Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E67] Rutinitas part 2


__ADS_3

Khalid kembali dengan wajah pucatnya, entah apa yang terjadi padanya tapi Senja tidak ingin ambil pusing. Ia memilih untuk segera menyelesaikan sarapannya dan kembali tidur lagi.


"Lady, ada bayangan buruk disekitar tempat ini." seru Khalid saat Senja hendak tidur di kasurnya.


"..."


"Sepertinya sosok itu sangat berbahaya, apa aku bakar saja?" tanya Khalid ketika Senja tidak memberikan reaksi apa pun.


"Hah, lupakan saja." balas Senja acuh tak acuh.


"Jika kau melakukan itu, kau hanya akan membahayakan diri ku saja." lanjut Senja dalam hatinya.


"Tapi Lady, dia sangat berbahaya." seru Khalid yang tiba-tiba saja muncul di hadapan Senja.


"Astaga, kau membuat ku kaget." teriak Senja sambil memegang dadanya.


Senja dengan malas kembali duduk dan mulai memperhatikan Khalid. Senja sekiranya tahu apa yang baru saja dilihat oleh Khalid. Tentunya sejak Senja melepaskan liontin itu ia segera melihat berbagai bentuk Mana di sekitarnya.


Namun berbeda dari sebelumnya ia tidak merasa mual dan pusing. Senja hanya merasa sedikit bingung namun setelah beberapa saat ia mulai terbiasa.


"Akademi ini dijaga ketat, jika kau sembarangan bertindak maka aku yang akan rugi nantinya."


"Lady, sosok jahat itu aka..."


"Awasi saja mereka, jika mereka melakukan hal gila maka habisi saja secara diam-diam tapi jangan dibakar langsung."


Potong Senja yang membuat wajah polos Khalid bersinar terang. Ia seakan melihat panutan baru pada sosok Senja yang malah membuat Senja sedikit merasa tertusuk.


"Ugh, tatapan itu lagi."


"Sudahlah, sekarang kau diam saja. Aku mau tidur." seru Senja sembari mendorong tubuh Khalid menjauh dari kasur.


Khalid yang melihat majikannya tidur segera memutuskan untuk berjaga di depan pintu. Ia tidak ingin menganggu Senja tapi juga tidak bisa melepaskannya.


"Sudah aku duga mengikutinya akan sangat menarik."


Khalid kembali dengan senyum nakalnya, ia perlahan melihat kearah tangga sebelum memilih untuk menyatu dengan kamar Senja. Menurutnya akan lebih baik mengawasi tempat ini sebelum majikannya terbangun.


****


Gedung sihir


"Aku benci ini," lirih Senja saat melihat papan tulis yang berisi berbagai macam teori sihir.


Senja sangat tidak suka menulis, meski ia sangat gemar membaca tapi menulis adalah hal yang paling ia benci. Namun apa boleh buat ia harus mencatat seluruhnya karena itu adalah tugas yang diberikan.


"Aku jadi teringat buku teknik gravitasi yang akan diberikan Sera."


Senja perlahan melirik ke samping kirinya, disana sudah ada Khalid yang sejak tadi mengikuti pelajaran bersamanya. Anehnya tidak ada seorang pun di tempat ini yang bisa melihat Khalid kecuali Senja.


"Karena bocah nakal ini aku sampai lupa mengambil buku itu." gerutu Senja yang masih mengingat lokasi terakhir buku teknik gravitasi sebelum ia pergi dari rumah Sera.


"Sial, padahal itu tempat di depan mata ku."


Senja yang terlanjur sakit hati segera menyelesaikan catatannya. Ia kemudian pergi dari kelas untuk makan siang seperti biasanya.


anehnya sudah lebih dari satu minggu Kira menjauh dari Senja. Dan anehnya lagi setelah kepergian Kira kini datanglah Amir. Ia entah secara kebetulan atau tidak sengaja selalu berpapasan dengan Amir setiap kali keluar.


"Dian belum memberikan informasi apa pun tentang Amir. Apakah sesulit itu?" gumam Senja saat hendak memasuki kelasnya kembali.


