
"Ikatan dendam akan membuat mu menjadi lebih kuat dan berani namun ingatlah bahwa dendam adalah ikatan yang buruk."
******************#####****************
Pagi harinya Senja yang masih terlelap dari tidurnya harus terbangun karena goncangan kuat dari Dian.
"Ugh, ada apa?" seru Senja dengan suara serak khas bangun tidur.
"Nona, lihat ini."
Suara Dian terdengar sangat panik, ia kemudian segera menyerahkan sebuah surat yang baru saja diterimanya dari Guild Moonlight.
"Hanya karena ini kau membangunkan aku di pagi buta?" gerutu Senja kesal dengan nada suara acuh tak acuh.
"Sekarang bukan itu masalahnya, anda harus melihat ini terlebih dahulu," balas Dian yang masih dalam keadaan panik.
"Berikan," cicit Senja saat mengambil kasar surat itu.
Perlahan Senja mulai membaca surat tersebut. Awalnya ia terlihat baik tapi semakin jauh ia membaca maka semakin sering pula keningnya berkerut.
"Apa-apaan ini?" bentak Senja kesal ketika ia baru saja membaca setengah dari surat itu.
"Apa yang sebenarnya mereka incar?" gerutu Senja sebelum membaca kembali sisa surat tersebut.
"Hah, ini membuat ku gila," lirih Senja frustasi kemudian bangkit dari kasurnya.
"Dian segera siapkan semua keperluan," lanjut Senja sambil memasukkan Kun dan Vanilla ke dalam keranjang khusus hewan.
Matahari masih belum terbit karena saat ini masih jam 3 pagi namun kamar Senja kini sudah seterang siang karena aktifitas sibuk di dalamnya.
"Kita akan segera kembali dengan portal, jadi siapkan tempatnya," seru Senja setelah semua persiapan selesai.
"Baik Nona," balas Dian kemudian membuat lingkaran besar ditengah ruangan.
"Aku harus memberi kabar pada mereka," batin Senja sambil mengingat wajah Raja Aruna dan keluarganya serta sahabatnya yang lain.
Selagi menunggu Dian selesai membuat portal, Senja yang bebas kemudian berinisiatif untuk membuat surat alasan mengapa ia harus segera pergi dari kerajaan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
"Surat ada, pena..., ketemu," lirih Senja sambil mengobrak-abrik laci lemari mejanya.
"Baiklah, mari kita mulai," gumam Senja setelah berhasil menemukan semua peralatan menulis yang dibutuhkannya.
Dear Raja Aruna
Salam cahaya matahari kerajaan Aruna. Semoga berkat rahmatnya selalu menyertai anda.
Yang Mulia saya menulis surat ini untuk meminta maaf kepada anda karena pergi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Hal ini karena saya mendapatkan perintah dari Duke Ari untuk segera kembali ke wilayah Duke karena ada urusan penting yang harus diselesaikan. Sekiranya Yang Mulia mengerti akan masalah saya.
Hanya ini yang ingin saya sampaikan, apabila Yang Mulia bersedia saya akan datang kembali ke kerajaan ini untuk menuntaskan apa yang belum diselesaikan saat ini.
Senja de Ari
Setelah selesai menulis suratnya, Senja kemudian membuat salinan yang sama untuk diberikan kepada keempat sahabatnya.
"Dian, berikan ini kepada para pelayan lalu kembali dengan segera," seru Senja ketika Dian sudah selesai membuat portal.
"Lily periksa area sekitar, apakah ada yang sedang mengawasi kita atau tidak."
"Baik Nona, laksanakan." balas Lily pelan sebelum keluar dari jendela balkon.
"Hah, melelahkan sekali," gerutu Senja sambil melihat surat yang kini mulai terbakar oleh api di tangannya.
__ADS_1
Surat itu sengaja dibakar oleh Senja untuk menghilangkan jejak informasi yang mungkin saja tertinggal. Beberapa saat kemudian sebuah portal sihir muncul disudut kamar tidak jauh dari posisi Senja yang sekarang.
Setelah cahaya teleportasi hilang kini tampaklah seorang pria dewasa yang tengah memegangi sebuah pedang dengan wajah dinginnya.
"Ada apa dengan Eza?" batin Senja bingung ketika melihat ekspresi Eza yang bertambah dingin dari sebelumnya.
"Selamat pagi Nona," seru Eza sambil melangkah mendekati Senja.
"Ada apa Nona? Kenapa ada lingkaran sihir ditengah ruangan ini?" lanjut Eza ketika ia sudah berhasil mendekati Senja.
"Kita akan segera kembali ke Guild," balas Senja datar sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Apa ada masalah?"
"Hah, ini sedikit rumit tapi akana ku ceritakan nanti ketika kita sudah sampai disana."
"Baik Nona."
Beberapa saat kemudian Lily dan Dian kembali secara bersamaan. Dian kembali dengan aman sedangkan Lily kembali dengan wajah pucat.
"Ada apa?" tanya Senja tepat ketika Lily sudah berada di hadapannya.
"Nona, seperti dugaan mu sekarang kita sedang diawasi," gerutu Lily tidak senang dengan mulut yang dimajukan.
Eza yang mendengar hal tersebut lantas segera menyentuh sarung pedangnya untuk bersiap dalam menyerang.
"Kita tidak perlu bertarung disini," seru Senja acuh tak acuh sambil tetap memandang kearah Eza yang kini mulai melepaskan tangannya dari sarung tersebut.
"Kita akan menggunakan racun Ristia untuk melumpuhkan mereka," lanjut Senja yang mendapatkan anggukan kepala dari Ristia.
"Aku akan melumpuhkan mereka segera sehingga kita bisa berteleportasi dengan cepat," lirih Ristia sambil melompat ke dinding kamar.
