
"Rahasia adalah kunci bahwa Aku dan Kau memiliki batasan yang tidak bisa dilewati meski kita selalu bersama."
*****************#####*****************
"Tempat apa ini?" tanya Muna ketika sedang berjalan-jalan diarea paviliun.
"Entahlah," jawab Maya acuh tak acuh.
Tanpa pikir panjang Muna lalu menerobos masuk ke dalam area tersebut. Maya mencoba untuk mengabaikannya, tapi ketika ia sudah beberapa langkah menjauh dari area itu, Maya terlihat frustasi.
"Sial," maki Maya kemudian berbalik ke tempatnya semula.
"Jika aku kembali tanpa Muna, pastinya mereka akan terus bertanya."
Maya tidak suka dihujani banyak pertanyaan, itu membuatnya pusing dan mual. Ia lalu memutuskan untuk mengikuti Muna yang masuk ke dalam area tersebut.
"Seharusnya aku menolak ajakan itu sejak awal."
Maya kembali teringat kejadian beberapa saat yang lalu. Saat itu ketika mereka sedang asyik mengobrol entah apa yang dipikirkan Muna hingga ia mengajak Maya untuk berkeliling paviliun.
Tentu saja hal tersebut dilarang oleh Luna namun Senja dengan senang hati membiarkannya. Senja berpikir lebih baik jika sahabatnya itu dapat melihat secara langsung keadaannya di tempat ini tanpa harus menceritakannya terlebih dahulu.
"Dan inilah yang terjadi." gerutu Maya saat melihat ke sekeliling area tersebut.
Tempat ini tidak bisa dikatakan buruk tidak juga bisa dikatakan baik. Area luar ditumbuhi banyak pohon pinus tapi setidaknya area itu terawat dengan baik.
Alasannya sangat jelas karena area hutan pinus merupakan gerbang pintu belakang mansion ini dan terkadang banyak pelayan maupun tentara sering lewat dan latihan disana.
"Anehnya area dalam paviliun terlihat sangat-sangat buruk."
Maya merasa sesak berada diarea dalam paviliun, selain karena banyaknya tanaman Lily dan mawar disana terdapat juga rumput liar yang tumbuh rindang bersamaan bunga - bunga tersebut.
"Dimana Muna?"
Maya mulai mencari Muna yang sudah masuk ke dalam terlebih dahulu. Ia memeriksa area itu sambil sesekali menghindari duri bunga mawar yang menjulang tinggi disekitarnya.
"Jika saja tempat ini terawat dengan baik pastinya akan menjadi tempat ternyaman untuk pulang."
Maya terus mencari Muna hingga akhirnya ia berhenti ketika mendengar teriakan dari arah kirinya. Segera Maya bergegas pergi menuju sumber suara tersebut.
Sesampainya disana Maya dapat melihat Muna yang tengah bergelantungan di samping pohon besar.
"Hmp." Maya menutup mulutnya reflek, ia ingin tertawa keras tapi melihat tatapan tajam Muna membuatnya hanya bisa menahan geli.
"Bagaimana.. Pfft..." Maya yang tidak tahan sampai meneteskan air mata.
"Ketawa saja jangan ditahan," gerutu Muna sambil memalingkan wajahnya.
Jujur saja Muna kesal dengan perilaku Maya tapi ia juga tahu jika posisinya saat ini sangat memalukan. Ia bergelantung dengan kaki menghadap kesamping secara horizontal.
"Pfftt.... Bwahaha!"
Maya yang tidak dapat menahan geli pun tertawa lepas. Ia sampai terpingkal-pingkal dengan tangan yang memegang perutnya pelan.
"Bagaimana kau bisa sampai disana?" tanya Maya sambil mengelap air matanya yang jatuh.
"...."
Melihat Muna diam Maya hanya bisa mencoba untuk menutupi rasa gelinya namun itu tidak bertahan lama.
"Baiklah, baiklah aku akan menolong mu." lanjut Maya setelah jeda beberapa saat.
Saat Maya hendak melangkah maju ia malah tidak sengaja menginjak akar pohon yang berada disisi kanan Muna. Seketika sulur pohon mulai mengikat tubuh Maya mengangkatnya secara vertikal.
