Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Memantau


__ADS_3

"Senyum tidak menggambarkan jika seseorang bahagia, itu hanya sebuah sandiwara untuk rahasia yang lebih besar."


*****************#####*****************


Dua hari sebelumnya


Di dalam kekacauan yang besar, Kerajaan Green akhirnya bisa mereda emosi para orang tua murid sehingga akademik bisa berjalan seperti semula. Meski ada beberapa hal yang harus diperbaiki namun itu bukan lagi masalah besar.


Kini Kerajaan hanya fokus pada festival kedewasaan yang akan berlangsung dua hari lagi dan itu membuat Lucas harus bergegas kembali ke istana untuk memenuhi tugasnya.


Awalnya semua berjalan sesuai rencana namun karena kemunculan Lich di Kota Ceko sehingga membuat Lucas harus mundur dari pertempuran tersebut. Lich bukanlah penghalang utama baginya namun Golem dan kumpulan mayat hidup membuatnya menjadi sulit untuk ditangani.


Setelah kembali Lucas memutuskan untuk fokus pada festival kedewasaan yang akan berlangsung sebentar lagi. Namun ia juga tidak bisa lepas dari kejadian sebelumnya sehingga memutuskan untuk meninggalkan sisanya pada Prof Edward.


Prof Edward juga sempat terkejut dengan pengakuan Lucas yang mengatakan jika Lich mulai berani memunculkan diri mereka namun apa pun alasan di balik itu semua, mereka harus siap dengan segala resiko yang ada.


Beberapa hari telah berlalu sejak kejadian di Kota Ceko. Kini Lucas masih menyusun dekorasi yang akan digunakan dalam festival. Meski begitu, ia masih fokus dengan informasi yang diberikan Luna akan kekasihnya Senja.


Ia sudah tidak sabar melihat penampilan kekasihnya itu di pesta kedewasaannya nanti. Lucas juga sudah menyiapkan pakaian khusus untuk dikenakan Senja di pesta kedewasaan tersebut. Ia berencana untuk memberikan hadiah tersebut di malam sebelum pesta di mulai.


Sayangnya rencana Lucas harus tertunda karena ia mendapatkan laporan dari bawahannya bahwa ada beberapa aktifitas mencurigakan di Kota yang dipimpin oleh Count Difani. Dikabarkan jika beberapa warga menghilang secara mendadak dan diduga jika itu ada hubungannya dengan perdagangan manusia.


"Hah, sial. Kenapa ini harus terjadi di saat yang tidak tepat," bentak Lucas sambil meremas dokumen yang baru saja diberikan oleh Ariel.


"Dasar nenek tua menyebalkan."


Lucas tampak kesal ketika mengingat senyum bahagia di wajah Selir Jina.


Setelah memastikan lebih detail mengenai dalam dokumen tersebut. Akhirnya Lucas memutuskan untuk menyerahkan tugas persiapan festival pada adiknya, Peter. Dengan senang hati Peter menerima tawaran sang kakak.


"Segera siapkan portal teleportasi."


Segera Lucas dan beberapa bawahannya pergi menuju kota yang merupakan salah satu milik Selir Jina tersebut. Hal pertama yang dirasakan Lucas pada kota tersebut adalah perasaan mati.


Hal ini sangat bertolak belakang dengan penampakkan yang ada di hadapannya itu. Beberapa pedagang saling berbincang ringan dan bahkan rakyatnya terlihat harmonis satu sama lain.


"Menjijikan," gumam Lucas dingin.


Lucas sadar bahwa ini semua adalah ilusi namun anehnya bawahannya sama sekali tidak menyadari hal tersebut. Mereka terlihat santai bahkan acuh dengan ilusi yang ada. Entah karena kekuatan mereka yang lemah atau karena Lucas yang terlalu peka.


Lucas dengan malas pergi berkeliling desa sambil memastikan apa yang sebenarnya terjadi di sana. Pada saat perjalanannya, Lucas cukup mendapatkan informasi mengenai danau kesucian. Meski ia sama sekali tidak percaya dengan hal itu namun karena rasa penasaran, akhirnya ia mendatangi danau tersebut.


Kawasan danau berada di tengah hutan tidak jauh dari pusat kota. Hutan tersebut tidak terlalu luas namun juga tidak kecil, sehingga hal ini memudahkan bagi Lucas untuk mencari tahu keseluruhan isinya.


"Ariel, kau dan Jack periksalah bagian timur dan selatan."


Segera setelah mendapatkan perintah dari tuanya, mereka berdua memutuskan untuk hengkang dari kelompok tersebut. Lucas dan dua bawahannya yang lain memutuskan untuk pergi lebih dekat dengan danau tersebut.


Betapa terkejutnya Lucas dan bawahannya ketika mendapati danau yang sehitam malam dan sepekat kegelapan itu. Lucas dengan dingin mencibir rumor mengenai danau tersebut. Jelas sekali jika danau itu adalah mana mati yang dihasilkan dari rakyatnya yang menghilang beberapa bulan terkahir ini.

