
"Semua yang bernyawa pasti akan merasakan mati tetapi tidak semua kematian membawa ketenangan."
*****************#####*****************
"Nona, sepertinya kau terlihat senang," bisik Dian pelan namun masih bisa di dengar oleh Senja.
"Aku menemukan hal yang menarik," lirih Senja acuh sebelum mendekati Muna yang sudah menunggunya di podium.
"Apa kau baik-baik saja?"
Muna terlihat khawatir dengan keadaan Senja karena harus berurusan kembali dengan mantan pelayan yang mengkhianatinya.
"Aku baik," seru Senja masih dengan ekspresi acuh di wajahnya.
15 menit kemudian podium sudah diisi penuh dengan warga yang antusias melihat eksekusi Amel. Beberapa diantara mereka sempat terkejut dengan kehadiran Senja di tempat itu.
"Apa yang dia lakukan disini? Apa dia bersimpati dengan mantan pelayannya itu?"
bisik salah satu warga yang melirik sekilas pada Senja sebelum mengobrol dengan rekannya.
"Kurasa dia hanya ingin memastikan bahwa pelayan itu benar-benar dihukum mati."
"Benarkah?"
"Itu benar, bukankah dia sudah pilih kasih terhadap pelayannya selama ini sehingga salah satu diantara mereka marah dan memutuskan untuk berkhianat."
"Tapi kurasa itu bukan alasan yang benar, bagaimana pun juga itu adalah tindakan yang salah."
"Kau benar, seharusnya pelayan itu menunjukkan niat baiknya sehingga sebagai majikan kita bisa memberikannya sedikit kebaikan."
"Ya, ya, kau benar."
Pro dan kontrak terus diutarakan warga yang tengah menunggu moderator untuk memberitahukan bahwa persiapan sudah selesai.
"Mereka berisik sekali," gerutu Muna tidak senang setiap kali para warga membicarakan hal yang sama sekali tidak mereka pahami.
"Rumor itu seperti hantu, diam tapi menakutkan," seru Senja acuh sambil melihat ke arah lapangan dimana seorang pria tua tengah melangkah masuk ke lapangan.
"Sungguh menakutkan," lirih Muna sebelum moderator tua itu menyebutkan namanya.
"Para hadirin sekalian, perkenalkan saya Deza yang akan menjadi pembicara hari ini dan tanpa membuang waktu mari kita langsung masuk ke dalam kasus nya." seru Deza tegas dengan mikrofon yang ada di tangganya.
"Pelayan yang berdosa ini bernama Amel Stuad. Ia adalah seorang pengkhianat yang telah meracuni Nona mudanya sendiri," teriak Deza saat Amel mulai memasuki lapangan bersama dengan dua orang penjaga dengan kaki dan tangannya dirantai pakai besi.
"Pelayan ini sudah membuat nama baik keluarga kerajaan tercoreng serta menghancurkan image baik akademik yang selama ini selalu menjaga keamanannya."
Deza terus saja berteriak dengan kencang tanpa memperdulikan hawa panas disekitarnya. Para penonton yang melihatnya terus menatap tajam pada Amel, bahkan sebagian dari mereka ada yang melemparinya dengan telur busuk.
"Mati kau pengkhianat!" seru salah satu penonton yang sambil melempar telur busuk pada tubuh Amel yang tengah meringkuk di tanah.
"Tenang, tenang. Kita akan segera mengeksekusi mati wanita jahat ini, saya mohon ketenangannya," seru Deza ketika bau busuk telur mulai tercium di udara terbuka.
Senja dan Muna yang melihat aksi para penonton hanya bisa memasang wajah kasihan pada Amel. Sejujurnya itu bukanlah mutlak kesalahan Amel. Bagaimana pun juga seorang pelayan biasa dengan gaji yang terbilang rendah tidak akan bisa menyewa segerombolan pembunuh bayaran dengan kualitas baik dan mahal seperti itu.
Bukannya mempertanyakan hal itu mereka hanya menerima mentah - mentah informasi yang dikeluarkan penyelidik tanpa bertanya lebih lanjut.
"Mereka terlalu kasar untuk seorang pelayan murahan," lirih Muna acuh ketika melihat tubuh Amel yang kini sudah penuh dengan bau amis telur.
"Mereka adalah orang awam yang sama sekali tidak mengerti tentang politik," seru Senja menanggapi perkataan Muna.
