
"Setiap kehidupan memiliki sisi gelapnya tersendiri."
*****************######****************
"Desa?" seru Senja bingung sambil melirik ke sekelilingnya.
Dengan pandangan mata menyipit Senja mencoba untuk mencari keberadaan desa disekitar mereka. Sayangnya sejauh mata memandang Senja hanya melihat hamparan luas ilalang.
"Dik, kau tidak akan bisa menemukannya jika seperti itu." seru Evan seraya menepuk pelan pundak Senja.
"Evan benar kau tidak mungkin bisa menemukan desa itu disini." timpal Noime setelahnya.
"Hmm, terkadang aku heran kau ternyata bisa juga bertingkah seperti gadis kecil yang polos," lanjut Noime dalam hatinya.
"Aku sama sekali tidak mengerti dimana desa itu sebenarnya?" tanya Senja kesal.
Noime dengan lembut menunjuk ke arah bukit yang ada di hadapan mereka. Dan dapat dilihat dengan jelas bahwa bukit itu terhubung langsung dengan hutan yang sejak tadi diamati oleh Senja.
"Diatas bukit itu?" tanya Senja bingung.
"Tidak, desanya ada di balik bukit itu. Lagi pula tidak ada yang bisa menempati bukit itu karena hutan di sampingnya." jelas Evan.
"Hmm, aku mengerti." balas Senja.
"Bagus, mari kita pergi." seru Noime yang kemudian memimpin jalan menuju desa tersebut.
Selama perjalanan Noime menjelaskan sedikit tentang misi yang akan mereka kerjakan. Dimana misi itu mengharuskan mereka untuk melindungi kebun milik warga desa dari serangan monster.
Sayangnya meski terlihat mudah namun monster yang harus dilawan rata-rata memiliki grade antara 3 sampai 5. Oleh karena itu dibutuhkan pemburu handal untuk menyelesaikan misi ini.
"Aku pikir senior mampu membunuh monster itu dengan sekali tebas tapi kenapa kalian terlihat khawatir?"
"Dasar bodoh, jika monster itu datang sendiri maka satu dari kami saja sudah cukup tapi nyatanya monster-monster itu datang secara bergerombolan." jawab Evan seraya mengetuk pelan kepala Senja.
"Aduh sakit...!" pekik Senja yang tidak siap dengan pukulan mendadak Evan.
"Dik sebagai senior yang berbudi luhur aku akan menunjukkan padamu betapa kejamnya dunia ini. Jadi kau harus belajar baik-baik dari misi ini, benar kan?" seru Evan dengan tatapan mata yang bersinar terang.
"Ahahaha, sepertinya junior mu ini sudah mulai paham senior." lirih Senja dengan tawa palsunya.
"Itu sangat bagus junior, kau benar-benar cepat belajar. Hahahah...." balas Evan sambil merangkul tubuh mungil Senja dalam pelukannya.
"Hahaha, senior kau terlalu berlebihan." lirih Senja sambil mendorong tubuh kekar Evan menjauh darinya.
"Jangan malu-malu junior, senior mu ini sangat dapat diandalkan soal itu."
"Hahaha, aku tahu...."
Keduanya terus berinteraksi secara aktif selama perjalanan. Baik Evan maupun Senja terus saja saling melontarkan omong kosong seolah-olah mereka sudah kenal lama.
Noime yang melihat interaksi keduanya hanya bisa diam. Ia tidak menghentikan candaan Evan pada Senja atau pun menasihati keduanya untuk tenang. Menurutnya baik Evan maupun Senja keduanya sama-sama mirip.
"Bangsawan memang berbeda," batin Noime dengan pandangan datar.
__ADS_1
Setelah berjalan selama lima belas menit akhirnya mereka sudah sampai di kaki bukit. Dengan tenang Noime meminta Evan dan Senja untuk diam.
Tentu saja keduanya langsung diam, mereka bahkan tidak dapat mengembuskan napas dengan keras karena bisa saja Noime akan marah.
"Kita akan menaiki bukit ini dan turun dengan diam-diam." bisik Noime pada keduanya.
Evan dan Senja hanya mengangguk patuh, mereka kemudian mengikuti langkah kaki Noime menaiki bukit tersebut. Butuh waktu 30 menit hingga ketiganya sampai di puncak bukit.