__ADS_1


"Tuan, danau ini sepertinya sudah berusia lebih dari 1 abad dan mana mati yang ada di dalamnya di perkirakan sudah ada sejak 5 tahun yang lalu," jelas salah satu bawahan kepercayaan Lucas.


Lucas yang semula tenang kini terlihat begitu emosional. Ia jelas tahu untuk membuat mana mati sebanyak ini pasti membutuhkan tumbal yang jauh lebih banyak sehingga bukan dua bulan ini saja rakyatnya menghilang namun sudah sejak 5 tahun yang lalu.


"Mereka sudah gila. Hanya demi tahta, mereka bahkan mengorbankan rakyatnya sendiri," gerutu Lucas dengan buku jari yang terlipat tajam.


Lucas dengan mata dinginnya menatap para ksatria yang saat ini sedang berjaga di sepanjang garis danau.


"Tuan, sebaiknya kita laporkan saja hal ini pada Raja."


"Tidak bisa. Meski danau ini sulit untuk di pindahkan namun kekuatan Selir Jina bukanlah sebuah mainan. Wanita licik itu bisa saja melakukan hal gila demi menutupi kesalahannya."


Perkataan Lucas ada benarnya, ia dan bawahannya cukup sadar dengan perilaku menjijikan Selir Jina dan juga kedua anak kembarnya itu. Jika mereka dengan sembarangan membocorkan hal ini ke hadapan Raja maka jelas sekali akan ada pemberontakan nantinya.


Hal ini akan diperparah karena keadaan akademik yang sedang dalam pemulihan serta kondisi Kerajaan yang lagi menurun akibat tragedi yang terjadi baru-baru ini.


"Kita belum siap untuk menghadapi kudeta. Terlebih lagi sepertinya mereka sudah mempersiapkan ini sejak lama. Aku juga khawatir jika Kerajaan Guira juga terlibat di dalamnya. Selain itu, Klan Nara mulai menampakkan jejaknya kembali. Hal ini akan sulit bagi pihak kita nantinya."


Setelah memastikan kondisi danau serta hutan. Lucas dan kedua bawahannya memilih untuk kembali ke penginapan mereka. Di sana Lucas tinggal menunggu informasi yang akan diberikan Ariel mengenai bagian timur dan selatan hutan tersebut.


Malam harinya Ariel dan Jack kembali ke penginapan dengan wajah kesal dan tubuh yang memerah. Mereka terlihat sangat berantakan untuk seorang yang bertugas sebagai pengawas.


"Apa kalian habis bertemu dengan Babi hutan?" tanya Lucas acuh tak acuh.


"Tuan!" teriak Ariel kesal. Ia tampak lelah untuk meladeni sikap tuannya yang acuh.


"Kami baru saja menemukan markas para penyihir yang menyandera para budak. Mereka berada di bawah tanah dengan dihalangi oleh sihir manipulasi area," seru Jack yang mengabaikan teriakan Ariel.


"Apa nenek sihir itu sedang merencanakan sesuatu? Jika iya, maka pantas saja anak buah ku baru kali ini menyadari jika beberapa rakyat menghilang secara tidak wajar,"


"Meski begitu, sulit bagi kami menemukan alasan mengapa mereka harus memperluas area tersebut. Selain itu, beberapa dari para budak juga terlihat masih anak-anak. Mereka berusia sekitaran 10 sampai 15 tahunan."


"Hah, sialan. Apa mereka berencana untuk membuat pasukan?" tanya Lucas kesal.


"Tuan, masalah kali ini bahkan lebih buruk dari Kerajaan Guira. Di sana kita masih bisa menemukan tulang belulang dari para budak. Namun disini, kita sama sekali tidak menemukan jejak sedikit pun dari mereka," jelas Nike kebingungan.


"Hah!"


Lucas menghembuskan napas panjang dengan penjelasan baru yang diberikan oleh Nike, bawahannya itu. Ia juga menyaksikannya sendiri bahwa tidak ada tulang sama sekali di sekitaran danau ataupun area hutan.


"Sekarang, awasi setiap kota dan daerah di Kerajaan terlebih lagi jika itu adalah anak-anak dengan rentan usia seperti tadi. Jika ada yang mencurigakan langsung habisi di tempat. Selain itu, sisakan satu orang saja diantara mereka untuk di interogasi."


"Baik Tuan."


Jack dan Nike kemudian pergi meninggalkan penginapan untuk memberitahukan informasi ini pada bawahan mereka yang lain. Lucas juga sempat mengatakan jika apa yang mereka lakukan harus rahasia sehingga musuh tidak bisa mencurigainya.


Disisi lain, jelas sekali bahwa Selir Jina sedang merencanakan suatu hal yang gila. Mungkin saja hilangnya rakyat lebih banyak dari sebelumnya karena mereka ingin menciptakan monster seperti Chimera atau bahkan lebih buruk dari pada itu.


