
"Sedikit rasa sakit akan membuatmu semakin kuat. Lepas dan tenangkan dirimu setelahnya, ambil pelajaran berharga dari sakit itu dan jadikan ia sebagai motivasi untuk terus bertahan hidup."
*****************######****************
"Ugh," lirih Senja ketika rasa sakit di kepalanya semakin parah.
"Dimana Aku?"
Senja melihat ke sekeliling setelah mendapati dirinya berada disebuah kamar yang begitu asing baginya. Kamar itu tampak sederhana, tidak ada perabotan lain selain kursi dan meja untuk bersantai.
"Aku harus segera keluar dari tempat ini."
Senja mulai merangkak turun dari kasur namun sebelum kakinya sempat menyentuh lantai. Senja merasakan sakit di sekujur tubuhnya ditambah dengan aroma obat-obatan yang memenuhi ruangan itu membuat Senja semakin pusing dan mual.
"Ugh, sakit sekali," lirih Senja sambil memegang kepalanya.
Tidak tahan dengan rasa sakit tersebut, Senja lantas memutuskan untuk kembali tidur.
"Aku tidak bisa bergerak, tubuhku mati rasa," gerutu Senja dengan ekspresi kesal.
"Jika terus seperti ini."
Seketika Senja mengingat Ristia, hewan suci miliknya yang mampu mengobati luka dengan kekuatan sihirnya.
Senja mengangkat tangan kirinya dan mendapati Ristia tengah tertidur pulas.
"Apa ini?" tanya Senja panik ketika ia sama sekali tidak bisa merasakan energi dari Ristia.
"Bangunlah."
Senja lalu menyentuh tubuh Ristia dan mengguncangnya dengan keras namun tidak ada respon sama sekali.
"Ristia, bangun. Ayolah bangun!"
Senja terus menggoyangkan lengannya yang lemah tidak terasa air mata mengalir keluar. Disisi lain seorang pria tengah duduk di meja kerjanya tepat diluar kamar Senja. Pria itu terlihat frustasi mendengar teriakkan Senja.
"Pergilah."
Pria itu menyuruh bawahannya untuk pergi meninggalkan rumah tersebut. Ia lalu melangkah pergi menuju kamar Senja dan membuka pintunya.
"Dia masih hidup meski dalam kondisi lemah," tutur pria tampan itu sambil melangkah masuk mendekati kasur.
"Lucas!"
Senja sedikit kaget melihat Lucas yang tiba- tiba saja ke dalam kamar.
"Bagaimana bisa kau...."
Perkataan Senja terpotong ketika Lucas menarik tubuhnya ke dalam pelukan. Lucas lalu mengelus pelan rambut silver Senja dan menciumnya lembut.
"Aku sudah lama menunggumu," bisik Lucas sedih sambil mempererat pelukannya.
Senja hanya diam, ia tidak mengerti apa yang telah terjadi padanya dan Lucas. Lama Lucas memeluk Senja sampai sebuah suara menghentikannya.
"Tok, tok, tok."
Seketika Lucas melepas pelukannya lalu melangkah pergi menuju pintu kamar dan membukanya.
"Tuan, siahkan,"
Pelayan itu membawa nampan yang berisi semangkuk sup hangat dan juga minuman lemon. Segera Lucas mengambil nampan dan menutup kembali pintu kamar sebelum pelayan itu bisa menyelesaikan kalimatnya.
Ariel yang melihat tingkah posesif Lucas hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia kemudian memukul ringan pundak pelayan itu sambil berkata.
"Ayo."
Mereka berdua keluar dari rumah dengan ekspresi wajah sama-sama terkejut.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya ksatria lain yang sedang berjaga diluar rumah.
"Kau tidak akan percaya dengan apa yang baru saja terjadi di dalam," Jawab Ariel sambil berjalan mendekati pohon Pinus disampingnya.
