
"Ilusi itu sangat kejam karena ia bisa membuatmu terus teringat akan masa lalu dan masa depan yang tentunya tidak nyata."
*****************#####****************
"Ugh, sial," batin Senja perlahan membuka matanya. Kepalanya masih terasa sakit karena asap tidur sebelumnya.
"Nona!" teriak sebuah suara yang membuat Senja terpaksa untuk melirik kearahnya.
"Nona, apa anda baik-baik saja," pekik suara tersebut penuh kekhawatiran.
Senja perlahan mulai memfokuskan tatapan matanya yang sedikit kabur dan saat sudah terbiasa ia bisa melihat Eza yang tengah terikat di atas sebuah kursi.
Tubuh Eza tampak sangat kacau, wajahnya penuh dengan luka pukul yang sudah mulai membiru. Tangan dan kakinya pun terikat kuat di kursi tanpa bisa dilepas. Eza terlihat sangat menyedihkan dengan kondisi tubuh seperti itu.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Senja dalam hatinya sambil melirik ke sekeliling area tersebut.
"Dimana ini?" lanjutnya setelah mendapati dirinya berada di ruangan asing.
"Apa kita sudah ketahuan?" gumamnya pelan sambil mengingat kejadian dimana ia membebaskan Arthur dan temannya.
"Aku harus segera keluar dari sini," lirih Senja pelan sebelum bergerak dari duduknya.
Namun sayang ketika ia hendak melangkah, tubuh Senja kembali terbanting menuju sofa tempat sebelumnya ia berada.
"Sialan apa-apa ini?" teriak Senja kesal ketika ia merasakan benturan keras dipunggung belakangnya.
"Nona, anda tidak akan bisa keluar karena mereka sudah memasang sihir perisai disekitar anda," seru Eza dengan raut dingin diwajahnya.
"Sialan," teriak Senja sambil mengeluarkan sihir penghancuran dan ketika ia hendak melepaskan sihir tersebut, Eza dengan cepat berteriak padanya.
"Nona! Hentikan, anda bisa terluka nantinya,"
"Apa maksudmu?"
"Tembok itu sudah dirancang sebelumnya untuk tidak bisa dirusak dan apabila anda mencoba untuk tetap merusaknya maka sihir yang anda keluarkan akan kembali pada diri anda sendiri," jelas Eza panik untuk meyakinkan nona nya agar tidak bertindak gegabah.
"Sialan!"
"Sejak kapan kau berada disana?"
"Saya..., awalnya saya hendak pergi menuju pasar barat ibu kota namun ketika dalam perjalanan ada seorang anak kecil yang meminta bantuan untuk membawakan beberapa botol susu yang sudah ia isi penuh,"
"Terus?"
"Pada saat saya membantunya untuk membawa botol susu tersebut ke salah satu rumah, disana ternyata mereka menyekap saya dan membuat saya pingsan. Setelahnya saat saya terbangun, saya sudah berada disini Nona," seru Eza menjelaskan semuanya.
"Hah, aku bahkan tidak bisa berkomentar jika dia bisa ditipu oleh seorang bocah," erang Senja frustasi dengan keadaannya saat ini.
"Memang pada dasarnya baik, tetap saja baik. Bagaimana pun hal itu tidak bisa diubah," gerutu Senja kasihan pada sikap polos Eza.
Beberapa saat kemudian Senja bisa mendengar suara ribut diluar pintu ruangan. Senja merasa jika penculiknya akan segera datang untuk mengecek kondisinya saat ini.
"Sialan, itu mereka,"
"Siapa mereka?" tanya Senja bingung ketika tidak mendapati sosok wanita muda dan juga pria tua yang sebelumnya bermain di kasino Taron.
"Apa mereka adalah pesuruh? Tapi itu tidak mungkin jika melihat dari gaya pakaian mereka saat ini," batin Senja masih memelototi dua orang pria paruh baya yang sedang melangkah masuk mendekatinya.
"Akhirnya kau sadar juga," seru salah seorang dari pria paruh baya tersebut.
"Kami sudah menunggu mu selama dua hari tapi kau belum sadar juga," timpal yang lain dengan raut wajah kesal.
"Padahal aku sudah mengatakan pada mereka untuk memberikan sedikit obat namun aku tidak tahu jika efeknya sangat hebat," lirihnya kepada teman disampingnya yang sedang kesal.
"Iya iya, aku tidak peduli. Sekarang kita harus membuatnya memakan ini," gerutu pria paruh baya tersebut sambil mengeluarkan beberapa mutiara hitam dari saku pakaiannya.
