siswa lain di wilayah dalam.
Oleh sebab itu gedung misi dibangun di wilayah tengah. Lagi pula lokasi bangunan tersebut bersebelahan dengan portal menuju wilayah dalam. Dan tentu saja untuk masuk ke wilayah dalam membutuhkan akses khusus yang jauh lebih rumit dari pada akses masuk wilayah tengah.
Ketika sampai disana Senja melihat beberapa senior yang sedang menunggu giliran untuk menerima komisi dari penyelesaian misinya. Ada juga beberapa senior yang sedang berdebat dengan rekannya untuk memilih misi yang sesuai.
"Kacau sekali," batin Senja lelah saat melihat keributan di depan matanya itu.
Senja kemudian berjalan lurus menuju kursi tunggu disisi kirinya. Sesampainya disana Senja dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang dibicarakan oleh para senior tersebut.
Sebagian besar pembicaraan membahas tentang ujian tengah semester sedangkan sisanya sedang membahas tentang tanaman herbal yang baru-baru ini muncul di hutan Dalas.
"Tumbuhan itu sangat mahal dan aku dengar ada sekelompok bangsawan yang sedang mencarinya juga." seru senior yang berada lima langkah dari Senja.
__ADS_1
"Jika kita berhasil mendapatkannya maka tidak hanya point prestasi melainkan kita juga akan mendapatkan rekomendasi dari para bangsawan itu." timpal temannya dengan senyum sumringah.
Mendengar perdebatan senior tersebut dengan temannya membuat Senja memiliki pemahaman baru. Ia baru saja menyadari bahwa jika rakyat biasa yang sudah lulus ingin menjadi ksatria resmi maka ia harus memiliki surat rekomendasi dari pihak akademi atau pun pihak bangsawan terkait.
Maka dari itu wajar saja jika banyak senior memanfaatkan situasi ujian tengah semester untuk mendapatkan dukungan dari anak bangsawan yang belajar di akademi ini. Memang miris tapi itulah kenyataannya.
"Sayang sekali mereka terlalu terikat dengan aturan padahal kenyataannya hidup bebas lebih menyenangkan dari pada harus mengabdi di bawah kaki bangsawan." batin Senja seraya mengingat wajah ayah dan saudari perempuannya.
Setelah cukup puas mendengar informasi dari para senior tersebut, Senja pun memutuskan untuk kembali menemui Muna. Ia khawatir Muna akan mencarinya ke seluruh area sehingga akan menimbulkan keributan yang mencolok.
Ketika Senja baru beberapa langkah hendak meninggalkan gedung misi, ia tidak sengaja berpapasan dengan sosok wanita muda berambut coklat. Wanita itu bermata hazel dengan tinggi 170 cm.
"Hmm..." gumam Senja sembari menolehkan pandangannya pada wanita tersebut.
Disaat yang bersamaan wanita muda itu pun menatap balik Senja. Ia terlihat bingung sekaligus heran dengan kehadiran Senja disana, namun ia berhasil menyembunyikan ekspresi bingungnya sedetik kemudian.
"Bagaimana dia bisa disini?" batin wanita muda itu sambil berjalan mendekati temannya.
"Sudah siap?" tanya Evan yang dijawab anggukan kepala oleh Noime.
****
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam dan itu adalah waktu kesepakatan dimana Senja dan sahabatnya berkumpul kembali.
Mereka sengaja memilih waktu tersebut karena kebanyakan senior akan kembali ke wilayah dalam untuk melakukan pelatihan intensif ataupun kembali ke asrama masing-masing.
"Dimana yang lain?" tanya Maya saat melihat pintu gerbang yang dipenuhi oleh para senior yang hendak pulang.
"Tidak tahu, kita juga baru saja sampai." balas Luna lelah.
Maya dengan mendengar itu hanya bisa mendecakkan lidahnya kesal dan memilih untuk duduk diam di kursi tunggu. Sedangkan Luna yang sudah kehabisan tenaga hanya bisa menggelengkan kepalanya sebelum memilih duduk disamping Zakila.
"Apa dia tidak lelah?" bisik Luna pelan pada telinga Zakila.
"Entahlah dia memang sudah seperti itu sejak kecil." jawab Zakila sambil mengangkat kedua bahunya.
Selain itu siapa pun mereka pasti tahu jika stamina para ksatria itu lebih baik dari pada penyihir ataupun guardian. Mereka seolah-olah menghabiskan seluruh stat pada stamina dari pada kepintaran.
"Miris sekali," batin Luna kesal.
Luna pun hanya bisa menghela napas panjang karena tidak tahan lagi dengan ekspresi kesal Maya. Bukannya Luna tidak ingin membalas hanya saja seluruh energinya sudah terkuras habis karena misi aneh yang diberikan oleh Kak Jacob pada mereka bertiga.
Misi itu harus mereka kerjakan untuk bisa mendapatkan informasi mengenai senior dengan nomor punggung 17. Akhirnya setelah kerja keras yang panjang, mereka pun mendapati informasinya.
"Meski informasi itu tidak sepenuhnya tapi itu sudah cukup membantu." batin Luna puas.
Setelahnya Luna hanya melihat ke sekelilingnya sembari menunggu kedatangan Senja dan Muna. Namun ditunggu demi tunggu tidak seorang pun dari mereka yang datang kesana.
Baik Muna maupun Senja, keduanya bahkan tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali dan itu tentu saja membuat ketiganya khawatir.
Mereka dengan panik berdiri dari duduknya dan memilik untuk menuju area para ksatria. Namun ketika hendak berjalan mereka sudah bisa melihat sosok wanita muda berambut hitam lebat.
"Astaga, akhirnya kau datang juga," seru Luna lega.
"Kami sangat khawatir dan hendak menyusul mu tadi." timpal Zakila kemudian.
"Benar, selain itu dimana Senja?"
Pertanyaan Maya membuat mata Zakila dan Luna melebar kaget. Mereka baru menyadari jika Senja sedari tadi tidak ada disisi Muna. Dengan wajah panik keduanya pun hendak berlari menuju area ksatria.
"Kita kembali saja dulu," seru Muna sembari menghentikan kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan." lanjutnya dengan nada suara tegas yang berat.