****
Ibu Kota Kerajaan
Sebuah kereta kuda melaju cepat dijalan raya, kereta kuda itu tampak sedang terburu-buru.
"Cepatlah," cicit Eza ketika kereta kuda berhasil melewati kerumunan rakyat.
"Waktuku tidak banyak." Eza kembali mengulang perkataannya yang ia lontarkan sejak kereta kuda ini berangkat.
"Tuan ini sudah kecepatan penuh," gerutu kusir yang bosan mendengar ocehan Eza sejak awal.
"Sial."
Wajah Eza terlihat kesal, ia sungguh panik ketika mendapat kabar jika nona nya tidak kunjung kembali.
"Sudah tiga hari nona tidak ada kabar. Aku bahkan sudah mencari ke seluruh penjuru hutan teratai tapi yang ketemukan hanya kumpulan mayat hewan,"
Tidak lama kereta kuda tersebut berhenti disebuah gerbang dimana Akademik Adeline berada. Eza segera turun dari kursinya dan berlari masuk ke dalam gedung akademik.
Disana Eza sudah disambut oleh Prof Edward dan juga Dian yang sudah sedari tadi menunggu kedatangannya.
"Kemarilah," seru Prof Edward dengan tangan terbuka menyambut Eza. Mereka lalu pergi ke sebuah ruangan rahasia yang ada di dekat gudang.
"Duduklah terlebih dahulu."
Prof Edward lalu mengambil tongkat sihirnya dan menyalakan lampu. Ruangan itu tampak sederhana dengan rak buku yang mengelilinginya.
"Dimana Nona Senja?" tanya Eza langsung pada intinya.
"Tenangkan dirimu terlebih dahulu," seru Prof Edward sambil duduk disalah satu kursi.
"Tenanglah sedikit," Bisik Dian sambil memegang pelan tangan Eza yang bergetar.
"Kita harus tenang untuk bisa menemukan Nona," lanjut Dian sambil masih setengah berbisik.
Wajah kesal Eza perlahan mulai terkontrol, ia lalu menatap tajam ke arah Prof Edward yang telah membawa nona nya ke dalam bahaya.
"Baiklah Prof katakan apa yang terjadi sebenarnya," seru Eza meminta penjelasan dari surat yang ia dapatkan setelah dua hari mencari nona nya di hutan teratai.
"Begini ceritanya."
Prof Edward mulai menceritakan segalanya dari awal kedatangannya dengan Senja ke hutan teratai sampai hewan suci yang berubah menjadi gila serta adanya kemungkinan munculnya klan Nara. Ia juga menceritakan hubungan ini dengan para bangsawan, namun tidak terlalu yakin dengan itu.
"Ini hanyalah spekulasi saya. Untuk lebih jelasnya, masalah ini masih dalam penyelidikan."
"Sial" lirih Eza semakin kesal. Ia tahu jika para bangsawan adalah kumpulan baji**an yang serakah akan status dan kedudukan.
"Lalu, dimana nona ku saat ini?"
Prof Edward mulai menjelaskan jika Senja saat ini berada di bawah perlindungan seorang pria. Namun Edward tidak bisa menjelaskan siapa pria itu. Ia hanya bisa mengatakan jika keadaan Senja baik - baik saja saat ini.
"Jadi maksudmu nona ku sekarang sedang ditawan pria asing begitu?" tanya Eza sambil menarik kerah baju Prof Edward.
"Bu, bukan ditawan tapi dirawat," Jawab Prof Edward sambil berusaha melepaskan cengkraman Eza dari kerah bajunya.
"Tenanglah Eza," seru Dian berusaha menarik tangan Eza.
"Yang dikatakan Prof Edward itu benar. Aku merasakannya dari energi Kun yang mulai membaik," lanjut Dian berusaha meyakinkan Eza.
Pegangan Eza mulai mengendur namun tangannya masih menggenggam kerah baju Prof Edward.
