
"Diam bukan berarti lemah, karena pada dasarnya predator itu berada di tempat yang tenang."
******************#####****************
"Kita mau makan siang dimana?" tanya Zakila saat mereka sudah berada di luar hotel.
"Entahlah, mungkin disana," jawab Muna acuh.
"Tidak bisakah kau sedikit serius?" gerutu Zakila kesal.
"Restoran itu terlihat bagus," gumam Senja pelan namun masih bisa di dengar oleh mereka.
"Baiklah, kita akan makan disana."
Luna lalu melangkah pergi menuju restoran tersebut bersama dengan Senja disampingnya.
"Aku ikut," teriak Zakila sambil berlari menuju keduanya.
"Hah,"
Maya hanya bisa menghela nafas panjang sebelum mengikuti sahabatnya menuju restauran tersebut.
"Aku sangat mengapresiasikan pilihan random mu itu," seru Maya saat berjalan bersama Muna.
"Terima kasih," jawab Muna acuh seperti biasanya.
Setibanya mereka disana, salah seorang Pelayan mendatangi meja mereka sambil memberikan buku menu.
"Aku pesan ini dan ini," seru Luna sambil menunjuk kearah gambar salad dan juga stik daging keju.
"Aku pesan yang ini dan ini, untuk minumannya. Aku pilih ini."
Hal yang sama juga di lakukan oleh Senja dan juga ketika sahabatnya itu. Rata-rata pesanan mereka adalah stik daging keju, sisanya ada yang memesan macaron dan ada juga yang pesan seafood.
"Ada yang lain?" tanya Pelayan restauran setelah mencatat semuanya.
"Tidak ada," jawab Luna singkat.
"Baiklah, kalau begitu. Pesanan anda akan sampai dalam waktu 15 menit."
Pelayan restauran kemudian pergi meninggalkan meja mereka menuju dapur. Beberapa menit kemudian, Pelayan tersebut kembali dengan membawa kereta makanan yang sudah terisi penuh. Ia lalu menaruh seluruh makanan tersebut keatas meja.
"Silahkan dinikmati."
"Terima kasih," balas Senja ramah.
Pelayan itu kembali tersenyum pada Senja sebelum pergi meninggalkan meja. Mereka lalu memakan makanan tersebut sambil berbincang-bincang ringan.
Tanpa disadari pada saat itu suasana di restauran menjadi sangat ribut. Senja perlahan melirik kearah keributan itu dan betapa terkejutnya ia saat mendapati Kaira disana.
"Bagaimana bisa dia disini?"
Senja masih mengingat mengenai keadaan Kaira yang dikerubungi oleh warga kota El-Aufi dan juga para bawahan pemimpin bar.
"Bagaimana bisa dia lolos begitu saja?"
"Ristia."
"Iya Nona."
"Cepat cari tahu detail kejadiannya."
"Baik."
Ristia kemudian turun dari tubuh Senja melalui pergelangan kakinya. Ia kemudian merayap mendekati meja Kaira.
Saat ini Kaira tengah bersama seorang pria yang usianya tampak begitu muda. Pria itu dua tahun lebih muda dari Senja. Ia terlihat sangat kesal ketika berbincang dengan Kaira yang juga memasang wajah kesal.
"Nona, bagaimana ini?" bisik Dian pelan saat sedang menuangkan teh ke dalam cangkir Senja.
"Tenangkan diri mu, dia sama sekali tidak menyadari bahwa wanita itu adalah kau."
Mendengar perkataan Senja membuat hati Dian sedikit tenang. Ia kemudian kembali ke posisinya dengan tetap terlihat santai seperti biasanya.
"Bukankah itu kak Kaira?" tanya Muna memastikan penglihatannya.
"Iya, itu dia," jawab Luna singkat.
"Ada apa dengannya? Apa dia berbuat ulah lagi?"
Muna lanjut bertanya ketika ia melihat raut wajah kesal Kaira.
"Kurasa begitu," balas Luna sebelum melanjutkan makannya.
__ADS_1
"Tunggu dulu, kalian mengenalnya?"
Kini Zakila bertanya dengan wajah yang kebingungan.
"Iya, kami mengenalnya," jawab Muna acuh.
"Bagaimana bisa? Bukankah dia putri buangan kerajaan ini?" Kini giliran Maya yang bertanya.
"Pelankan suara mu."
Luna memperingati Maya untuk tidak mengatakan hal.tabu di tempat ini.
"Untuk menjawab pertanyaan mu itu, aku akan menjelaskannya."
Luna kemudian menjelaskan alasan mengapa ia sampai mengenal sosok Kaira.
"Jadi, dia adalah sahabat kakak mu. Tidak, maksud ku Putra Mahkota."