Pelajaran selanjutnya adalah teknik strategi. Teknik ini mengharuskan Senja untuk berpikir kritis dan mencari jalan keluar terbaik dari berbagai situasi yang ada.


Karena Senja cukup mahir dalam hal itu, maka pelajaran ini pun berakhir dengan mudah. Senja kemudian merapikan seluruh peralatannya sebelum kembali ke asrama.

__ADS_1


Seperti yang diduga saat Senja hendak memasuki gedung asrama ia tanpa sengaja berpapasan dengan Amir. Saat itu Amir tengah memegang pot yang berisi tanah kompos dan tunas kecil di dalamnya.


"Senja, bagaimana dengan teknik healing mu?" tanya Amir dengan senyum ramahnya.


"Oh itu, aku belum memulai apa pun."


"Kenapa? Apa itu begitu sulit? Kau bisa menumbuhkan tanaman ini bersa..."


"Tidak terima kasih, ini terlalu dini untuk ku menyerah." potong Senja sebelum Amir selesai berbicara.


"Oh begitu, maafkan aku sudah lancang."


"Tak apa, kalau tidak ada lagi yang ingin kau katakan. Aku permisi dulu."


Senja kemudian pergi meninggalkan Amir sendirian. Ia tidak ingin berurusan dengan orang yang bahkan tidak begitu dekat dengannya.


Sesampainya Senja di kamar, ia tidak mendapati Khalid di sampingnya. Awalnya Senja bingung tapi ia merasa itu bukan kewajibannya untuk membatasi setiap pergerakkan Khalid.


"Aku akan pergi menemui Sera." lanjut Senja sebelum mengaktifkan portal.


Beberapa saat kemudian Senja sudah berada di rumah Sera. Rumah itu tampak seperti biasa dan tidak ada perubahan sama sekali.


"Senja," seru Sera sembari menghentikan aktivitas nya.


"Dimana bocah itu?" lanjutnya saat tidak melihat Khalid di samping Senja.


"Entahlah, dia pergi tanpa mengatakan apa pun."


"Itu aneh, tapi... Sudahlah."


Sera tidak mau berpikir yang aneh-aneh mengenai elemental yang dikontrak Senja. Ia kemudian mempersilahkan Senja masuk dan bersantai.


"Apa kau punya buku sihir untuk healing system?" tanya Senja tepat ketika mereka baru saja duduk.


"Aku membutuhkannya untuk bisa lulus praktek."


"Hmm, tidak sulit untuk itu tapi kau tidak bisa mempelajarinya sekarang."


"Kenapa?"


"Mana mu terlalu lemah, setidaknya Meridian mu harus mencapai lingkaran lima untuk bisa mengatasi teknik itu."


"Sial,"


Melihat wajah gusar Senja membuat Sera sedikit kasihan. Ia segera mengeluarkan tanaman obat untuk diberikan pada Senja.


"Bukankah kau sedang melatih elemen angin mu?"


"Benar,"


"Sudah level berapa sekarang?"


"Hmm, kurasa baru lima."


"Sudah aku duga, kau tidak akan sanggup."


"Hah? Kenapa begitu?"


"Senja, apa kau tahu jika hanya mereka yang memiliki elemen air saja yang bisa menggunakan teknik healing system."


"Kenapa bisa begitu?"


"Teknik healing system bukanlah teknik yang bisa digunakan setiap penyihir. Teknik ini hanya dapat digunakan oleh orang-orang tertentu saja. Hal itu karena teknik ini sangatlah langka."

__ADS_1


Perkataan Sera mengingatkan Senja bahwa tidak semua siswa di kelas Prof Aina yang diberi kantong biji. Jika diperhatikan kembali hanya Senja dan empat orang lainnya yang tidak mendapatkan kantong tersebut.


Maka dari itu mereka sedikit gila karena harus merebut kantong milik siswa lain dan berakhir dengan amarah Prof Aina saat itu.


"Tapi aku tidak mempunyai elemen air? Kenapa aku bisa dipilih sebagai healing system?"