"Jika Senja dibawa kesini maka ia tidak akan aman, kau tahu itu bukan?"
__ADS_1
Prof Edward mencoba untuk tenang dalam menghadapi emosi Eza.
"Dia akan aman di dalam perlindungan pria itu. Kalian akan tahu jika dia bukanlah pria bajingan yang akan menyakiti seorang wanita sembarangan," lanjut Prof Edward tegas.
"Aku tahu itu tapi tetap saja," cicit Eza yang khawatir dengan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi pada nona nya.
"Kali ini cobalah untuk percaya, sekali saja," pinta Prof Edward sambil memegang ringan pundak Eza.
"Baiklah, tapi jika terjadi sesuatu maka kau akan terima akibatnya," seru Eza sambil melepaskan cengkeramannya.
****
Pondok Hutan Pony
"Bagaimana?" tanya Lucas ketika Senja sudah selesai memasukkan suap terakhir bubur ke dalam mulutnya.
"Apa kau suka?" tanya Lucas kembali yang lagi-lagi hanya di jawab kebisuan oleh Senja.
"Jika kau masih lapar Aku akan menyuruh pelayan membawa makanan yang lain," cicit Lucas masih berusaha mendapatkan perhatian Senja.
"Tidak perlu, ini saja sudah cukup," balas Senja ketika Lucas mencoba untuk keluar kamar sambil memanggil - manggil pelayannya.
"Benarkah, tapi itu terlalu sedikit." Wajah Lucas terlihat sedih dan itu tampak lucu bagi Senja.
"Pfftt."
Senja mencoba untuk menahan tawanya saat melihat Lucas yang bertingkah seperti anak kecil diusianya yang sudah dewasa.
Lucas yang melihat Senja mulai tertawa sedikit merasa bahagia. Ia sebelumnya marah dan benci terhadap dirinya sendiri karena hanya bisa datang terlambat saat Senja mengalami musibah.
"Syukurlah jika kau baik-baik saja sekarang,"
Lucas lalu mengelus hangat rambut Senja yang terurai bebas di udara. "Jika Aku telat sedikit saja, mungkin," Lucas kembali mengingat kejadian saat itu.
"Hah, kau bilang apa barusan?" tanya Senja ketika mendengar gumaman Lucas yang tidak jelas.
Lucas yang masih mengingat tentang kejadian saat itu tidak mendengar pertanyaan Senja dan masih menerawang jauh ke dalamnya.
"Hey, Lucas," cicit Senja yang dijawab tatapan nanar oleh Lucas.
"Lucas apa kau dengar Aku?"
Senja mulai terlihat kesal. Ia lalu mencubit kuat lengan Lucas yang membuat Lucas seketika kembali ke dunia nyata.
"Arg, sakit," teriak Lucas ketika kulitnya terasa hangat oleh cubitan Senja.
" ... "
Senja hanya menatap Lucas kesal sambil memanyunkan mulutnya ke depan.
Lucas yang tahu jika Senja sedang kesal hanya bisa tertawa cengengesan.
"Ah maafkan aku tuan Putri," seru Lucas yang mendapat tatapan tajam dari Senja.
"Kau sedang melamun gadis yang mana lagi?" tanya Senja kesal dengan wajah semerah tomat.
"Astaga, apa tuan putri ku sedang cemburu."
Goda Lucas yang membuat Senja tidak tahan lagi terhadapnya.
"Jika kau sudah selesai maka keluarlah,"
gerutu Senja lalu membalikkan badannya menghadap dinding kamar.
"Aku ingin istirahat," lanjutnya kemudian menarik selimut dan tidur.
"Baiklah,"
__ADS_1
Disisi lain Lucas yang sudah berada di luar kamar hanya bisa tertawa geli melihat ekspresi Senja yang kesal. Tawa itu semakin tak terkontrol ketika mendengar teriakkan Senja yang begitu nyaring di telinganya.