Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E77] Manipulasi Elemen


__ADS_3

"Setiap elemen akan menunjukkan keunikannya masing-masing dan kamu hanya perlu memanfaatkannya saja."


******************#####****************


Hutan buatan yang dimiliki akademi tersebar hampir di seluruh wilayah sekolah. Hutan itu sengaja dibuat untuk memudahkan guru pengajar dalam memberikan materi di luar kelas.


Salah satu hutan buatan itu juga dikenal sebagai hutan tanpa batas dimana Senja saat ini berada. Di dalam hutan tersebut tidak terdapat makhluk hidup karena hutan itu sengaja di desain untuk keperluan praktek.


Ketika para siswa sedang asik mengamati sekitarnya, salah satu staff datang kembali dan menyuruh mereka untuk segera berbaris menuju kedalaman hutan.


"Pak, kenapa kita tidak melakukannya disini saja?" tanya siswa perempuan yang sudah kelelahan berjalan.


"Ujian tidak bisa dilakukan di bibir hutan karena dapat mengganggu penghuni lain yang berada di luar." jelas staff tersebut sambil memberikan air mineral pada siswa tadi.


Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di tengah hutan. Wilayah tengah hutan tidak terdapat banyak pohon karena pohon diarea itu telah digantikan dengan lapangan tempur sederhana.


"Selamat datang di lapangan tempur, kalian bisa duduk disana sambil menunggu giliran untuk di panggil." seru Miss Aila sembari menunjuk sisi kanan lapangan yang terdapat kursi penonton.


"Tunggu Miss, kami tidak tahu siapa yang terlebih dahulu akan tampil." seru salah satu siswa dari kerumunan.


Tidak seperti ujian sebelumnya dimana para siswa akan diberikan nomor urut, di ujian kali ini mereka bahkan tidak mendapatkan petunjuk apa pun mengenai siapa yang akan tampil terlebih dahulu.


"Kalian akan tampil sesuai dengan urutan nama, itu dimulai dari alfabet A." jawab Miss Aila sembari menggoyangkan lembar kerta absen di tangannya.


Mendengar penjelasan Miss Aila, banyak siswa terlihat senang tapi ada juga beberapa diantara mereka berwajah masam.


"Baiklah, siswa pertama yang akan tampil adalah Acha Vessel." lanjut Miss Aila sebelum para siswa duduk di kursinya.


"Acha, kamu tidak perlu duduk, segera kemari." seru Miss Aila sekali kali.


"Acha semangat, kamu pasti bisa." seru siswi wanita yang sedari tadi berdampingan dengan Acha.


"Iya Acha, kamu pasti bisa. Semangat." timpal temannya yang lain.


Siswi bernama Acha itu adalah siswi populer di kelas Senja. Ia adalah gadis muda berwajah oval dengan paras yang cantik. Matanya hitam legam dengan rambut hitam pendek sebahu.


Penampilannya sangat modis jadi wajar saja jika banyak pria yang menyukainya. Terlebih lagi Acha tidak hanya cantik, ia juga pintar. Namun sesuai dengan popularitasnya, Acha sangat tidak menyukai Senja.


"Yah, aku harap dia tidak akan berlebihan" gumam Senja ketika melihat wajah sombong Acha yang tengah mendengarkan instruksi Miss Aila.


Segera setelah itu Senja melihat Acha yang sedang berusaha mengeluarkan Mana miliknya. Jika dilihat dari warna auranya yang coklat tua, Senja yakin jika Acha merupakan penyihir elemen tanah.


"Tidak buruk hanya saja penanganan Mana miliknya kacau. Jika dia terus seperti itu maka kondisi manipulasi elemen nya akan sulit." gumam Senja pelan.


Senja terus fokus dalam melihat kesalahan yang dibuat oleh Acha. Ia sadar jika menggunakan energi terlalu banyak maka hal itu akan berdampak buruk pada mana.


"Aku akan fokus pada pengendalian energi, sehingga Mana yang akan aku keluar tidak sebanyak itu," gumam Senja sembari menulis review untuk Acha.


Seiring berjalannya proses tanpa disadari sesi ujian Acha telah berakhir. Untung saja ia mampu menyelesaikan ujian tepat waktu dengan hasil manipulasi elemen tanah menjadi bentuk keramik padat.


"Selanjutnya Akira,"


Siswa yang bernama Akira itu segera bangkit dari duduknya. Ia pun melakukan hal yang sama dengan Acha. Dimana ia hanya memfokuskan energi Mana nya untuk mengubah air serat menjadi air mineral yang dapat diminum.


"Aku tidak tahu jika elemen air dapat memurnikan cairan lain." batin Senja yang takjub dengan kemampuan Akira.