"Itu karena elemen angin mu spesial?"


"?"


"Elemen angin mu memiliki suhu dingin yang tidak wajar, dan mungkin itu juga alasan mengapa profesor mu meyakini bahwa kau bisa melakukan healing system."


"Kenapa bisa begitu? Aku tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya."


"Kau tidak akan bisa merasakan perubahan elemen mu sendiri. Tapi orang lain bisa merasakannya, apalagi dia seorang profesional."


"..."


Sera yang melihat raut pucat Senja segera menenangkannya. Ia berspekulasi bahwa hal itu tidak akan berdampak buruk pada Senja.


"Karena 80% tubuh manusia adalah air, maka akan sangat mudah bagi penyihir air untuk menjadi seorang healing system. Hanya saja kelahiran penyihir air sangatlah sedikit."


"Aku tahu, tapi tetap saja ini sangat sulit."


"Tidak akan sulit jika elemen angin mu sudah mencapai level 7 keatas. Setidaknya kau bisa menggunakan teknik penyembuhan dasar."


"Hahaha, beruntung sekali" ejek Senja tidak senang.


"Hah, tidak perlu merasa frustasi. Bukankah masih ada satu bulan lagi sebelum ujian tengah semester? Kau bisa meningkatkan level angin mu segera sehingga saat ujian berlangsung kau tidak akan malu."


"Kau benar, aku akan berusaha untuk itu."


"Gagal praktek bukan berarti akan gagal dalam ujian."


Setelah puas berbincang-bincang dengan Sera, akhirnya Senja memutuskan untuk menunda dulu latihan teknik penyembuhannya. Ia memilih untuk mengasah elemen anginnya hingga mencapai level tujuh.


****


Lantai Tiga Gedung Asrama


Sudah satu bulan berlalu sejak pelatihan intensif Senja pada elemen angin nya. Ia kini tengah berada antara level lima akhir dan ingin memasuki level enam awal.


Meski awalnya sulit namun Senja tidak menyerah begitu saja. Ia tidak ingin kekalahannya pada ujian praktek membuatnya lengah pada saat menghadapi ujian tengah semester.


"Semakin diingat semakin aku menjadi kesal dengan wajah mereka." gerutu Senja saat membayangkan kekalahan telaknya pada ujian praktek pelajaran teknik penyembuhan dasar.


Meski hal itu tidak berpengaruh pada pointnya tapi rasa malu karena ejekan teman sekelasnya membuat Senja kesal. Terlebih lagi ekspresi Kira yang merasa lebih unggul darinya.


"Tapi anehnya saat itu Amir gagal menumbuhkan tanaman obat. Aku yakin sekali terkahir kali kami bertemu tanaman miliknya sudah bertunas."


"Lady, anda sedang memikirkan apa?" tanya Khalid ketika melihat Senja melamun di depan jendela kamarnya.


"Tidak ada," balas Senja masih tetap fokus pada pemandangan di luar jendela.


"Baiklah Lady, apa anda akan melanjutkan kembali sesi latihannya." lanjut Khalid saat melihat Dian baru saja selesai membuat portal sihir.


"Iya," balas Senja datar. Ia kemudian berjalan menuju portal dan beberapa detik kemudian Senja sudah berada di hutan kegelapan.


Sama seperti hari-hari biasanya, Senja sering berlatih tiga kali seminggu dengan Lucas dan sisa waktunya ia gunakan untuk berlatih bersama Sera.


Hari berganti hari dan minggu pun berganti minggu, Senja pun berhasil naik level. Kini Senja sudah berada di level sembilan dengan elemen api berlevel 8 dan elemen angin level 7. Sedangkan elemen esnya masih berada di level lima.


Senja memang jarang melatih elemen esnya sehingga jarak antara ketiga elemen semakin melebar namun karena meridian nya sudah berada di lingkaran kelima, setidaknya ia sudah tidak takut lagi mengalami krisis ledakan mana.

__ADS_1


"Tinggal satu minggu lagi sebelum jadwal ujian tengah semester diumumkan." gumam Senja senang.


__ADS_2