"Kya...!!" teriak Maya kaget.
Muna yang melihat itu hanya bisa menghela napas. Ia tidak menduga jika seluruh bagian pohon ini akan memiliki jebakan sulur.
"Kenapa ini?" Maya berusaha untuk membebaskan dirinya tapi Muna hanya menendangnya keras dari samping.
"Berhenti, itu tidak ada gunanya."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
__ADS_1
"Tertawa." balas Muna acuh tak acuh.
Sekarang Maya mengerti mengapa Muna tidak bisa lepas dari sulur ini. Maya awalnya merasa aneh sebab Muna merupakan ksatria berpangkat 3, setidaknya ia bisa menggunakan kekuatannya itu.
"Sekarang aku mengerti," gumam Maya terambil teringat kejadian beberapa saat yang lalu. Kini ia merasa menyesal karena telah menertawakan Muna.
"Maafkan aku," lirih Maya pelan.
****
Di gazebo Senja dan Luna masih mengobrol ria. Mereka menceritakan kisah masa lalu masing-masing. Ketika sedang asyik bercerita, Xena datang menemui keduanya.
"Maaf menggangu waktu anda Nona Luna dan Nona Senja." seru Xena sambil membungkukkan tubuhnya.
"Saya mendapatkan pesan aneh dari nona saya." lanjutnya masih dengan kepala yang menunduk.
"Pesan apa itu?" tanya Luna bingung.
"Maafkan kebodohan saya Nona Luna, saya tidak tahu apa itu. Tadi beberapa saat yang lalu, saya mendapatkan sinyal aneh yang berasal dari arah barat tempat ini."
"Coba jelaskan detailnya?" tanya Luna kembali.
Xena lalu menceritakan apa yang baru saja ia terima. Setelah mendengar cerita pelayan pribadi Muna, keduanya lalu pergi menuju arah barat area tersebut.
Disana keduanya melihat tembok tinggi dengan banyak sulur tanaman merambat di setiap sisinya.
"Apa benar disini?" tanya Senja bingung.
"Benar Nona," Xena lalu menunjuk ke arah dalam tembok tersebut.
"Bagaimana mereka bisa masuk kesana?"
Senja terlihat cemas, ia tahu jika paviliun ini dijaga ketat oleh bawahan Duke atas perintahnya. Bahkan sejak kepergian permaisuri, paviliun ini ditutup untuk umum.
"Aku takut jika Muna dan Maya telah tertangkap," seru Senja pelan yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
"Tempat apa ini?" tanya Luna ketika melihat ekspresi cemas pada wajah Senja.
Dengan ragu Senja menjawab "paviliun ini milik permaisuri." Luna dan kedua pelayan itu terdiam sesaat. mereka lalu menatap aneh pada Senja.
Senja sendiri tidak tahu kenapa Duke selaku ayahnya bersikap seperti itu, tapi yang jelas area paviliun ini terlarang bagi siapa pun.
"Kita harus bergegas pergi." seru Luna setelah mendengar menjelaskan Senja.
Luna tahu tahu terkadang para bangsawan memiliki hobi aneh dan kecendrungan yang ekstrim terhadap sesuatu.
"Baik," jawab Xena sebelum melompati tembok tersebut.
****
Gedung Asrama Akademi
Suasana akademi begitu tenang akhir - akhir ini. Sulit dikatakan jika hal itu sering terjadi tapi anehnya sudah beberapa hari suasana ini tetap terjaga.
"Apa hasilnya?" tanya Tasya setelah menyesali teh hitam miliknya.
"Tenang saja, Aku punya rencana efektif untuk ini."
"Apa pun itu aku ingin hasilnya memuaskan."
Tasya sangat ingin melihat wajah menangis Muna yang selama ini hanya menampakkan wajah dinginnya saja.
"Akan seru jika keduanya ikut menangis."
Tasya mulai membayangkan wajah sedih Muna dan Maya menangis di depannya. Setelah puas membayangkan wajah keduanya, ia pun kembali fokus pada pembicaraan mereka.
"Bagaimana dengan Arina?" tanya Tasya sedikit tidak suka.
"Dia ikut, tapi seperti yang kau tahu."