"Selanjutnya..."


Satu-persatu siswa dipanggil untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam manipulasi elemen. Sampai akhirnya giliran Alisa untuk tampil ke depan.


"Alisa," seru Miss Aila yang tidak ada tanggapan sama sekali dari siswi tersebut.


"Alisa Adore." panggil Miss Aila sekali lagi.


"Alisa...!!?"


Miss Aila terus memanggil tapi Alisa sama sekali tidak menampakkan wujudnya. Ia seakan tidak pernah ada di tempat itu sejak awal. Sayangnya tidak seorang pun yang sadar akan ketidakhadirannya.


"Miss," panggil salah satu staff yang membuat perhatian Miss Aila teralihkan padanya.


Staff itu terlihat sedang mendiskusikan sesuatu dengan Miss Aila. Setelahnya tampak wajah kaget sekaligus bingung dari Miss Aila.


"Baiklah, saya mengerti." lirih Miss Aila yang bisa di dengar oleh sebagian siswa.


"Selanjutnya adalah Amir Beck." seru Miss Aila setelah kembali ke posisi awalnya.


Sebagian siswa yang awalnya diam sekarang menjadi bingung. Mereka bisa melihat ekspresi kaget dan bingungnya Miss Aila tapi mereka tidak tahu apa yang sedang dibahas oleh keduanya.

__ADS_1


"Apa Alisa bolos lagi?" tanya siswa yang berada di samping Ronald.


"Tidak tahu," balas Ronald acuh tak acuh.


"Dasar, dia sudah sering meninggalkan kelas. Dia jadi mirip seseorang," lirih siswa perempuan yang terlihat kesal sembari melirik sekilas pada Senja.


"Hah, kenapa aku lagi." batin Senja kesal saat dirinya disamakan dengan Alisa.


"Tapi sebelum itu, bagaimana dengan Amir." lanjut Senja sebelum kembali fokus pada Amir yang sedang mendengarkan instruksi Miss Aila.


Beberapa menit kemudian, Amir mulai memanipulasi elemen nya. Jika dilihat dari warna auranya maka jelas jika Amir memiliki elemen angin yang sama dengan Senja.


Elemen angin milik Amir terus bergerak bebas sehingga Mana yang dimilikinya meluncur ke segala arah. Jika diperhatikan kembali saat ini Amir tengah memanipulasi udara di sekitarnya.


"Apa Amir hendak membuat udara bertekanan tinggi?" tanya Senja yang masih fokus pada apa yang sedang dilakukan Amir.


Tidak butuh waktu lama bagi Amir untuk menyelesaikan ujiannya. Ia dengan cekatan mampu membuat udara disekitarnya menjadi lebih rendah.


Senja yang melihat situasi itu sedikit mengernyit kaget, ia tidak menyangka jika Amir sekuat ini. Tidak sejujurnya Senja sadar jika Amir kuat tapi entah mengapa pembawaan Amir sangat berbeda dengan kekuatan yang ia miliki.


"Aku sudah melihat bagaimana Amir menerbangkan siswa lain, tapi anehnya entah mengapa setiap kali aku berbicara dengannya, Amir selalu saja memberikan kesan lemah."


Senja semakin bingung dibuatnya, pasalnya tidak hanya Alisa dan Ronald yang aneh tapi Amir juga. Entah karena alasan apa Senja merasa bahwa ketiga telah menyimpan rahasia besar.


"Aku harus waspada," gumam Senja saat melihat Amir yang sudah menyelesaikan ujiannya.


Senja kemudian menulis keunggulan apa saja yang dimiliki Amir dan kekurangannya dalam ujian tadi. Setelahnya siswa lain pun dipanggil, hingga tidak terasa waktu sudah berjalan dua jam lamanya.


"Waktunya istirahat," seru Miss Aila kemudian mempersilahkan para siswa untuk keluar dari hutan.


Waktu istirahat yang diberikan Miss Aila adalah 35 menit. Dalam waktu itu para siswa bisa mengkonsumsi makanan sekaligus mengembalikan stamina akibat kelelahan menunggu.


Setelah waktu istirahat berakhir, kini giliran Ronald yang akan tampil. Meski Senja tidak terlalu ingin ikut campur tapi ia juga penasaran dengan kekuatan yang dimiliki Ronald.


"Aku harus mencatatnya dengan baik," gumam Senja saat melihat warna biru muda mengelilingi Ronald.


Jika dilihat dari warna auranya maka terlihat jelas jika Ronald adalah penyihir elemen air. Penyihir langka yang sulit ditemukan karena kemampuannya sebagai seorang healing system.


"Apa Ronald akan meniru siswa tadi?" tanya salah satu siswa yang berada tidak jauh dari Senja.


