
"Uang akan datang pada waktunya, hanya saja kita butuh sedikit dorongan untuk mendapatkannya."
******************#####****************
Senja masih belum mencerna apa yang saat ini ia lihat. Cahaya biru terang yang berhasil membuatnya diam beberapa saat yang lalu ternyata adalah permata indah yang sangat dicari oleh seluruh penyihir di dunia ini.
"Hahaha....!"
Senja tertawa kecut saat menyadari apa yang baru saja ia lihat.
"Batu sialan ini," maki Senja selanjutnya sambil memukul batu mana itu dengan tinjunya.
"Apa kau gila?" bentak Kun yang kaget dengan perilaku aneh majikannya itu.
Pasalnya batu mana ini merupakan batu yang paling mahal dan sulit untuk didapatkan. Bahkan harga satu batunya bisa membeli sebuah negara, dan apa yang baru saja di lakukan Senja sungguh membuat Kun melongo kaget.
"Bahkan makhluk mistis seperti ku ini sangat menghargainya," batin Kun sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Apa kau sangat menyukai batu ini hah?"
"..."
Kun hanya menatap Senja seolah-olah baru saja melihat makhluk aneh yang bahkan tidak tahu seberapa berharganya benda di hadapannya itu.
"Semua yang ada disini adalah milik ku. SE.MU.A.NYA."
Senja menunjuk seluruh isi dari gua ini, ia terlihat sombong dengan cengiran aneh nangkring di bibirnya.
"Jadi, jangan berharap untuk memilikinya" bisik Senja kemudian tepat di telinga Kun.
Hal ini membuat Kun kaget dan tanpa sadar melompat dari posisinya. Ia terkejut dengan tekanan besar yang baru saja diberikan oleh nona nya itu.
Tekanan yang bahkan membuat suasana gua menjadi semakin gelap, meski cahaya batu mana masih bersinar terang namun itu semua tampak tidak berguna saat Senja terus saja tersenyum dengan ganasnya.
"Lupakan tentang tempat ini." Senja diam, ia hanya memperhatikan Kun yang terlihat sedang kesal.
"Apa tujuan mu datang ke tempat ini?" tanya Senja dengan senyum nakalnya.
Kun seketika merinding, bulunya naik tanpa sebab seperti baru saja di hantam oleh tumpukan salju musim dingin.
"it... itu akan dimulai." lirih Kun kaku.
Senja masih menatap Kun dengan malas, ia tahu bahwa Kun tidak berniat untuk melakukan pekerjaan itu. Ia terlalu malas bahkan sampai tidur pun menjadi rutinitasnya.
"Aku, aku akan mengajari Vanilla secepatnya." lanjut Kun yang merasa tertekan oleh tatapan tidak percaya dari Senja.
"Baiklah." lirih Senja pelan.
Ia kemudian memutuskan untuk pergi meninggalkan gua itu. Namun sebelum ia pergi, Senja sempat berbisik pelan di telinga Kun.
"Jika kau masih bermain, maka bersiaplah untuk menghilang."
__ADS_1
Perkataan Senja membuat Kun terkejut sekaligus kesal. Ia bahkan tidak pernah di perlakukan rendah oleh hewan mistis yang rasnya jauh lebih tinggi dari padanya.
Namun Senja dengan mudahnya menjatuhkan harga diri Kun begitu saja. Ia mengancamnya dengan arogan sehingga membuat Kun bahkan tidak bisa berkata apapun.
"Sial," maki Kun sebelum mengikuti Senja keluar dari gua.
****
Sudah satu jam Senja berlatih seperti yang di instruksikan oleh Sera padanya. Namun tidak ada satupun dari dirinya yang berubah bahkan ia tidak merasakan apa pun selama proses itu berlangsung.
"Apa dia mencoba untuk membodohi ku lagi?"
Senja kesal, ia ingin sekali menemui Sera hanya untuk sekedar memakinya. Ia ingin berteriak keras di hadapan Sera sambil bertanya apa yang sedang ia coba lakukan padanya.
"Argh.... Bagaimana ini!" teriak Senja sambil mengacak-acak rambutnya.
Selama beberapa hari ke depan tidak ada latihan mana bersama Lucas. Itu sudah di pastikan sejak kepergiannya terakhir kali.
Selain itu sekolahnya pun tidak boleh kosong, karena jika ini terus berlanjut itu akan berdampak buruk bagi reputasinya.
Ya meski reputasi Senja memang tidak bagus sejak awal namun jika ia terus bertindak seperti ini maka kedepannya akan lebih sulit.
"Aku akan melakukannya sekali lagi." lirih Senja sambil melakukan perenggangan sebelum ia mencoba kembali.
Dengan perlahan, Senja menutup kembali matanya. Ia mencoba fokus dengan dirinya, membuat seluruh emosinya sirna. Pikirannya kembali fokus dengan sekitar, meski sulit namun Senja berusaha untuk tetap berkonsentrasi.
Perlahan namun pasti Senja dapat merasakan aliran mana yang ada di sekitarnya. Meski samar namun perasaan hangat dari mana itu mampu dirasakannya.