"Sialan, bagaimana bisa mereka memiliki benda itu?" batin Senja kaget sekaligus takut karena benda tersebut akan disodorkan padanya.
"Aku tidak boleh sampai memakannya," gumam Senja dalam hatinya saat melirik mutiara hitam pada telapak tangan pria tersebut.
__ADS_1
"Baiklah,mari kita buat percobaannya," seru temannya kemudian mengambil salah satu dari mutiara tersebut.
"Makan ini."
Paksanya pada Eza yang saat ini tengah mengatupkan mulutnya dengan rapat. Senja yang melihat hal tersebut tampak sangat kesal. Ia mencoba untuk memberontak dengan aura sihirnya.
Namun apa yang dilakukan Senja adalah salah bukannya berhasil membuat perisai itu rusak ia malah membuat dirinya batuk darah karena serangan tersebut berbalik arah padanya.
"Nona...!" teriak Eza kaget ketika melihat darah mulai mengalir keluar dari bibir Senja.
"Jangan khawatir, jaga saja dirimu!" bentak Senja marah ketika Eza mulai membuka mulutnya.
"Mfftt...!!?"
Berontak Eza saat pria paruh baya itu tidak membuang waktunya untuk menekan mulut Eza yang sebelumnya terbuka.
"Makan ini,"
"Hey, apa kalian sudah gila?" bentak Senja sekali lagi saat pria itu masih berusaha dalam membuat Eza menelan mutiara itu.
"Bagaimana bisa kalian memberikan obat aneh pada manusia hah? Apa kalian pikir kami adalah kelinci percobaan?"
"Hahaha, kau pikir kami peduli hah?"
"Kalian sungguh keterlaluan. Apa kalian juga yang telah membuat hewan di hutan Teratai menjadi gila?"
"Hahaha, ternyata kau juga tahu tentang masalah itu rupanya," seru pria tersebut sambil melangkah masuk kearah Senja.
"Awalnya aku hanya ingin memanfaatkan mu untuk menggunakan kucing besar itu tapi sekarang, sepertinya kau pantas untuk mati," bisiknya saat menyentuh dagu Senja.
"Sialan, jadi itu kalian!" bentak Senja tepat dihadapan pria tersebut. Senja jadi teringat tentang surat yang diberikan Dennis padanya
Dear Nona Senja
Nona, maaf telah menghubungi anda disaat seperti ini. Saya terpaksa melakukannya karena Black Dragon baru saja mendapatkan permintaan untuk menangkap anda.
Mereka menginginkan Kun untuk dijadikan miliknya, namun saya sama sekali tidak tahu bagaimana cara mereka akan mendapatkan Kun yang notabene sudah mengikat sumpah setia dengan anda.
Nona, saya mohon segeralah kembali. Kami takut jika mereka juga meminta hal ini pada Guild lainnya sehingga nyawa anda dalam bahaya. Segeralah kembali Nona.
Guild Moonlight
****
"Argh..!" pekik Eza keras sehingga membuyarkan lamunan Senja perihal surat tersebut.
"Eza!" teriak Senja kaget karena kini tubuh Eza tengah terbakar oleh mana mati.
"Apa yang kau lakukan?"
"..."
"Apa yang kau lakukan padanya?"
"Hahahaha, kau tenang saja karena sekarang adalah giliran mu," bisik pria paruh baya yang masih memegang erat dagu Senja.
"Sialan,"
"Lily? Dimana kau?" panggil Senja melalui link batin namun sayangnya Lily sama sekali tidak merespon.
"Kun! Kun!?" teriak Senja sekali lagi namun Kun juga sama.
"Ristia, kumohon jawablah. Siapa pun jawab aku," teriak Senja tabah saat tidak mendapatkan respon dari hewan sucinya.
Senja yang melihat Eza berteriak meminta tolong karena bentrokan mana mati dan juga auranya hanya bisa menangis sedih. Baik Ristia mau pun Lily serta Kun, menghilang entah kemana. Mereka sama sekali tidak merespon panggilan Senja bahkan Ristia yang selama ini berada di tubuhnya pun menghilang.
"Siapa pun, tolong," gumam Senja putus asa.
"Hahaha, tidak akan ada yang bisa merespon mu karena tempat ini sudah di desain untuk memblokir seluruh mana sehingga tidak akan ada yang bisa masuk atau pun keluar, dengan kata lain tempat ini adalah isolasi yang sangat baik," jelas pria paruh baya itu.