"Itu terlihat sangat menjijikkan."
" ... "
"Apa kita sudahi saja sampai disini."
"Belum, kita tunggu saja sampai selesai," seru Senja masih menatap ke arah Deza yang tengah mempersiapkan alat potong untuk Amel.
Beberapa saat setelahnya alat potong tersebut sudah siap pada tempatnya. Disana terdapat sebuah mata pisau besar yang apabila dipotong talinya maka pisau tersebut akan jatuh tepat di kepala Amel.
"Baiklah, tanpa membuang waktu kita langsung saja mulai eksekusi matinya," seru Deza sambil menyuruh kedua penjaga di depannya itu untuk menyeret Amel mendekati alat potong.
"Bunuh dia, bunuh," teriak warga yang tidak sabar dengan kematian Amel.
"Pasang talinya," lirih Deza pada kedua penjaga itu yang dijawab dengan anggukan kepala.
"Baiklah. Apakah ada kata-kata terakhir yang ingin kau ucapkan sebelum mati?"
Deza mencoba untuk terlihat baik pada Amel dengan menanyakan permintaan terakhirnya. Amel yang mendengar hal tersebut lantas tanpa membuang waktu lagi mulai mengangkat kepalanya sambil mencari dimana letak tempat duduknya Senja.
Penonton yang melihat hal itu dengan malas mendecakkan lidahnya. Mereka tidak habis pikir mengapa Deza masih saja menanyakan hal aneh seperti itu setiap kali ingin mengeksekusi mati seseorang.
"Cepat bunuh saja dia," teriak para penonton tidak sabaran.
"Aku senang melihat anda pada akhirnya bisa selamat. Semoga dia yang jahat bisa menerima segala akibatnya, mungkin sekarang ini adalah kepala ku namun nantinya benda ini juga akan berakhir di kepala mereka," seru Amel datar dengan senyum aneh melingkar di wajahnya.
Para penonton yang melihat senyum itu merasakan kengerian yang mendalam. Inikah pesan terakhir sebelum kematian, batin mereka berbicara.
Para penonton serentak melihat ke arah Amel dengan banyak emosi, ada yang takut ada juga yang senang dan ada pula yang acuh.
Setelah menyampaikan pesan terakhirnya. Deza kemudian menyuruh salah satu dari penjaga untuk segera memotong tali penghubung dan segera mata pisau tajam jatuh tepat di leher Amel.
Hanya berselang berapa detik saja kepala Amel sudah jatuh ke tanah dengan darah yang meluncur keluar begitu derasnya seperti air mancur. Kepala itu berguling disekitaran area eksekusi dengan ekspresi wajah yang masih tersenyum samar.
__ADS_1
"Sungguh kematian yang mengerikan," lirih Senja ketika melihat senyum samar yang masih nangkring di bibir Amel.
"Apakah kita akan kembali sekarang?" tanya Dian yang sama sekali tidak peduli dengan eksekusi mati tersebut.
"Iya, persiapkan segera kereta kudanya."
"Baik Nona."
Satu demi satu para penonton sudah mulai meninggalkan tempatnya. Podium yang sebelumnya ramai kini hanya menyisakan beberapa orang saja.
"Mari kita pergi," lirih Muna ketika mayat Amel sudah dibersihkan oleh petugas kebersihan.
"Ayo," lirih Senja datar sambil melangkah pergi menuju luar podium bersama Muna.
"Nona, kereta kudanya sudah siap."
Dian menghampiri keduanya sambil menunjuk kearah kereta kuda yang sudah siap di tempatnya.
"Kerja bagus."
Puji Muna sambil menepuk pelan pundak Dian.
Ketiganya kini sudah berada di dalam kereta kuda yang bergerak menyusuri jalan menuju kediaman mansion Marques.Winter.
"Bisakah kita mampir sebentar di kafe depan sana?" tanya Senja ketika gerobak kuda tengah melewati plaza kota.
"Tidak masalah," seru Muna yang kemudian membuat Dian menyuruh sang kusir untuk berhenti tepat di depan kafe tersebut.
Keduanya mulai menuruni gerbong kereta lalu berjalan masuk menuju kafe. Di dalam kafe sudah terdapat beberapa pelayan yang menyambut kedatangan kedua tamu penting itu.
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya resepsionis kafe tersebut.
