
"Sekuat apapun kau menutupinya yang namanya bangkai pasti akan tercium juga."
*****************#####****************
Setelah hari dimana Senja terlihat untuk pertama kalinya di kediaman Winter. Luna dan si kembar lantas bergegas dengan cepat untuk menemuinya. Mereka terlihat lega sekaligus kesal karena selama ini keberadaan Senja disembunyikan tanpa adanya kabar apa pun baik itu dari Senja mau pun Muna.
"Kalian sangat keterlaluan," seru Zakila kesal pada Senja dan Muna yang terlihat santai sambil menikmati cemilan.
"Kenapa kau sama sekali tidak mengabari kami? Apa kau tahu betapa kami sangat khawatir pada mu."
Muna dan Senja hanya diam mendengar omelan Luna dan Zakila yang tidak ada habisnya itu.
"Banyak sekali gerobaknya," seru Senja ditengah-tengah pembicaraan mereka.
"Kau benar, ini sangat banyak sampai bisa membuat satu toko obat secara besar," timpal Muna yang tidak habis pikir dengan begitu banyaknya gerobak yang sedang masuk ke dalam pekarangan rumahnya.
"Kalian dengar kami tidak sih?" tanya Zakila kesal.
"Ah, maaf Zakila. Aku tidak bisa fokus karena banyaknya gerobak obat yang datang, lagi pula sekarang aku disini dan baik-baik saja."
"Apanya yang baik-baik saja lihat itu wajah mu saja masih pucat seperti zombie," gerutu Luna masih tidak percaya dengan kondisi Senja yang makin terlihat lebih rapuh dari sebelumnya.
"Senja, bukannya itu kereta milik Duke Ari?" tanya Zakila ketika ia melihat lambang keluarga Duke Ari di pintu gerobak.
"Itu benar tapi aku tidak menyangka ayah sampai melakukan sejauh ini."
"Apa kau tidak tahu jika selama ini Duke Ari sangat khawatir pada mu?"
"Ya, aku sedikit mendengar kabarnya tapi kukira itu hanyalah rumor biasa."
"Seperti yang kau lihat. Aku rasa kini Duke Ari mulai memperhatikan mu."
Senja hanya diam mendengar perkataan Luna.
"Itu bagus, tapi juga sedikit aneh," lirih Zakila merespon apa yang baru saja di katakan Luna pada Senja.
"Zakila, dimana Maya? Aku sama sekali tidak melihatnya disini,"
Senja mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Ia tidak nyaman membicarakan hal pribadi pada teman-teman itu.
"Maya saat ini sedang menyiapkan pesta kedewasaan di istana kami."
"Acara kedewasaan?"
"Iya, acara kedewasaan. Acara tersebut akan diadakan satu minggu kemudian. Aku datang kesini sebagai perwakilan kerajaan Aruna untuk mengundang kalian secara resmi."
"Oh begitu rupanya. Kami juga sebentar lagi akan mengadakan festival kedewasaan di kerajaan ini namun karena adanya masalah dengan akademik maka festival tersebut akan ditunda sampai kondisi tenang."
"Itu berarti festival kedewasaan kerajaan akan dilaksanakan satu minggu sebelum hari pemilihan murid baru dilakukan."
"Sayangnya karena kejadian memalukan saat ujian, kaisar memutuskan untuk menunda festival sampai akademik benar-benar pulih kembali."
"Kalau begitu kalian bisa datang ke istana ku, disana kalian bisa melakukan debut pertama sebagai seorang wanita bangsawan sesungguhnya."
"Ide yang bagus."
"Hehehe, baiklah kalau begitu aku akan menyiapkan segalanya selama kalian berada disana."
"Terima kasih Zakila."
Setelah mendapatkan persetujuan dari sahabatnya tersebut. Zakila kemudian menghubungi Maya untuk mengabarkannya jika Senja baik-baik saja saat ini dan ia juga menginformasikan bahwa ketiga sahabat mereka akan datang untuk melakukan debut pertama sebagai wanita bangsawan yang sesungguhnya di kerajaan Aruna.
