
"Jika kau memegang rahasia seseorang maka mudah bagi mu untuk mengendalikannya."
******************#####****************
"Ada perlu apa anda dengan saya?" tanya wanita itu kesal ketika Senja sama sekali tidak peduli dengan identitasnya.
"Lumayan,"
"Nona, maafkan put.."
Count terlihat sangat pucat mendapati sikap putrinya yang kesal.
"Hentikan itu Count, aku tidak punya banyak waktu saat ini," potong Senja tajam yang membuat count Servan semakin pucat.
"Langsung ke intinya saja," seru Senja yang berhasil membuat wanita itu menegang kaku. Tubuhnya terasa berat setiap kali mata biru kehijauan Senja menatapnya dengan tajam.
"Duduklah dulu," lirih Senja sambil mempersilahkan gadis dihadapannya itu untuk duduk.
"Nona, biarkan aku..."
"Sudah cukup, keluar dari sini. Mulai sekarang aku ingin berbincang secara pribadi dengan putri mu," seru Senja kesal setiap kali Count bersikap waspada padanya.
"Tapi..."
Perkataan Count terhenti ketika Senja mulai memelototi dirinya.
"Baiklah Nona" lirih Count lemah.
Count Servan sebenarnya takut untuk meninggalkan putrinya sendirian ditempat itu karena kepribadian putrinya yang kasar dan angkuh bisa saja meledak kapan saja.
"Putri ku yang malang," gumam Count Servan sebelum menutup pintu arena pelatihan.
Kini yang tersisa disana hanya Senja dan anak perempuan Count. Anak itu tampak gelisah namun masih tetap tenang seperti gadis bangsawan yang sudah dilatih lama.
"Dari mana kita akan memulainya?" tanya Senja acuh tak acuh sambil menimbang waktu yang terus saja berlalu.
"Apa anda sedang bermain dengan saya nona?"
"Menakutkan sekali wajahmu itu."
Senja tersenyum nakal ketika melihat wajah dingin gadis di depannya tersebut.
"Kau..."
"Hahaha, kau tampak sangat lucu sekarang."
"Bisakah anda hentikan itu. Saya juga tidak punya banyak waktu sama seperti anda."
"Hah, kau terlihat sama."
" ... "
Gadis itu hanya menatap tajam Senja seolah-olah tatapan itu bisa kapan saja menembus masuk ke jantungnya.
"Baiklah, cukup bermainnya," lirih Senja acuh tak acuh masih dengan tatapan dinginnya.
"Aku tahu bahwa kau sangat menyukai Noah de Ari. Atau lebih tepatnya tergila-gila pada bajingan itu."
Perkataan yang baru saja Senja lontarkan seperti petir di siang bolong bagi wanita itu. Ia tidak tahu bagaimana bisa informasi penting ini bocor sedangkan ayah dan bawahannya saja tidak tahu.
"Bagaimana dia bisa tahu? Aku bahkan tidak pernah mengatakannya pada siapa pun selama ini."
Tubuh gadis itu mulai terlihat kaku. Wajahnya pucat dan napasnya mulai terputus-putus.
"Tenangkan diri mu Nona Marshal, kau bisa saja terserang penyakit jantung jika terus seperti itu," seru Senja ketika ia melihat reaksi berlebihan dari gadis di depannya ini.
"Apakah yang dikatakan ayah benar adanya. Wanita ini bukan sosok yang mudah diganggu."
Marshal terlihat semakin pucat ketika ia terus saja mengingat percakapannya dengan sang ayah beberapa saat yang lalu.
"Aku sekarang tahu mengapa ayah sangat waspada terhadapnya."
Wanita muda yang di panggil Nona Marshal itu kini mulai menundukkan wajahnya. Ia tahu jika lawan dihadapannya ini bukan orang sembarangan.
"Aku harus berhati-hati mulai sekarang,"
Marshal mulai menenangkan dirinya, ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan wanita misterius di hadapannya ini.
"Hah, aku lelah," batin Senja setiap kali melihat reaksi kaku dari gadis di hadapannya itu.
"Apa kau tidak bisa tenang? Dimana sikap tenang mu sebelumnya?" tanya Senja yang semakin membuat Marshal semakin pucat karena takut.
"Hah, ini melelahkan."
