Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Teman Jalan pt 2


__ADS_3

"Musuh yang paling berbahaya adalah teman mu, karena dia mengetahui segala hal tentang hidup mu."


*****************#####*****************


Setelah perbincangan yang panjang, akhirnya Senja dan Kaira pun berpisah di depan gedung kafe. Mereka berpisah setelah mengucapkan banyak omong kosong yang terlihat cukup romantis bagi para pengunjung kafe.


Ada yang berpikir jika mereka adalah pasangan yang sempurna, ada juga yang berpikir jika keduanya adalah tunangan yang akan segera menikah.


Masing - masing dari mereka memiliki ekspektasinya sendiri namun hal tersebut malah semakin membuat Eza tidak menyukai Kaira, ia menganggap jika Kaira adalah wanita licik yang sedang memanfaatkan nona nya.


Sedangkan bagi Kun, pemandangan yang ada di hadapannya tersebut terlihat sangat menjijikan. Kun bahkan tidak habis pikir dengan sikap Senja yang natural dalam memuntahkan omong kosong palsu pada Kaira.


"Akhirnya, ini berakhir juga," batin Kun lega setelah Senja mengucapkan kata perpisahan untuk Kaira.


"Punggung ku sampai bergidik ngeri setiap kali mereka memuntahkan omong kosong yang terdengar sangat manis." lanjut Kun yang saat ini tengah berada di pelukan Eza.


"Hah, apalagi sikap pria aneh ini. Dia terlihat seperti berada di lingkaran hitam dengan raut wajah ganasnya itu," batin Kun sekali lagi saat melihat Eza yang wajahnya menghitam karena kesal.


"Aku harap ini yang terakhir," lirihnya sebelum menutup malas kedua matanya.


Beberapa saat kemudian, Senja sudah berada di dalam kamarnya. Ia terlihat sangat lelah setelah melakukan perbincangan panjang dengan Kaira.


"Akhirnya aku bebas," seru Senja sambil kembali ke wujud aslinya.


"Ternyata seru juga mempermainkan wanita itu,"


"Eza, taruh Kun di atas kasur dan kau bisa pergi sekarang."


" Baik Nona,"


"Ada apa?" tanya Senja saat Eza mulai menatapnya dengan tajam.


" ... "


Eza tidak menjawab, ia hanya menatap tajam kearah Senja dengan pandangan dingin. Senja sendiri mulai merasa panas di punggungnya karena tatapan tajam dari Eza.


"Ada apa dengannya? Dia terlihat sangat kesal. Apa Kun membuat Eza marah tanpa sepengetahuan ku?"


Senja berpikir jika saat ini Eza marah karena sikap Kun yang suka memberontak padanya. Hal itu mungkin saja karena sebelumnya Kun sempat membuat Nindia kerepotan saat mereka ditugaskan untuk berjalan santai tadi pagi.


"Kucing sialan itu, entah apa yang sudah dia lakukan," gerutu Senja saat melirik sekilas pada Kun yang tengah tertidur pulas di kasur.


"Keluarlah jika urusan mu sudah selesai," seru Senja sekali lagi pada Eza.

__ADS_1


" ... "


Eza lagi - lagi hanya diam sambil menatap tajam kearah nona nya tersebut. Ia terlihat sangat kesal dengan pandangan dinginnya.


" Aku seperti diterpa badai es jika begini terus,"


"Apa ada yang salah dengan mu? Apa Kun mengganggu mu tadi?"


"Tidak," jawab Eza datar masih dengan ekspresi dingin diwajahnya.


"Sial, dia membuat ku kesal,"


"Baiklah, kalau begitu keluar sekarang. Aku ingin istirahat dengan tenang," bentak Senja kesal yang malah membuat raut wajah Eza semakin menghitam.


Eza lalu keluar dari kamar tersebut dengan langkah kasarnya. Ia kemudian membanting pintu kamar dengan keras sehingga membuat Senja terkejut kaget.


"Astaga, ada apa dengannya!" pekik Senja kaget sambil memegang dadanya.


"Kenapa dia sangat aneh saat ini?


"Sepertinya aku memang harus memberi pelajaran pada kucing malas itu," batin Senja ketika melihat Kun yang bahkan tidak terbangun saat mendengar bunyi keras dari benturan pintu tersebut.