Malam harinya Luna dan Zakila masih menginap di kediaman Winter untuk terus memantau perkembangan kesehatan Senja.
Cavil yang sadar dengan keanehan itu hanya bisa melihat Senja dengan tatapan curiga. Bukannya ia tidak suka dengan Senja namun semua ini terasa sangat janggal baginya.
"Aku selalu teringat seseorang setiap saat melihatnya," lirih Cavil dari atas balkon kamarnya. Ia kini sedang memandang Senja yang tengah berbincang ringan dengan adiknya tersebut.
"Senja selalu mengingatkan ku tentang dia namun aku yakin sekali bahwa keduanya adalah wanita yang berbeda. Aku yakin kamu tidak seperti Senja yang tenang dan misterius."
Cavil terus menggali memori lamanya, namun yang berhasil ia ingat hanyalah warna hijau tua mata wanita itu.
"Aku sangat yakin kamu memiliki sifat yang lembut dan hangat. Kamu juga selalu tersenyum lepas dengan mata hijau zamrud yang indah." lanjut Cavil masih menerawang masa lalunya.
Senja yang merasakan aura dingin dari belakang pundaknya mulai menoleh kebelakang untuk melihat asal dari aura itu. Disana Senja bisa melihat Cavil yang tengah memelototinya.
"Ada apa dengannya?" gumam Senja pelan sambil terus menatap wajah Cavil.
"Ada apa? Apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Muna ketika mendengar suara samar dari Senja.
"Ah, tidak ada."
"Benarkah?"
"Tentu."
"Kalau begitu, mari kita pergi."
"Baiklah."
Segera Muna dan Senja menghilang dari pandangan Cavil.
"Aku harus memastikannya terlebih dahulu," gumam Cavil dingin sambil meninggalkan balkonnya.
****
Disisi lain Selir Jina tengah mengumpulkan para pengikutnya untuk mendiskusikan tentang rumor yang sedang beredar saat ini.
"Kalian sudah mendengarnya bukan?" tanya Selir Jina ketika seluruh pengikutnya sudah berkumpul.
"Sudah Nyonya."
"Kalau begitu kalian pasti tahu apa yang harus dilakukan?"
Mereka semua hanya mengangguk tanda mengerti atas apa yang ingin dikatakan selir Jina.
"Aku ingin mengucapkan terima kasih pada Count Difani karena telah membantu putri ku terbebas dari situasi ini."
"Itu sudah sewajarnya Nyonya," seru Count dengan wajah yang memerah karena senang.
"Satu hal lagi, sekarang kita telah kedatangan sekutu baru dari pihak Duke Ari."
__ADS_1
Kini semua mata tertuju pada seorang wanita muda yang tengah duduk di samping Selir Jina.
"Wanita muda ini akan membantu kita nantinya. Ia juga berniat untuk menjadi Duchess masa depan dan membantu kita dalam segala urusan di kerajaan ini."
Selir Jina memukul ringan pundak wanita muda tersebut sebelum melanjutkan perkataannya.
"Kita akan membantunya sama seperti yang dulu pernah kita lakukan pada Count Difani."
Kini semua mata tertuju ke arah Count Difani yang sedang diam sama seperti biasanya.
"Baiklah kalau begitu pertemuan kita akan berkahir disini, sampai jumpa dipertemuan selanjutnya."
Setelah mengucapkan salam perpisahan Selir Jina dan juga wanita muda disampingnya pun menghilang dari meja pertemuan.
Wanita muda tersebut kini tengah berada di dalam sebuah ruangan mewah bersamaan dengan selir Jina dan kedua anaknya.
"Terima kasih karena telah menyelamatkan ku, Nyonya," seru wanita muda tersebut yang mendapatkan senyum licik dari Dira.
"Tidak perlu terlalu formal begitu Sarah, sekarang kita adalah rekan dan kau bisa memanggil ibu ku seperti biasanya." balas Dira masih dengan senyum liciknya.