"Itu benar. Mereka saling mengenal di akademik Adeline saat itu."
"Kaira adalah sosok kakak yang sangat baik, ia pandai dan juga ramah. Sayangnya, dia itu terlalu liar, susah diatur dan sering melanggar peraturan."
"Karena sikapnya itu, dia dikeluarkan dari anggota kerajaan El-Aufi. Padahal ia mempunyai kualifikasi kuat untuk menjadi seorang Ratu masa depan."
"..."
Senja dan kedua sahabatnya hanya diam mendengarkan penuturan Muna dan Luna saat ini. Mereka terlalu tertarik untuk mengetahui lebih detail mengenai putri buangan itu.
"Yang sangat mengejutkannya adalah, Kaira sama sekali tidak marah atau pun benci dengan hal itu. Ia malah sangat menyukai keputusan ayahnya sehingga ia bisa pergi dengan bebas kemana pun sebagai seorang petualang tanpa identitas." jelas Luna yang mendapatkan anggukan kepala dari Muna.
"Dia sangat hebat," seru Senja sambil melirik sekilas pada Kaira.
"Jika itu benar, mengapa dia dikatakan sebagai anak buangan Raja?" tanya Maya masih penasaran.
"Itu hanyalah rumor, pada dasarnya Raja sangat menyayangi Kaira. Ia terpaksa mengeluarkan Kaira dari daftar keluarga karena paksaan dari para pemimpin daerah."
Jelas Luna sekali lagi.
Senja sekarang paham mengapa Kaira masih memiliki akses ke beberapa lokasi penting di ibu kota. Hal itu dikarenakan posisinya dan juga kemampuannya yang tidak bisa diragukan. Ia juga terbukti kuat karena mampu membakar wilayah selatan pinggiran kota El-Aufi.
"Dia kuat," seru Kun setelah mendengar penjelasan dari Luna.
"Tidak salah jika dia mampu melakukan itu."
"Yah, dia memang kuat," balas Senja acuh.
"Beruntung karena dia sama sekali tidak sadar akan penyamaran mu saat itu."
"Itu berarti kekuatannya terlalu lemah sampai tidak bisa menyadari penyamaran ku."
"Bukan dia yang lemah, tapi kau yang terlalu licik."
Perkataan Kun sontak membuat Senja kesal. Ia kemudian mengangkat Kun dari kursinya dan mengelus kasar bulu lembut Kun.
"Rasakan ini, kucing sialan," batin Senja saat menjewer kuping Kun yang besar.
"Meong!" teriak Kun sambil melompat dari cengkraman Senja.
"Mau lari kemana kau, hah?" tanya Senja melalui link diantara mereka.
"Sial," gumam Kun saat Senja mencoba menangkapnya kembali.
Tindakan Kun yang lari dari Senja membuat seisi restauran menatap mereka. Hal yang sama juga terjadi pada Kaira dan pria muda yang ada disampingnya. Mereka berdua menatap Senja yang sedang mengejar Kun dengan pandangan lucu.
"Dia sangat menggemaskan," gumam Kaira pelan.
"Dia seperti anak kecil saja," timpal pria muda tersebut sebelum berdiri dari duduknya.
Kun yang berlari liar di dalam restauran kemudian melompat menuju dapur namun sayangnya, tubuh Kun malah tertangkap oleh pria muda itu.
"Sialan," Pekik Kun saat mencoba untuk keluar dari genggaman pria tersebut.
"Dia kuat juga," lirih pria muda itu ketika Kun berhasil terlepas dari tangannya.
"Kun!" teriak Senja saat Kun mencoba untuk melompati meja Kaira.
"Dapat!" seru Kaira ketika berhasil menangkap Kun yang sedang terbang diatasnya.
Kaira kemudian menatap kearah Senja sambil tersenyum lembut. Senja yang kaget hanya terdiam kaku di tempatnya, ia merasa bingung harus bereaksi seperti apa.
"Sialan kau, Kun," link Senja pada Kun yang saat ini sedang menurunkan tingkat auranya.
"Sial, aku tidak bisa menggunakan kekuatan ku untuk bisa lolos dari wanita gila ini," batin Kun frustasi.
__ADS_1
"Kau membuat ku dalam masalah," link Senja sekali lagi.
"Ini semua karena kau yang mencoba untuk mencabut bulu ku."
"Siapa yang menyuruh mu untuk bicara?"
"Aku hanya merespon,"
"Sialan."
Senja yang masih terhubung dengan Kun, sama sekali tidak mengetahui bahwa seluruh pengunjung restauran sedang menatapnya yang terdiam kaku di tempat.