" ... "
"Baiklah, bagaimana jika kita melakukan kesepakatan? Bukankah kau penasaran mengapa aku memanggil mu kesini?"
Mata Marshal mulai terlihat tenang, perlahan ia kembali menatap Senja tapi kini sedikit berbeda dari tatapannya sebelumnya.
Tatapan itu kini lebih terlihat pasrah dibandingkan tenang.
"Tapi sebelum itu, aku ingin tahu alasan mu mendekati Sarah apa memang murni untuk berbincang dengan Noah atau ada niat terselubung lainnya?" tanya Senja kembali membuat Marshal syok berat.
"Ada apa ini? Siapa sebenarnya wanita dibalik topeng rubah itu."
Pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir di pikiran Marshal. Senja yang melihat wajah penuh tanda tanya gadis itu hanya bisa menarik napas kesal.
"Seharusnya kau sudah tahu dari diskusi dengan ayah mu barusan tentang siapa aku sebenernya," lirih Senja yang membuat gadis itu terkejut karena niatnya diketahui.
"Itu, itu tidak benar."
"Kalau begitu kau bisa singkirkan segala pikiran mu sekarang."
"Baik Nona," lirih gadis tersebut dengan suara tabah.
"Ternyata sifatnya bisa sepatuh ini, seperti melihat sosok yang 180 derajat berbeda dari sebelumnya."
"Apa kau tahu obsesi terbesar Sarah saat ini?" tanya Senja setelah keadaan mulai terlihat stabil.
"Ak, aku tidak tahu," seru gadis itu terkejut, ia memang berteman dengan Sarah tapi bukan berarti dia mengetahui segalanya.
"Aku bukan dewa sampai harus mengetahui segala hal tentang Sarah lagi pula yang aku cintai itu Noah bukan Sarah,"
Gerutu gadis itu tidak percaya dengan pertanyaan Senja. Ia bahkan sempat menduga bahwa Senja membawanya kesini hanya untuk menanyakan omong kosong yang aneh.
"Aku memang temannya tapi hanya sebatas itu saja."
__ADS_1
"Aku tahu."
"Hah, apa?"
Marshal mulai tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Siapa anda sebenarnya?" tanya Marshal kembali dengan ekspresi penuh tanya di wajahnya.
" ... "
"Mengapa anda bertanya tentang obsesi Sarah padaku. Aneh sekali, jika anda tahu tentang ku, bukannya anda juga akan tahu tentang dia."
"Mengapa? Kurasa tidak ada alasan khusus untuk itu."
"Hah."
Marshal terlihat sangat frustasi dengan lawan bicaranya saat ini, ia belum pernah merasakan rasa frustasi separah ini sebelumnya.
"Aku bisa gila disini lama-lama," batin Marshal lelah dengan sikap acuh tak acuh.
"Kau mungkin akan terkejut dengan apa yang akan aku ceritakan setelah ini," seru Senja datar ketika ia mulai melihat jam ditangannya sudah menunjukan pukul 3 siang.
"Aku harus segera kembali,"
"Aku sudah terkejut dengan apa yang anda katakan sejak tadi jadi mengapa aku harus terkejut dengan yang selanjutnya," lirih Marshal kesal dengan pertanyaan Senja yang sama sekali tidak terlihat peduli dengan kesehatan jantungnya.
"Baiklah, dengarkan aku dengan baik karena aku tidak akan mengulanginya dua kali."
"Baik," seru Marshal mantap dengan ekspresi wajah semangat.
Senja kembali teringat dengan apa yang diceritakan Amel padanya ketika ia berada di sel bawah tanah.
"Baiklah Nona, saya akan menceritakan segalanya."
"Lakukan," seru Senja sambil melihat mata hitam Amel yang kini mulai bergetar hebat.
"Saya masuk dalam kediaman Duke ketika saya berusia 17 tahun dan ..."
Perkataan Amel terhenti ketika Senja mengangkat tangannya dengan tegas.
"Ceritakan saja intinya jangan bertele-tele."
"Tapi Nona, anda tidak akan paham dengan apa yang akan saya sampaikan karena ini saling terhubung."
"Hah, baiklah teruskan," cicit Senja kesal karena harus terus mendengar cerita Amel dengan sabar.