"Baiklah."
"Tapi tentu saja kau harus ingat apa tugas mu sekarangkan?"
"Iya, saya tahu."
"Bukankah aku sudah mengatakan hal ini sebelumnya pada mu jika kau terlalu cepat mengakhiri kerjasama kita" seru Dira yang kembali membuat Sarah teringat perkataannya dulu.
Sarah kini sudah benar-benar jatuh dalam genggaman Dira dan keluarganya. Ia sama sekali tidak bisa membantah melainkan harus menuruti segalanya. Sarah sangat kesal karena ayahnya sama sekali tidak peduli terhadapnya mengenai kasus tersebut.
"Ini semua karena Senja, kalau bukan karena dia mungkin sekarang aku akan baik-baik saja dengan ayah dan ibu di sisi ku."
Wajah Sarah mulai memerah karena menahan marah, ia harus menjilat Dira dan ibunya untuk tetap bertahan hidup mulai dari sekarang.
"Kau sangat naif sama seperti teman mu kira yang menginginkan posisi Countes, kalian tidak jauh berbeda dari ku."
Dira kembali teringat dengan kakak perempuannya yang mati karena racun yang terus ia berikan.
"Sekarang kita adalah sekutu, masalah mu juga akan menjadi masalah kami," lirih Dira sambil melirik sekilas pada ibunya.
"Sarah karena kau sudah tahu apa posisi mu sekarang jangan mencoba untuk menyeret Arina pada masalah mu. Kau mengerti." tutur pangeran kelima yang sama sekali tidak ingin kekasihnya ikut terseret dalam urusan berbahaya seperti ini.
"Naif sekali," gumam Sarah yang tidak habis pikir dengan tindakan pangeran kelima terhadap saudarinya, Arina.
"Baik, yang mulia pangeran."
"Kau juga sama Dira, sudah cukup membawanya pada ujian saat itu."
"Baik kakak," lirih Dira acuh tak acuh.
"Meski begitu, Selir Reliza akan tetap ikut dalam kontribusi kita. Ia akan menggantikan putrinya dalam masalah ini."
"Ibu!"
"Sudah cukup pangeran, kau harus tahu posisi mu juga."
"Aku mengerti."
*****
"Iya aku yakin."
"Benar kata Luna, kau tidak harus menemui penghianat itu." timpal Zakila.
"Aku harus menemuinya karena ada hal penting yang ingin aku tanyakan padanya."
"Baiklah kalau memang itu sudah keputusan mu tapi kau harus ingat untuk berhati-hati terhadapnya."
"Baik, aku mengerti."
Setelah pembicaraan yang panjang pada akhirnya Senja memutuskan untuk tetap pergi menemui Amel. Dalam perjalan Senja ditemani Dian dan Muna. Mereka menemani Senja atas keputusan dari Luna dan Zakila yang tidak ingin melihat Senja pergi sendirian menuju sarang harimau.
"Kalian tunggulah disini, aku akan masuk dan berbicara dengannya," seru Senja ketika mereka sudah sampai di depan pintu masuk penjara bawah tanah.
"Apa kau yakin?" tanya Muna khawatir dengan kondisi Senja yang masih labil.
"Aku yakin," lirih Senja sambil melangkah masuk menuju penjara bawah tanah dengan ditemani para penjaga.
Ketika Senja terus turun menuju penjara bawah tanah, ia hanya bisa melihat kegelapan yang hanya diterangi obor api sederhana. Suasana sangat dingin dan mencekam terlebih lagi setiap kali menuruni anak tangga selalu ada desiran aneh yang terdengar.
"Nona, apa anda baik-baik saja?"
"Aku baik, jangan terlalu khawatir."
"Baik Nona, sebentar lagi kita akan sampai."
"Bagus."
Lima menit kemudian Senja sudah berada tepat di depan jeruji sel yang terlihat sangat berantakan dan kumuh.
"Bisa kau tinggalkan kami berdua saja?"
"Tapi Nona."