"Apa ini?" batin Senja saat ia tanpa sadar melihat cahaya di dalam pikirannya itu.
Cahaya itu perlahan tumbuh semakin banyak, membuat energi dalam tubuh Senja bergejolak dengan liar. Energi itu mengalir seperti air terjun yang jatuh dari ketinggian.
Hal ini sempat membuat Senja takut namun ia teringat dengan taman mawar milik Permaisuri. Taman yang indah dan cantik dipenuhi dengan berbagai macam rumput liar yang membuatnya seolah-olah terkesan ganas.
"Hah," seru Senja saat ia berhasil mengendalikan energi liar dalam tubuhnya itu.
"Apa itu tadi?" tanya Senja dengan bingung, pasalnya ia belum pernah melihat cahaya indah seperti itu sebelumnya.
Cahaya itu berkilap dan terbang kemana-mana seolah-olah tidak ada satu pun yang mampu menghalangi pergerakan mereka.
"Nona?"
Sebuah teriakan berhasil membuat Senja kaget dari lamunannya. Ia kemudian melihat ke arah dimana suara itu berasal.
"Vanilla." balas Senja saat Vanilla sudah tepat berada di hadapannya.
"Nona, White mencari mu?"
"..."
Senja diam. Ia hanya memperhatikan Vanilla yang terlihat bersemangat saat menceritakan tentang White yang sedang mencarinya.
__ADS_1
"Nona."
"Katakan saja pada Dian untuk mengurus segalanya. Bukankah dia sudah biasa melakukan hal ini."
Senja tahu alasan mengapa White mencarinya. Alasan penting yang membuat hewan suci itu menghubungi bawahannya.
"Ini pasti ulah Dian." batin Senja yang mengetahui jika White bertanya tentang dirinya karena majikannya itu.
"Vanilla tidak mengerti." jawab Vanilla polos.
"Katakan saja seperti itu."
"Tapi Non..."
"Sudah, lakukan saja."
Senja dengan malas memotong perkataan Vanilla. Ia tidak ingin berdebat dengan anak kecil yang bahkan tidak tahu apa pun itu.
"Baik Nona." Vanilla terlihat sedih namun sepersekian detiknya ia berubah senang.
Ternyata saat ini Vanilla sedang melakukan kontak batin dengan White. Hewan suci biasanya sering melakukan kontak batin karena hal-hal tertentu.
"Baiklah Nona, Vanilla izin kembali dulu."
Setelah mengatakan hal itu, Vanilla segera buru-buru pergi meninggalkan Senja yang saat ini masih melihatnya pergi.
"Kau akan tahu harus melakukan apa." lirih Senja sambil memikirkan wajah Dian yang sedih.
Bukannya Senja tidak menyayangi bawahannya itu, hanya saja saat ini bukanlah waktunya untuk pergi dari tempat ini. Ia harus terus berlatih agar kesehatannya bisa kembali lagi seperti dulu.
Setelahnya Senja kembali fokus lagi pada latihannya. Ia menutup kedua matanya dan memfokuskan diri seperti sebelumnya.
Kali ini cahaya terang yang ia lihat dua kali lebih banyak dari pada sebelumnya. Cahaya itu kini bahkan bergerak menempel di sekujur tubuhnya membuat Senja merasa sedikit kaget sekaligus senang.
Rasanya nyaman seperti sedang di peluk oleh beruang kutub. Hangat dan halus, perasaan nyaman ini membuat Senja tanpa sadar menyentuh cahaya terang tersebut.
Anehnya cahaya yang Senja sentuh malah menghilang begitu saja. Cahaya itu menghilang masuk ke dalam tubuh Senja, seolah-olah ia terhisap begitu saja.
"Gila, ini gila!" teriak Senja dalam hatinya saat ia merasakan perasaan liar yang tidak terkontrol.
Bahkan energi liar ini lebih mengerikan dari pada sebelumnya. Rasanya sangat kuat bahkan Senja sadar bahwa tingkatnya perlahan naik menjadi tahap 7 akhir. Hanya tinggal sedikit saja untuk bisa menyentuh tahap ke delapan.
"Apa-apa ini?" tanya Senja penasaran.
Ia bingung dengan fenomena yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bagaimana bisa tingkatannya naik begitu cepat hanya karena ia menyentuh bola cahaya itu.
"Aku harus mencobanya sekali lagi." gumam Senja yang hendak menyentuh bola cahaya itu kembali.
"JANGAN MENYENTUHNYA." teriak sebuah suara yang membuat Senja berhenti seketika.
Suara itu membuatnya kaget sampai ia tanpa sadar keluar dari pelatihannya. Ia melihat ke sekeliling namun tidak mendapati seorang pun disana.
__ADS_1
Dengan bingung Senja berdiri dari duduknya dan berjalan melihat ke sekeliling. Namun hasilnya nihil. Ia sama sekali tidak menemukan siapa pun.
"Suara siapa itu? Rasanya tidak asing."