Lucas yang masih bingung dengan keadaanya memutuskan untuk menghubungi Luna. Ia ingin mengetahui kondisi Senja saat ini seperti apa. Namun betapa terkejutnya Lucas saat mengetahui bahwa adiknya itu bahkan tidak tahu dimana posisi kekasihnya saat ini.

__ADS_1


"Ini sungguh gila!" maki Lucas kesal.


Lucas dengan kasar melemparkan seluruh berkas yang ada di atas meja kerjanya tersebut. Ia takut jika saat ini ada hal aneh yang akan menimpa kekasihnya itu namun mengingat jika ini masih terlalu dini untuk memutuskannya maka ia akan menunggu informasi lebih lanjut dari adiknya itu sampai besok pagi.


"Jika besok pagi aku masih belum mendapatkan kabar darinya. Maka akan kucari ia di seluruh Kerajaan El-Aufi sialan itu."


Lucas khawatir karena Senja sempat menghilang dari Kerajaan El-Aufi beberapa hari yang lalu. Bahkan adiknya, Luna tidak tahu keberadaan Senja saat itu.


Kekasihnya itu sering menghilang dan muncul secara mendadak. Hal terkahir yang ia lihat dari kekasihnya adalah pertemuan mereka di kota Ceko. Setelah ia menghilang dari Kerajaan Aruna pada saat pesta kedewasaan si kembar.


****


Pagi harinya Lucas memutuskan untuk tidur sejenak sebelum menghubungi adiknya. Ia tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan hal buruk yang akan menimpa kekasihnya itu. Ia terus saja memikirkan Senja tanpa tahu hari sudah menjelang subuh.


Beberapa jam kemudian Lucas sudah berada di sebuah kafe tidak jauh dari penginapannya. Di kafe tersebut ia bisa melihat seisi kota dengan berbagai aktifitas di bawahnya. Di sana Lucas memutuskan untuk menghubungi Luna. Pada saat panggilan terjawab, Luna dengan tegas memberitahukan bahwa saat ini Senja sudah kembali ke kerajaan.


"Ada apa dengan suara mu itu?" tanya Luna ketika mendengar suara parau kakaknya itu.


"Bukan urusan mu," balas Lucas acuh.


"Jika benar dia ada disana, itu sangat bagus," lanjut Lucas.


"Kak, aku rasa kau sudah cukup untuk mengawasinya melalui diriku. Aku bosan...."


Perkataan Luna terputus saat Lucas dengan sengaja mengakhiri panggilannya.


"Berisik," gumam Lucas acuh sambil melemparkan bola sihir tersebut ke arah salah satu bawahannya. Ia kemudian dengan kasar melihat ke area luar kafe untuk menikmati suasana yang menurutnya lucu.


Mengapa tidak, melihat para rakyat tersenyum manis padahal saat ini mereka sedang berada di dalam ilusi yang bahkan lebih menyakitkan dari apa yang mereka yakini. Ilusi yang membuat mereka terus bersikap netral padahal pada kenyataannya tidak sama sekali.


KRING!


Gelang yang berada di pergelangan tangan kiri Lucas berbunyi dengan irama pelan. Gelang itu terus berbunyi dengan sinar biru yang menyala-nyala seperti sebuah notifikasi.


"Ada apa ini?"


Lucas bertanya dengan aneh sambil melihat-lihat area di sekitaran kafe. Gelang ini adalah penghubung antara dirinya dan kekasihnya. Lucas sengaja membuat gelang tersebut karena Senja yang sering menghilang tanpa sebab.


Gelang itu akan berbunyi jika Senja berada dalam area 100 meter di deka Lucas. Semakin kencang gelang itu berbunyi menandakan bahwa posisi Senja semakin dekat dengannya.


"Ini aneh, bukannya Luna mengatakan jika Senja sedang berada di Kerajaan saat ini," lirih Lucas dengan mata menerawang ke sekelilingnya. Para bawahan yang melihat perilaku Lucas hanya bisa menggelengkan kepala mereka dengan aneh.


"Tuan, kau sedang apa?"


Merasa terganggu dengan bawahannya Lucas akhirnya memerintahkan mereka untuk mencari informasi lebih mengenai danau tersebut. Meski terpaksa meninggalkan tuannya yang sedang bersikap aneh, mereka akhirnya menurut juga.


Setelah bawahannya pergi, Lucas memutuskan untuk keluar dari kafe dan terus mencari kekasihnya itu. Bunyi kerincing di pergelangan tangannya terus berbunyi tanpa henti dan bunyi itu terus bertambah kuat seiring langkah Lucas mendekati sebuah bar.


Ia dengan bingung melirik kesana-kemari untuk memastikan dimana posisi Senja saat ini dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Dian yang saat ini sedang berbicara dengan sesosok pria muda yang terlihat begitu cantik.

__ADS_1


Senyum lebar terus muncul di bibir Lucas, saat pria itu dengan tenang memasuki kafe tanpa peduli dengan reaksi Dian yang terlihat lelah.


"Akhirnya, aku menemukan mu," lirih Lucas nakal sebelum menyentuh salah satu anting pada telinga kirinya.


__ADS_2