"Sudahlah, aku tidak akan lama," seru Senja sambil memberikan sekantong uang kepada penjaga tersebut.
"Baiklah Nona, jika dia melakukan hal aneh anda bisa segera memanggil saya."
Penjaga itu lalu pergi meninggalkan Senja berduaan saja dengan Amel. Meski penjara itu sangat luas dan besar namun yang ada di dalam sana hanya Amel seorang.
Senja kemudian masuk ke dalam sel penjara yang sebelumnya sudah dibuka oleh si penjaga. Terlihat bahwa kondisi Amel sangatlah memprihatinkan. Tubuhnya kurus dan dipenuhi luka cambuk. Wajahnya dan kulitnya pucat dengan bercak darah di setiap pakaiannya.
"Menyedihkan sekali," gumam Senja yang merasa kasihan dengan kondisi Amel saat ini.
Melihat wajahnya yang ditekuk ke dalam meski ada seseorang dihadapannya sudah membuktikan bahwa betapa putus asa nya dia.
"Amel, kau terlihat sangat menyedihkan," seru Senja tajam namun tidak ada respon sama sekali dari Amel.
"Kau pasti sedang menunggu Nona kesayangan mu itu bukan?"
" ... "
__ADS_1
"Apa yang kau rasakan sekarang setelah dikhianati oleh orang yang sudah kau percayai, hah? Apa kau diam karena keluarga mu telah disandera atau karena kau kecewa telah di buang Sarah?"
Perlahan Amel mulai merespon pertanyaan Senja dengan sedikit mengerang.
"Kau terlihat sangat menyedihkan."
"Ugh."
"Hah, lucu sekali. Kau dulu ingin membunuh ku, tuan mu yang baik ini."
Amel kini mulai mengangkat wajahnya untuk menatap Senja. Pandangannya terlihat kosong dengan kelopak mata yang membengkak.
"Aku yang dulunya sering memaafkan segala kesalahan mu malah kau khianati dan kini."
Senja perlahan mendekati wajah Amel sambil berbisik pelan di telinganya.
"Kau telah dibuang oleh majikan mu itu, bahkan seluruh keluarga mu ada ditangannya untuk siap dimusnahkan kapan pun ia mau."
Mata Amel yang semula kosong kini mulai melotot agresif. Ia menatap Senja dengan pandangan membunuh.
"Jika bukan karena kau mungkin saja sekarang aku sudah menjadi pelayan pribadi nona Sarah."
" ... "
"Jika saja kau mati saat itu pasti Nona Sarah akan bangga terhadap ku."
" ... "
"Nona Sarah tidak akan pernah membuang ku seperti ini."
" ... "
"Hik, hik, hik."
Amel tiba-tiba saja menangis histeris sambil membayangkan hari-hari menyenangkan yang akan ia lewati bersama Sarah.
Senja yang awalnya terlihat santai kini mulai merasa kesal dengan sifat Amel yang menyebalkan.
"Dasar bodoh. Apa sampai sekarang kau belum sadar juga akan posisi mu, hah?"
" ... "
"Kau sudah dibuang olehnya terlebih lagi keluarga mu sedang disandera karena perintah majikan kesayangan mu itu."
"Itu tidak mungkin."
"Lalu mengapa kau bisa dengan mudah setuju jika seluruh perbuatan itu adalah ulahnya, hah? Apa kau ini bodoh atau naif?"
"Ak, aku hanya."
"Hanya apa? Hanya orang bodoh yang mudah diperdaya begitu?"
"Bukan!" bentak Amel tidak berdaya dengan kondisinya.
"Sadarlah jika Sarah hanya memanfaatkan mu sebagai bidak untuk bisa mencapai tujuannya," bisik Senja pelan yang masih bisa di dengar oleh Amel.
"Apa Sarah pernah mengunjungi mu disini?" tanya Senja kembali yang dijawab gelengan kepala oleh Amel.
"Bukankah itu sudah membuktikan jika ia sama sekali tidak peduli dengan pion seperti mu."