"Kurasa tidak, sebaik apa pun Miss Aila, ia pasti tidak akan senang jika siswanya meniru orang lain." timpal siswa lain yang disetujui oleh rekannya.


Para siswa sengaja dipisahkan untuk mensortir siswa mana yang telah tampil dan yang belum. Siswa yang sudah tampil sengaja tidak dipulangkan karena mereka diharuskan untuk menulis review mengenai keseluruhan siswa yang mengikuti ujian.


Setelah Senja mendengar ocehan temannya itu, ia kemudian kembali lagi fokus pada Ronald. Dan benar saja saat ini Ronald sedang membuat kapas kecil yang terlihat seperti awan.


Ronald lalu mengisi kapas kecil itu dengan elemen air miliknya. Elemen itu kemudian mengalirkan Mana dengan tekanan yang berbeda.


"Apa itu aneh sekali." gumam Senja saat melihat kapas yang mulai berubah warna.


Warna kapas yang sebelumnya putih kini menjadi gelap. Anehnya setelah kapas itu berubah warna, muncul tetesan air di sekitar tangan Ronald.


"Sial, itu prototipe hujan awan...!" teriak siswa yang sebelumnya sudah tampil.


Siswa itu tampak tidak percaya bahkan Miss Aila terlihat terkejut. Mereka tidak menyangka jika Ronald telah berhasil menciptakan hujan awan meski itu hanya sebuah prototipe.


"Dia sama seperti Amir, terlihat lemah padahal kuat." keluh Senja tidak suka.


Setelah pertunjukkan Ronald kini giliran siswi perempuan disamping Senja. Siswi itu kemudian tampil dan menunjukkan kemampuannya dalam menangani manipulasi elemen.


"Meski tidak sebagus Ronald tapi kemampuannya dalam keseimbangan Mana patut di apresiasikan." lirih Senja pelan.


Setelah menunggu satu jam lamanya, kini giliran Senja untuk tampil. Ia dengan tenang pergi menuju tengah lapangan dimana Miss Aila berada.


"Sudah siap?" tanya Miss Aila dengan senyum ramahnya.


"Sudah Miss,"


"Baiklah, kalau begitu ini instruksinya."


Miss Aila kemudian menjelaskan instruksi yang harus dikerjakan Senja. Instruksi itu tidak mudah tapi juga tidak sulit, dimana Senja harus membuat manipulasi elemen dengan bentuk baru.


"Sudah paham?" tanya Miss Aila seperti biasanya.


"Sudah," balas Senja tegas.


Setelahnya Miss Aila mempersilahkan senja untuk membuat manipulasi elemen miliknya. Dikarenakan Senja memiliki lebih dari satu elemen, maka dari itu Miss Aila menyarankan Senja untuk memanipulasi elemen apinya.

__ADS_1


Dengan satu tarikan napas Senja segera menyalurkan Mana miliknya menuju telapak tangan. Mana tersebut mengalir dengan tenang sebelum akhirnya keluar secara perlahan.


"Aku harus bisa mengendalikan Mana ini sebelum ia menguras habis tenaga ku," batin Senja seraya membayangkan taman bunga mawar.


Dengan pelatihannya bersama Lucas, akhirnya Senja mampu mengendalikan Mana miliknya. Mana itu pun keluar sesuai dengan keinginan Senja dan kini Mana itu mulai membentuk wujud baru.


"Aku tidak bisa menunjukkan pada mereka jika aku berada di level 9. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan mereka mengolok-olok ku karena lemah."


Dengan keyakinan tersebut Senja berencana membuat bola kristal dari elemen apinya. Biasanya bola kristal hanya bisa dibuat dari elemen es.


Namun karena pelatihan panjangnya bersama Lucas, Senja dapat dengan mudah membuat bola kristal menggunakan semua elemennya.


Butuh waktu sepuluh menit hingga elemen apinya mulai mengkristal. Namun itu belum sepenuhnya sempurna. Senja masih membutuhkan penguatan Mana untuk mengunci api biru miliknya agar tidak meledak.


"Uhm, aku akan mengecilkan frekuensi tekanannya, kurasa itu akan berhasil."


Setelah hipotesis panjang akhirnya Senja memutuskan untuk menurunkan kadar tekanan udara pada bola kristal. Setelah kadar udara berhasil diturunkan, bola kristal kini terlihat lebih sempurna.


"Selesai," seru Senja senang.


PROK....!


PROK....!


Miss Aila dengan semangat bertepuk tangan, ia sangat senang karena Senja dapat menyelesaikan ujiannya dalam waktu 13 menit. Waktu tersebut lebih cepat 7 menit dari limit yang diminta sehingga Miss Aila merasa bangga.