Amel mulai menceritakan awal kedatangannya ke kediaman Duke ketika ia baru saja berusia 17 tahun. Di sana Amel awalnya bekerja sebagai pelayan kebersihan di kediaman utama.
"Saat itu selir Amarilis sangat kerepotan setelah kematian permaisuri Mawar. Saingan untuk memperebutkan posisi permaisuri menjadi sangat sulit ketika selir Reliza tidak mau kalah dalam hal tersebut."
Amel perlahan melihat ekspresi wajah Senja untuk mengetahui reaksinya ketika mendengar kata 'Permaisuri Mawar' namun Amel kembali tenang ketika wajah Senja terlihat biasa saja.
"Persaingan untuk merebutkan tahta permaisuri membuat selir Amarilis tidak memiliki waktu untuk Sarah sehingga pada saat itu saya dipilih sebagai pelayan untuk menemani Sarah yang masih kecil," lanjut Amel masih mengenang kejadian saat itu.
"Saya sangat menyukai Nona Sarah karena dia mengingatkan saya pada adik perempuan saya yang telah lama meninggal, kebetulan usia mereka juga sama."
" ... "
Senja terus saja mendengar cerita Amel yang tampak bernostalgia tentang masa lalunya.
Senja yang melihat reaksi itu hanya bisa diam dan terus menyimak.
"Sifat aneh yang dimiliki Nona Sarah terus berlanjut sampai suatu ketika..."
Lagi-lagi perkataan Amel terputus ketika Senja mulai mengangkat tangannya.
"Tunggu sebentar, apa yang kau maksud dengan 'sikap aneh' itu?"
"Ah, maksud saya adalah bahwa Sarah sering sekali pergi menemui rakyat biasa dan pulang dengan begitu banyak bekas ciuman di wajahnya. Saya pikir awalnya bekas itu dari sikap para rakyat yang senang dengan kedatangan Sarah namun anehnya hal itu terus berlanjut sampai ia berusia 15 tahun."
" ... "
"Awalnya saya curiga apa yang terjadi pada Sarah setiap kali pergi ke tempat itu sampai pada suatu saat ia kembali bersama dengan Ira."
"Pelayannya itu?"
"Iya Nona, tapi Ira bukanlah pelayan biasa karena pada saat itu saya masih menjadi pelayan pribadi Nona Sarah sehingga segala urusan pribadinya masih saya yang urus."
"Begitukah? Lanjutkan lagi."
"Ah, iya Nona saya sampai lupa bahwa selama 5 tahun saya merawat Nona Sarah sejak hari terpilih itu saya selalu mendapati noda darah pada baju dan pergelangan tangannya."
"Lalu?"
"Karena saat itu Nona Sarah bertingkah laku aneh dengan Ira saya pun mencoba untuk mengawasinya, awalnya saya takut hal buruk akan terjadi tapi ketika saya mendatangi tempat dimana Nona Sarah selalu pergi adalah tempat perbudakan."
"Hah, apa?"
"Tempat budak Nona. Di sana Nona Sarah membeli para budak perempuan yang usianya rata-rata 10 tahun. Saya yang sadar bahwa Nona Sarah sudah berubah menjadi aneh terus mengamati hal tersebut."
"Ternyata Sarah menyukai perbudakkan," batin Senja tapi tetap mendengarkan perkataan Amel.
"Saya terus mengikuti Sarah sampai ia membawa para budak itu ke suatu panti dimana ia melakukan penyiksaan terhadap mereka."
"Hah, hahaha."
Senja tiba-tiba tertawa sangat keras sampai membuat Amel sedikit merinding.
"Lalu apa yang terjadi setelahnya?"
"Mereka bukan budak biasa Nona, anehnya tempat itu seperti ilusi dimana semuanya tampak baik-baik saja dari luar."
"Lanjutkan."
"Baik Nona," seru Amel setelah mengkonfirmasi keadaan Senja yang mulai tenang.
"Pada saat itu Nona Sarah juga melakukan pelecehan kepada para budak yang ia bawa ke panti tersebut. Budak itu bahkan tidak sadar jika ia telah di lecehkan, mereka terlihat sangat senang."