Amel mulai memikirkan apa yang dikatakan Senja beberapa saat yang lalu. Amel sangat tahu bagaimana karakter dua nona nya itu. Ia hafal betul dengan karakter Senja yang baik dan lembut berbanding terbalik dengan Sarah yang kasar dan agresif.
Perlahan air mata penyesalan mulai jatuh darinya. Amel tanpa sadar teringat akan kejadian dimana Senja selalu memaafkan segala kesalahannya.
Hal itu berbeda dengan Sarah yang selalu bermain fisik ketika Amel tidak becus dalam menyelesaikan tugasnya. Jelas ia tahu jika Sarah bukanlah manusia yang baik namun ia terus setia berada di sampingnya karena mengharapkan perhatian dari nona nya itu.
"Aku salah, aku salah, hik," teriak Amel frustasi dengan keadaannya.
"Bagaimana dengan keluarga ku?" tanya Amel setelah sadar dengan situasinya saat ini.
Bukannya Amel tidak tahu jika keluarganya dalam bahaya, tapi ia hanya ingin berharap jika Sarah akan berubah pikiran untuknya. Namun kini Amel sadar jika hal itu hanya mimpi yang tidak akan pernah menjadi nyata.
"Nona, kumohon selamatkan keluarga ku. Aku mohon pada mu Nona, aku berjanji akan... Tidak aku bersimbah bahwa keluarga ku akan selalu setia pada mu."
"Setia? Apa kau ingin menipu ku lagi?"
"Tidak nona, tidak. Keluarga ku tidak tahu apa pun. Mereka sangat baik dan jujur, mereka akan selalu membalas kebaikan siapa pun. Aku yakin itu."
Amel lalu mengeluarkan kotak aneh dari balik saku bajunya. Kotak ini adalah satu-satunya benda yang dapat ia sembunyikan dari pada penjaga yang menyiksanya saat itu.
"Berikan ini pada keluarga ku, maka mereka akan selalu berada di pihak anda seterusnya."
Amel kemudian menyerahkan kotak itu dengan tangan gemetar. Senja sedikit ragu untuk mengambil kotak itu, namun ketika ia melihat mata Amel yang tegas dan tabah, Senja tanpa sadar mengambil kotak itu dan menyimpannya.
"Nona, aku ingin anda membalaskan dendam ku."
"Hah?"
"Aku tahu ini sedikit tidak sopan, tapi aku tidak bisa mati begitu saja."
Amel terlihat marah, ia tidak senang dengan apa yang terjadi padanya saat ini. Ia sangat ingin membalaskan perbuatan Sarah yang telah membuatnya jatuh sedalam ini.
"Apa itu? Aku tidak suka melakukan hal yang merepotkan."
"Tidak nona, saya yakin hal ini akan sangat membantu anda. Saya akan menceritakan segala hal tentang nona Sarah. Saya yakin informasi saya akan sangat berguna untuk anda dalam balas dendam."
"Tidak buruk, cepat jelaskan."
"Nona, saya ingin anda mengatakan kepada Nona Sarah jika apa yang selama ini ia lakukan sangatlah menjijikkan."
"Hahahaha, kau lucu sekali Amel."
"Nona, dengarkan saya sampai selesai dulu."
Amel sedikit kesal namun ia tidak bisa membantah Senja saat ini. Ia sudah bersumpah setia bahkan sampai memberikan kotak itu padanya.
"Baiklah, itu bukan masalah besar bagi ku tapi kau juga harus memberikan hal yang setimpal dengannya."
"Baik Nona," seru Amel senang dengan respon Senja. Meski ia tahu jika waktunya tidak lama lagi tapi Amel bersyukur karena diakhir waktunya ia bisa membalaskan dendamnya.
Setelah pembicaraan yang panjang akhirnya Senja kembali pada Muna untuk melihat eksekusi Amel. Meskipun ia sangat terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan mantan pelayannya itu namun satu hal yang ia yakini jika Sarah bukanlah manusia melainkan monster menjijikan.
__ADS_1