Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E59] Kendali


__ADS_3

"Ketenangan akan didapatkan apabila jiwa seseorang terus terkendali."


******************#####******************


Aroma harum terus merebak dalam indra penciuman Senja. Ia tenang dan rasa mualnya mulai terkendali. Meski tidak sepenuhnya hilang, tapi ini sudah cukup baginya.


"Senja, warna apa yang kau lihat sekarang?"


Sera bertanya setelah memastikan kondisi Senja baik-baik saja. Ia tidak begitu yakin mengapa manusia dapat melihat warna mana.


"Bahkan elf saja tidak mampu membedakan warna ini, kecuali mereka telah melakukan kontak dengan elemental."


"Mungkin itu sejak meridian ku diperbaiki dan vitalitas ku meningkat. Tapi entahlah aku juga tidak tahu pasti."


"Apa kau Bernah melakukan kontak dengan elemental?"


"Apa lagi itu? Aku tidak tahu."


"Ini aneh, sudah berapa lingkaran meridian yang kau perbaiki?"


"Sejauh ini baru empat lingkaran. Aku tidak bisa lanjut ke lingkaran selanjutnya karena terlalu sulit."


"Hmm, itu sudah bagus."


"Tapi ini sedikit aneh, jika tidak ada kontak dengan elemental lalu mengapa bisa?" lanjut Sera dalam hati nya.


"Sera, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa terus seperti ini."


"Selain mual, apa kau juga merasakan hal lain?"


"Selain mual, aku juga merasa pusing. Lambung ku terasa sakit dan sesak di bagian dada."


"Hah,"


Sera hanya menghela napas mendengar jawaban Senja. Ia tidak pernah mengalami hal tersebut kecuali saat ia bertatap muka dengan iblis tingkat tinggi.


"Sera, apa ada solusi untuk masalah ini?"


"..."


"Sera?"


"Senja, kau sungguh beruntung."


"Beruntung? Bagian mananya yang beruntung?" ejek Senja yang tidak dapat ia ucapkan secara langsung pada Sera.


Senja merasa bingung bagaimana bisa rasa sakit dan mual ini disebut sebagai keberuntungan. Tentu saja jika Senja bisa memilih ia lebih baik tidak mendapatkan keberuntungan itu sama sekali.


"Ya meski pun dengan warna mana ini aku dapat mengetahui sifat asli seseorang tapi itu sangat merepotkan."


"Senja," panggil Sera setelah ia diam beberapa saat.


"Pengendalian ini tidak begitu sulit, kau hanya perlu melatih kedua indra mu itu."


"Caranya?"


"Lakukan seperti ini." seru Sera sambil mengetuk pelan dahinya.


"Begini?"

__ADS_1


Senja mempraktikkan apa yang baru saja dilakukan Sera tapi hal itu hanya membuat Sera tertawa geli.


"Pfftt, tidak bukan seperti itu."


"Tertawa saja tidak usah ditahan."


"Hahaha, maaf. Maaf."


Sera kembali mengatur visi nya. Ia dengan kuat menahan tawa saat melihat wajah bodoh dan kesal Senja.


"Tidak ada cara lain, untuk sementara..."


Sera menggerakkan ujung jarinya dan menunjukan salah satu lemari di dekat mereka. Lemari itu dengan lembut membuka isinya dan kotak hijau kecil langsung terbang keluar dari sana.


"Untuk sementara gunakanlah ini." lanjut Sera saat kotak itu sudah mendarat tepat di tangan Senja.


"Apa ini?"


"Bukalah."


Ketika Senja membuka kotak itu, ia melihat sebuah liontin perak dengan ukiran cabang pohon disisi sudutnya. Bagian tengah liontin diisi oleh mutiara biru dengan sedikit warna hijau.


"Liontin ini dapat mengendalikan indra penglihatan mu."


"Setidaknya sampai kau memenuhi syarat untuk itu." lanjut Sera dalam hatinya.


"Apakah ini akan efektif?"


"Tentu, tapi kau harus ingat. Sebulan sekali liontin itu harus diisi kembali."


"Isi? Apa ini berbahaya?"


"Hahaha, tidak perlu seperti itu."


Entah kenapa Sera dapat mengerti apa yang dikhawatirkan Senja hanya dari melihat ekspektasi wajahnya saja.


"Liontin itu memiliki energi ku, jadi jika energi itu habis kau harus datang ke tempat ini agar aku bisa mengisinya kembali."


"Oh, begitu rupanya."