"Selamat, kamu telah berhasil lulus." lanjut Miss Aila seraya menjulurkan tangannya.


"Ah, terima kasih Miss." balas Senja sambil menyerahkan bola kristal miliknya.


"Bola ini terlihat bagus, bagaimana cara mu memerangkap api di dalamnya?"


"Itu, uhm..., saya hanya mencoba menahannya agar tidak keluar Miss. Itu lebih seperti memenjarakan api tersebut ke dalam bola."


"Begitukah?" tanya Miss Aila masih tidak percaya.


"Benar Miss, seperti itu."


"Hmm, baiklah sekarang kamu bisa istirahat disana."


Miss Aila lalu menyuruh Senja pergi ke kursi yang telah disediakan untuk siswa yang sudah selesai tampil. Kursi itu pun telah banyak diisi oleh siswa yang menatap Senja tidak senang.


"Huh, abaikan saja mereka." batin Senja sebelum memilih kursi yang jaraknya sangat jauh dari siswa lain.


Setelah Senja duduk, ia bisa melihat siswa lain sedang diberi instruksi oleh Miss Aila. Setelahnya siswa itupun segera melakukan manipulasi elemen yang menunjukkan bahwa dirinya merupakan penyihir elemen tanah.


"Tinggal 3 orang lagi sebelum akhirnya ujian ini berakhir." gumam Senja yang sudah tidak tahan dengan tatapan aneh teman sekelasnya.


Mereka seakan bisa membunuh Senja dengan tatapan itu. Meski Senja sudah mengabaikan mereka tapi sejak ia berada di tempat itu, seluruh mata masih berfokus padanya.


Senja sedikit bingung dan kesal, jika dia tahu akhirnya akan begini maka akan lebih baik jika mereka di pulangkan tanpa harus menulis review.


Sayangnya semua itu hanya imajinasi Senja saja. Selain itu butuh waktu satu jam hingga seluruh siswa yang tersisa berhasil menyelesaikan ujiannya.


"Baiklah, karena seluruh siswa sudah selesai dalam ujian. Kini kalian bisa mengumpulkan kertas review pada staff sebelum kembali pulang." seru Miss Aila sembari melirik staff penjaga yang berada di sekitar lapangan.


Setelahnya masing-masing siswa segera pergi menjumpai staff penjaga dan memberikan kertas review-nya.


"Hmm, baru kali ini seluruh siswa berhasil lulus ujian." seru salah satu staff yang berada tidak jauh dari temannya yang sedang mengumpulkan kertas.


"Benar, aku rasa Miss Aila terlalu baik." timpal yang lain sambil menggelengkan kepalanya dengan ekspresi wajah kasihan.


Entah mengapa pendapat para staff membuat Senja berpikir aneh. Ia juga merasa bahwa Miss Aila terlalu baik sehingga meluluskan seluruh siswa yang mengikuti kelasnya.


"Aku yakin Miss Aila pasti tahu bahwa rata-rata siswa yang mengikuti ujian selalu gagal dalam mengendalikan Mana mereka." batin Senja setelah mengingat kembali hasil review nya.


Sejujurnya mereka dapat ulus ujian karena instruksi yang diberikan Miss Aila tidak memberatkan. Hanya saja mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan ujian tersebut.


"Jika dipikir kembali seharusnya mereka bisa menyelesaikan ujian ini dalam waktu 15." lirih Senja bingung.


Rata-rata kecepatan siswa dalam menyelesaikan ujian berkisar antara 18 hingga 20 menit. Dan itu adalah waktu yang sesuai dengan limit yang diberikan Miss Aila.


Senja yakin jika Miss Aila sudah memperkirakan hal ini sebelumnya. Senja tahu bahwa Miss Aila adalah salah satu guru favorit yang disukai banyak siswa.


Namun menurut Senja kebaikan Miss Aila ini hanya akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Sayangnya Senja tidak tahu jika Miss Aila telah memiliki rencananya tersendiri yang bahkan guru pengajar lain tidak mengetahui.


Sejujurnya Miss Aila adalah rekan Prof Edward yang memiliki kekuatan hampir setara seorang Sage. Ia sengaja berada di wilayah luar untuk mematai para siswa yang dianggapnya layak berada di kelas lanjutan.

__ADS_1


Karena kelas lanjutan adalah kelas unggul yang tidak bisa diakses semua siswa sehingga surat rekomendasi sangat dibutuhkan bagi siswa yang ingin berada disana.


Senja yang tidak mengetahui misi Miss Aila hanya bisa menggelengkan kepalanya heran sebelum memutuskan untuk pergi meninggalkan hutan buatan.


__ADS_2