"Kami ingin sebuah ruangan yang langsung menghadap ke plaza," seru Muna datar sambil melirik sekilas pada jalanan yang ada di depannya.
"Baiklah Nona, silahkan ikuti saya."
Resepsionis itu secara pribadi membawa Senja dan Muna menuju ruangan itu.
"Silahkan masuk, Nona," lirihnya sopan sambil menunjukkan sebuah kursi yang ada disana.
"Bisa kau bawakan makanan favorit tempat ini?"
"Tentu saja Nona, apa ada hal lain yang dibutuhkan?"
"Tolong jangan biarkan siapa pun mengganggu kami ketika sedang makan."
"Baiklah Nona."
Resepsionis itu kemudian pergi sebelum memberikan beberapa petunjuk yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Silahkan dinikmati," seru pelayan tersebut dengan senyum yang mengembang lebar di wajahnya sebelum benar-benar keluar dari ruangan.
"Makanlah," lirih Muna yang melihat Senja masih memandangi jendela luar dimana air mancur plaza berada.
"Kau saja dulu," seru Senja datar masih melihat ke arah luar. Muna yang melihat reaksi Senja lantas membawakan sebuah dessert coklat dengan balutan strawberry disekitarnya.
"Makan ini."
Muna kemudian menyodorkan dessert tersebut tanpa membiarkan Senja untuk menolaknya terlebih dahulu.
"Hah."
Senja menghela napasnya sambil menerima sodoran dessert dari Muna. Kini Senja sedang memikirkan apa yang sebelumnya dikatakan Amel mengenai rahasia gelap Sarah.
"Sungguh menggelikan mendengar bahwa Sarah menyukai hal aneh seperti itu," lirih Senja pelan yang hanya bisa didengar oleh angin jendela saja.
"Tapi ini adalah kesempatan besar bagi ku untuk membuatnya jatuh dengan obsesinya sendiri,"
Beberapa saat kemudian setelah dessert ditangannya habis. Senja lalu memutuskan untuk pergi ke kamar kecil bersama dengan Dian dan meninggalkan Muna sendirian di ruangan tersebut.
"Dian, sudahkah kau mempersiapkan semuanya?"
"Sudah Nona, saya sudah menghubungi Count Servan sebelum kita pergi ke sini."
"Bagus sekali," lirih Senja sambil mengingat kejadian setelah ia keluar dari sel bawah tanah.
"Dian, perintahkan segera Count Servan untuk datang menemui ku di Guild Moonlight bersama dengan anak perempuannya."
"Baik Nona."
"Oh dan jangan lupa untuk mengelabui Muna ketika kita sudah berada di kafe nantinya."
"Baik Nona, saya mengerti," seru Dian sebelum nona nya pergi ke arah Muna yang ada di atas podium.
"Lily."
"Aku mengerti."
Segera Lily mengaktifkan sihir manipulasi pada Dian sehingga ia terlihat mirip dengan Senja.
"Lakukan tugas mu dengan benar dan jangan sampai Muna mencurigai kita nantinya," lirih Senja ketika ia melihat pantulan dirinya pada Dian.
"Baik Nona, saya mengerti," seru Dian paham dengan maksud dari nona nya itu.
__ADS_1
Segera setelah dilakukannya sihir manipulasi oleh Lily, Dian dan Senja berubah tempat. Dian yang kini menyamar menjadi Senja sudah kembali ke dalam ruangan sedangkan Senja yang asli kini tengah menuju ke pasar gelap untuk menemui Count Servan berserta putrinya.
Di dalam pasar gelap, Senja dapat melihat betapa sibuknya warga yang ada di bawah kegelapan ini. Sebagian besar dari mereka tengah berjualan makanan pokok sehari-hari dan sebagian besar lainnya tengah menjual alat-alat perkakas magic.
"Nona. Bagaimana kabar anda?" tanya Dennis ketika melihat Senja yang datang ke Guild di tengah kesibukannya ini.
"Baik, dimana yang lain?"
"Mereka tengah melayani tamu Nona."
"Kerja bagus, terus pertahankan."
"Baik Nona, terima kasih."
Setelah mengucapkan kata terima kasih, Dennis meninggalkan Senja yang tengah menuju ke arena latihan yang ada di ruang bawah tanah.
"Bagaimana kabar mu Nona?" tanya Count Servan ketika melihat wanita muda dengan topeng rubah merah diwajahnya.
"Mengapa Nona Senja memakai topengnya?"