Ketika sudah berada di puncak bukit Senja dapat melihat sinar lentera dari beberapa rumah warga. Ia juga melihat beberapa petak kebun yang berada tepat di bawah kaki bukit.
"Luar biasa, ini seperti desa dongeng." batin Senja kagum.
Ia baru pertama kali melihat desa yang begitu asri. Bahkan bangunan rumah mereka bergaya arsitektur jaman kuno. Tidak hanya itu penerangan yang mereka miliki masih menggunakan lentera ketimbang batu mana.
"Desa apa ini?" tanya Senja spontan.
"Diam!" bentak Noime sebelum menuruni bukit.
Senja yang melihat sifat konservatif Noime hanya bisa menghela napas panjang dan tentunya helaan itu ia buat seringan mungkin agar Noime tidak dapat mendengar suaranya.
"Kenapa dia begitu kasar? Aku hanya bertanya secara spontan, lagi pula aku penasaran kenapa kita tidak boleh berbicara di bukit ini." batin Senja bingung sekaligus kesal.
Disela-sela gerutuan Senja, Evan dengan lembut berbisik di telinganya. Ia mengatakan bahwa desa yang akan mereka datangi bernama Awda.
Desa Awda merupakan desa yang penduduknya berasal dari kerajaan tetangga. Kerajaan itu telah jatuh karena suatu alasan yang tidak pasti, kemudian para rakyat yang tersisa dari kerajaan itu pun menyebar ke seluruh benua termasuk ke kerajaan Green.
"Tidak tahu pasti apa penyebab mengapa kerajaan itu jatuh tapi yang pasti kini mereka sudah ditetapkan sebagai penduduk kerajaan Green tiga puluh tahun yang lalu."
Evan menjelaskan secara singkat agar Senja paham desa seperti apa yang akan mereka datangi. Tentunya Senja sangat senang dengan hal itu dan memuji Evan karena mau berbagi pengetahuan ini.
Helaan napas panjang seketika mengakhiri obrolan Senja dan Evan. Keduanya tahu bahwa saat ini Noime sedang dalam mode senggol bacok sehingga sangat sulit untuk diganggu.
Beberapa menit kemudian ketiganya sudah berada di tengah jalan menuruni bukit. Semakin dekat Senja dengan desa Awda maka semakin takjub pula lah dia dengan pemandangan desa tersebut.
Namun dibalik semua rasa takjubnya Senja merasa ada yang aneh dengan desa tersebut. Ia merasa hawa desa tersebut sangat gelap bahkan meski sudah diterangi oleh lentera namun tetap saja masih banyak sudut yang mengeluarkan aura hitam.
"Desa ini bukan desa elf kegelapan, bukan?" batin Senja bingung.
Biasanya aura gelap hanya akan muncul apabila ada suatu energi negatif di tempat tersebut. Meski pun aura negatif yang dimiliki desa Awda tidak terlalu kuat namun tetap saja Senja merasa ada yang mengganjal dihatinya.
Ketika Senja sedang bergulat dengan pikirannya tiba-tiba saja pundaknya dipukul pelan oleh Evan. Senja yang kaget seketika langsung melirik kearah Evan dengan tatapan ganas.
"Maaf, tapi kau harus fokus mulai sekarang." bisik Evan sambil memberikan kode lirikan mata agar Senja melihat ke depan.
Senja yang kesal kemudian mengikuti lirikan mata Evan. Ternyata saat ini ketiganya sudah hampir mendekati lembah dimana desa Awda berada.
"Siapa itu?" tanya Senja pelan sebelum Evan kembali ke posisinya.
"Kepala desa," balas Evan kemudian mempercepat langkahnya mendekati Noime.
Senja yang menyaksikan perubahan sifat Evan mulai mempertanyakan situasinya. Namun ia mencoba sebisa mungkin untuk tetap tenang dan melihat apa yang akan dilakukan Noime dan Evan setelahnya.
"Hmm, mereka baik juga meyambut kedatangan kami di pagi buta begini." batin Senja saat ia sudah menuruni bukit dan hendak mendekati pintu masuk desa.
__ADS_1
"Meski begitu Noime dan Evan sedikit aneh, aku harus waspada." lanjut Senja ketika Evan dan Noime saling berbisik satu sama lain.