"Nona Sarah memiliki gairah yang aneh, ia menyetubuhi anak perempuan muda yang berusia rata-rata 10 tahun. Selain itu cara ia melakukannya juga keji, Sarah melakukan pelecehan dengan beberapa anak perempuan sekaligus bahkan tidak jarang ada penyiksaan. Saya melihat Sarah menjadi sangat puas setelah melakukan hal itu."
"Sikap abnormal yang dilakukan Sarah pada anak kecil yang notabene adalah perempuan sama seperti dirinya." gumam Senja pelan masih bisa didengar Amel.
"Saya juga awalnya merasa aneh, saya takut dengan obsesi aneh Sarah."
"Amel, apa Sarah tahu jika kau mengetahuinya?"
"Awalnya Sarah tidak tahu karena saya menyelidikinya secara rahasia tapi saat itu..."
__ADS_1
Amel kembali teringat dengan kejadian tiga tahun yang lalu sebelum ia menjadi pelayan pribadi Senja.
"Saat itu saya hendak masuk untuk membersikan kamar Sarah dan betapa terkejutnya saya ketika melihat Sarah sedang melakukannya dengan Ira."
"Hah, Ira?"
"Iya Nona, ternyata Ira juga memiliki obsesi yang sama dengan Sarah. Mereka sering melakukannya berdua bahkan tidak sekali."
"Ini lebih gila."
"Itu benar, saya yang kaget melihat hal tersebut hanya mendapati pandangan sinis Sarah. Saya sempat menduga jika semua tindakan Sarah juga di pengaruhi oleh Ira karena selama saya melayani Sarah, ia jarang sekali bersikap kasar seperti itu sebelum bertemu dengan Ira."
"Setelah kejadian itu Sarah memerintahkan saya untuk menjadi pelayan anda. Awalnya saya menolak namun karena Sarah bilang bahwa ia akan menuruti segala hal yang saya inginkan maka saya akhirnya melakukannya."
"Apa yang ingin kau minta darinya?"
"Karena saya dulunya menganggap ia bebagai adik saya maka hal yang saya inginkan darinya adalah agar ia bisa melepas Ira dari sisinya. Ira sangat aneh Nona, ia terlihat seperti menyembunyikan sesuatu yang besar di balik wajahnya yang polos."
"Baiklah, apa ada lagi yang ingin kau sampaikan?"
"Nona, saya mohon untuk menggunakan keluarga saya dengan sebaik mungkin."
Setelah percakapan panjang dengan Amel, Senja memutuskan untuk pergi meninggalkan penjara bawah tanah tersebut.
****
"Nona? Apa anda mendengar saya?" teriak Marshal saat Senja tidak menanggapi satu pun panggilannya.
"Saya sudah lelah memanggil anda sejak tadi tapi anda tetap diam seperti batu," gerutunya kesal setiap kali berbicara.
" ... "
"Apa yang sebenarnya ingin anda sampaikan pada saya?"
"Hah, bagaimana ini?" lirih Senja acuh ketika mengingat kembali apa yang disampaikan Amel.
"Dengarkan aku baik-baik."
"Saya sudah mendengarnya sejak tadi," gumam Marshal dengan wajah kesalnya.
" ... "
"Ayolah Nona, jangan diam saja" seru Marshal frustasi.
Senja menatap tajam kearah Marshal yang membuat wanita itu menjadi kaku. Wajahnya yang awalnya kesal kini berubah tegang dan pucat.
"Sarah de Ari telah terobsesi dengan mu," seru Senja pada Marshal masih teringat dengan apa yang disampaikan Amel mengenai obsesi Sarah terhadap wanita di depannya ini.
"Itu gila," teriak Marshal tidak percaya.
"Lelucon macam apa yang sedang anda buat untuk saya?" tanya Marshal namun pertanyaan itu luntur ketika ia melihat mata Senja yang tajam menatapnya. Marshal lalu kembali duduk ke posisi semula dengan tenang.
"Sarah, wanita yang kau kenal itu telah memiliki obsesi gila dalam hidupnya. Ia menyukai sesama jenis dan sepertinya kau salah satu wanita kesukaannya."
" ... "
Marshal mendengarkan dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di definisikan.
"Apa kau tahu mengapa Sarah yang sombong itu mau berteman dengan gadis kecil seperti mu? Meskipun kau seorang putri Count tapi Sarah adalah anak seorang Duke, tidakkah kau tahu maksud dibalik ini semua?"