Count terlihat bingung dengan perilaku rekan bisnisnya tersebut.
"Apa yang kau lihat?"
Bukannya menjawab Senja malah menanyakan apa yang sedang diamati oleh Count Servan padanya.
"Ah, bukan apa-apa Nona."
Count Servan terlihat aneh ketika gelagatnya diketahui dengan mudah.
"Siapa dia ayah?" tanya seorang gadis muda yang usianya sama dengan Senja.
Count Servan yang mendapati pertanyaan dari anaknya itu hanya bisa melihat Senja yang wajahnya kini sedang ditutupi oleh topeng rubah merah.
"Ah, aku mengerti alasannya," gumam Count pelan yang terdengar sayup - sayup di telinga putrinya.
"Kau bilang apa ayah?"
"Bukan apa-apa," seru Count kaget dengan reaksi aneh anak perempuannya tersebut.
Senja yang melihat tingkah duo anak-ayah ini hanya bisa mendecakkan lidahnya tidak sabaran, ia kemudian pergi ke salah satu sofa yang ada di arena latihan.
Melihat Senja yang terlihat bosan dengan percakapan mereka membuat Count menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Begini nak, ayah akan menjelaskan siapa nona itu" seru Count sambil melirik sekilas pada Senja yang sudah duduk di sofa yang ada di depan mereka.
"Nona itu adalah investor terbesar keluarga kita. Ia juga yang akan menjamin segala hal tentang kita. Bisa dikatakan kita ini adalah bawahan dirinya namun tidak bisa dikatakan sebagai budak melainkan hanya rekan kerja saja." lanjut Count hati-hati dengan apa yang baru saja ia katakan.
Anak perempuan Count yang mendengar hal itu hanya bisa mengambil keputusan bahwa nyawa seluruh keluarga kini berada di tangan wanita muda yang tengah duduk santai di sofa yang ada di depannya itu.
"Apa yang sekarang sedang ayah rencanakan?"
Wajah anak perempuan Count tampak tidak senang.
"Ayah, apa kau sedang melakukan hal gila lagi?"
Anak perempuan itu bertanya dengan wajah serius. Hal ini mengingatkannya tentang masa lalu dimana ia dan keluarganya harus kabur karena hal aneh yang dilakukan ayahnya dibelakang mereka.
"Putri ku, ayah mu ini sedang tidak bermain. Lagi pula kita tidak akan bisa kabur seperti sebelumnya." seru Count sedikit memberikan jeda pada perkataannya.
"Nona itu telah memiliki segalanya lebih dari apa yang kita ketahui sekarang," bisik Count pelan pada putrinya yang membuat anak itu menjadi kaku tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Seorang wanita muda sama seperti ku bisa melakukan hal gila seperti ini. Ia lebih mirip monster dari pada raja monster yang ku kenal," lirih anak perempuan Count gugup sambil melirik Senja yang terlihat acuh tak acuh dengan situasi yang ada.
"Hus, jaga omongan mu. Jika dia marah, kita akan tamat."
"Baik ayah."
Senja yang sedari tadi melihat duo anak-ayah yang tengah bisik-berbisik di depannya itu kini mulai terlihat kesal.
"Mau sampai kapan kalian disitu?" tanya Senja dingin ketika duo anak-ayah itu tidak juga beranjak dari tempatnya.
"Waktu ku tidak banyak, jadi cepatlah," lanjut Senja kembali. Bukannya ia bohong tapi jika tidak segera kembali maka Muna akan mengetahui jika dirinya menghilang.
"Baik Nona. Maafkan kami," seru Count sambil menarik tangan putrinya untuk menghampiri Senja.
" ... "
"Ah, uh. Perkenalkan ini anak perempuan saya namanya..."
Senja menghentikan perkenalan Count terhadap putrinya.
"Aku tidak peduli, langsung saja keintinya."
Mendengar Senja yang bahkan tidak peduli dengan identitas dirinya membuat gadis muda itu sangat kesal.
"Ada perlu apa anda dengan saya?" tanya gadis itu dengan acuhnya.
Count yang mendengar pertanyaan putrinya dengan cepat menyikut lengan putrinya dengan panik.
"Maafkan dia Nona..."
"Sudahlah, langsung ke intinya saja. Aku tidak punya banyak waktu sekarang," ulang Senja menghentikan omong kosong Count saat ini.
__ADS_1
"Baik Nona."