Tentunya Senja sama sekali tidak tahu apa yang dibisikkan Evan ke Noime namun ketika ia melihat reaksi Noime yang sedikit bergetar Senja pun mulai berspekulasi tentang keadaan mereka.
"Misi ini tidak sesederhana seperti yang aku bayangkan," gumam Senja sebelum menghentikan langkah kakinya saat melihat kepala desa dan tiga warga lainnya berjalan mendekati mereka.
"Selamat datang para ksatria, kami semua disini sudah menunggu kehadiran kalian." seru kepala desa dengan senyum hangatnya.
"Terima kasih pak atas sambutannya, kami tidak menyangka bahwa kepala desa sendiri yang akan menyambut siswa magang seperti kami." balas Evan seraya mengulurkan tangan kanannya.
Melihat itu kepala desa segera menyambut uluran tangan Evan dan setelahnya mereka berdua mengobrol santai seraya kepala desa membimbing ketiganya menuju salah satu rumah warga.
"Rumah ini sengaja dibuat khusus untuk para tamu. Saya harap kalian dapat beristirahat dengan nyaman disini." seru kepala desa saat mereka sudah berada tepat di depan rumah tersebut.
"Baik pak, terima kasih untuk kebaikan anda."
"Tidak masalah nak, selain itu kalian tidak perlu sungkan untuk meminta bantuan dari kami, dan jika kalian memiliki kendala kami akan dengan senang hati membantu." lanjut kepala desa masih dengan senyum ramahnya.
"Terima kasih pak, niat baik anda dengan senang hati akan kami terima." balas Evan dengan senyum formalitas.
"Tidak perlu sungkan nak, semua ini demi terjalinnya kerja sama yang baik antara kita."
"Terima kasih pak, kami sangat menghargainya."
"Astaga nak, kamu kaku sekali. Kamu bisa menganggap saya dan warga desa disini sebagai keluarga, jadi jangan terlalu kaku seperti itu."
"Tidak pak sebagai seorang anak muda kami harus menghormati yang lebih tua,"
"Ya ampun nak, kamu memang sangat sopan tidak salah kami mempercayakan misi ini pada kalian."
"Saya sangat berterima kasih atas kepercayaan yang bapak berikan."
Evan terus saja membalas perkataan kepala dengan sopan sesuai penuturan kata seorang bangsawan. Ia juga sesekali tersenyum formal pada kepala desa untuk beberapa pertanyaan yang tidak dapat ia jelaskan.
Setelah beberapa percakapan ringan akhirnya kepala desa memutuskan untuk mengakhiri percakapannya. Mungkin saja ia sudah bosan berbicara dengan Evan yang hanya membalasnya sekadarnya saja.
Meski begitu Senja yang sejak awal menyaksikan interaksi Evan dan kepala desa menangkap sedikit pengunjuk aneh. Ia melihat bahwa kepala desa sering kali melirik bagian bawah rumah tersebut.
Senja yang bingung mencoba untuk mencari tahu tapi sayangnya ia harus menghentikan niatnya tersebut karena salah satu warga terus memperhatikan gerak-gerik Senja.
"Hmm, kalau begitu saya tidak ingin menggangu kalian lagi, silahkan istirahat dengan nyaman disini." seru kepala desa sebelum pergi meninggalkan mereka.
Kepala desa kemudian tersenyum samar dan bersama dengan tiga warga desa lainnya, mereka pun segera pergi meninggalkan tempat itu menuju rumah masing-masing.
Terlihat jelas jika rumah kepala desa dan tiga warga lainnya berada disekitaran tempat mereka menginap. Entah apa tujuan dari kepala desa namun Senja dapat melihat dengan jelas bahwa situasinya terasa aneh.
"Mereka seakan mengawasi rumah ini," batin Senja seraya memperhatikan ke sekeliling area tersebut.
"Satu kiri, satu kanan dan dua belakang." gumam Senja saat melihat kepala desa dan tiga warga tersebut memasuki rumahnya.
Senja merasa tidak dapat membiarkan masalah ini berlalu begitu saja. Meski ia ingin mengatakan hal ini pada Evan dan Noime namun Senja mengurungkan niatnya saat melihat raut wajah Noime yang datar.
"Uhm hanya ada satu pilihan, Ristia bangunlah." seru Senja dengan iris mata yang bersinar tajam.
__ADS_1
"Ada tugas untuk mu."