Ketika Senja hendak tidur, ia jadi teringat dengan Ristia yang sudah lama pergi dan sampai sekarang belum ada kabarnya. Senja kemudian melangkah pergi menuju balkon kamarnya sambil memperhatikan kerumunan warga yang sedang berlalu lalang di plaza kota.


"Ini sudah tengah malam tapi pemandangan dibawah masih saja ramai seperti siang hari,"


Beberapa saat kemudian, sebuah burung Merpati putih terbang kearah Senja dengan sebuah gulungan surat di kakinya. Merpati tersebut mendarat dengan sempurna dipagar balkon kamar Senja.


"Kemarilah," seru Senja yang membuat Merpati tersebut mendatanginya.


"Makan ini." lanjutnya sambil memberikan beberapa butir gandum kepada Merpati tersebut.


Senja kemudian mengambil surat yang terikat di salah satu kaki Merpati. Surat tersebut tampak sangat rapi dan tampaknya ini dikirim dengan tergesa - gesa.


"Hmm,"


"Sepertinya, mereka memang harus datang kesini," batin Senja ketika surat tersebut sudah selesai dibacanya.


"Dian memang sangat bisa diandalkan." lanjutnya sambil membakar surat tersebut dengan api yang menyala ditangannya.


"Nona, yang kau katakan memang benar. Dian itu sangat hebat," seru sebuah suara yang datang tiba-tiba.


" ... "

__ADS_1


Senja hanya diam saat mengetahui sumber dari suara tersebut.


"Nona, aku rasa Dian memang tidak bisa jauh dari mu." lanjut Ristia kemudian naik ke pergelangan tangan Senja.


"Dia memujinya," batin Senja saat Ristia berputar - putar riang di pergelangan tangannya.


"Dari mana saja kau?"


"Bukankah Nona menyuruh ku untuk menyelidiki wanita muda itu."


"Lalu? Apa alasan mu sampai terlambat?" tanya Senja sambil memikirkan Lily yang selalu datang tepat waktu setiap kali ia diminta untuk menyelidiki seseorang.


"Saya mendengar hal seru dari mereka, jadi saya memutuskan untuk tinggal lebih lama disana," jawab Ristia dengan ekspresi gembira diwajahnya.


"Nona tahu, jika wanita tersebut adalah seorang putri dari kerajaan ini."


"Seorang putri?"


"Benar Nona. Wanita itu adalah Putri kelima Raja El-Aufi dengan selirnya, dan ternyata dia adalah seorang petualang."


"Hah, apa?" tanya Senja kaget, ia tahu jika Kaira bukan wanita biasa tapi ia tidak tahu jika Kaira adalah seorang Putri Raja bahkan seorang petualang.


"Huh, Nona. Apa anda mendengar saya atau tidak?"


"Seorang petualang? Lalu mengapa dia ada disini sekarang?"


"Nona, anda sedang memikirkan apa sekarang?"


"Ristia. Jika dia adalah seorang petualang, mengapa dia ada disini sekarang?"


"Ah, jadi begini Nona..."


Ristia kemudian menceritakan semua yang ia dengar pada Senja tanpa melewatkan satu hal pun. Senja yang mendengar informasi tersebut hanya bisa tersenyum licik sambil memikirkan harinya yang akan berlalu dengan kehadiran Kaira.


"Sepertinya hubungan ini akan bertahan sangat lama,"


"Hahaha"


Ristia sedikit kaget dengan tawa Senja yang mendadak namun ia mencoba untuk memahami nona nya tersebut.


"Aku masih belum terbiasa dengan sikap aneh dari Nona namun aku yakin Nona tetaplah yang terbaik," batin Ristia sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.


"Dengan ini, aku yakin bahwa hubungan ku dengan Kaira akan bertahan sangat lama,"

__ADS_1


"Kaira pikir, dia bisa memanfaatkan aku tetapi dia salah. Aku sendirilah yang akan memanfaatkannya dalam hubungan ini." lanjut Senja senang sambil memasang senyum licik di wajah polosnya tersebut.


"Pria lucu dan polos, itulah tipe mu namun kau tidak tahu. Jika dibalik wajah polos itu ada gadis seperti ku," batin Senja ketika melihat wajahnya dari pantulan cermin.


__ADS_2