Marshal diam seribu bahasa setiap kali Senja bertanya padanya.
"Jangan katakan jika..."
"Kau benar, Sarah ingin agar kau menjadi salah satu koleksi bonekanya."
"Hah, ini membuat ku semakin gila."
Marshal kini terlihat lebih pucat dari pada sebelumnya. Ia mendekati Sarah agar bisa berbicara dengan Noah, bukan untuk menjadi boneka dari monster aneh sepertinya.
"Bagaimana bisa ini terjadi? Anak seorang Duke ingin menjadikan ku mainannya? Apa yang bisa aku lakukan?"
"Kau tidak usah takut, seperti yang ku katakan di awal mengenai kesepakatan," seru Senja yang membuat Marshal terlihat sedikit tenang.
"Baiklah, saya akan setuju dengan anda," lirih Marshal dengan wajah tabahnya.
Beberapa saat kemudian Senja sudah keluar dari ruang bawah tanah. Ketika pertama kali membuka pintu hal pertama yang ia jumpai adalah wajah Count Servan yang terlihat kaku.
Senja bisa melihat wajah penuh tanda tanya sang Count. Senja dengan sengaja mengabaikan Count dan segera pergi meninggalkan Guild sebelum melihat Count berlari gila menuju putrinya yang keluar dari ruang bawah tanah dengan wajah kaku dan tubuh lemas.
Senja segera menuju kafe dimana Muna dan Dian berada namun sayangnya ia terlambat. Ia melihat Muna dan Dian menuju gerbong kereta kuda. Disana Dian masih menyamar sebagai dirinya dan mulai terlihat kaku.
Senja kemudian menyuruh Lily untuk mengubah dirinya menjadi Dian dengan sihir manipulasi tubuh.
"Nona Senja, semuanya sudah selesai," lirih Senja yang kini menjadi Dian.
"Ah, iya. Iya," seru Dian kaku ketika melihat nona nya kini berpenampilan mirip dirinya.
"Bersikaplah normal, kita akan kembali seperti biasa ketika sudah sampai di kamar," bisik Senja pelan yang hanya bisa didengar Dian.
"Nona, ini pesanan mu."
Senja kemudian memberikan sebuah kotak berisi kue almond kesukaannya sendiri pada Dian.
"Dian, kau kembali dengan tepat waktu."
"Saya senang mendengarnya Nona."
"Iya, Muna benar. Jika kau terlambat sedikit saja, maka kami akan meninggalkan mu segera."
Dian mencoba memperingatkan nona nya itu, jika waktu kepergiannya sudah sangat lama. Ia juga terlihat kesal karena harus bersama Muna selama waktu itu.
"Maafkan saya," lirih Senja acuh tak acuh dengan apa yang dirasakan Dian saat ini.
"Baiklah, kalau begitu mari kita segera pulang," seru Muna sambil melangkah masuk ke dalam gerbong kereta kuda.
Dalam perjalanan menuju kediaman Winter, Senja sedang memikirkan informasi baru yang ia dapatkan dari Amel sebelumnya.
"Kini aku sudah mendapatkan beberapa informasi penting yang ada."
Senja bergumam senang sambil melirik ke arah Dian yang tengah berdiri kaku di samping Muna yang sedang bertanya tentang makan malam apa yang ingin mereka santap. Senja hanya menatap lucu kejadian tersebut sebelum kembali melihat keluar jendela.
"Informasi pertama adalah Sarah dan Dira kini sudah bekerja sama dalam menjatuhkan ku. Kedua, kira Difani perlu untuk di waspadai serta segala informasi yang ada padanya perlu dievaluasi kembali. Ketiga, salah satu obsesi Sarah adalah putri dari Count Servan Marshal, wanita yang kini menjadi bawahannya. Keempat adalah yang paling penting dari semuanya, yaitu bahwa Ira adalah seseorang yang sangat berbahaya lebih dari pada Sarah dan aku harus mencari tahu informasi detail mengenai asal-usul nya."
Senja terus saja menimbang-nimbang informasi yang ia dapatkan dari Amel serta apa yang akan ia lakukan setelah ini.
"Aku harus tetap waspada," lirih Senja sebelum kereta kuda memasuki wilayah Marques Winter.
__ADS_1