__ADS_1
"Sekarang giliran mu gadis manis," lanjutnya dengan senyum kejam.
"Mmpff...!"
"Tidak perlu melawan, jika kau tidak ingin kesakitan nantinya," bentak pria tersebut ketika Senja terus saja menggelengkan kepalanya.
"Dasar gadis bodoh!"
Eza yang masih dalam tahap transformasi terus saja memberontak keras namun sayang sekali ia tidak bisa lolos dari duduknya karena sihir perisai yang dipasang pada tempat tersebut. Eza semakin memberontak terlebih lagi ketika melihat nona nya ditampar dengan keras.
"Sialan kalian," teriak Eza dalam hatinya.
Meski pun Eza merasa sakit yang parah namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan apa yang mereka lakukan pada Senja.
"Aku akan membunuh kalian semua nantinya," teriak Eza liar dengan mata merah menahan rasa sakit akibat transformasinya.
Disisi lain Senja yang di pukul tidak lagi bisa melawan, seluruh tenaganya sudah terkuras habis bahkan kini tubuhnya tengah terkunci oleh pergerakkan dari si pria paruh baya tersebut.
"Jika kau patuh seperti ini maka sejak awal kau tidak perlu merasakan sakit," ejeknya sambil memasukkan mutiara hitam pada mulut Senja.
"Mmffp...!!?"
Perlahan Senja merasakan rasa sakit hebat menghantam dirinya. Kini si pria paruh baya sudah melepasnya. Pria itu pergi keluar dari perisai dengan Senyum jahatnya.
"Sialan, aku akan membalas kalian nantinya,"
Perlahan mana di dalam tubuh Senja mulai berfluktuasi dengan mana mati dari mutiara tersebut. Kini tubuhnya mulai panas dan matanya pun mulai memerah. Senja merasakan darah mengalir keluar dari hidung dan kupingnya. Rasa sakit yang berat terus saja menghantam tubuh mungilnya yang lemah.
"Hahaha, aku bahagia melihat wajah menyedihkan itu."
"Terus, teruslah mengeluarkan darah mu hingga habis sampai kau menjadi tulang dengan ini,"
"Sekarang kita bisa melaporkan ini padanya dan mungkin saja ia akan memberikan kita pangkat baru," lirih temannya itu penuh semangat.
****
"Nona, apa kau tidak masalah melihat ini?" tanya Eza saat kedua pria paruh baya tersebut terus saja berteriak dan tertawa dengan girang.
"Tidak masalah, toh mereka akan mengatakan seluruh informasi berharga untuk kita," balas Senja acuh tak acuh sambil melihat tampang jelek kedua pria paruh baya tersebut.
"Hmm, baiklah," lirih Eza sambil melangkah keluar dari ruangan.
Sekarang Senja sedang berada di dalam ruangan yang sama yang sedang dilihat oleh kedua pria paruh baya tersebut.
"Ilusi itu memang kejam," gumam Senja sambil duduk di sofa dekat kedua pria paruh baya tersebut.
Pada awalnya Senja memang dibuat pingsan oleh kelompok misterius tersebut namun itu semua hanyalah dalih untuk mengelabui musuh.
"Nona, ini teh anda," seru Aslan yang saat ini sedang memimpin kelompok tersebut.
"Berapa lama mereka akan mengalami ilusi ini?"
"Mereka akan mengalami ilusi ini selama beberapa hari saja Nona."
"Sayang sekali,"
"Hah, maksud Nona?"
"Bukan apa-apa,"
Beberapa saat yang lalu ketika Senja tertidur akibat obat asap tersebut. Aslan dengan cepat membangunkannya sambil menyerahkan dokumen tentang dua orang bangsawan yang sebelumnya tengah mengincar Kun.
"Ternyata mereka," lirih Senja datar kemudian menyerahkan dokumen tersebut pada Eza.
"Lakukanlah sesuai rencana awal,"
"Aku akan membuat mereka membayar apa yang mereka coba rebut dari ku,"
Saat ini kedua pria paruh baya tersebut sedang berada di dalam ilusi karena pil sihir yang diberikan Aslan pada saat mereka sedang berdiskusi untuk menukar Senja.
__ADS_1
"Selain uang, aku juga mendapatkan informasi berharga dari kalian berdua," seru Senja dengan senyum nakal diwajahnya.
"Katakanlah seluruh informasi berharga itu dengan kedua mulut bodoh kalian," lanjutnya saat mendengar obrolan kedua pria tersebut di dalam ilusi.