Ristia kemudian berjalan keluar dari kamar Senja melalui celah yang ada di atas jendela kamarnya. Sesampainya diluar Ristia bisa melihat samar-samar beberapa bayangan yang tengah memantau kamar nona nya.
"Aku akan melumpuhkan kalian segera," seru Ristia dengan senyum nakal di bibirnya.
"Ristia, kau cukup melumpuhkan mereka saja jangan sampai ada yang curiga sehingga keadaan semakin gawat."
Perintah Senja melalui link diantara mereka berdua. Sebenarnya Senja takut jika Ristia akan meracuni musuh melebihi batas sehingga keberadaannya nanti akan diketahui.
"Hah, Nona kau sungguh baik sekali," cicit Ristia memprotes peringatan dari Senja yang menyuruhnya untuk tidak berlebihan.
"Mau bagaimana lagi," gerutu Ristia sambil mengeluarkan racun dari ekornya yang tajam.
Racun itu kini mulai menyebar melalui udara sekitar sehingga mereka yang menghirup udara tersebut akan pingsan atau bahkan muntah dan kebanyakan dari mereka biasanya akan mengalami sakit perut yang luar biasa hebat.
"Nona, kau sudah bisa mulai sekarang."
Ristia mengirim pesan link pada Senja yang kemudian disambut hangat olehnya.
"Mari kita mulai," gumam Senja sambil merapalkan mantra sihir teleportasi.
Segera setelahnya portal tersebut bersinar dengan terang melebihi sinar lampu pada biasanya.
"Ristia," panggil Senja sambil mengarahkan tangan kirinya pada Ristia yang kemudian disambut oleh Ristia dengan meluncur bebas kearah tangan tersebut.
"Mari kita pergi," seru Senja ketika Ristia sudah mendarat ditangannya. Eza dan Dian pun segera menyusul Senja dengan masuk ke dalam portal setelah Senja berada disana.
****
"Dimana kita Bu?" tanya perempuan kecil yang masih memeluk tubuh ibunya.
__ADS_1
"Ayah, kita..."
"Tenangkan diri mu, sebagai seorang kakak kau harus terlihat tenang didepan kedua adik mu itu," seru sang ayah memotong perkataan anak tertuanya.
"Kita tunggu saja, mereka berkata bahwa pemimpin mereka akan datang sebentar lagi," lanjut sang ayah menenangkan keluarganya.
Sekarang keluarga Amel tengah berada diruang bawah tanah Guild Moonlight. Mereka tidak disekap seperti yang terakhir kali melainkan diberi kebebasan untuk terus bergerak namun masih tetap dalam batas wajar.
"Ini seperti tempat latihan," seru anak kedua yang saat ini berada di tengah arena.
"Kau benar, ini adalah arena pertarungan," timpal kakak tertua dengan raut wajah gelisah.
Mereka berdua kemudian menatap sang ayah yang juga mengetahui dimana sekarang keberadaan mereka.
"Apa kita akan dijadikan petarung?"
"Mungkin saja," gumam kakak tertua masih menatap sang ayah.
"Nak jangan berdiri diam disana, kemarilah dan duduk disini," seru sang ibu yang kini tengah menidurkan putri kecilnya.
"Baik Bu," lirih keduanya bersamaan sambil melangkah pergi menuju tempat itu.
Beberapa saat kemudian Hazel kembali menemui keluarga Amel sambil membawa beberapa minuman dan makanan ringan.
"Makanlah dan perlihatkan wajah bersih kalian karena sebentar lagi Nona akan datang," seru Hazel setelah meletakkan makanan tersebut.
"Dan pakailah ini, jangan terlihat terlalu menyedihkan dihadapannya," lanjutnya dengan nada yang tidak kalah dinginnya dari Eza.
"Ba, baik Nona," lirih sang ayah ketika melihat mata dingin Hazel menatap mereka.
Disisi lain Senja yang sudah berteleportasi kini berada di gedung Guild Moonlight. Kedatangannya sangat dinantikan oleh Dennis dan yang lainnya.
"Selamat datang Nona," seru Dennis sambil membungkuk tubuhnya ke arah Senja.
"Perlihatkan wajah mu," lirih Senja sambil berjalan menuju ruang bawah tanah.
"Mereka sudah siap Nona," seru Hazel yang baru beberapa saat keluar dari area bawah.
"Dennis, kita akan membahas hal tersebut setelah aku berbicara dengan mereka."
"Baik Nona."
"Satu hal lagi, segera bawa Count Servan kesini menemui ku."
"Baik Nona," seru Hazel kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Dennis, kau harus menaruh orang mu untuk mengawasi mereka," lirih Senja sambil melirik kearah ruang bawah lantai.
"Saya mengerti Nona."
"Bagus," gumam Senja kemudian membuka pintu ruangan bawah tanah.
"Dian pergilah temui Rima dan katakan padanya untuk terus menjaga komunikasi dengan Klein tapi sebelum itu kembalilah ke rumah untuk mendapatkan surat dari Duke karena aku tidak ingin ada masalah besar nantinya," seru Senja datar sambil mengingat wajah Raja Aruna yang tengah tersenyum licik padanya.
"Baik Nona," jawab Dian kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
"Eza dimana topeng ku?"
"Ini Nona."
Awalnya Senja sudah mendengar seluruh informasi yang diberikan Eza tentang keluarga Amel selama perjalanan sebelum mereka menuju ruangan bawah tanah. Keluarga Amel adalah keluarga pedagang kecil maka dari itu akan sangat mudah bagi Senja untuk bernegosiasi dengan mereka.
__ADS_1
"Akan aku gunakan mereka sesuai keinginan mu. Ah tidak maksudnya diri ku,"