Luna yang melihat hal tersebut lantas mendekati Senja dan memeluknya. Senja yang kaget dengan pelukan Luna, akhirnya tersadar. Ia tampak memerah karena tahu bahwa seluruh pengunjung sedang menatap kearahnya.
"Ini kucing mu?" tanya Kaira sambil berjalan mendekati mereka.
"Iya, itu milik Senja," jawab Muna kemudian mengambil Kun dari tangan Kaira.
"Tidak aku sangka kalian disini," seru pria muda yang sebelumnya diam.
"Kami datang berkunjung," balas Luna saat Senja menarik pakaiannya.
"Dia terlihat lucu," Batin mereka semua yang melihat sikap malu Senja.
"Apa dia teman mu?"
"Iya, dia sahabat kami."
"Itu bagus, bagaimana jika kita pindah ketempat yang lebih baik dari ini."
Kaira menyarankan untuk pindah karena para pengunjung masih saja menatap kearahnya.
"Sepertinya, itu ide yang bagus," balas Maya sebelum menyuruh Lila dan Mia untuk membereskan seluruh kekacauan disini.
Kaira memutuskan untuk membawa mereka menuju kafe dimana ia pernah membawa Senja kesana untuk melihat keseluruhan isi ibu kota El-Aufi.
"Tempat yang bagus," seru Maya saat melihat pemandangan dibawahnya.
"Sudah lama aku tidak kesini," timpal Muna saat ia duduk di kursi depan jendela.
"Jika kalian mau, kalian bisa datang kesini kapan pun. Terlebih lagi jika itu kamu," seru Kaira sambil menyentuh rambut panjang Senja.
Kaira sudah mengetahui dari Luna siapa Senja sebenarnya. Ia juga tahu rumor yang beredar mengenai Senja di kalangan para bangsawan di benua barat ini.
"Seorang putri Duke yang dikhianati pelayan pribadinya dan juga seorang kakak yang ingin dibunuh oleh adik tirinya. Sungguh keadaan yang buruk," batin Kaira yang merasa kasihan dengan kondisi Senja.
"Padahal ia sangat imut, sayang sekali jika Duke sampai membuangnya," gumam Kaira pelan namun masih bisa di dengar oleh pria yang berada di sampingnya.
"Siapa kau?" tanya Maya pada pria muda itu.
"Dia adik ku, namanya Kian," jawab Kaira ramah yang masih memegangi rambut Senja.
Kian kemudian menyapa mereka dengan sopan setelah dikenalkan oleh kakaknya.
"Kamu tidak perlu sembunyi lagi, karena disini hanya ada kita." lanjut Kaira sebelum melepaskan tangannya dari rambut Senja.
"Nikmatilah tempat ini dengan nyaman."
"Terima kasih," lirih Senja pelan ketika ia mencoba untuk menatap Kaira yang masih tersenyum ramah padanya.
"Nona, acting mu sangat hebat." Puji Kun yang saat ini berada di pelukan Dian.
"Jika ada perlombaan sandiwara, mungkin saja Nona akan menjadi juara pertamanya. Tidak, tidak, tidak. Nona pasti akan menjadi juara pertamanya." lanjut Kun yang membuat Senja semakin kesal.
"Awas saja kau," batin Senja masih memperlihatkan wajah polosnya.
Senja lalu duduk disebelah Muna yang saat ini sedang memandang kearah luar.
"Nikmatilah tempat ini, karena aku ada urusan penting yang harus segera diselesaikan," seru Kaira sebelum keluar dari ruangan tersebut.
"Aku akan mengundang kalian ke kediaman ku nantinya. Kita akan mengadakan pesta teh kecil-kecilan nantinya." lanjut Kaira saat ia berada di depan pintu.
"Terima kasih, kami tidak sabar menantikannya," balas Luna dengan senyum ramah diwajahnya.
"Semoga urusan mu cepat selesai, karena ada banyak hal yang ingin aku dengar dari petualangan mu," timpal Muna dengan tampang datarnya.
"Baiklah, aku juga tidak sabar."
Itu adalah kalimat terakhir Kaira sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan tersebut. Senja yang melihat kepergian Kaira mulai merasa lega, karena wanita itu sama sekali tidak menyadari auranya. Mungkin saja warna dan bentuk tubuh bisa diubah namun untuk aura, mereka akan tetap sama sampai kau meninggal.
"Kali ini aku selamat,"
"Anehnya, dia sama sekali tidak menyadari aura ku. Apa ini karena aura ku ditutup?" lanjut Senja penasaran dengan apa yang terjadi padanya.
__ADS_1
"Hah, apa pun itu. Aku bersyukur karena kali ini Kaira tidak menyadari bahwa aku adalah Zain, pria yang ia goda dan bawa kesini dengan kata-kata manisnya."