****


Lantai Tiga Gedung Asrama


Senja kembali melihat liontin kecil yang menggantung di lehernya. Ia merasa tenang saat memastikan liontin itu tetap pada tempatnya.


"Sudah Nona," seru Dian ketika gaun Senja sudah terpasang rapi.


"Bagus," lirih Senja sambil memutar sedikit tubuhnya ke kiri dan kanan.


"Aku mau pakai ini," lanjut Senja sembari menyentuh jepit rambut yang berbentuk bunga Iris.


Dian dengan senang hati mengambil jepit rambut itu dan memasangkannya di rambut Senja.


"Sudah Nona, itu terlihat cocok pada anda."


"Aku tahu itu,"


Senja kemudian pergi dari kamarnya menuju gedung sihir. Dalam perjalanan Senja tidak menemui siapa pun, bahkan temannya sekalipun.

__ADS_1


"Apa rencananya berhasil?" batin Senja sebelum membalikkan tubuhnya menuju kafetaria.


Senja lupa jika ia belum makan sama sekali sejak tadi malam. Dan baru saja saat hendak memasuki gedung sihir perutnya bernyanyi ria.


"Aku lupa bahwa kelas pagi ini milik Prof Aina." gumam Senja sembari menyentuh perut.


"Tapi aku sedikit senang karena tidak melihat hal yang bikin mual."


Sesampainya di kafetaria, Senja segera memesan semangkuk sup hangat dengan beberapa camilan ringan.


Beberapa saat setelahnya pesanan Senja datang bersamaan dengan keributan di depan pintu masuk kafetaria.


"Tiada hari tanpa keributan," gumam Senja sambil menyesap sup daging miliknya.


"Huh, sup ini lezat juga ternyata." seru Senja senang.


Pasalnya ia sudah beberapa hari tidak bisa makan enak karena lambungnya yang terus saja mual. Tapi hari ini Senja memutuskan untuk makan segalanya sampai kenyang.


Saat sedang asik makan Senja tanpa sadar pandangan Senja menuju sosok pria yang baru saja masuk ke dalam kafetaria.


Pria itu berambut merah dengan porsi tubuh yang tinggi. Tidak lupa kacamata bulat melingkar di bola matanya yang sehijau zamrud.


"Amir," lirih Senja tidak sadar.


Ia tidak tahu jika Amir bisa berekspresi seperti itu. Pasalnya yang ia tahu Amir adalah sosok pria yang pendiam dan pemalu. Tapi saat ini sosok pria di depannya cukup menggoda dengan senyum nakal di ujung bibirnya.


"Wow, aku tidak tahu ia bisa berubah sejauh itu."


Senja mencoba untuk acuh tak acuh, ia tidak ingin ikut campur dalam urusan pihak lain. Selain itu kelas pagi akan dimulai sebentar lagi dan ia harus bergegas kesana segera.


"Aku akan makan siang di kafetaria lagi, tapi untuk sekarang aku harus bergegas." gumam Senja sebelum berdiri dari duduknya.


Baru saja beberapa langkah Senja sudah melihat Amir tepat di depan matanya. Amir yang ingin kembali ke kelas tidak sengaja berpapasan dengan Senja tepat di depan mintu keluar kafetaria.


"Senja?"


Anehnya Amir terlihat berbeda, ia yang tadi tersenyum nakal kini terlihat diam dan malu. Senyum Amir sangat canggung dan itu membuat Senja sedikit kaget.


"Apa dia bipolar?" tanya Senja dalam hatinya saat terus melangkah mendekati Amir.


"Amir, bagiamana keadaan mu?"


"Oh, itu. Aku, aku baik-baik saja." jawab Amir sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.


"Baguslah, aku sempat khawatir karena kau tidak hadir di kelas sore kemarin."


"Hmm, itu. Itu, aku ada urusan jadi tidak bisa datang."


"Begitukah?"


"Uhm."


Senja yang tidak ingin ambil pusing dengan kondisi Amir, segera pergi meninggalkan kafetaria karena waktunya sudah habis. Ia tidak ingin terlambat meski lima menit saja.


Amir yang melihat kepergian Senja segera mengikutinya dari belakang. Sama seperti Senja tujuan Amir juga ke kelas. Namun Amir sadar jika ia pergi bersama dengan Senja maka hal buruk akan menimpa keduanya.


"Senja," lirih Amir dengan cahaya merah samar di iris matanya. Ia dengan lembut tersenyum samar saat punggung Senja mulai menjauh darinya.


"Lebih baik seperti ini,"

__ADS_1


__ADS_2