Dira menjelaskan situasi Arina dalam rencana ini. Sejujurnya baik Dira maupun Tasya tidak ada yang menyukai Arina. Mereka menganggap Arina sebagai beban yang dibawa karena pangeran kelima saja.
"Apa kau yakin?" tanya Mari memperlihatkan ketidaksetujuannya.
__ADS_1
"Manfaatkan saja dia sebisa kita." balas Dira acuh tak acuh.
"Hah, entah kenapa aku lebih suka melihat Sarah dari pada Arina."
Mari tersenyum masam saat mengatakan hal itu. Ia tahu jika Arina itu polos dan terlalu manja.
"Aku setuju." seru Tasya membenarkan.
"Karena itu aku punya rencana untuk nya."
Dira menjelaskan kembali rencana cadangan mereka. Baik Mari maupun Tasya tampak sangat puas.
"Bidak yang bagus." lirih Tasya senang.
Beberapa saat kemudian pelayan Mari menghampiri mereka dengan membawa seorang wanita muda yang pipinya memerah.
"Waktumu sudah habis, segera putuskan." seru Dira dengan tatapan intimidasinya.
"..."
Wanita itu tetap diam, ia bahkan mencoba untuk menatap balik mata Dira. Mari yang melihat hal itu segera memberikan pukulan keras pada tubuh wanita itu.
"Berani sekali makhluk rendahan ini." gerutu Mari dengan kaki yang masih menendang-nendang tubuh bagian bawah wanita itu.
"Jangan meninggalkan bekas, dia masih berguna bagi kita."
Tasya tidak mencoba menghentikan pukulan Mari. Ia hanya menyuruh Mari untuk tidak membunuh wanita itu.
"Bagaimana?" tanya Dira kembali.
"Tidak ada kesempatan kedua, jika kau tidak setuju maka kematian akan menunggumu."
"Beraninya kalian!" gerutu wanita itu kesal.
"Aku ini putri Duke, berani sekali..."
Belum sempat wanita itu menyelesaikan perkataanya, ia sudah ditekan kembali oleh salah satu pelayan Dira.
"Kau hanya putri ketiga rumah itu, meski kau mati sekalipun Duke tidak akan peduli."
"Tidak, ayah pasti peduli padaku. Ia sangat mencintai ibu ku dan aku." teriak wanita itu penuh emosi.
"Hohoho, sayang sekali." seru Dira dengan senyum iblisnya.
"Berani buktikan." bisik Dira pelan di telinga wanita itu.
"Dira...!"
"PLAK"
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi manis wanita itu. Ia tanpa sadar meneteskan air matanya pelan.
"Berani sekali kau berteriak dihadapan ku." bentak Dira keras.
"Sudahlah Sarah, menyerah saja." goda Mari dengan ekspresi mengejek.
"Sarah yang sedari tadi diintimidasi oleh ketiganya hanya bisa diam. Ia merasa panas pada pipi nya yang baru saja ditampar.
"Semua ini karena dia."
Sarah kembali teringat memori beberapa hari yang lalu saat ia mencoba mengadu domba Senja dan Dira. Saat itu ia merasa senang karena rencananya berhasil tapi ia tidak tahu jika rencana itu akan membawa bencana bagi hidupnya kemudian.
"Semua ini salah mu Senja, seharusnya aku yang mendapat posisi itu."
Sarah kesal ia merasa kelahiran Senja adalah bentuk kesalahan dalam hidupnya. Senja bagaimana duri dalam diri Sarah. Ia merasa jika semua yang dimiliki Senja saat ini adalah miliknya yang sesungguhnya.
"Sarah, mana jawaban mu?" tanya Tasya mulai kehabisan kesabaran.
Sarah diam untuk sesaat, ia tengah membayangkan wajah hancur Senja dan dirinya yang sedang duduk di tahta duchess.
"Jika aku tidak bisa memiliki posisi itu, maka dirimu pun sama."
Sarah yang lama diam pun segera mengangkat wajahnya. Ia menatap Dira dengan ekspresi yang tidak dapat dijelaskan.
__ADS_1
"Aku terima." jawab Sarah dengan binar aneh dimatanya.